CARI DI BLOG INI

Rabu, 01 Juni 2022

KOMENTAR

 

Adakalanya kita berada dalam posisi ingin mengomentari sesuatu atas kejadian, pendapat, ungkapan yang kita sendiri mendengar atau melihatnya langsung. Atau kadang juga terbaca pada media sosial yang begitu labil terus menerus bergerak atau pada tayangan chanel youtube. Banyak sekali tulisan atau video yang diunggah dengan rasa bangga tanpa merasa bersalah, tapi unggahan tersebut tidak benar, bersifat hoax, asal-asalan, fitnah, memutarbalik fakta yang menggelitik hati ingin segera berkomentar.

Berkomentar lahir dari alam pengetahuan seseorang. Komentar yang keluar dari orang per orang berbeda-beda sesuai dengan wawasan dan pengalaman si komentator. Dari komentar kita bisa mengira-ira seberapa dalam pengetahuan seseorang terhdap apa yang dikomentari. Juga kita bisa tahu watak dan karakternya. ‘Kepedulian’ seseorang terhadap sesuatu yang dikomentari juga bisa sebagai alat ukur rasa keinginan untuk ikut campur pada masalah orang lain yang sebenarnya tak berpengaruh pada person yang dikomentari.

Menahan komentar menjadi salah satu pilihan supaya kita menjadi orang yang seperti tidak mengikuti tindakan atau kelakuan orang lain yang sebenarnya tak perlu juga ikut campur dengan berkomentar. Rasa ingin berkomentar muncul karena ada semacam kepuasan jika ikut nimbrung pada masalah tertentu. Ada keinginan yang tersalurkan dan menjadi kesenangan tersendiri. Ada kepuasan tersendiri jika komentarnya seperti menyerang dan yang diserang merasa tersakiti. Sepertinya jahat, karena  memang tujuan berbuat jahat supaya yang dijahati merasa tersakiti. Adakalanya menahan berkomentar memerlukan energi yang besar dan perlu memupuk jiwa besar yang terkadang tergoyang.

Menahan diri untuk tidak ikut berkomentar sambil membaca atau mendengar komentar orang lain adalah penyusuran kolom waktu yang mengasyikan dan menggemaskan. Muncul letupan-letupan kegeraman jika ada komentar-komentar yang terasa aneh, kreatif dan mengejutkan. Banyak ide-ide kreatif yang lahir seperti tak sengaja dan membuka jendela baru. Meski tak jarang ide komentari kreatif itu Sesutu yang menjengkelkan. Dan menhana diri untuk tidak berkomentar pada komentar yang menjengkelkan pun, punya keasyikan tersendiri. Jadi, ada sisi kesenangan pada sebuah komentar, tidak berkomentar dan mencermati komentar. Menahan diri tidak berkomentar dan menikmati yang dikomentari dan mencermati komentar, bisa menjadi pilihan agar tidak terjebak pada su’udzon dan fitnah.

15:52 01062022

Minggu, 29 Mei 2022

PERUBAHAN

Lama saya tidak memperhatikan fungsi-fungsi perangkat yang ada pada laptop, dan hanya memfungsikannya sekedar untuk menulis dan sedikit membuat data di Ms. Office. Sampai kemudian saya memperhatikan port usb type C dan langsung browsing fungsinya. Salah satu fungsinya bisa dipakai sebagai jalur pengisian baterai pakai power bank seperti layaknya HP. Ingatan saya langsung terbang ke masa sekitar 10 tahun yang lalu. Waktu itu saya merasa perlu power bank untuk laptop karena power bank untuk handphone sudah menjadi hal yang biasa. Saya pergi mendatangi toko laptop dan segala perlengkapannya, saya tanya pada pelayan toko, “mba, ada power bank untuk laptop nggak”, dia menjawab agak bingung, “nggak ada mas,” sambil sedikit tersenyum mencibir seolah-olah saya mencari barang yang jelas-jelas tidak ada. Seorang pelayan toko lainya yang laki-laki meyakinkan lagi dengan berkata, tidak ada barang yang saya cari dan cara memasangnya pun bagaimana dan pandangan matanya menganggap saya aneh. Sambil ngloyong pulang saya bergumam, “masa para ahli teknologi belum sampai ke situ.” Ada pula muncul keraguan kalau teknologi men-charger laptop pakai power bank sudah ada hanya saja di Indonesia belum ada atau sudah ada tapi belum nyampai pada toko yang saya datangi. Dan saya berharap akan segera ada dan sempat berpikir ada sebuah laptop dengan casing dari bahan untuk panel surya sehingga bisa untuk men-charger laptop jika siang hari.

