Jumat, 16 Juni 2017

SEBILAH GOLOK DI LEMARI RAK BAWAH

djayim.com  cerpen
Ketika Goldi menyimpan tasnya di lemari, di hati Pak Bagyo tak timbul perasaan untuk tahu apa isinya, karena Ia sedang melayani seseorang pembeli rokok. Ia hanya mendengar kata-kata Goldi yang sambil berlalu, “Tolong Pak, titip tas ini. Jangan boleh ada yang ngambil kecuali saya.”
Saat sepi tak ada pembeli. Pak Bagyo teringat kata-kata Goldi setiap kali menitipkan tasnya. Tentu tak ada yang boleh mengambil tasnya kalau bukan dia, tapi kenapa Ia selalu berpesan ‘jangan boleh ada yang ngambil kecuali saya’, padahal sudah sangat sering Ia menitipkan tasnya. Kadang beberapa hari tak diambil, kadang sampai seminggu, tapi Goldi tak pernah lupa pada tas yang dititipkannya. Pak Bagyo tak tahu apa ada tempat lain yang bisa dititipi tas selain di warung kecilnya. Rasa penasaranya tergugah juga untuk melihat apa isinya. Ia mesti yakin dulu kalau Goldi benar-benar tak memergokinya kalau mau melihat isinya.
Ia tutup dulu pintu di sebelah kanannya. Berjongkok, sebentar bangkit lagi untuk meyakinkan kalau Goldi benar-benar tak melihat apa yang dilakukannya, karena kalau hal itu tak disukai Goldi, bisa berabe urusanya.
Ketika menarik tangkai resleting, dari dalam tas tampak gagang golok hitam mengkilat dari tanduk kerbau. Perlahan Ia membuka seluruhnya setelah yakin tak ada orang lain yang melihat. Selain golok ada lagi satu celana panjang, satu celana dalam, dua buah kaos berwarna krem dan coklat tua dan sebuah sikat gigi berwarna biru. Golok menjadi perhatian utama bagi pak tua itu. Ia merasa kenal betul dengan golok dalam tas Goldi. Apa Goldi selalu selalu menyimpan golok ini dalam tas jika Ia menitipkannya di warungku? pikirnya. Ia menilitinya lebih cermat. Golok yang pernah Ia pegang bertahun-tahun puluhan tahun yang lalu, punya tanda yang tak orang lain tahu jika tak menelitinya dengan cermat. Pada gagang bagian dekat dengan pangkal golok dan di bagian pucuk golok ada cacat kecil yang tak kentara dan tak mudah hilang. Meski bentuknya sama persis dengan goloknya dulu, Ia merasa perlu meyakinkan lebih mantap dengan tanda di golok itu. Sebelum sempat lebih cermat menelitinya, ada seorang calon pembeli datang membeli. Ia segera merapikan tas, menyimpannya kembali seperti semula.
Puluan tahun yang lalu Pak Bagyo memang orang jalanan, malang melintang di sembarang tempat keramaian, di terminal atau di pasar. Ia lebih dikenal dengan nama Sargao, karena memang nama aslinya. Di manapun di sekitaran kotanya Ia begitu dikenal, terutama bagi orang-orang yang sering beraktivitas di terminal dan di pasar. Badannya yang tinggi tegap seakan tak pernah akan lapuk dimakan usia. Ia begitu tangguh untuk sekedar menjadi petarung di jalanan. Nyalinya hebat, pantang menyerah, pintar dan selalu bisa mengatasi keadaan yang mengancam dirinya walau kadang dengan cara-cara licik.
Sargao perkasa adalah sosok orang yang bisa masuk ke setiap lapisan sosial. Ia bisa begitu garang, bisa begitu lembut dan santun, bisa ramah dan menyenangkan. Ia bisa jadi dewa penolong dan di saat lain bisa jadi manusia perusak yang mengamuk mengobrak abrik semua benda yang ada di sekelilingnya. Memusuhinya bisa menjadi awal malapetaka bagi sapa saja. Maka jangan heran jika banyak orang memilih mengalah kalau ada urusan dengannya meski dengan hati dongkol.
Sejak kecil Sargao memang menyukai olah raga bela diri dan olah raga keras lainnya. Ia juga rajin mengaji seperti anak-anak lain seusianya disekitar tempat Ia tinggal. Di sekolah Sargao termasuk anak pintar meski tak pernah ranking satu di kelasnya. Pernah Ia mendapat ranking kedua saat kelas empat di dua catur wulan pertama, -itu prestasi tertingginya di sekolah- sayang  saat kenaikan kelas Ia hanya urutan ke lima. Jadi orang jalanan yang mengandalkan kekerasaan tak pernah terlintas dalam benaknya apalagi jadi cita-citanya. Entah waktu dan pintu mana yang telah mengantarnya jadi seorang jagoan jalanan. Semua mengalir tak pernah berhenti seperti lajunya usia.
