CARI DI BLOG INI

Selasa, 11 Januari 2022

MENTERTAWAI DIRI

Secara tak sadar kita sering berkilas balik menuju ruang yang pernah dilalui dan berselancar sekenanya dengan tak runtut waktu. Saat ingatan kita kembali pada masa kecil, sering teringat sesuatu kejadian yang lupa permulaan dan bagaimana akhirnya. Bahas kami imut-imut lali atau ingat-ingat nggak ingat. Kita juga sering merasa heran dengan apa yang kita lakukan saat dulu. Keheranan itu timbul karena pijakan cara berpikir kita dengan saat sekarang, sedang sikap itu terjadi saat pikiran dan pengetahuannya belum pada taraf dan keadaan sekarang. Kondisi sosial, perubahan budaya, pola pikir dan kepercayaan mempengaruhi rasa keheranan.

Keheranan yang muncul tiba-tiba pada saat tertentu sering menimbulkan tawa. Tawa yang muncul karena heran kenapa bisa terjadi begitu dan kenapa bisa melakukan hal yang menurut pola pikiran kita sekarang sesuatu yang aneh. Ada banyak hal yang semula saat melakukan hal tersebut wajar dan biasa-biasa saja, menjadi aneh karena terbawa waktu, pola pikir dan budaya yang terus menerus berkembang. Sikap, ucapan dan reaksi kita pada momen tertentu bisa menjadi bahan tertawaan sendiri saat merenung atau dengan tidak sengaja teringat.

Mentertawai diri sendiri itu bebas  dan tak perlu berpikir terlalu jauh jika ada orang lain tersinggung. Ini juga bisa menjadi koreksi diri agar tak lagi melakukan tindakan yang tidak pada tempatnya, memalukan dan bodoh. Bahkan, diperlukan ruang dan waktu untuk mentertawai diri supaya tidak lagi melakukan tindakan bodoh dan memalukan. Pada taraf tertawa pada suatu masalah yang sedang dibahas, kita menjadi bisa mengerti seseorang yang tertawa itu mengerti secara luas atau hanya sekedar tahu sedikit, saat ketika terdapat sesuatu yang aneh bagi dirinya langsung tertawa. Banyak sekali tertawa yang justru menunjukkan si pentertawa tidak mengerti banyak tentang hal yang ditertawakannya dan nampak bodoh bagi orang yang lebih tahu tentang apa yang sedang dibahas. Tertawa juga bisa membuat orang yang ditertawai tersinggung dan marah.

Diam bisa menjadi pilihan ketimbang berkomentar dengan tidak mengerti subtansi, karena mentertawai sesuatu masalah perlu pengetahuan, pengalaman dan kecerdasan untuk mengendalikan tertawa yang kadang meloncat tanpa sadar. Dan mentertawai diri tak perlu pertimbangan apakah ada orang lain yang tersinggung atau apakah tertawanya tepat sasaran atau tidak. Mentertawai diri adalah sebuah introspeksi dan koreksi diri pada apa yang pernah dilakukan.

Lain halnya dengan tertawa karena sesuatu yang lucu dari pelawak yang memang dikemas untuk ditertawai, di situ kita bisa bebas tertawa terbahak-bahak karena memang diciptakan sebuah ruang untuk tertawa.

23:40 10.01.2022


Selasa, 21 Desember 2021

JEJAK DIGITAL

Mengunggah tulisan, foto, video, dan suara pada jaman serba internet, semua orang yang nggak gaptek, bisa melakukannya. Asal menulis, hampir semua orang bisa, tetapi untuk menghasilkan tulisan yang baik dan enak dibaca perlu keahlian tersendiri. Lain halnya dengan merekam video, memfoto atau merekam suara, asal tahu aplikasi yang bisa dipakai dan tahu tobol-tombol yang harus dipencet, aktivitas merekam bisa dilakukan. Dan, internet siap manampung semua konten yang di upload, walau kemudian ada yang segera di down  oleh operator jika mengandung konten yang tidak semestinya atau melanggar aturan yang diterapkan pada negara tertentu. Hanya dengan sentuhan jari, selesai upload seluruh jagat raya yang terkoneksi internet dapat melihatnya. Tak peduli apakah sengaja mengupload  atau tidak sengaja, dunia digital telah mencatatnya dan jejak digital telah tergores.

Pengupload bisa saja kemudian memutuskan untuk menghapusnya, tapi jika ada pihak lain yang sudah mendownload atau menscreenshot dan menyebarkan ulang, kita hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan apa yang kita upload.

Dengan mengunggah sesuatu ke internet ( media sosial dll ), semua tanggapan dan komentar yang muncul harus diterima karena kita tidak bisa mengendalikan semua orang yang membaca atau menonton yang dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda-beda.

