Kamis, 17 Juni 2021

KOPI, BERTULISKAN ONTOSOROH DAN DARSAM


Sebuah bungkus kopi bubuk berbungkus cokelat dengan tulisan Ontosoroh dan di bagian bawah ada tulisan, blender Darsam, membangkitkan ingatan saya tentang seorang sastrawan besar dengan  novel tetralogi yang hebat dan mengagumkan. Pramoedya Ananta Toer dengan empat novelnya:  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, yang di dalamnya terdapat seorang tokoh perempuan bernama Ontosoroh dan seorang laki-laki centeng bernama Darsam. Karakter mereka berdua tergantung pada imajinasi si pembaca novel atau yang menonton film berjudul Bumi  Manusia. Jika pembaca novelnya dan tidak menonton film Bumi Manusia, imajinasi karakter, bentuk tubuh, tingkah laku kedua tokoh itu berbeda-beda setiap kepala. Lain halnya jika membaca novel dan nonton filmnya, membaca karakter Ontosoroh dan Darsam akan terpengaruhi karakter dari rekaan sang sutradara Hanung Bramantyo.

Saya sendiri tak menonton film Bumi Manusia, pernah mau nonton lewat smartphone dan sempat lihat trailer-nya. Hanya itu , dan berkeputusan untuk tidak menonton secara penuh. Karakter tokoh-tokoh dalam novel tetraloginya mBah Pram sudah tercetak di benak pikiran saya. Tokoh-tokoh, gambaran lingkungan, jalan, rumah, sungai, hutan, ladang, sawah, semua yang ada dalam novel itu, tentu berbeda bagi setiap pembaca. Gambaran itu tergantung pada imajinasi yang dipengaruhi latar belakang kehidupannya, apa yang pernah dibaca, pengalaman, teman, lingkungan sosial, hobi, kecenderungan kepercayaan dan keyakinan. Jika saya menonton secara penuh film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo, saya bisa saja kecewa karena imajinasinya berbeda dengan apa yang saya imajinasikan. Saya sudah asyik dengan gambaran yang lahir dari imajinasi saya sehingga ketika membaca ulang novel tersebut, seperti napak tilas pada sebuah cerita yang ada bagian-bagian yang terlupakan.

Bungkus kopi bubuk berbungkus cokelat dengan tulisan sederhana Ontosoroh dan Darsam. Bagi pakar penjualan, mungkin bisa dianggap bukan sebuah reklame yang baik. Tak banyak orang tahu dan mengerti siapa itu Ontosoroh dan Darsam. Hanya orang yang suka baca novelnya Pramoedya Ananta Toer dan suka sama karya film Hanung yang akan tertarik dengan merk kopi itu, itupun tidak mungkin seratus prosen. Sebuah keputusan idealistis untuk memberi merk tersebut. Pembaca novel dan penikmat film Hanung tak begitu banyak di Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Sebuah romantisme idealis yang mempertaruhkan nilai ekonomis yang ditawarkan. Tak banyak orang yang mempertaruhkan sebuah keuntungan dengan imajinasi idealis berbungkus romantisme. Pertimbangan utama adalah kepuasan batin yang tidak mudah untuk diperhitungkan dengan nilai uang. Belum lagi jika kemudian hari jika ternyata kopi dengan merk Ontosoroh Darsam menjadi terkenal dan laris manis kemudian yang merasa punya hak nama tersebut mempermasalahkan secara hukum.

Semua keputusan selalu ada resiko. Ada pertimbangan kepuasan batin yang tidak bisa begitu saja dinilai dengan hitungan uang atau benda. Setidaknya ini mengingatkan saya untuk kembali membuka novel mbah Pram di lemari yang sudah mulai tertaburi debu lembut yang akan terasa jika diusap. Banyak hal-hal sederhana yang ternyata bisa membangkitkan iamjinasi dana semangat baru.