Keadan ekonomi selalu saja dijadikan alasan orang untuk berbuat apa saja. Mungkin itu juga yang secara tak sengaja mengantarkan Sargao remaja harus berebut rejeki di sepanjang jalan tempat melintas orang-orang berpergipulang. Untuk bisa sekolah di menengah atas Ia mesti membantu orang tuanya untuk membiayai sendiri sekolahnya walau tak seluruhnya.
Di sore hari, ketika mobil angkutan pulang, ia ikut menjadi pencuci mobil. Ia selalu bekerja sungguh-sungguh dengan hasil yang lumayan. Ia mulai mengenal rokok, mencobanya dan kemudian membelinya adalah hal pertama setelah mendapat uang.
Ada keputusan lain dalam pikirannya setelah merasakan nikmatnya uang dari hasil keringatnya sendiri; untuk apa repot-repot sekolah kalau toh akhirnya nanti harus cari kerja juga. Ia mulai jarang masuk sekolah. Jika ada kesempatan untuk menggantikan kenek mini bis ataupun truk, Ia segera dengan sikap menawarkan diri. Badannya yang bongsor dan mulai nampak kekar serta pekerja keras  membuat para sopir senang memakainya. Sargao pandai berteman dan cepat menyesuaikan diri di setiap tempat dan itu telah membawanya cepat banyak kenalan.
Belum genap setengah tahun sekolah, Sargao sudah benar-benar keluar. Sebelumnya beberapa temannya berusaha membujuk untuk masuk kembali, tapi hanya satu dua hari Ia masuk, itupun ketika baru tiga empat bulan awal masuk sekolah, kemudian tak lagi masuk sekolah. Baginya berpetualang di jalanan dengan berbagai kondisi dan cuaca lebih mengasyikan ketimbang harus bergelut dengan berbagai disiplin ilmu yang terus dijejalkan di bangku sekolah. Sudah bikin pusing harus bayar pula, mahal lagi!
Perlahan Ia mulai merasakan bagaimana ketat dan kerasnya berebut mendapatkan uang. Harus benar-benar lincah, cekatan dan tak kalah gertak dengan sesama pemburu uang.
Pertama Ia merasakan kerasnya persaingan berebut rejeki di terminal saat Ia harus menerima dua pukulan telak di wajah dan pelipisnya tanpa balas  karena Ia menaikan tiga orang penumpang.
“Enak saja kamu, baru datang sudah main sikat! Kamu lihat, mobil saya sudah hampir satu jam ngetem belum dapat penumpang!” hardik kenek Bis Laju Angin. Sargao hanya bisa diam dan pasrah, padahal Ia tahu betul bis itu datang di belakangnya. Sargao juga tak mungkin minta pada sopirnya, Pak Samaun, untuk melawannya. Ia orang yang lebih suka mengalah dan tak mau ribut. Mungkin Ia menyadari fisiknya yang kecil kerempeng.
Merasa telah cukup lama sering dibodohi dan terus diinjak-injak, Sargao menyusun keberanian untuk suatu saat yang tepat memberikan perlawanan dengan segala resikonya. Sasaran pertamanya kenek Bis Laju Angin yang sering membikinnya kesal dan suka main tangan padanya. “Ia orang yang cukup ditakuti. Jika aku dapat mengalahkannya tentu banyak orang jadi segan padaku,” pikirnya, “jika kalah, aku harus menyingkir cari aman.”
Kejengkelan Sargao yang menggunung membentuk keberanian dan energi yang begitu dahsyat. Saat Dido, kenek Bis Laju Angin, membentak sambil mendorong kepalanya ke belakang dengan kasar, dengan cepat Sargao menangkap tangannya, menariknya dengan keras. Saat Dido terhuyung ke depan, sebuah pukulan penuh tenaga diluncurkan ke mukanya. Kepala Dido terpental ke belakang, tubuhnya terjerembab keras mencium tanah becek. Sargao berdiri mengangkang di atasnya menunggu Dido bangkit. Tapi, nampaknya Dido terkapar tak berdaya, maka langit di atas terminal perlahan mendaulatnya menjadi calon jawara baru. Sargao tak tahu menahu tentang itu, Ia hanya ingin mengalahkan orang yang selalu membikinnya kesal.
