Label

Senin, 27 Maret 2017

MASIH DI JALAN YANG SAMA

Selalu saja aku terpesona dengan jalan yang dilewati saban hari.

Tak dihitung berapa kalinya. Tak sempat. Terasa tak perlu. Jalan yang sama yang selalu dilewati, kadang menggugah hati. Mengenang dan membaca.

Ada yang banyak kurang pas pada saat tertentu, dan mengingatnya sekedar untuk tidak terjerembab jatuh terlempar.

Kadang gelap dan hujan lebat mengantar pada lubang yang semestinya terhindar. Atau sering juga terpaksa menerabas kebimbangan dan berkelit cepat mencari selamat.

Masih di jalan yang sama. Jalan yang bermuara satu, jalan yang di tengah bercabang-cabang, bermarka-marka. Petunjuk-petunjuk masih berdiri dingin di tepi jalan, menjelang persimpangan. Kadang terabaikan, kadang segaja terlupakan.


Malam atau dini pagi bersiap untuk pagi berangkat, pada jalan yang sama untuk melewati. Sampai pada titik sampai dan tak lagi bisa berangkat. Mati.

Dikejar masa aktif.

Pernah merasa di kejar-kejar masa aktif dari operator seluler?  Saya pernah merasakan bagaiamana tidak enaknya di kejar-kejar masa aktif sebuah operator telepon seluler. Serasa baru lima hari beli pulsa dan pulsa masih cukup banyak untuk berkomunikasi, tiba-tiba semua stok pulsa yang ada tak bisa dipakai karena masa aktif telah habis. Dan harus beli pulsa lagi sekedar untuk mengaktifkan. Karena harus melakukan komunikasi, terpaksa dibela-belain beli pulsa, tentu sambil merengut.
Cukup lama juga hampir tak sadar saya diatur oleh operator seluler itu, ‘lha wong dia yang butuh pelanggan kok malah gue yang diatur-atur. Emang hanya tak ada pilihan lain?’

Sejak sadar dari ‘hipnotis’nya, saya langsung habisin semua pulsa untuk browsing dan hal lain yang sebenarnya tak perlu, hanya sekedar menge-nol-kan pulsa.

Yang butuh pelanggan itu operator! kenapa nggak mpelihara konsumen agar tak lari? Yang butuh kenyamanan itu konsumen, kenapa kau jerat dengan sesuatu yang bikin nggak nyaman? Dan sejak itu saya tak pakai kartu dari operator yang bikin ribet dan juga yang iklannya banyak kemudahan tapi saat dipakai banyak syarat dan ketentuan yang diperlakukan untuk konsumen.

Berkompetisilah para operator seluler dalam memanjakan konsumen, maka kau akan mendaptkan keuntungan yang banyak. Yang menjerat konsumen pasti akan segera di tinggalkan dan siapkan kotak yang besar untuk menampung sumpah serapah.


Yang menggampangkan dan memanjakan konsumen itu yang akan bertahan hidup dalam persaingan dunia komunikasi.

Selasa, 07 Maret 2017

pelintir

Pernah / sering dengar atau baca berita yang sengaja di pelintir?? Di era sekarang, di Indonesia yang memberi ruang kebebasan untuk berpendapat sangat luas, pasti pernah. Mengucapkan kalimat atau menulis kalimat dengan disengaja agar arah penafsiran seperti yang yang di kehendaki si komunikan, sebagai salah satu jalan untuk mendiskreditkan pihak yang diserang, menjadi hal yang sering terjumpai. Terlebih saat ruang politik sedang riuh rendah berebut kursi, berebut simpati, berebut suara agar tujuannya mengendendalikan kekuasaan pada masing level kepala daerah, tercapai.

Berita yang sengaja disusun dengan kata-kata yang membuat yang mendengar atau melihat menjadi berkurang rasa simpatinya terhadap korban dari berita yang dipelintir, disajikan dengan nada suara yang datar, biasa-biasa saja dan dengan  ekspresi tanpa menyerang (dalam berita di tivi), disampaikan seperti hal nyata dengan dibumbui kalimat terbuka yang bermakna ganda dan bercabang. Dalam kalimat itu juga dipilih dengan kata-kata, yang jika diserang balik oleh si korban berita, dengan persiapan arguen yang jika dilayani akan menjadi debat kusir dengan arah yang tak tentu dan tak bermutu.

Lebih naik levelnya dari berita pelintiran adalah hoax. Dalam hoax, cerita yang sama sekali tidak ada pun, disusun dan dikait-kaitkan dengan peristiwa seseorang yang jadi sasaran korban untuk menjatuhkan. Dengan berita yang runtut dan disusun dengan rasa komunikatif yang tinggi, menjadikan berita yang sama sekali tak benar, bisa meresap ke pikiran pembaca / pendengar dan meyakini kalau berita itu benar. Berita semacam ini di buat demi sebuah kepentingan. Kepentingan satu kubu untuk menjatuhkan kubu lain. Meski membuat hoax itu tidak baik, karena sebuah kepentinganlah mereka membuatnya.

Media massa menjadi arean yang sangat luas untuk menebar berita pelintiran, hoax, propaganda, issu dan nada-nada provokatif. Pembaca dan pendengar harus cerdas dan mau menyeleksi semua berita yang masuk. Atau jika tak mau terpengaruh berita pelintiran dan hoax, pilih sumber berita yang kredibiltas dan netralitasnya terjamin.

Senin, 06 Maret 2017

alergi saja

Sepakbola Indonesia sudah lumayan untuk ditonton, dan saya sudah bisa menikmatinya. Tapi jika harus berebut chanel dengan anak dan istri (karena hanya punya satu tivi), sering saya yang harus mengalah, karena harus menang dengan anakku yang perempuan yang tentu seide dengan ibunya pasti sesuatu yang wagu dan nggak patut didengar. Hal yang paling saya dongkol, bukan karena saya nggak bisa nonton sepakbola-nya, tapi apa yang ada di tivi yang ditonton itu sebuah tayangan sinetron yang menurutku sangat tidak bermutu, mudah ditebak jalan ceritanya, suka ngomong dalam hati yang terdengar keras, over dramatisir, mengeksploitasi kecurangan dan kebencian, ketidakberdayaan si lakon dan cerita yang mengular tak patut di ingat.

Sedemikian berkorbannya kah para pekerja seni pembuat sinetron itu melepas idealis seninya demi untuk mendapat job dan uang? Saya sangat yakin, mereka yang terlibat dalam pembuatan sinetron itu past orang-orang yang berkesenian tinggi, orang yang punya cita rasa seni dan sangat mengerti tentang seni yang terangkum dalam sebuah tayangan. Sering sekali saya merasa kecewa dengan tontonan itu meski saya tahu kecewanya saya tak ada pengaruhnya sama sekali terhadap segala apa yang ditayangkan di tivi, terutama sinetron. Meski mungkin saya juga nggak bisa bikin sinetron yang baik, dan hanya sekedar merasa kecewa kenapa terus menerus begitu dari dulu.

Para pemain sinetron itu kemudian ditayangkan dalam tayangan gosip dengan berbagai judul acara, yang intinya menceritakan hal remeh temeh para artis sinetron yang sepertinya di bikin sesuatu yang khalayak ramai perlu tahu dan lihat. Bumbu-bumbu berita yang tak mutu, tak malu untuk ditayangkan berulang-ulang dengan nada-nada yang didramatisir, disangkut-pautkan, disambung-sambungkan.

Dan yang membuat saya tak habis pikir lagi, sinetron macam begituan tetap saja ada penontonnya dan ada saja iklannya yang berderet-berderet berjubel. Iklan-iklan yang membodohi dan mengajak ber-konsumerisme tinggi. Sebuah tayangan di prime time tentu karena banyak orang yang menonton. Hasil surveynya membuat produser tivi berani memasang di situ.


Alergi saja, jika mendengar musik background sinetron sudah pengin melempar dengan botol, bruakkk...!!

Jual beli saham.

Sesuatu yang baru itu memang asyik dan mengasyikan. Tujuan awalnya menjadi terlupa dan lompat sana sini untuk menambah tahu yang semakin masuk makin ribet dan menjadi serasa bodoh. Kegiatan beli dan jual tentu berharap keuntungan. Dan menjadi agak terkejut ketika keasyikan mengamati dan lupa untuk take profit. Perdagangan saham memang begitu atraktif, penuh misteri, kejutan, dan hal-hal yang tak terduga yang meleset dari analisa yang ada dalam pikiran hasil dari pengejwantahan segala apa yang bisa dibaca.

Memulailah saya untuk belajar beli dan jual saham. Ada banyak hal yang harus saya perhatikan, seperti keputusan pemerintah dalam kebijakan ekonomi, perkembangan politik, iklim investasi dll yang buat saya menjadi semakin asyik dan membawa saya ke dunia lain yang aku selalu suka jika itu sesuatu yang memerlukan tantangan. Ah, grafik dan  pergerakan harga itu seperti sebuah ombak yang datang silih berganti pasang surut tak terkendali, tak terprediksi. Pagi melonjak tinggi, sore terjun bebas, atau stagnan seperti tak ada sesuatu. Semua membawa karakter sendiri-sendiri dan semaunya sendiri.


Ada ilmu baru untuk sesuatu yang baru, dan aku akan mencari tahu lagi seuatu itu. Kita ber-start sendiri-sendiri, memulai sekarang bukan sejak dulu bukan sebuah ketertinggalan, karena finish dan waktu kita berbeda-beda.