Jika kemudian saya menemukan lagi kopi bermerk Ontosoroh, saya akan membelinya untuk menjadi pintu masuk di dunia rekaan dalam tetra logi-nya  mBah Pram. Semoga akan lahir lagi karya sastra Indonesia yang hebat mendunia.

21:38,17.06.2021

Senin, 15 Februari 2021

IJIN BERANGKAT

 

“Kau akan tetap berangkat, nak?”

“Maaf Ayah, saya nggak enak sama teman-teman saya. Nanti dikira tidak punya prinsip, tak idealis.”

“Kamu lebih merasa tidak enak pada temanmu dibanding dengan ayahmu?”

“Tidak begitu, Yah… “

“Terus, apa pertimbanganmu?”

“Ini demi kita semua, Ayah. Demi rakyat, demi negara tercinta ini, demi bangsa dan negara.”

“Hebat kau nak. Rakyat yang mana yang kau maksud?”

“Rakyat yang rugi jika ini dibiarkan.”

“Kau yakin semua rakyat akan merugi jika ini benar-benar diundangkan?”

“Mungkin tidak semua, Yah. Kami berpikiran akan lebih banyak rakyat, lingkungan hidup dan negara yang dirugikan.”

“Undangg-undang ini justru akan memakmurkan rakyat, nak. Rakyat Indonesia. Indonesia akan menjadi makmur, sejahtera dan maju seperti negara-negara lainnya.”

“Hak-hak buruh banyak yang diamputasi, pengusaha punya dasar hukum untuk itu. Hutan, lingkungan hidup akan rusak. Ini jelas bukan kearah yang lebih baik, Yah.”

“Kau salah memahami nak. Kau pahami dan cermati.”

“Kami sudah melakukan itu, Ayah tau proses yang kami lakukan.”

“Para pengusaha, para investor juga harus dilindungi nak.”

“Kami tahu, tapi bukan memberi kebebasan seperti itu dan membuat buruh terjepit.”

Agak bingung juga aku harus berkata apa lagi. Ia tak akan begitu saja nurut perkataan dari luar jika tak sesuai prinsipnya. Kokoh dan kuat pada pendirian, seperti aku dulu ketika seusianya. Dan, kata-katanya seperti apa yang aku katakan pada ayahku dulu.  “Mari nak, kita diskusi sebentar.”

“Pasti akan jadi perdebatan Yah, aku nggak mau itu.”

“Mari nak, duduk sebentar. Ayah akan bercerita sesuatu.”

“Maaf Yah, jika cerita itu untuk membujukku, aku nggak mau.”

“Ini untuk kamu, nak.”

“Untuk aku apa untuk Ayah.”

Mencegahnya dengan membujuk rupanya akan sia-sia dan aku pada posisi tak berkeputusan. Diam dan memasang wajah memelas mengharap. Anak lelakiku tahu itu dan tak menatap wajahku. Ia melanjutkan bicara:

“Seperti Ayah dulu, dua puluh dua tahun yang lalu, berselisih pendapat dengan kakek dan ayah tetap bersikukuh dengan prinsip Ayah, saya tahu itu Ayah. Berdirilah di posisiku Ayah, lihat dan rasakan. Atau, Ayah lupa karena sudah nyaman duduk di kursi yang memahami posisi duduk dan tulang belakang.”

Aku masih terdiam. Tak tega melukai hati dan merusak pikirannya. Sama seperti ayahku pada aku dulu, sama seperti kakekku pada ayahku dulu. “Sudahlah nak, kau bilang tadi nggak mau berdebat dengan Ayah. Ayah mau istirahat dan baca buku.” Ia menghampiriku, memungut telapak tanganku, menjabat dan menciumnya.

“Do’akan saya Ayah. Do’akan saya diberi jalan terbaik olehNya.”