Berawal dari meng-KO Dido, Sargao mulai mendapat ruang yang leluasa di kawasan terminal. Ia belum cukup mengerti dan belum tersirat keinginan untuk menguasai terminal. Ia hanya ingin saat menjadi kenek mini bis tak ada lagi orang yang usil seperti Dido. Sargao merasa tak perlu meyakinkan pada setiap orang kalau dirinya tak berniat untuk mengambil alih lahan rejeki orang lain. Meski begitu pun ada saja orang yang merasa posisinya terancam. Seorang jawara terminal selalu mengawasi setiap gerak-gerik Sargao. Apalagi setelah Sargao kembali memukul  jatuh kenek Bis Laju Angin yang lain (temannya Dido) yang mencoba membalas dendam temannya di suatu siang yang panas.
Jaka, sang jawara terminal yang lebih senang dipanggil Jago, mulai menebar ancaman pada Sargao lewat Pak Samaun. “Jaga tingkah si Sargao! Jangan sampai aku berkeputusan melenyapkannya!” Pak Samaun yang telah tahu betul karakter kasar Jaka segera menyampaikan ancaman itu pada Sargao. Ada rasa gentar terbaca di raut wajah Sargao.
“Jaka itu orangnya seperti apa Pak?”
“Nanti akan aku kasih tahu. Yang jelas kamu harus jaga emosimu. Kalau dia tak suka, dia tak segan-segan untuk melenyapkanmu.”
“Apa aku pernah menyakitinya?”
“Pokoknya dia sudah merasa tak suka dan tak ada orang yang bisa mencegahnya di terminal ini!”
Lima hari setelah Pak Samauan memperingatkan, Sargao benar-benar menuai ancaman Jaka. Pak Samaun hanya bisa melongo ketika Sargao di seret dari pintu mobil saat mau pulang ketika hari menjelang senja dengan guyuran gerimis. Di lorong gedung-gedung pergudangan yang tak jauh dari jalan Jaka membawanya. Dari balik bajunya Jaka mengeluarkan golok dan menghunusnya.
“Aku harap kamu menyingkir atau terpaksa harus kusingkirkan dengan ini,” kata Jaka dengan nada sarat sinis sambil menunjukkan golok ke muka Sargao. Sargao gemetar. Ia hanya diam bingung. Sebuah tamparan kecil mendarat di pelipis dekat ujung mata, sebuah peremehan. Jaka menghembuskan asap rokoknya pelan diikuti loncatan ludah ke ujung telapak kaki Sargao. Ciuhh!
“Maaf, seingat saya, saya tak pernah mengganggu anda,” kata Sargao sedikit terbata.
“Pokonya saya ingin kamu minggir!!” Sorot mata dan senyumnya penggambaran seorang pria perkasa yang jengkel menghadapi anak kecil yang nakal dan bandel. Sargao membacanya. Darah mudanya mendidih, rasa takutnya hilang, tenaganya bertumpuk, keberaniannya melipat ganda. Dunia serasa dalam genggamannya. “Suka-suka saya!” bentak Sargao tak kalah keras.
Darah Jaka membara. Ia menusukkan tinju kirinya diikuti ayunan golok di tangan kanan. Sargao terkena pukulan keras tapi bisa menghindar dari ayunan golok. Meski Sargao tak pernah berlatih ilmu bela diri, gerakan lincahnya mampu menghindar sekaligus menangkap tangan kanan Jaka, membenturkannya pada tembok gudang. Golok di tangan kanan Jaka terpental. Sargao memanfaatkan kelengahan dan kekagetan Jaka. Ia langsung menghajar Jaka bertubi-tubi membabi buta.
Jaka terkapar tak berdaya tapi tak sampai pingsan. Di sekitar mata kiri dan dagunya memar, di lubang hidungnya mengalir sedikit berdarah. Sargao memungut golok di tepi tembok dan sarungnya yang telah terjatuh dari selipan ikat pinggang Jaka. Ia berjalan ke arah Pak Samaun yang menunggu penuh kekhawatiran di dalam mini bis-nya.
Melihat kedatang Sargao dengan wajah segar bugar, wajah Pak Samaun berseri. Ia menyambut dengan sebuah pertanyaan, “bagaimana?”
Sargao menjawabnya dengan memberikan sebilah golok dalam sarungnya, “bisa aku atasi.”
Pak Samaun mengamati dan meneliti lebih cermat golok di tangan kanannya. Dahinya berkerut tebal, mulutnya berdecak sambil sedikit menggelengkan kepala. “Kamu akan jadi penguasa terminal itu!”
Sargao diam. Ia tak menegerti maksud ucapan Pak Samaun.