Menanggapi dengan emosi komentar atau tanggapan yang tidak sesuai keinginan kita, akan menjadi semakin menambah dalam rasa jengkel dan menumbuhkan emosi baru yang bisa saja tak terkendali. Menyampaikan klarifikasi bisa menjadi salah satu cara untuk memberi pencerahan pada orang yang berkomentar atau menanggapi tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Tak jarang sebuah klarifikasi di tanggapi lagi dengan komentar yang lebih menyakitkan dan mengaduk-aduk ruang emosi. Atau terkadang sebuah komentar yang sepertinya dengan sengaja diarahkan untuk menyerang dan menyudutkan. Pertengkaran di dunia maya pun menjadi hal yang sering kita lihat dengan berbagai macam permasalahan, atau bahkan berawal hal-hal yang sepele pun bisa menjadi hal yang diperkarakan di ranah hukum.

Eksistensi diri menjadi dorongan yang kuat untuk menguplod foto, video dan tulisan. Seringkali rasa ingin itu menafikan resiko yang akan diterima, dan tersentak kaget saat muncul penolakan atau ketidaksenangan yang menyerang. Jika takut dengan segala resiko dari apa yang kita uplod , akan lebih aman jika di simpan dalam storige pribadi untuk dinikmati sendiri. Jika ingin orang lain tahu, bersiap saja untuk menerima apapun tanggapan orang yang tidak bisa kita kendalikan.

Jejak digital tidak seperti catatan dalam kertas yang bisa saja di hapus atau di buang, ia akan muncul di seluruh ruang dan waktu, dan tercatat kuat.

21:04 21.12.21

Jumat, 10 Desember 2021

TOLERANSI DOMINASI

 Karena perbedaan keyakinan dan cara yang tidak bisa disatukan menjadi satu ruang yang sama dalam memahami dan menjalani, muncullah ruang rasa penghubung yang disebut toleransi. Bahasa gampangnya, silahkan kamu begitu yang penting jangan mengganggu aku. Berbeda, perbedaan,  itu manusiawi, dan berkeinginan untuk mengarahkan yang berbeda supaya sama dengan apa yang diinginkan oleh ‘aku’ juga manusiawi. Pada taraf tertentu orang merasa bahwa segala apa yang diyakini dan dilakukan oleh ‘aku’ adalah yang paling ideal, nyaman dan membahagiakan. ‘Aku’nya kemudian tak sadar tumbuh pada ruang egois yang memutuskan; yang tidak seperti  ‘aku’ harusnya berubah ke arah seperti ‘aku’. Karena masing-masing berkeinginan menciptakan suasana seperti yang ‘aku’ inginkan, lahirlah ruang-ruang perkelompokan yang mempunyai rasa sama atau seridaknya mirip. Ruang-ruang perkelompokan itu tak bisa sama identik dengan perkelompokan yang lain. Dan kembali lagi, rasa egois telah dan akan terus menerus menimbulkan ‘tak bisa sama identik’ dengan semua yang di luar dirinya.

Rasa toleransi sebagai perekat perbedaan, tak juga bisa dimaknai sama antar sesama ‘aku’. Tetap saja akan lahir perasaan merasa paling toleran dan yang diluar ‘aku’ dan kelomopoknya tidak sebaik apa yang dilakukannya. Memaklumi bahwa, perbedaan itu manusiawi, itulah pokok awal tidak memungkinkan memaksakan semua perasaan dan pemikiran menjadi sama dan identik satu sama lain. Dari sini pula lahir rasa ingin lebih dominan dari kelompok lain. Supaya dominasi itu terwujud dan terus bisa bertahan mendominasi, dilakukan berbagai upaya seperti berkampanye meyakinkan pada kelompok lain, berargumen dengan disertai dasar dan alasan tentang segala yang dilakukannya. Dan, ketika lebih dari dua kelompok saling melakukan hal yang sama untuk merasa lebih dominan dari yang lain, perdebatan dan pergesekan tak terhindarkan.

Dari awal yang baik, bertujuan untuk saling bertoleran, bisa muncul pergesekan yang bisa memunculkan percik api jika tak rapi menjaga hati dan tindakan. Para “aku’ yang merasa anggota kelompoknya yang se’aku’ lebih banyak dari yang lain di sekitarnya, cenderung lupa bahwa ada yang lain yang tidak se’aku’ merasa terganggu. Ke-merasa-an terganggu ini muncul sedikit semacam benih dendam dan berusaha untuk mencari teman yang se’aku’.

Di setiap tempat, harus selalu ada permufakatan tentang bertindak dan berkelakuan toleransi yang bisa saling menjaga dengan tidak merasa paling toleran. Karena merasa paling toleran itu sendiri merupakan benih dari intoleran.

10122012 17:02

Rabu, 27 Oktober 2021

Ber-GAGAL PAHAM

Seseorang yang mempertahankan pendapat dan keyakinannya sering kali sengaja memotong sebagian pernyataan orang yang berseberangan untuk dikomentari sekaligus membuat pintu masuk untuk menyerang. Jika Ia lebih berhasil dalam menyebarkan pernyataanya lebih luas, Ia akan lebih dominan dipercaya daripada lawannya yang bisa saja secara keilmuan tertentu lebih benar. Orang tersebut sengaja ber-gagal paham untuk membelokan arah pernyataan karena tidak sesuai dengan nafsu keinginannya. Keinginan untuk menang lebih dominan sehingga melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani yang tak mau berbohong. Kemenangan menjadi kenikmatan yang membutakan nurani. Melupakan rasa nurani yang sebenarnya sangat lebih nikmat jika berjujur.

