Label

Jumat, 30 Desember 2016

Berhenti menulis puisi.



Bertahun yang lalu saya gagal memahami, puisi Afrizal Malna dan Gunawan Muhamad. Berkali, berulang, mencoba, mencoba, menafsir. Gagal. Tak mengerti yang tersirat, tak memahami yang tersurat. Semua tak juga masuk pada pembahasannya.
Menafsir dari berbagai sudut, tak juga masuk dalam pembahasannya.
Maka aku memilih berhenti mencoba menulis puisi.
Tapi, seorang temanku yang penyair, menyemangati, “tak perlu harus tahu dan memahami semua puisi.”
Maka aku berniat mencoba lagi. Sampai sekarang masih berniat.

Selasa, 27 Desember 2016

hoax

Jika berita hoax dan berita nyata tak bisa dibedakan, apa kita harus melepas semua informasi tentang berita.

Ada yang ingin di capai pad seseorang yang rajin membuat dan meng-upload berita hoax pada internet. Rumus sederhananya, setiap ada perbuatan pasti ada yang ingin dihasilakan dari apa yang dilakukannya. Bisa karena uang, hobi, keinginan, iseng atau bisa juga karena tekanan.

Berita hoax yang disusun dan ditulis dengan rapi, sistematis, dan juga penuh dengan argumen serat tautan kejadian yang sudah ada dan terkenal, menjadikan berita yang hoax membius si pembaca dan bisa mengalahkan berita yang sebenarnya nyata.

Jaringan internet yang makin luas dan akses data yang semakin mudah, menjadikan sebuah berita dalam bentuk apapun, tulisan, audio, visual, gambar, kartun dan alat komunikasi apa saja bisa menyebar dalam hitungan detik.

Kabar buruk bisa berlipat kali penyebarannya dibanding berita baik. Tak heran jika para penulis berita memberi judul yang dramatis, menggugah penasaran untuk meng-klik. Jumlah viewer itulah yang diperlukan bagi para penulis di dunia maya yang dapat menghasilkan uang dari ppc ( pay per clik ), bagi mereka yang berasimilasi dengan layanan iklan semacam google adsense, misalnya, atau semakin banyak pengunjung dan pengikutnya ( subscriber ), pihak pemasang iklan bisa langsung memesan space untuk ditayangkan.

Ujung tujuan dari berita hoax bagi si penulis ( penyebar ) sangat beragam dan berbeda. Dan sasarannya juga bermacam-macam. Hoak akan tidak berpengaruh jika budaya rajin membaca sekaligus memilah sebuah bacaan, semakin baik. Sisi baik dari berita hoax, kita menjadi tidak mudah terprofokasi dan menjadi pembaca yang mengerti dan memahami.

Karena si pembuat hoax selalu punya kepentingan, jangan berharap hoax akan berhenti. Menjadikan kita memahami, mengerti dan bijak dalam menyikapi berita akan menjadi langkah yang bisa untuk meredam kita dari pengaruh berita hoax.

Rabu, 14 Desember 2016

MEMBACA TWITTER PENDUKUNG

Kesan yang timbul ketika membaca twit dari beberapa orang pendukung calon Gubernur DKI adalah, calon yang ia dukunglah yang paling sempurna untuk menjadi Gubernur DKI di tahun 2017 nanti. Segala antisipasi dan kemungkinan direka-reka agar pada 15 Februari 2017 nanti, para pemilih berkeputusan untuk memilih calon yang didukungnya. Maka, dalam menulis statement pendek di twitter yang hanya menyediakan 140 karakter pun, perlu ekstra hati-hati agar tak dijadikan senjata oleh lawan tandingnya untuk menjatuhkan jagoannya. Internet dan media sosial telah menjadi alat yang efektif sekali untuk menyebarkan segala berita.