Segala perlengkapan Ia bawa dalam satu tas gendong dan satu tas kecil yang diikatkan di paha kanan. Matanya menatap mantap dan cerdas. Melangkah gagah tanpa ragu, membuka pintu dan menutupnya dengan tangan kanan yang sigap. Rambutnya bergerai ditiup angin yang menyelinap di sela-sela pepohonan halaman. Motor yang sudah disiapkan di dekat pintu gerbang segera membawa pergi. Seketika, warna hijau dedaunan berubah menjadi merah coklat tua. Jalan di depan mulut gang menjadi terdengar sangat bising. Teh hangat di meja sebelah kanan tak lagi menarik. Setiap suara menjadi mengagetkan. Sebuah buku tebal yang sedianya mau diselesaikan di akhir pekan, tak lagi menarik. Sebuah do’a lahir tak sengaja, “Ya Alloh, jagalah anakku.”

Aku tak tahu apakah cara berpikir anakku atau aku yang benar di kemudian hari. Masa depan itu sebuah gambling. Pertaruhan untuk bertahan hidup lebih baik atau malah sebaliknya. Bila menang dan berkuasa di kemudian hari disebut pahlawan dan jika kalah akan tercap sebagai pemberontak, disingkirkan dan persulit segala gerak-geriknya atau bahkan dilenyapkan tanpa jejak. Tak ada keputusan tanpa resiko. Aku berharap ini akan menjadi baik bagiku dan anakku. Anak yang saya ajari untuk berani bersikap, jujur, berargumen dengan baik, berpikir terbuka, banyak membaca dan skeptis, telah tertanam dalam benaknya ta mungkin dengan seketika aku meralat atau mencabutnya darinya.

Aku ke ruang belakang, membikin kopi dengan takaran kesukaanku, menyeduhnya dengan putaran adukan yang kuhitung. Di samping kolam ikan kecil dengan air yang dibuat mengalir dari celah-celah bebatuan, ku intip twitter dan youtube. Keramian di jalan-jalan protokol di kota-kota besar yang pada hari biasa berseliweran mobil, kini penuh dengan massa yang terus bergerak berteriak-teriak, memaki, mengelebatkan bendera organisasi, memamerkan tuntutan, mengeluarkan pendapat. Berhadap-hadapan dengan aparat dan tumpahlah kerusuhan. Asap membubung ke langit biru yang seketika menjadi hitam pekat. Gas air mata muntah di segala penjuru, water canon meluncur deras ke arah demonstran. Dulu, aku ada didalamnya. (Atau, apa ini kejadian dulukah?) Tanpa takut, tanpa peduli, terus bergerak dan bersuara. Sampai kami menang. Rezim Orba yang kami goyang tumbang. Kami bersorak sorai, berpesta merayakan kemenangan. Menangisi teman-teman yang hilang dan mati, berdo’a dengan ritual haru biru, mencatat namanya dalam lembaran sejarah yang terselip lupa di mana menyimpannya. Kemudian kami berebut kue kemenangan itu. Mencari tempat singgah, mencari dan membuat kursi dengan semboyan lantang demi kesejahteraan rakyat; karena aku juga rakyat.

Dulu aku lupa kekhawatiran ayah padaku. Aku tak sempat bertanya karena tak terbersit sedikit pun tentang ada rasa khawatir itu pada ayah. Kemenangan telah melupakan segalanya. Dengan segera mengambil langkah untuk menikmatinya. Saling sikut dan saling kedip mata menguras energi dan pikiran. Siapa yang mampu bertahan dan adaptif, ia yang akan menikmati kue kemenangan. Jiwa idealis kabur makna masuk pada ruang nyaman masing-masing. Romantisme kemenangan terus digaungkan agar tak dilupakan sebagai pahlawan yang ikut menumbangkan rezim.

Dan kini, anakku ada di sana. Berteriak minta didengar, minta dituruti. Demi rakyat katanya. Rakyat yang mana? Karena kau juga rakyat nak. Semangat itu terus menggelora seperti tak bisa dibendung. Pada arena itu akan lahir; menjadi pahlawan atau menjadi pecundang yang akan terus diburu dan diganggu tidurnya. Dan jika orang-orang tahu kau anakku, itu akan mengganggu tidurku dan mengganggu aku menikmati kopi di saat pagi dan disaat rehat malam. Dan sekarang, kopi yang sama di meja sudah berubah rasa tak seperti biasa.