Kita sering kali lihat di media sosial dan media massa digital, sebuah pernyataan seseorang yang sengaja diambil sebagian dan ditanggapi hanya potongan pernyataan tersebut untuk sengaja membelokan opini dan bertujuan berpihak padanya. Bagi orang yang kurang skeptis terhadap sebuah pernyataan akan bisa langsung terpengaruh tanpa menyelusuri pernyataan sebenarnya yang dikomentari tersebut, apalagi jika ia sudah terlebih dulu percaya pada person yang berkomentar.

Pada dunia panggung politik, sengaja ber-gagal paham seringkali dilakukan politikus untuk menyerang orang atau kelompok yang tidak sependapat dengan kubunya. Bagaimana menciptakan pernyataan yang bermakna ganda terbuka agar opini para audien mengarah pada pernyataan dirinya adalah sebuah kebenaran, sedangkan pernyataan lawannya itu salah. Mempertahankan kebenaran yang subyektif adalah keharusan yang tidak boleh dihindari.

Dalam lingkup agama ( Islam ), sering kali sebuah pendapat seorang tokoh agama di tangkap ucapannya pada ruang ber-gagal paham sebagai bahan jalan untuk menyerang. Sengaja ber-gagal paham itu dilakukan karena pernyataannya atau apa yang disampaikan berbeda dengan keyakinan yang dianutnya. Sepertinya mereka berkeinginan tidak boleh ada ajaran atau pendapat lain selain yang seperti mereka yakini dan kebenaran hanya ada pada pihaknya. Bahkan pernyataan yang dilahirkan dari sengaja ber-gagal paham cenderung provokatif dan mengejek. Mereka ingin membuat sebuah ruang dengan tidak ada pendapat lain yang tidak searah dengan pendapat kelompoknya.

Pada masalah keyakinan; politik dan agama, pendapat atau argumen yang tidak sesuai dengan pendapat kelompoknya adalah salah. Hanya kelompoknya yang benar secara hakiki, di luar kelompoknya hanya kebenaran semu yang harus dibiarkan karena ada ‘aturan’ harus bertoleransi, “Jalan lain itu salah selain jalan kami.”

27.10.2021. 21:36

Kamis, 02 September 2021

PAHLAWAN PERANG.

 Membahas perang lagi setelah sebelumnya ‘mengapa, perang’.

Perang itu sebuah pekerjaan berat jiwa raga. Mempertahankan sebuah keyakinan bahwa misi dalam berperang adalah sebuah kewajiban yang harus dilakoni dan lari dari gelanggang adalah sebuah pengkhianatan yang tak terampuni. Pilihannya hanya satu tujuan, maju untuk menang. Untuk menang harus menguasai musuh. Jika musuh terus melawan tanpa menyerah, membunuh adalah cara untuk menguasainya supaya musuh yang masih tersisa sedikit mau menyerah.

Perang itu kegiatan saling membunuh, saling merusak, saling meneror, agar musuh mau tunduk dan diakuasai.

Jika perang telah usai dengan ada pihak yang kalah dan ada pihak yang menang, lahirlah pahlawan perang bagi masing-masing kubu. Siapakah pahlawan perang? Yang paling banyak membunuh? Yang banyak menyelamatkan jiwa? Yang membuat perang menjadi batal dan berdamai?

Jika pahlawan perang adalah orang yang paling banyak membunuh, ia adalah pembunuh sesama manusia. Di pihak lawan, seorang yang paling banyak membunuh rekannya akan disebut bandit keparat yang harus di bunuh. Seorang penghianat akan disebut juga sebagai pahlawan bagi kubu yang diuntungkan dengan penghianatannya. Bagaimanakah rasa-bangganya menjadi pahlawan perang? Seorang pahlawan perang karena banyak membunuh lawan untuk menyelamatkan rekannya, terbayangkah di benaknya saat tubuh-tubuh bergelimpangan meregang nyawa karena peluru yang disemburkan dari senapannya? Merasa berdosakah ketika teringat muncratan darah dari lubang-lubang luka di tubuh oleh terjangan peluru karena jari telunjuknya yang terus menarik pelatuk bedil? Berbanggakah menyandang gelar pahlawan dengan banyak membunuh?

Sebuah ego kelompok yang masing-masing berbeda keyakinan menjadi motivator untuk menguasai kelompok lain. Tak ada yang mau mengalah, tak ada sepakat, maka perang menjadi pilihan meski harus dibiayai dengan sangat mahal.

Sebagai pelipur lara gelar pahlawan perang sebagai penghapus ingatan telah menjadi pembunuh bagi banyak orang sesama manusia sebagai makhluk Tuhan.

djayim, 23:39.01.09.21