Para timses tentu akan meperhitungkan setiap huruf yang akan di upload ke media. Semua bisa menjadi senjata yang menguntungkan dan bisa berbalik menjadi senjata untuk lawan yang siap menikamnya. Saya sempat membaca twit seorang ( Politisi PDIP ) pendukung cagub Ahok-Jarot dengan timse dari AHY-Sylvi yang saling berdebat. @budimansujatmiko vs @ranabaja. Dua-duanya merasa berani untuk debat terbuka dan saling merasa punya bukti dan argumen yang kuat untuk mendebatkan sesuatu masalah yang didebatkan dalam twitter. Unsur kehati-hatian tampak sangat di jaga, meski emosi dan kegeraman masih nampak muncul tak tertutupi. Saling menantang, ‘mengejek’ dan mencari pembenaran atas apa yang telah di-twitnya, juga tak jarang menyerang secara personal.

Debat di twitter yang dimungkinkan banyak yang membacanya, pasti diperlukan kalimat yang singkat dan padat meski bisa juga mentautkan postingan dari laman lain. Dan yang tak kalah penting adalah jangan sampai apa yang di twit ‘salah’ sehingga menjadi celah bagi pihak lawan masuk dan membuka jalan lain dalam untuk menyerang terus menerus dan menjatuhkan. Pengguna twitter memang tak sebanyak facebook, tapi di twitter, yang bukan follower pun bisa melihat apa yang di twit atau mencari bahasan dengan hastag tertentu. Di situ bisa melihat retweet yang diquote dari sebuah twit seseorang untuk saling membalas dan menjadi ajang perdebatan. Kadang kata-kata nyinyir tersirat, mungkin untuk memancing lawan debat. Dan keduanya mempermasalahkan kenyinyiran itu, seolah mereka tak bersih dari kalimat nyinyir. Tapi, yang namanya debat, tetap masalah ingin menjatuhkan lawan debat tetap terbaca.

Saya jadi membayangkan jika mereka saling bertemu untuk berdebat di muka umum ( di siarkan live oleh televisi ) atau di tempat terbuka dengan banyak penonton dan kemudian debat dengan hanya berdua tanpa direkam, tanpa penonton. Jika debat cara yang pertama, tentu keduanya akan menjaga imij ( image ) sekuat tenaga agar emosi dan ‘kegeraman’ tetap terjaga sehingga menimbulkan kesan sebagai intelektualis yang patut, santun, berpendidikan dan meng-Indonesia. Berusaha menunjukan saya dan yang saya dukung adalah terbaik dan yang melihatku berdebat harus salut dan menjadi mendukungku, itu menjadi tanggungjawab yang harus dipikul. Tanggungjawab itulah yang membatasi ekspresi dan selalu terpikirkan sebagai rambu-rambu yang secara sadar harus tidak boleh dilanggar. Jika terjadi ketidaksengajaan melanggar, ini akan menjadi sebuah blunder yang akan sulit untuk menetralisir. Dan akan menjadi sangat repot jika pelanggaran itu seperti disengaja dan tidak punya bukti-bukti dan argumen pendukung untuk mem-backup apa yang diucapkan.

Secara umum debat di twitter, menurut saya menjadi menarik karena keterbatasan ketersediaan space karakter yang hanya 140, memunculkan penafsiran baru. Kadang juga ada beberapa kalimat yang sengaja dimultitafsirkan dan tetap dibiarkan menyimpan misteri. Dari kalimat multitafsir itulah kemudian muncul hal lain yang membuka pintu lagi untuk masuk dalam perdebatan lebih jauh.

Selamat berdebat, semoga calon gubernur yang kalian dukung jadi semua.