Mengapa pikirannya beda dengan aku? Kenapa dia mau merubah zona nyaman ini? Zona aman? Zonanya siapa? Bukankah anakku sudah nyaman dengan fasilitas yang saya berikan. Ah, ingin cari apa dia? Jika di kemudian hari ingin kursi jabatan dan uang, aku masih bisa mengusahakannya sekarang. Atau, Ia sudah membaca kelompok mana yang akan berkuasa pada eranya nanti?

Hiruk pikuk mengumbar suara di jalan telah beberapa minggu hilang. Mungkin sudah capai, lelah dan merasa tak berguna. Tinggal berseliweran cerita-cerita, pendapat dan diskusi yang sudah tak terminati, hambar dan kurang viewer.

Saat anakku pulang jam delapan empat lima malam, aku jemput dia di depan pintu dan aku memintanya untuk mandi dan makan malam yang telah disediakan oleh ibunya. Selesai makan, saya ajak Ia ke ruang tengah dan berbincang.

“Apa yang kau cari nak?”

“Apakah Ayah dulu juga di tanya seperti itu oleh kakek?”

“Kamu jawab dulu pertanyaan Ayah.”

“Jalan Ayah dan jalanku tentu berbeda, dan saya akan menemukan jalan itu seperti Ayah dulu. Dengan masa yang berbeda, jalan yang saya jalani akan berbeda atau bisa saja sama.”

“Ayah lihat, demo yang besar itu sudah lewat. Para demonstran lelah, capai dan lapar kemudian pulang. Tidur. Esoknya Kembali pulang dan cari uang untuk makan.”

“Saya hanya jadi penggembira di demo besar itu Yah, saya tahu di situ saya akan tenggelam. Tak tampak. Kalau yang saya suarakan akan membuat banyak orang terkejut dan teringat. Mereka akan mencatat nama saya pada ruang yang berbeda.”

“Apa yang kau suarakan nak?”

“Ayah akan tahu nanti.”

“Kau tahu posisi Ayah sekarang?”

“Tahu Yah, dan saya tahu apa yang harus saya lakukan di kemudian hari nanti. Karena di kemudian hari nanti tidak seperti sekarang ini. Saya persiapkan untuk itu Ayah.”

“Kau yakin?”

“Yakin.”

Ia pamit tidur. Aku merenung sejenak sambil merubah posisi kaki agar nyaman. Istriku datang menemani, “Anak kita seperti Ayah dulu. Besok kita bicarakan lagi bersama. Semua ada solusinya.”

“Saya khawatir Ia sudah melangkah terlalu jauh, Bu.”

“Ia anak cerdas Yah, Ia tahu batasan mana jalan yang terakhir harus ditempuh. Ia mengalir dari kran yang dulu dibuka Ayah. Lahir dari rahim dan dibidani Ayah. Apa Ayah tega mau mengkerdilkannya lagi? Ayah tega?”

Aku diam. Banyak sekali pertimbangan berseliweran di kepala, datang silih berganti, sampai tak tahu berapa lama. Setelah berdiam tak ada pembicaraan kami beranjak tidur. Sebuah pesan telegram saya kirimkan pada seseorang.

“Pesan apa yang Ayah kirim tadi?”

“Pesan..?”

“Iya.”

“Waduh. Ayah lupa tadi.”

“Ayah tega?!”

Aku terdiam. Tega?  Tega pada “aku” atau tega pada anakku?

Aku terdiam. Merebah, menutup mata tidak tidur dan gelisah. Sebuah kendaraan dengan suara misterius lewat menembus malam yang dingin.

21:15.10.12.20

 

 

Kamis, 07 Januari 2021

MEREKA MERAYU AKU, MENIDURIKU DAN MENIPU

 soleh djayim.

