CARI DI BLOG INI

Senin, 13 Juli 2020

MENJELANG MENYAMBUT MAGHRIB

soleh djayim.

Air sungai yang mengalir hampir selalu keruh, tak begitu deras, tak juga tenang, tapi sering mengalir deras seperti banjir bandang pada saat waktu yang tak terduga, meskipun ketika tak musim penghujan. Tak tahu kenapa dan tak juga banyak orang  ingin tahu. Di bawah jembatan, agak di samping, seorang kakek hampir setiap hari di situ memancing. Di bawah pohon Kersen yang kulit batangnya sudah tampak tua dan banyak luka, Ia menggantungkan peralatan dan bekal memancing. Selalu tak lupa membawa buku. Sekira dua puluh kilo meter, aliran air akan sampai pada muara untuk berbaur dengan lautan luas dengan ombak yang selalu bergulung-gulung setiap waktu.

Berbagai jenis, bentuk dan macam joran tertata di tas khusus yang boleh dikata setiap hari berganti-ganti. Berganti tas, berganti joran, berganti gulungan senar, berganti warna dan jenis senar, berganti sarung tangan, bergati pancing, berganti umpan, juga topi yang selalu dikenakan. Tak ada habisnya persediaan yang dibawa. Dari yang model lama sampai yang baru keluar, ada, komplit warna-warni. Meski begitu, kakek Bara selalu berada di satu tempat, duduk di atas batu sedikit lempeng dan selalu menghadap ke arah barat, arah yang memungkinkan melihat lalu lalang orang melewat di jembatan. Rumput di sekitarnya hijau berbeda dengan yang di seberang. Hujan yang kadang turun, tak membuatnya beranjak, Ia akan tancapkan payung besar dan tetap memegangi joran. Jika air banjir tak sampai membahayakan, Ia akan tetap di situ sampai menjelang gelap, sampai udara terasa lembab dan dingin.

“Saya boleh duduk di sini, kek?”

“Boleh. Tapi kamu nggak boleh mengganggu kakek. Kalau membantu, boleh.”

“Bantu apa kek?”

“Nanti kalau kakek butuh bantuan. Kalau..”

“Siap. Boleh pinjam pancingnya satu kek?”

“Kalau yang di sini nggak boleh. Kalau kamu mau, beli saja. Ini uangnya?”

“Kenapa kek? Di sini juga ada, kenapa harus repot-repot beli?”

Kakek Bara hanya tersenyum, tak segera menjawab sambil menyodorkan selembar uang ratusan ribu. “Kau tak perlu tahu. Atau, belum perlu tahu.”

“Nggak usah Kek, saya pakai ini saja. Maaf, saya ingin cobain joran yang kelihatannya bagus. Maaf Kek.”

“Nggak apa. Nyantai saja, tak perlu terpikirkan. Kamu dari mana? Sengaja mancing di sini? Biasa di mana?”

“Dari sekitar sini Kek, dekat tapi lain desa. Perbatasan. Sengaja cari tempat yang asyik. Saya sering di sini. Setiap lewat sering lihat kakek di sini, jadi pengin ke sini. Sepertinya menarik.”

Kakek Bara mengusap daguya. Janggutnya yang sebagian memutih agak tertata kembali. “Kakek hanya menunggu maghrib datang, untuk pulang, mandi dan pergi tidur.”

“Kapan Kakek tidur?”

“Tak tahu, tak pernah tahu. Tahu-tahu kakek sudah terbangun pada waktu yang berbeda. Hal yang selalu ingin kakek ketahui; tahu sendiri kapan saya tertidur, pada jam berapa, menit keberapa, detik keberapa?”

“Saat beranjak tidur, Kakek berdoa agar terbangun lagi?”

“Kadang berdoa begitu, lebih sering lupa. Lagian, apa kita punya kekuatan untuk bangun di saat tidur? Jika kemudian tak juga bangun selamanya, apa daya kita untuk bangun lagi?”