Kamis, 01 Desember 2016

Aspirasi di jalan

karena capek menghindari lubang di sekujur jalan
aku berhenti dan berteriak tepat di perempatan jalan saat pagi menjelang siang;

“pak bupati, pak gubernur, pak presiden. jika anda ingin dipilih lagi
bikin jalan yang bagus, yang bagus. karena jalan alat kampanye paling terlihat..”

para sopir dan pengendara lain bertepuk tangan

“semoga bukan tepuk sebelah tangan.” aku berdoa. mereka tak tahu. tak mengerti.

bergegaslah semua, juga aku, memburu waktu agar tak terlalu panjang terlambatnya

INI TENTANG SEANDAINYA DAN MUNGKIN ( AHOK )

Seandainya dan mungkin itu dua buah kata yang mudah untuk di kembangkan ke berbagai arah. Berbagai bahasan bisa saja mengarah ke sesuatu yang sebelumnya tidak terduga. Melenceng dari awal bahasan. Bisa saja mengarah pada sesuatu hal yang lebih mengasyikan, lebih menakjubkan, inspiratif atau bisa saja malah mengarah pada hal yang menjemukan dan tidak berkembang menjadi sebuah bahasan yang mengasyikan. Seperti para pelawak di panggung yang pandai berimprofisasi sahut menyahut, sambung menyambung yang meletupkan sebuah kejutan yang melahirkan tawa segar yang sebelumnya tak terduga.

Coba, seandainya ( 1 ) besok tanggal 12 Desember 2016, aksi menuntut Ahok, Gubernur DKI yang tersangka penistaan agama yang diberi label Aksi Bela Islam III, berjalan damai, santun, tanpa kerusushan, tanpa sampah berserakan dan tanpa korban jiwa seperti pada aksi tanggal 4 November 2016, pokoknya semua berjalan indah dan Islami. Tapi, apa yang diharapkan oleh para peng-aksi, tidak dipenuhi oleh pemerintah yang sedang berkuasa, berkesan mengulur waktu sambil mencari berita (booming) lain agar masalah Ahok terlupakan. Seandaianya begitu apa yang terjadi?

Maka ini akan melahirkan berbagai macam mungkin. Mungkin akan ada aksi lagi yang dengan cara lain. Mungkin ada cara lain yang lebih halus atau bahkan lebih kasar agar tuntutannya terpenuhi. Mungkin warga DKI yang punya hak pilih banyak yang tadinya mendukung Ahok berbalik menjadi pendukung calon lain. Jika demikian, menjadi sebuah mungkin bagi Pasangan Agus-Sylviana dan Anis-Sandiaga merubah strategi ‘menampung’ suara Ahok yang keluar karena Aksi Bela Islam III. Mungkin itu menjadi berbenturan bagi dua pasangan  yang menyikapi mungkin yang sangat dinamis. Berbagai cara dan strategi untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terus menerus bergerak liar mungkin sudah disiapkan dengan mungkin-mungkin yang lain yang mungkin timbul.

Mungkin penguasa menyiapkan strategi lain agar kekuasaan dan kekuatan pemerintah tetap tegak berdiri. Atau mungkin, sekarang pun mereka sedang menimbang-menimbang langkah apa yang harus dilakukan sekarang sampai besok pagi, sampai lusa, sampai benar-benar bisa terkendali. Mungkin ada strategi ‘pengamanan khusus’ pada seseorang atau pada kelompok tertentu agar tidak menjadi sebuah gerakan yang meluas ke seluruh wilayah Indonesia dan kekuasaan pemerintah tetap tegak sampai habis masa kontraknya. Segala kemungkinan di catat, di jejer dan dihitung kemungkinan-kemungkinan terbesar yang mungkin timbul dengan segala akibat dari berbagai mungkin yang bercabang-cabang.

Mungkin pembela dan pendukung Ahok terus berkelit sambil mencari kekuatan baru. Mungkin yang berkepentingan dengan politik dan kekuasaan “melaui” Ahok terus menggalang masa dan mencari cara agar Ahok bisa maju dalam Pilgub DKI tahun 2017. Dan tentu berusaha sekuat mungkin agar perolehan suaranya melebihi 50% agar tak perlu ada pemilihan kedua. Dan jika Ahok sampai terpilih jadi Gubernur di Pilkada Februari 2017 nanti. Dan mungkin saja kemudian kawan dekat politiknya malah berbalik arah berusaha agar Ahok jadi dipenjara. Dan jika sampai Ahok dipenjara, tentu wakilnya yang naik jadi Gubernur dan kursi wakilnya jadi rebutan. Dan yang merasa partai  besar pasti tunjuk jari secepat mungkin agar kadernya duduk di kursi yang ditinggal naik. Mungkin sekarang sudah ada yang mempola skenario semacam itu.
Itu mungkin dari seandainya ( 1 ), yang masih banyak sekali mungkin yang lain yang belum tertulis di sini.