Tak ada yang aneh jika banyak orang sekali lihat ingin saja langsung dekat dan selalu tak membuang waktu. Orang yang tak tertarik padaku adalah orang bodoh atau sengaja membatasi pandangan. Aku pun menyadari itu, dan memaksa untuk selalu waspada pada setiap yang datang dengan cara apapun. Jadilah aku protektif, sangat gampang curiga dan hampir mendekati paranoid. Jika terus begini, akan menjadi orang yang tersendirian, tak ada teman.

“Lebih banyak orang baik. Yang jahat itu sedikit, hanya yang jahat itu menakutkan sehingga memenuhi ruang kekhawatiranmu.” Seseorang datang dan berbicara dengan santun dan tenang.

“Yang jahat itu, meskipun satu, bisa menghancurkan semuanya.”

“Jika kau menganggap semua orang jahat, kau akan hidup tenang dengan siapa?”

“Tidak semua jahat memang, tapi aku melihat begitu banyak orang berniat jahat padaku.”

“Kau akan gila jika terus menerus berpikir begitu.”

Kekuatan yang aku bangun untuk bertahan pada prinsip untuk menjaga dan menutup diri dari lelaki yang aku belum yakin sedikit memudar. Salah jika aku mengatakan Ia tak menarik, tak gagah, tak bikin wanita normal deg-degan. Seperti biasa-biasa saja tanpa bermaksud untuk merubah cara pikirku, kata-katanya menjadi sesuatu yang aku rindukan. Pelan penuh telaten dan terus menerus. Sampai aku terjatuh dan bersepakat hati menjalani hari dengan canda dan tawa asmara. Siang malam penuh bunga, pagi dan sore selalu ada pelangi, setiap suara menjadi begitu merdu dan setiap kata-katanya terdengar mendamaikan.

Ternyata aku masuk perangkapnya. Merasa telah menghisap madu pada putik bungaku, Ia pergi tanpa terbebani. Tanpa sedikit pun menoleh, membiarkan air mata yang aku tak kuasa menahannya agar tak menetes. Langit pagi menjadi coklat abu-abu, suara burung di belakang rumah berteriak-teriak memekakan, pohon-pohon menjadi merangas, angin bertiup panas dan menyileti pori-pori. Semua tak ada yang baik. Segera aku mengepalkan tangan. Berjalan terus menatap lurus ke depan, membuang semua catatan, membuang semua buku pada kobaran api yang menjilati langit mengantar asap penuh huruf berwarna merah oranye. Tak akan aku jatuh dua kali.

Bertahanlah aku cukup lama.

Dan, datanglah berganti-ganti orang dengan berbeda-beda. Aku kuatkan selalu untuk teguh tak tergoyahkan. Kata pepatah, seteguh karang di lautan. Jatuh kedua kali di lubang yang sama adalah hal memalukan yang tak termaafkan. Berjalan terus dengan kekuatan sendiri pada duniaku. Menikmatinya dengan caraku, meski serangan data dari segala arah.

Mereka membawa warna-warni kembang. Menari dan bernyanyi, nampak tak pamer, nampak tak ingin orang lain ikut. Tertawa seperlunya menikmati buah-buahan yang ranum matang di pohon dengan minuman di gelas panjang terpajang tenang di pinggir hidangan aneka rupa. Berpakaian rapi, bertingkah laku sopan. Meski aku tahu, Aku tak menoleh dan sengaja tak tahu. Salah satu dari mereka akan datang padaku sekedar basa basi membuka pintu. Atau bisa saja yang satu tak berhasil akan ada yang lain lagi. Seperti perlombaan. Aku siasati semua. Berkali-kali datang aku cueki. Sampai, tak tersadar aku masuk pada ruang bicaranya.

“Dunia tak seperti yang kau kira.” Katanya.

“Lho, memang saya mengira apa pada dunia?”

“Oh, maaf kan saya. Saya lancang.”