Dan ternyata sekarang sudah ada apa yang saya inginkan waktu itu. Saya Kembali menjadi teringat pernah baca jika teknologi nuklir bisa dimanfaatkan untuk baterai handphone yang bisa bertahan lima tahun. Jika ini benar dan bisa, dan diterapkan juga pada laptop, kekhawatiran tentang bahaya lowbat  pada handphone atau laptop akan hilang dan orang akan semakin bertambah nyaman menggunakannya.

Ketika saya belajar nyetir mobil, kondisi paling sulit yang membuat grogi dan over nervous adalah saat  mobil harus berhenti di tanjakan dengan kendaraan ada di depan dan belakang. Bagaimana seorang yang baru belajar di teror rasa grogi, di barengi keringat dingin, ditambah suara klakson yang serasa terus berteriak-teriak meneriaki, harus mengkombinasikan injakan gas, injakan kopling dan pelepasan handrem yang harus sesuai supaya mobil tidak mati dan tidak mundur membokongi mobil yang di belakang. Selepas mas kritis itu, saya mengumpat pada ahli mesin yang tidak membuat intalasi rangkaian mesin yang jika gigi maju mobil tidak bisa mundur meski di tanjakan dan sebaliknya. “Kenapa nggak mengadopsi cara kerja bor listrik yang berputar kekanan nggak  bisa dipaksa mutar ke ke kiri dan jika mutar ke kiri nggak bisa mutar kanan." Sempat juga saya berpikir mungkin di mobil lain atau mobil yang baru dan mewah sudah ada cuma saya belum menemuinya. Dan ternyata keluhan saya sepuluh tahun yang lalu sudah terjawab, teknologi itu sudah dipakai pada mobil.

Perubahan itu selalu saja ada pada teknologi yang meringankan beban manusia. Pada masa transisi perubahan tak jarang terjadi penolakan dan keraguan. Motor matic awalnya banyak orang yang takut mengendarainya dengan kecurigaan yang dibumbui dan apriori. Sekarang orang lebih nyaman pakai motor matic dan tak ada lagi rasa khawatir saat mengendarai.

Para ahli mesin dan elektronik selalu berpikir bagaimana meringankan semua kegiatan manusia dan mengambil keuntungan dari teknologi yang diciptakan. Jika suatu waktu merasa kesulitan untuk melakukan sesuatu, cari tahu dimana saja barangkali sudah ada alat atau perangkat yang sudah di buat dan sudah dijualbelikan. Kita yang tidak bisa membuat tinggal menyediakan uang untuk menukarnya sekaligus membiayai hidup sang ahli.

22:49 29052022

 

BERPINDAH

Dalam berbabgai banyak tulisan atau yang saya dengar, makhluk hidup yang sampai sekarang bertahan hidup keturunannya adalah makhluk hidup yang pandai beradaptasi dengan alam yang ditempatinya. Banyak sekali jenis makhluk hidup yang telah punah dari bumi. Dinosaurus dan sejenisnya dinyatakan telah punah karena di muka bumi sudah tidak diketemukan lagi keberadaannya. Keyakinan manusia  tentang pernah adanya binatang purba bernama Dinosaurus karena ditelusuri dari fosil yang diketemukan, kemudian dirangkai dan dipantas-pantaskan bentuknya sesuai lekuk fosil. Kepunahan binatang purba itu ada yang berpendapat karena ada benda langit yang jatuh dan membuat mereka mati dan tidak dapat melanjutkan lagi keturunannya. Jika karena benda langit (meteor), apakah benar sebegitu banyak hewan terkena benda langit semua. Apakah mereka tidak bisa menghindardan bersembunyi dari bahaya yang membuat mereka mati ketika itu. Atau mereka binatang yang tidak biasa untuk berlindung atau menghindar karena badannya yang besar bisa mengalahkan binatang atau makhluk lain selain kelompoknya. Tak bisakah mereka berpindah ke sisi lain yang aman?