Pembicaraan terhenti.

Entah karena ada apa, di atas jembatan terjadi keriuhan. Banyak orang berkerumun saling memaki, salin dorong dan saling bentak. Air yang mengalir di bawahnya, tenang-tenang saja, tak cepat, tak lambat, dan tak ada riak gelombang kecil karena arus angin. Belasan capung warna warni terbang pada satu tempat dengan sesekali menukik menyentuh air. Biang berdiri memanjangkan lehernya, melongok  sambil terus menajamkan mata.

“Ada yang berantem kek?”

“Biarin aja. Itu kerjaan mereka.”

“Saya mau lihat kek. Saya mau naik. Kakek nggak mau lihat?”

“Yang lebih dari itu, sudah sering Kakek lihat.”

“Kakek pernah ribut-ribut?”

“Kenapa kau tanya begitu? Tampang kakek tukang ribut?”

“Hmmm... sepertinya.., eh, nggak juga Kek.”

“Kau lihat dan perhatikan. Sebentar lagi ada sesuatu yang dilempar ke bawah. Ke sungai, ke air.”

“Kakek yakin?”

“Pernah lihat, pernah mengalami, pernah terlibat.”

“Maksud Kakek?”                                                                                   

Kakek Bara hanya tersenyum. Ia mengangkat joran memindahkan pancing pada tempat lain. Seekor capung merah mengikuti arah pancing mencelup dan berhenti terbang bertahan diatasnya. Gelombang ombak lembut menyebar membuat lingkaran sampai pada dinding-dinding sungai. Seekor ikan berkulit perak menyembulkan kepalanya di sisi kiri, menari sebentar, berputar seputaran dan menyelam dengan meninggalkan cipratan air dari ekornya yang menggelepar. Kakek Bara acuh, tak peduli, Biang terpesona dan berteriak, “Itu Kek....” Ia tak tertarik, malah mengalihkan pembicaraan.

“Kau hobi mancing?”

“Nggak juga, Kek. Cuma, kadang-kadang pengin mancing. Di rumah terus jenuh.”

“Orang tua-mu di mana?”

“Mereka sibuk cari uang. Sibuk cari teman.”

Kakek Bara tersenyum. Biang tak mengerti senyumnya. Diam, hening sesaat di sekitarnya. Di atas jembatan keributan masih belum reda dan tiba-tiba, “Blouaarrrrrr.....!” sebuah benda sebesar tivi tabung 21 inch meluncur deras dari atas jembatan menghantam air dan melayang tenggelam ke dasar sungai. Orang-orang  di atas jembatan memandanginya. Biang agak terusik tapi Kakek Bara tetap duduk santai mengamati pelampung pancing.

“Terbukti kan yang Kakek bilang tadi.”

Biang tersadar, “Iya yah....,” pikirnya.

Hampir separuh yang ada di atas jembatan berlari turun ke sungai. Memberosot melewati ilalang dan semak liar berduri. Dari yang berpakain necis lengkap dengan dasi dan sepatu jenggel mengkilap sampai yang hanya berkaos singlet tanpa alas sepatu. Dengan sekejap mereka sudah berada di bibir kanan kiri sungai, memandangi air sungai yang sudah tenang tanpa bekas, siap terjun menyelam.

Kakek Bara berdiri, menyerahkan joran pada Biang, berjalan sepuluh langkah dan berdehem pelan dengan nada rendah. Seketika semua orang yang berada di bibir sungai bersorot mata mengarah ke satu titik. Tak ada yang bergerak, tak satupun yang bersuara, sepertinya nafas pun mereka tahan. “Kalian semua pulanglah. Kotak itu isinya tak diperlukan kalian semua. Saya tahu itu. Pulang, jangan mau tertipu. Jangan buang-buang energi dan mengabaikan waktu hanya untuk sebuah kotak.”