“Maksud kamu apa? Kamu mau mengatakan ‘saya baik dan beda dengan yang lain?’..”

“Maaf, tidak begitu. Maaf, itu salah satu yang kau salah kira. Lebih banyak yang baik dan benar-benar baik. Saya tak mengatakan saya baik, masih banyak sekali yang lebih baik.”

“Maksud kamu?”

Tak terduga, sebuah celah kecil telah dimanfaatkan olenya dan aku masuk terpedaya di ladangnya. Aku tersanjung, terbuai hampir tertidur dan melambung hati dan pikiran. Kebahagiaan itu terasa tak ada habisnya, terus datang setiap saat diperlukan. Hari-hari dan malam-malam terasa pendek bersamanya. Semua terasa segar, indah, menyenangkan. Saya pikir, tinggal memperpanjang masanya, saling menjaga dan merawatnya. Aku berbaik hati, pasrah dan menyerahkan segalanya. Sampai aku tersadar, saat aku lihat sendiri Dia sedang merayu orang sepertiku dengan cara sama padaku. Aku tak mendatanginya. Sebuah photo aku kirimkan lewat ponsel dan dia sama sekali tak merespon. Hari berikutnya nomer telponku sudah diblokir. Aku tak menangis, berjalan lagi menikmati pagi yang segar dan sore yang lelah dengan polusi.

Begitu hebatnya mereka mencari celah, sampai tak hanya empat lima kali aku masuk perangkap berbeda. Berbagai cara aku menolak, berjuta cara mereka meluluhkan. Bertahan tak membuat aku kuat dan terhindar dari kekalahan. Beraneka cara dan pola mereka bawa. Segala hal yang tampak biasa, ternyata sebuah rekayasa. Maka, mematahkan semua yang datang dan melenyapkan yang pernah datang menjadi cara supaya tidak ada lagi korban sepertiku. Agar tak ada lagi orang yang berani datang pada siapapun untuk menikmati segalanya tanpa rasa belas kasih. Membunuh binatang penghisap hati, bukan sebuah kejahatan besar.

Aku membuka diri. Menerima orang yang datang mengagumiku, menuruti apa yang ia mau, ikut menciptakan nuansa romantis yang dibawanya. Bunga-bunga palsu dan wewangian  racun aku tebar sedikit demi sedikit. Membiusnya perlahan, ia tersenyum tak mengerti atau mungkin senyum menjelang sekarat yang teramat perlahan. Ia masuk perangkapku, batang lehernya  masuk pada tali jerat dendam yang terpilin dengan rapi. Tak ada yang curiga, tak ada yang menyangka. Dari mereka aku banyak belajar menyembunyikan tujuan yang tak terduga. Aku bebas berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Senyumku yang membuat semua orang terkesima masih natural pada garisnya. Langkahku masih mantap tak sedikitpun canggung, tegap dengan rambut terurai melambai setiap langkah. Banyak nama dan wajah yang tercatat di gadgetku dengan clue bagaimana cara menyelesaikannya, hanya aku yang tahu.

Perburuan itu aku mulai. Satu persatu korban terburai, tertelan bumi. Ada yang jadi berita dan cerita, ada yang sama sekali tak terdengar. Sebilah pisau berpunggung gergaji dan sebungkus serbuk racun, benda yang gampang aku sembunyikan. Semua rapi, tak ada jejak yang mengarah ke pelaku. Saat aku datangi, mereka tak mengira apa yang akan aku lakukan, seperti aku tak mengira ketika mereka datang satu persatu menenggelamiku. Merayunya dengan kesabran dan kehati-hatian untuk membawanya pada padang ilalang tak bertepi dimana bercak darah tak terlacak.

“Kau melakukan itu lagi?” Teman kecilku bertanya dengan nada datar dan mengernyitkan kening.

“Kau menuduhku?”

“Aku merasa begitu.”

“Itu hanya perasaanmu, prasangka, tak ada bukti sama sekali. Kau yakin dengan tampang wajahku seperti ini bisa melakukan itu?”