Bagi manusia berpindah itu ada beberapa kemungkinan; karena kurang nyaman, karena diusir, karena punya tempat lain yang lebih enak, karena ingin suasana baru, karena gaya hidup, karena diberi tugas baru dalam pekerjaan, karena menghindari sesuatu, karena mencari sesuatu dsb. Masing-masing orang yang berpindah punya maksud dan tujuan sendiri-sendiri. Sebagai makhluk yang berpikir, pasti sudah tahu resiko berpindah. Suasana baru, kondisi sosial baru, tetangga baru, adat istiadat lokal baru, logat dan gaya bahasa baru, kebiasaan baru dan lingkungan yang baru. Hampir semua serba baru yang mengelilinginya. Ini akan membutuhkan energi untuk segera dapat menyesuaikan, beradaptasi dengan semua yang mengelilingi kehidupannya.

Beradaptasi dengan cepat dan bijak adalah cara bertahan berkehidupan di lokasi yang baru. Perlu perhatian khusus pada hal-hal yang sebelumnya belum pernah dialami dan belum terlintas dipikiran. Hal di tempat lama yang dianggap luar biasa, ditempat yang baru bisa saja dianggap hal biasa atau sebaliknya. Adat istiadat yang ditempat lama sudah mulai punah, ditempat baru menjadi hal yang digemari orang atau sebaliknya.

Beradaptasi kadang seperti mengalah pada kondisi baru demi untuk bertahan hidup. Jika pun adanya tidak mau beradaptasi dan membawa kebiasaan di lingkungan lamanya, diperlukan energi yang besar dan menjadi semacam pertaruhan mana yang bertahan dan menang atau kalah dan punah, apalgi jika dilakukan dengan frontal dan cepat. Ada pilihan jika ingin kebiasaan lamanya diterima di lingkungan yang baru, yaitu dengan cara sedikit demi sedikit merubah cara, dan itupun harus mengalah dulu supaya tidak ada perlawanan dan penolakan. Dalam proses itu bisa saja si pendatang baru tak terasa berubah mengikuti pola lingkungan baru dan menganggap cara lamanya pantas untuk ditinggalkan.

Kebiasaan yang dianggap paling nyaman dan tepat itu muncul karena seringnya dilakukan membuat semua organ tubuh menyesuaikan. Jika ada cara dan kondisi baru, diperlukan tindakan beradaptasi supaya selaras dan bisa terus bertahan hidup. Beradaptasi untuk bertahan hidup yang luas.

22:28  27052022

Selasa, 11 Januari 2022

MENTERTAWAI DIRI

Secara tak sadar kita sering berkilas balik menuju ruang yang pernah dilalui dan berselancar sekenanya dengan tak runtut waktu. Saat ingatan kita kembali pada masa kecil, sering teringat sesuatu kejadian yang lupa permulaan dan bagaimana akhirnya. Bahas kami imut-imut lali atau ingat-ingat nggak ingat. Kita juga sering merasa heran dengan apa yang kita lakukan saat dulu. Keheranan itu timbul karena pijakan cara berpikir kita dengan saat sekarang, sedang sikap itu terjadi saat pikiran dan pengetahuannya belum pada taraf dan keadaan sekarang. Kondisi sosial, perubahan budaya, pola pikir dan kepercayaan mempengaruhi rasa keheranan.

Keheranan yang muncul tiba-tiba pada saat tertentu sering menimbulkan tawa. Tawa yang muncul karena heran kenapa bisa terjadi begitu dan kenapa bisa melakukan hal yang menurut pola pikiran kita sekarang sesuatu yang aneh. Ada banyak hal yang semula saat melakukan hal tersebut wajar dan biasa-biasa saja, menjadi aneh karena terbawa waktu, pola pikir dan budaya yang terus menerus berkembang. Sikap, ucapan dan reaksi kita pada momen tertentu bisa menjadi bahan tertawaan sendiri saat merenung atau dengan tidak sengaja teringat.

Mentertawai diri sendiri itu bebas  dan tak perlu berpikir terlalu jauh jika ada orang lain tersinggung. Ini juga bisa menjadi koreksi diri agar tak lagi melakukan tindakan yang tidak pada tempatnya, memalukan dan bodoh. Bahkan, diperlukan ruang dan waktu untuk mentertawai diri supaya tidak lagi melakukan tindakan bodoh dan memalukan. Pada taraf tertawa pada suatu masalah yang sedang dibahas, kita menjadi bisa mengerti seseorang yang tertawa itu mengerti secara luas atau hanya sekedar tahu sedikit, saat ketika terdapat sesuatu yang aneh bagi dirinya langsung tertawa. Banyak sekali tertawa yang justru menunjukkan si pentertawa tidak mengerti banyak tentang hal yang ditertawakannya dan nampak bodoh bagi orang yang lebih tahu tentang apa yang sedang dibahas. Tertawa juga bisa membuat orang yang ditertawai tersinggung dan marah.