Esok harinya berita tentang kekalahan Jaka oleh Sargao telah tersebar seisi penghuni terminal dan seluruh awak bis dari berbagai trayek. Entah siapa yang menyaksikan pertarungan itu dan berkabar. Dan benar ucapan Pak Samaun, Sargao menjadi begitu disegani di setiap tempat. Semua orang memberikan prioritas padanya. Semua mau mengalah padanya. Sargao tahu hal itu karena pemberitahuan Pak Samaun, tapi dalam hati Sargao belum ada keinginan untuk menguasai terminal meski keadaan telah sangat memungkinkan. Baru setelah tiga bulan merasakan enaknya selalu mendapat prioritas, disegani dan ditakuti, Ia merasa perlu untuk mencari kekuatan lain untuk mempertahankan predikat barunya yang telah mulai disandangnya.
Sargao selalu merawat dan menjaga golok yang didapat sewaktu mengalahkan Jaka. Ia selalu ingat pesan Pak Samaun, “Jaga golok itu baik-baik. Selama golok itu masih di tanganmu, tak akan ada orang yang berani main-main sama kamu.”
Pernah Sargao tanya tentang asal usul golok itu dan Pak Samaun hanya memandang lewat ekor mata sambil menebar sedikit senyum, “kamu akan tahu sendiri nanti.” Sargao telah benar-benar menjadi jawara terminal. Ia mulai kenal dan mengkonsumsi berbagai macam narkoba, bergaul dengan wanita-wanita penghibur dan mulai terbiasa dengan kehidupan malam.
Semakin banyak tantangan dan ancaman dihadapi Sargao, semakin banyak pengalaman dan siasat untuk menghadapi setiap lawan dan kawan yang setiap hari mengintai mencari kelengahan. Dua tahun pertama Saragao tak banyak menghadapi musuh yang berarti atau mungkin karena belum banyak orang yang sebal dengan polah tingkahnya. Di tahun kelima Sargao mendapat lawan tangguh yang benar-benar mau mengambil alih kekuasaanya. Di sebuah kebun pisang di pinggir perkampungan Sargao mengajak lawannya dan menghabisinya dengan golok pusaka warisan dari Jaka. Dari awal Sarago tak berniat untuk membunuh lawannya, hanya sekedar untuk memberi pelajaran,  tapi kejadian itu begitu cepat. Golok di tangannya bergerak cepat membimbing tangannya menebas leher lawannya. Dengan perasan takut dan gugup Sarago berhasil menghilangkan barang bukti. Sargao lolos dari jeratan hukum. Sejak itu Ia menjadi terbiasa dengan berbagai macam kekerasan untuk menyingkirkan musuh-musuhnya.
Sargao menjadi penguasa terminal selama kurang lebih sembilan tahun. Ia menyadari setiap saat ‘jabatan’nya selau diincar oleh banyak orang jalanan. Ia tak ingin hidupnya berakhir sia-sia seperti dua musuhnya mati di tangannya karena mencoba merebut kekuasaanya. Perlahan Sargao menyingkir. Ia jarang datang ke terminal. Sampai kemudian Ia memutuskan meninggalkan golok pusaka itu di samping wc umum di tengah malam yang sepi. Ia kemudian menikah dengan gadis desa yang masih saudara dari ayahnya dan hidup bertani sebisanya.
Saragao mencoba bertahan hidup di desa dengan bertani meski perekonomiannya kocar-kacir. Ia kemudian kembali mencoba mengais rejeki di terminal dengan berjualan kecil-kecilan ketika merasa wajahnya tak lagi dikenali sebagai bekas jagoan terminal. Ia ganti nama menjadi Bagyo. 
Ia tak pernah tahu kenapa Goldi selalu menitipkan tas di warungnya. Ia kadang curiga kalau Goldi tahu masa lalunya sebagai mantan jagoan terminal kemudian mengabarkan pada orang-orang yang pernah disingkirkan atau dianiaya.
Sudah tujuh hari Goldi tak datang untuk mengambil tasnya. Di hari ke delapan, sesaat setelah Pak Bagyo selesai membuka warungnya, seseorang datang dengan memakai kaca mata hitam.
“Mana tas punya Goldi?!”
“Maaf, saya tak berani memberikannya selain padanya.”
“Berikan padaku!”
“Nanti Mas Goldi marah dan ngamuk. Saya yang repot Mas.”
“Dia tak akan macam-macam! Dia sudah habis!” kata lelaki kekar itu sambil menggorok leher dengan jari telunjuknya, kemudian menyerobot masuk dan mengambil tas di lemari. Sepertinya Ia telah hafal di mana tas itu biasa disimpan. “Aku tahu siapa kamu!”
Pak Bagyo terperanjat. Benar dia tahu siapa aku?
Esoknya Pak Bagyo tak pernah lagi membuka warungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar