CARI DI BLOG INI

Rabu, 27 Oktober 2021

Ber-GAGAL PAHAM

Seseorang yang mempertahankan pendapat dan keyakinannya sering kali sengaja memotong sebagian pernyataan orang yang berseberangan untuk dikomentari sekaligus membuat pintu masuk untuk menyerang. Jika Ia lebih berhasil dalam menyebarkan pernyataanya lebih luas, Ia akan lebih dominan dipercaya daripada lawannya yang bisa saja secara keilmuan tertentu lebih benar. Orang tersebut sengaja ber-gagal paham untuk membelokan arah pernyataan karena tidak sesuai dengan nafsu keinginannya. Keinginan untuk menang lebih dominan sehingga melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani yang tak mau berbohong. Kemenangan menjadi kenikmatan yang membutakan nurani. Melupakan rasa nurani yang sebenarnya sangat lebih nikmat jika berjujur.

Kita sering kali lihat di media sosial dan media massa digital, sebuah pernyataan seseorang yang sengaja diambil sebagian dan ditanggapi hanya potongan pernyataan tersebut untuk sengaja membelokan opini dan bertujuan berpihak padanya. Bagi orang yang kurang skeptis terhadap sebuah pernyataan akan bisa langsung terpengaruh tanpa menyelusuri pernyataan sebenarnya yang dikomentari tersebut, apalagi jika ia sudah terlebih dulu percaya pada person yang berkomentar.

Pada dunia panggung politik, sengaja ber-gagal paham seringkali dilakukan politikus untuk menyerang orang atau kelompok yang tidak sependapat dengan kubunya. Bagaimana menciptakan pernyataan yang bermakna ganda terbuka agar opini para audien mengarah pada pernyataan dirinya adalah sebuah kebenaran, sedangkan pernyataan lawannya itu salah. Mempertahankan kebenaran yang subyektif adalah keharusan yang tidak boleh dihindari.

Dalam lingkup agama ( Islam ), sering kali sebuah pendapat seorang tokoh agama di tangkap ucapannya pada ruang ber-gagal paham sebagai bahan jalan untuk menyerang. Sengaja ber-gagal paham itu dilakukan karena pernyataannya atau apa yang disampaikan berbeda dengan keyakinan yang dianutnya. Sepertinya mereka berkeinginan tidak boleh ada ajaran atau pendapat lain selain yang seperti mereka yakini dan kebenaran hanya ada pada pihaknya. Bahkan pernyataan yang dilahirkan dari sengaja ber-gagal paham cenderung provokatif dan mengejek. Mereka ingin membuat sebuah ruang dengan tidak ada pendapat lain yang tidak searah dengan pendapat kelompoknya.

Pada masalah keyakinan; politik dan agama, pendapat atau argumen yang tidak sesuai dengan pendapat kelompoknya adalah salah. Hanya kelompoknya yang benar secara hakiki, di luar kelompoknya hanya kebenaran semu yang harus dibiarkan karena ada ‘aturan’ harus bertoleransi, “Jalan lain itu salah selain jalan kami.”

27.10.2021. 21:36

Kamis, 02 September 2021

PAHLAWAN PERANG.

 Membahas perang lagi setelah sebelumnya ‘mengapa, perang’.

Perang itu sebuah pekerjaan berat jiwa raga. Mempertahankan sebuah keyakinan bahwa misi dalam berperang adalah sebuah kewajiban yang harus dilakoni dan lari dari gelanggang adalah sebuah pengkhianatan yang tak terampuni. Pilihannya hanya satu tujuan, maju untuk menang. Untuk menang harus menguasai musuh. Jika musuh terus melawan tanpa menyerah, membunuh adalah cara untuk menguasainya supaya musuh yang masih tersisa sedikit mau menyerah.

Perang itu kegiatan saling membunuh, saling merusak, saling meneror, agar musuh mau tunduk dan diakuasai.