Satu persatu mereka bergerak membalikkan badan, beranjak perlahan kemudian berjalan bergegas menuju jalan. Tak ada suara membantah. Sesampai di atas jembatan, mereka berderet pada pagar jembatan memandangi tempat jatuhnya kotak. Dan mereka telah berganti baju, entah kapan. Baju-baju yang bagus warna-warni dengan gambar, simbol dan tulisan penyemangat. Mereka mengelompok sesuai warna baju yang dikenakan. Sinar matahari yang telah memanjangkan bayangan dua kali lipat, memapar agak sedikit kasar. tak sampai sepuluh menit, mereka bosan dan pergi. Baju-baju yang mereka pakai dilepas, ditaruh pada tempat yang berbeda-beda sesuai warna. Di bawah jembatan, Biang terpana, mulutnya terbuka sedikit lupa mingkem.

“Mereka kenal kakek?”

“Mungkin mereka salah lihat, saya dilihatnya seperti orang yang mereka takuti dan taati.”

“Nggak mungkin kek. Saya yakin mereka kenal kakek.”

“Jangan terlalu yakin. Kau akan sangat kaget jika keyakinanmu ternyata salah. Biasa saja.”

“Tapi kek....”

“Lihat,” Kakek Bara menarik jorannya perlahan dan menggulung tali senar perlahan. “jika terasa berat, menariknya harus dengan seni dan perhitungan yang matang, pelan-pelan, sabar. Jika tidak, senar akan putus dan mangsa akan hilang.” Yang terperangakap pancing Kakek Bara besar dan berat, tapi tak ada gerakan berontak melepas kail. Saat terangkat ke permukaan, Biang terkejut.

“Kotak yang tadi jatuh dari atas, Kek.!”

Kakek Bara hanya tersenyum, “Iya.” Jawabnya pendek tanpa tekanan nada. Biang segera membantu mengangkatnya. Meski baru dua kali pertemuan, mereka akrab seperti sudah lama. Susah payah berdua mengangkatnya selama sembilan menit.

“Begini cara mbukanya.” Kakek Bara membuka tutup kotak yang tampak rapat dan kencang hanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya setelah Biang gagal meski dengan sepenuh tenaga. Dua kali congkelan kanan kiri, tutup terbuka. Di dalamnya, tertata rapi tumpukan kertas dan benda-benda antik seperti peninggalan kerajaan kuno. Ada juga tumpukan album foto dari yang bersampul hitam putih pudar sampai yang bersampul warna-warni cerah. Tak ada yang rusak dan basah, semua masih baik, “Catatan dan arah sejarah bisa berubah jika saya buka semua yang ada di sini.”

Biang terdiam, bingung. Dahinya mengerut berusaha mencoba memahami. “Ini semua isinya tentang apa kek?” Kakek Bara tak menjawab, Ia malah sibuk mengambil handphone di saku celana kiri dan segera menelpon.

“Kamu segera ke sini. Ke tempat kemarin!”

Tak sampai sepuluh menit sebuah mobil berkaca gelap mendecit menahan laju. Dua orang berbadan kekar dan kerempeng turun ke tepi sungai menuju Kakek Bara.

“Apa yang harus kami lakukan, boss?”

“Angkat kotak ini. Tak ada yang boleh membukanya. Siapa pun. Kalian harus lawan jika ada orang yang memaksa ingin tahu.”

“Siapp Boss...”

“Segera bawa ke rumah, taruh di kamar nomor dua dari selatan. Ingat, hati-hati di perjalanan, jangan ada satupun orang curiga.”

“Siap Boss.”

“Buktikan! Bukan hanya siap boss, siap boss, melulu.”

“Siap Boss.”

“Okeh, langsung..!”