Diam bisa menjadi pilihan ketimbang berkomentar dengan tidak mengerti subtansi, karena mentertawai sesuatu masalah perlu pengetahuan, pengalaman dan kecerdasan untuk mengendalikan tertawa yang kadang meloncat tanpa sadar. Dan mentertawai diri tak perlu pertimbangan apakah ada orang lain yang tersinggung atau apakah tertawanya tepat sasaran atau tidak. Mentertawai diri adalah sebuah introspeksi dan koreksi diri pada apa yang pernah dilakukan.

Lain halnya dengan tertawa karena sesuatu yang lucu dari pelawak yang memang dikemas untuk ditertawai, di situ kita bisa bebas tertawa terbahak-bahak karena memang diciptakan sebuah ruang untuk tertawa.

23:40 10.01.2022


Selasa, 21 Desember 2021

JEJAK DIGITAL

Mengunggah tulisan, foto, video, dan suara pada jaman serba internet, semua orang yang nggak gaptek, bisa melakukannya. Asal menulis, hampir semua orang bisa, tetapi untuk menghasilkan tulisan yang baik dan enak dibaca perlu keahlian tersendiri. Lain halnya dengan merekam video, memfoto atau merekam suara, asal tahu aplikasi yang bisa dipakai dan tahu tobol-tombol yang harus dipencet, aktivitas merekam bisa dilakukan. Dan, internet siap manampung semua konten yang di upload, walau kemudian ada yang segera di down  oleh operator jika mengandung konten yang tidak semestinya atau melanggar aturan yang diterapkan pada negara tertentu. Hanya dengan sentuhan jari, selesai upload seluruh jagat raya yang terkoneksi internet dapat melihatnya. Tak peduli apakah sengaja mengupload  atau tidak sengaja, dunia digital telah mencatatnya dan jejak digital telah tergores.

Pengupload bisa saja kemudian memutuskan untuk menghapusnya, tapi jika ada pihak lain yang sudah mendownload atau menscreenshot dan menyebarkan ulang, kita hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan apa yang kita upload.

Dengan mengunggah sesuatu ke internet ( media sosial dll ), semua tanggapan dan komentar yang muncul harus diterima karena kita tidak bisa mengendalikan semua orang yang membaca atau menonton yang dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda-beda.

Menanggapi dengan emosi komentar atau tanggapan yang tidak sesuai keinginan kita, akan menjadi semakin menambah dalam rasa jengkel dan menumbuhkan emosi baru yang bisa saja tak terkendali. Menyampaikan klarifikasi bisa menjadi salah satu cara untuk memberi pencerahan pada orang yang berkomentar atau menanggapi tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Tak jarang sebuah klarifikasi di tanggapi lagi dengan komentar yang lebih menyakitkan dan mengaduk-aduk ruang emosi. Atau terkadang sebuah komentar yang sepertinya dengan sengaja diarahkan untuk menyerang dan menyudutkan. Pertengkaran di dunia maya pun menjadi hal yang sering kita lihat dengan berbagai macam permasalahan, atau bahkan berawal hal-hal yang sepele pun bisa menjadi hal yang diperkarakan di ranah hukum.

Eksistensi diri menjadi dorongan yang kuat untuk menguplod foto, video dan tulisan. Seringkali rasa ingin itu menafikan resiko yang akan diterima, dan tersentak kaget saat muncul penolakan atau ketidaksenangan yang menyerang. Jika takut dengan segala resiko dari apa yang kita uplod , akan lebih aman jika di simpan dalam storige pribadi untuk dinikmati sendiri. Jika ingin orang lain tahu, bersiap saja untuk menerima apapun tanggapan orang yang tidak bisa kita kendalikan.

Jejak digital tidak seperti catatan dalam kertas yang bisa saja di hapus atau di buang, ia akan muncul di seluruh ruang dan waktu, dan tercatat kuat.

21:04 21.12.21