Jika perang telah usai dengan ada pihak yang kalah dan ada pihak yang menang, lahirlah pahlawan perang bagi masing-masing kubu. Siapakah pahlawan perang? Yang paling banyak membunuh? Yang banyak menyelamatkan jiwa? Yang membuat perang menjadi batal dan berdamai?

Jika pahlawan perang adalah orang yang paling banyak membunuh, ia adalah pembunuh sesama manusia. Di pihak lawan, seorang yang paling banyak membunuh rekannya akan disebut bandit keparat yang harus di bunuh. Seorang penghianat akan disebut juga sebagai pahlawan bagi kubu yang diuntungkan dengan penghianatannya. Bagaimanakah rasa-bangganya menjadi pahlawan perang? Seorang pahlawan perang karena banyak membunuh lawan untuk menyelamatkan rekannya, terbayangkah di benaknya saat tubuh-tubuh bergelimpangan meregang nyawa karena peluru yang disemburkan dari senapannya? Merasa berdosakah ketika teringat muncratan darah dari lubang-lubang luka di tubuh oleh terjangan peluru karena jari telunjuknya yang terus menarik pelatuk bedil? Berbanggakah menyandang gelar pahlawan dengan banyak membunuh?

Sebuah ego kelompok yang masing-masing berbeda keyakinan menjadi motivator untuk menguasai kelompok lain. Tak ada yang mau mengalah, tak ada sepakat, maka perang menjadi pilihan meski harus dibiayai dengan sangat mahal.

Sebagai pelipur lara gelar pahlawan perang sebagai penghapus ingatan telah menjadi pembunuh bagi banyak orang sesama manusia sebagai makhluk Tuhan.

djayim, 23:39.01.09.21

 

MENGAPA, PERANG

Yang belum pernah mengalami ikut berperang, pernah nggak berimajinasi sebagai bagian yang aktif berperang? Jika pernah menonton film perang, kemungkinan besar imajinasinya terpengaruh dan masuk pada salah satu tokoh pada film itu.

Perang identitik dengan darah, membunuh, mengintai, senjata, kematian dan perebutan. Akan muncul pahlawan pada masing-masing kubu dan ada juga yang dituding sebagai penghianat. Puja-puji, cerita tentang keperkasaan dan keberanian menjadi enak sekali bagi kubu yang menang,

Kenapa harus membunuh sesama manusia? Bahkan untuk membunuh manusia yang dianggap lawan, ada pelatihan khusus bagi militer supaya bisa menyisati segala keadaan dan bisa membunuh lawan dengan tujuan menguasai segala apa yang dipertahankan oleh lawan. Dengan berlatih terus menerus dengan penerapan di siplin yang ketat diharapkan bisa menguasai lawan jika harus berperang.

Anggota militer identik dengan raga yang kuat, gagah, pakaian yang penuh dengan alat dan simbol-simbol yang tertempel di pakaian. Tampak gagah itulah yang membuat                anak kecil bahkan yang sudah remaja bercita-cita menjadi tentara, menjadi prajurit yang siap setiap saat melaksanakan perintah komandannya. Jika kemudian harus berangkat berperang, harus siap membunuh musuh karena jika tidak duluan membunuh ia akan lebuh dulu di bunuh.

Mengapa harus saling lebih dulu membunuh? Hanya karena ego masing-masing kelompok yang berbeda dan berkeinginan kelompok musuh tunduk dan patuh atas hegemoninya. Ketidakmauan untuk mau mengakui superioritas musuh terus dipertahankan sampai tak ada lagi daya untuk bertahan sampai mati terbunuh atau menyerah secara raga meski jiwanya masih terus membara untuk melawan.

Jika saja tak ada yang berkeinginan untuk berkuasa atas kelompok lain, atau musuhnya tak  melakukan perlawanan, saling bunuh itu bisa dihindari. Hidup berdampingan dengan saling memaklumi tanpa menyakiti. Saling membantu dan bersapa sua dengan senyum. Tak ada darah tertumpah sia-sia. Tak ada saling intai untuk membunuh.

Lagu imagine dari John Lennon, samar-samar terdengar.

Berita tentang kemenangan Taliban atas Afganistan sejak pertengahan Agustus 2021 dilewatkan dan timbul pertanyaan; mereka dalam satu negara, pasti banyak yang masih saudara, kenapa harus ada perang?

djayim, 23:20. 01.09.21

Senin, 30 Agustus 2021

CARA BERBEDA KE SURGA

Ujung tujuan hidup adalah kebahagiaan. Apapun yang dilakukan orang demi bisa bahagia sekaligus menikmati kebahagiaan dengan berusaha agar kebahagiaan itu selalu ada. Banyak orang berkeyakinan tempat penuh kebahagiaan seluas ruang yang ada dan sepanjang waktu, ada di sorga. Sorga bagi penganut agama ( samawi ), ada setelah kematian dan setelah beberapa tahapan alam, setelah kehidupan di dunia. Orang yang berkeyakinan seperti itu akan berusaha sekuat tenaga, sepenuh jiwa raga supaya mendapatkan surga kelak di alam akherat yang abadi.

Kemenarikan sorga yang penuh dengan kebahagiaan yang tak ada akhir, membuat orang melakukan semua tata aturan agama yang di anut. Kegiatan-kegiatan seperti puasa sepanjang hari, sholat di malam atau dini hari yang dingin, sholat tepat waktu, ( dalam agama Islam ) atau ritual dalam agama lain yang mengikat dan menjerat, yang menurut orang yang berbeda keyakinan merupakan kegiatan yang tidak mengasyikan, akan dilakukan dengan tulus dan menikmati setiap waktu yang dilakoni. Dalam proses mengerjakan dengan tulus pun mereka sudah merasakan sebuah kebahagiaan untuk menuju kebahagiaan akhir yang abadi. Semakin yakin, akan semakin semangat melakukan semua ajaran agamanya dan sebaliknya.

Ada banyak perbedaan keyakinan untuk menuju sorga akherat yang penuh kebahagaiaan. Perbedaan keyakinan dalam menuju sorga, sering kali menimbulkan perdebatan yang sering melahirkan ketersinggungan. Ketersinggungan yang sebenarnya bisa sekali diredam atau dipadamkan, sangat sering berkembang menjadi bentrokan argumen keyakinan kemudian menjadi bentrokan fisik untuk mempertahankan pendapat-keyakinannya. Lebih jauh menjadi perang. Perang untuk saling membunuh anggota kelompok yang berbeda keyakinan, karena ada keyakinan mempertahankan keyakinan adalah salah satu jalan untuk menuju sorga, dan sekaligus memetik kebahagiaan dalam proses mempertahankan keyakinan. Segala pengorbanan dalam perang ( perang besar ataupun perang kecil ) menjadi sebuah kebanggaan dan rasa itu akan menjadi lebih besar jika dirasa menang dengan melupakan korban dari musuh yang dikalahkan. Mereka saling melakukan berbagai macam tindakan agar orang yang berbeda keyakinan mau tunduk pada kelompoknya, mau mematuhi tata aturannya dan menjadi superior dari yang lain di sekelilingnya. Pemaksaan keinginan dari masing-masing kelompok ini seperti tidak akan pernah berhenti karena tak ada satu pun kelompok yang sepenuhnya mengalah.

Sebegitu menariknya kebahagiaan, sehingga orang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan kebahagiaan, apalagi jika kebahagiaan itu abadi seluas ruang yang ada dan sepanjang waktu yang tak ada batas.

Jika hidup berdampingan dengan orang berbeda keyakinan dan saling menjaga perasaan agar tidak timbul ketersinggungan menjadi sebuah ruang yang penuh kebahagiaan, kenapa juga harus bentrok? Bukankah dengan begitu akan untuk memperoleh kebahagian di sorga setelah kematian.

Djayim, 23:40. 300821

 

Kamis, 17 Juni 2021

KOPI, BERTULISKAN ONTOSOROH DAN DARSAM


Sebuah bungkus kopi bubuk berbungkus cokelat dengan tulisan Ontosoroh dan di bagian bawah ada tulisan, blender Darsam, membangkitkan ingatan saya tentang seorang sastrawan besar dengan  novel tetralogi yang hebat dan mengagumkan. Pramoedya Ananta Toer dengan empat novelnya:  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, yang di dalamnya terdapat seorang tokoh perempuan bernama Ontosoroh dan seorang laki-laki centeng bernama Darsam. Karakter mereka berdua tergantung pada imajinasi si pembaca novel atau yang menonton film berjudul Bumi  Manusia. Jika pembaca novelnya dan tidak menonton film Bumi Manusia, imajinasi karakter, bentuk tubuh, tingkah laku kedua tokoh itu berbeda-beda setiap kepala. Lain halnya jika membaca novel dan nonton filmnya, membaca karakter Ontosoroh dan Darsam akan terpengaruhi karakter dari rekaan sang sutradara Hanung Bramantyo.

Saya sendiri tak menonton film Bumi Manusia, pernah mau nonton lewat smartphone dan sempat lihat trailer-nya. Hanya itu , dan berkeputusan untuk tidak menonton secara penuh. Karakter tokoh-tokoh dalam novel tetraloginya mBah Pram sudah tercetak di benak pikiran saya. Tokoh-tokoh, gambaran lingkungan, jalan, rumah, sungai, hutan, ladang, sawah, semua yang ada dalam novel itu, tentu berbeda bagi setiap pembaca. Gambaran itu tergantung pada imajinasi yang dipengaruhi latar belakang kehidupannya, apa yang pernah dibaca, pengalaman, teman, lingkungan sosial, hobi, kecenderungan kepercayaan dan keyakinan. Jika saya menonton secara penuh film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo, saya bisa saja kecewa karena imajinasinya berbeda dengan apa yang saya imajinasikan. Saya sudah asyik dengan gambaran yang lahir dari imajinasi saya sehingga ketika membaca ulang novel tersebut, seperti napak tilas pada sebuah cerita yang ada bagian-bagian yang terlupakan.

Bungkus kopi bubuk berbungkus cokelat dengan tulisan sederhana Ontosoroh dan Darsam. Bagi pakar penjualan, mungkin bisa dianggap bukan sebuah reklame yang baik. Tak banyak orang tahu dan mengerti siapa itu Ontosoroh dan Darsam. Hanya orang yang suka baca novelnya Pramoedya Ananta Toer dan suka sama karya film Hanung yang akan tertarik dengan merk kopi itu, itupun tidak mungkin seratus prosen. Sebuah keputusan idealistis untuk memberi merk tersebut. Pembaca novel dan penikmat film Hanung tak begitu banyak di Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Sebuah romantisme idealis yang mempertaruhkan nilai ekonomis yang ditawarkan. Tak banyak orang yang mempertaruhkan sebuah keuntungan dengan imajinasi idealis berbungkus romantisme. Pertimbangan utama adalah kepuasan batin yang tidak mudah untuk diperhitungkan dengan nilai uang. Belum lagi jika kemudian hari jika ternyata kopi dengan merk Ontosoroh Darsam menjadi terkenal dan laris manis kemudian yang merasa punya hak nama tersebut mempermasalahkan secara hukum.

Semua keputusan selalu ada resiko. Ada pertimbangan kepuasan batin yang tidak bisa begitu saja dinilai dengan hitungan uang atau benda. Setidaknya ini mengingatkan saya untuk kembali membuka novel mbah Pram di lemari yang sudah mulai tertaburi debu lembut yang akan terasa jika diusap. Banyak hal-hal sederhana yang ternyata bisa membangkitkan iamjinasi dana semangat baru.

Jika kemudian saya menemukan lagi kopi bermerk Ontosoroh, saya akan membelinya untuk menjadi pintu masuk di dunia rekaan dalam tetra logi-nya  mBah Pram. Semoga akan lahir lagi karya sastra Indonesia yang hebat mendunia.

21:38,17.06.2021