Dua orang itu segera membawa kotak ke dalam mobil. Selepas suara pintu di tutup, suara knalpot menderu melesatkan mobil. Kakek Bara melanjutkan lagi mancing. “Kau ingin tahu apa yang ada di kotak itu nak?” Biang terkaget. Pikirannya yang sedang melayang putus benang, kembali pada raganya. Ia tak segera menjawab pertanyaan. Diam, mengernyitkan dahi, merapatkan kelopak mata, mencari kalimat yang tepat.

“Apa ada gunanya saya tahu Kek? Jika saya tahu atau jika tidak tahu, apa pengaruhnya bagi saya, bagi sekitar saya, bagi kami berdua, bagi kita semua?”

“Pertanyaan saya tadi sederhana, kau ingin tahu yang ada di kotak itu? Tinggal jawab iya atau tidak. Kenapa kamu ribet begitu?”

Biang salah tingkah. Ia menempatkan lagi mata pancingnya pada bidang air yang sedikit beriak. Ia menggali lagi pertanyaan untuk Kakek Bara yang sudah tenggelam di dunianya.

“Kenapa Kakek nggak bikin kolam pemancingan di dekat rumah?”

Kakek Bara menengok, “Di dekat rumah ada, tapi saya tidak suka mancing di situ.” Kakek Bara menyentakkan joran, seekor ikan sebesar ibu jari terangkat, menggelepar berontak di ujung tali senar, dan terlepas, segeralah ia menyelam menghilang dari pandangan. Diperiksanya umpan di kail, masih belum berkurang. “Jika saya mancing di dekat rumah, burung-burung piaraan saya suka bernyanyi. Bernyanyi terus sepanjang saya mancing. Saya jadi risih. Tetangga kami sudah mulai mengerti nyanyian burung-burung saya. Semua suara burung sudah dipahami. Saya ingin melepasnya, tapi khawatir jika bernyanyi di sembarang pohon. Saya tak mungkin mematikannya, itu lebih berbahaya. Kau ingin mendengarnya?”

“Ingin Kek. Hal yang menarik. Kapan kakek ada waktu?”

“Besok jam dua-an bisa. Eh, Apa saya sudah tampak tua, kau panggil aku kakek?”

“Maaf, biar tambah akrab saja. Kalau manggil ‘pak’, semua orang laki-laki di sana bisa saya panggil pak.”

Dua meter di atas kaki langit sebelah barat matahari sudah bersiap meninggalkan siang. Kakek Bara berkemas pulang, “Saya tunggu kau besok. Ini alamat rumahku.” Biang menerima lembar kertas kecil, kartu nama. Mereka berjalan beriring ke jalan untuk berpisah karena berbeda arah pulang.

“Kakek belum tahu nama saya kan? Saya Bianglala, biasa dipanggil Biang, tapi banyak orang memanggil saya Biang Keladi.”

“Kamu Biang Keladi?”

“Iya Kek.”

“Biang Keladi itu?”

Biang memandangi Kakek Bara. Sorot matanya mengiyakan.

“Kau telah banyak tahu tentang aku.”

“Tidak juga. Saya nggak tahu dan nggak ngerti.”

Kakek Bara mempertegas langkahnya, “Sedikit yang kau tahu, sudah terlalu banyak.”

***

Tengah hari, ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun dengan suhu 35 celcius, Kakek Bara duduk bersila di pinggir kolam berair keruh di tengah jalan yang rusak. Ia memancing di situ, berkaca mata hitam, betopi putih seperti topi pemain tenis profesional. Peralatan mancingnya tergeletak di sisi kanan. Pengendara yang lewat sibuk menghindari setelah memandanginya heran. Biang yang melihatnya segera menghampiri.

“Kek?” Kakek Bara sedikit mendongak dengan tatapan tajam.

“Kamu pasti menganggap saya gila.”

Biang diam sejenak, “Itu kalimat yang saya duga.”

Asap dan suara knalpot, debu, deru kendaraan, lengkingan klakson, membaur membubung ke langit. 

“Saya ikut mancing di sini, Kek.”

22.31.26.04.2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar