Label

Jumat, 31 Oktober 2014

televisi alat politik

Budaya menonton dari masysarakat Indonesia dimanfaatkan betul oleh pelaku politik untuk mempengaruhi opini rakyat. Saya sebut saja TVOne dan Metro TV, tadinya saya mengira mereka memihak kepada salah satu pasangan capres hanya ketika masa kampanye saja.  TVOne sebagai corongnya pasangan Prabowo-Hatta dan metro TV sebagai corongnya pasangan Jokowi-JK. Keberpihakan mereka dikarenakan para pemilik televisi itu berada dan mendukung calon yang diusungnya. Maka penonton pun terbagi menjadi dua, yang mendukung Prabowo-Hatta cenderung lebih memilih menonton TVOne dan yang mendukung Jokowi-JK cenderung lebih memilih Metro TV. Keterbelahan penonton menciptakan proses pemikiran yang menghasilkan pendapat yang berbeda. Mereka saling menyalahkan berita dan pendapat yang dikabarkan oleh televisi yang tidak seide dengannya.
Untuk meykinkan para pemirsa, narasumber yang diundang oleha stasiun televisi pun di pilih bagi mereka yang sesuai dengan pendapatnya. Keberpihakan pun merasuk juga pada pembawa acara yang berpura-pura netral tapi jelas sekali pertanyaan dan ungkapan pengantarnya berpihak pada pasangan Capres yang didukungnya. Mereka menjadi bagian dari permainan politik itu dan ikut bermain aktif. Ungkapan-ungkapan menyindir dan menyalahkan lawan politik dengan nada suara yang nyinyir  dipoles untuk membangkitkan emosi penontonnya. Televisi alat politik itu menjadi provokator yang efektif.
Untuk mendukung pendapat dalam acara yang tayangankan, produser acara tersebut mencari atau mewawancarai orang-orang yang sependapat dengannya dengan latar belakang yang membuat para penonton tersentuh dan berempati. Dalam tanyang wawancara tersebut biasanya ditayangkan lebih banyak sekali pendapat yang pro sedangkan yang kontra hanya sekali, hanya sebagai ‘penyeimbang’ imitasi untuk mengelabui penonton. Mereka tak lagi mempedulikan fungsi media massa sebagai pemberi kabar kebenaran dan tak terpengaruhi oleh siapa pun. Uang yang diperlukan untuk biaya operasional dan target laba yang dibebankan oleh pemilik modal, telah melupakan idealisme jurnalistik.
Sebisa mungkin, mereka akan mengabarkan tentang ketidakbaikan seseorang yang berada dalam kelompoknya dengan nada dan pilihan kalimat yang mengarahkan penonton untuk tidak memvonisnya sebagai seorang yang salah. Sebaliknya jika ada kabar tidak baik dari salah seorang kelompok sebelah, mereka membumbuinya dengan berbagai cara dan mengaitkannya dengan berbagai persoalan yang menjadi tidak baik.
Dengan visualisai yang membuat para penonton terkesima, berkampanye lewat televisi menjadi efektif, setidaknya untuk masa sekarang, ketika sebagian masyarakat masih gampang percaya dengan berita pertama yang didengar dan tak merasa perlu mencari informasi lain yang kemungkinan berbeda sebagai referensi.