Coba, seandainya ( 2 ), aksi terjadi chaos, rusuh, terjadi adu fisik dan timbul korban jiwa. Meski umat Islam menjaganya agar tetap damai, tenang, dan tertib. Pihak-pihak yang menginginkan terjadi kerusuhan bisa saja memancing masa, dengan berbagai cara : menyebar isu, berita hoax, memprovokasi dll.

Akan banyak lagi melahirkan mungkin. Peristiwa 98 bisa terjadi, benturan SARA mungkin bisa saja terjadi dan meluas menjadi kekacauan yang melebar. Dan yang paling menakutkan adalah sebuah gerakan yang mengancam keutuhan NKRI. Dan sangat mungkin keutuhan NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika terancam. Nah, untuk mencegah ini, rupanya pemerintah sudah menyadari, salah satunya pada upacara Bhineka Tunggal Ika, di tekankan tentang kebhinekaan yang ada di negeri kita tercinta. Di kota saya pun diadakan upacara itu. Dan, elite-elite politik pun terus berkomunikasi, mencari titik temu yang tepat untuk meredam segala penjuru kepentingan yang terus berdesakan.

Coba, seandainya ( 3 ), aksi berhasil mendesak pemerintah memenjarakan Ahok. Dan Ahok dipenjara.
Apa mungkin pendukungnya Ahok berdiam diri menerima keputusan. Mungkin sekali mereka mencari cara lain agar sosok Ahok-Ahok lain lahir agar pintu kepentingannya terbuka untuk kelompoknya. Dan para pengacara berlomba membelanya mencuri perhatian para ‘orang bermasalah’  dan sekaligus mendapat upah. Karena membela kasus berat akan membuat pengacara berkibar dan menjadi pilihan bagi orang-orang yang bermasalah dengan hukum.

Coba, seandainya ( 4 ), aksi rusuh tapi tuntutannya tidak terpenuhi dan Ahok tetap melenggang dalam PilGub dan jadi.

Mungkin akan ada aksi lebih besar lagi, atau mungkin para peng-aksi kemudian lelah dan menurun rasa kepeduliannya untuk beraksi.

Coba, seandainya ( 5 ), Ahok mundur dari calon gubernur dengan syarat tidak lanjutkan permasalahan tuduhan penistaan agama.
Mungkin ada pihak yang menerima, mungkin saja ada pihak yang ingin tetap dituntut sesuai hukum yang berlaku, dan mungkin ada juga ingin Ahok di hukum sesuai keinginannya tanpa mengindahkan hukum yang berlaku.

Coba, seandainya ( 6 ), Ahok mundur dan menjadi pendukung aktif salah satu pasangan pesaingnya.
Mungkin, pihak yang didukung Ahok bisa bertambah suarnaya. Atau mungkin bisa saja malah membuat pendukung setianya malah pindah mendukung.

Coba, seandianya ( 7 ), ada pihak luar negeri yang berkeinginan Indonesia rusuh, berhasil menjadikan aksi besok menjadi gerbang untuk masuk bagi kepentingannya.

Coba, seandainya ( 8 ), pihak yang menerima maaf Ahok dan tidak dilanjutkan perkaranya dengan pihak yang menuntut Ahok dipenjara bertemu dan berdebat.

Mungkin, ....

Berganti seandainya, maka akan merubah mungkin. Karena seandainya, pintu masuk untuk berbagai mungkin.