Ia hanya tersenyum, kembali menikmati minuman ringan di pojok kantin tempat kami biasa santai selepas seharian kerja.

“Kau menikmatinya? Apa yang kau harapkan dari apa yang kau lakukan?” Ia kembali bertanya setelah berbincang lain.

“Jika aku tak menikmati, pasti aku tak akan melakukan. Kau akan ikut bersamaku? Aku tahu kau sepertiku.”

“Aku tak cukup punya nyali untuk sepertimu.”

“Ikutlah denganku, aku sepertimu sebelumnya. Kita tak boleh membiarkan mereka terus menerus tanpa rasa jera menguasai tanpa punya hati. Ini punya kita, jangan membiarkan mereka akan terus menguasai. Kita harus lawan, kita harus patahkan.”

Menjelang tidur di larut malam, aku menikmati satu persatu senyum terakhir dari semua wajah yang aku singkirkan. Saat ada waktu, aku mengikuti cerita dan berita yang berbeda-beda dari menduga-duga tentang korban orang penting yang mereka katakan orang baik dan dermawan. Analis perilaku sosial, analis kriminal, pengamat pembunuhan, politikus, wartawan, ibu-ibu arisan, anak muda geng motor, bapak-bapak di arisan er-te; semua menduga berebut cerita unjuk pendapat. Aparat kebingungan mencari pelaku yang tak sembunyi dan menikmatinya.

“Kau benar, orang tidak baik harus kita singkirkan. Mereka akan terus berpura-pura baik sambil terus menerus memangsa korban. Menenggelamkan ke bumi satu-satunya cara menghentikan kemunafikannya.” Kata teman kecilku. Ia datang sambil membawa es krim saat seharusnya aku beranjak tidur.

“Kau akan ikut denganku?”

“Sudah. Kau pernah dengar ada korban yang bukan korbanmu?”

Aku tersenyum, temanku juga, “kau menikmatinya?”

“Jika aku tak menikmati, pasti aku tak akan melakukan.”

Kami tersenyum bersama. Di gardu ronda bapak-bapak masih sibuk berdebat saling menduga tentang pelaku dan sebab musabab orang baik yang mati. Di jembatan seberang, anak-anak muda bernyanyi lagu balada yang didangdutkan.

Kami berdua saling tersenyum memandangi senyum terakhir wajah-wajah para munafik yang tak lagi berdaya.

23:27 260920

Rabu, 11 November 2020

IBU PENARI DI PANGGUNG ITU?

             Warna-warni sorot lampu yang di pasang di banyak tempat membuat panggung menjadi megah gemerlapan, terus berpendar-pendar, berputar-putar, bergantian menyorot. Panggung itu tentu di desain agar mampu menampung banyak orang yang berjingkrak-jingkrak di atasnya. Dan suara yang keluar dari perangkat sound system, pasti tak pernah peduli berapa angka desibel maksimal yang aman bagi gendang telinga. Di sini area kegembiraan, berpusat di panggung. Yang nggak setuju, minggir menjauh tak perlu menghimbau, tak perlu khawatir tentang moral dsb. Musik, lampu, asap, alkohol, teriakan-teriakan dan gerakan-gerakan menari menjadi satu, membubung ke langit. Entah langit menerima atau tidak.

Musik di situ sangat dinamis, dari pop, dangdut, rock, koplo, etnik, country, music yang tak mengiringi suara menyanyi, musik di situ mengiringi orang-orang berjoget meliuk-liukan tubuh, bersahutan dengan vokal senggakan menuntun gerak pinggul, gerak leher, gerak tangan, gerak kaki, gerak hati, mengarah pada satu titik; menciptakan bahagia bersama-sama. Dan lihatlah, bagaimana wanita-wanita cantik itu bergantian menari menggumbar tubuh memancing birahi lelaki. Semakin berani, semakin riuh penikmat dan semakin bersemangat ia menari (apa yang itu disebut menari), dan uang sawer terus berpindah tangan. Kemudian, lewat youtube melalanglah kegembiraan lokal ke dunia tanpa batas, tersimpan di langit maya yang siap ditonton kapan pun.

“Pernah nggak kamu merasa malu melihat video kita?”

Berbincang dua orang kawan.

“Memang kenapa? Kita butuh uang. Kita butuh ketenaran. Ketenaran akan mendatangkan banyak uang. Lagi pula itu kan seni. Mungkin ada banyak orang yang tak memahami seni kita. Kita tak bisa memaksakan orang untuk memahaminya.”

“Kau yakin ini murni seni? Kau merasa bisa melakukan ini agak lama?”

“Itu urusan nanti. Yang penting sekarang kita happy, bersenang-senang. Nyatanya banyak orang yang ikut bergembira dengan kita, dan saya dapat uang.”

“Kau menikmatinya sepanjang pertunjukan? Setelah kau turun panggung, setelah di rumah?”

“Ini duniaku sekarang. Aku tak bisa menikmati dunia nanti yang belum aku alami. Kau sudah mulai jenuh?”

“Saya kadang berpikir, normalkah duniaku? Pernah kau berpikir seperti itu?”

“Pernah. Tapi segera saya buang jauh-jauh. Saya, kamu, punya tubuh yang bagus, dengan ini kita bisa membuat orang di bawah panggung menjadi tergila-gila. Kita dapat uang dari pertunjukkan ini. Dari memyanyi, dari menari, dari berjoget, dari bergoyang, kita dapat uang. Uang. Dengan uang yang banyak saya bisa beli yang saya mau.”

Hingar bingar musik menenggelamkan suara mereka. Meliuk-liuk kembali di atas panggung, berteriak-teriak seperti bernyanyi, kadang juga bernyanyi agak benar. Jika lagu itu bukan lagu terkenal, tak ada orang yang tahu.

Berganti hari, berganti panggung, berganti teriakan. Keringat yang melumuri tubuh, mengkilap, menebarkan bau. Penonton menikmatinya. “Aku penguasa di duniaku ini....!” Alam merekam dan menyimpannya begitu saja di langit dengan kata kunci yang mudah untuk di akses.

Pulang ke rumah menjelang pagi. Kabut telah tebal dan berdiam di dedauanan yang menggigil. Membuka pintu dengan kunci yang disimpan di dalam tas berbaur dengan bedak, lipstik, minyak wangi dan charger HP. Sang ibu bangun, berjalan terhuyung menahan kantuk, menyambutnya. “Kamu baru pulang nak. Ibu tak bisa tidur menunggumu pulang.”

“Iya Bu. Ibu tidur saja, saya juga mau tidur.”

“Mau ibu bikinkan teh hangat?”

“Nggak usah Bu, sudah minum tadi. Hanya pengin tidur saja.”

“Kenapa kamu sering pulang pagi?”

Sang Ibu mengikutinya ke kamar. Membiarkan anak perempunnya menata tidur. Sebelum beranjak pergi, Ia sempatkan membetulkan selimut yang tak sempurna menutupi. “Kamu nggak capai nak?” Si anak hanya diam, tangan kanannya menarik ujung selimut menutupi seluruh muka.

Setengah dua belas siang, Maira baru bangun. Tak langsung pergi mandi, Ia sempatkan membuka HP, memincingkan mata, membacanya sebentar dan menaruhnya agak seperti di banting di kasur. Di meja makan, ibunya sudah menyiapkan nasi dan sayur bening kesukaanya.

Selesai makan, sang Ibu mendekat, “Kamu sudah berumur, Maira. Kapan kamu nikah?”

“Maaf Ibu, jangan tanya itu lagi. Saya mohon Bu..”

“Tapi, umur kamu?”

“Apa ada orang baik-baik yang mau nikahi saya bu? Apa ibu mau punya menantu bukan orang baik-baik?”

“Kamu kan anak baik, jika kamu baik pasti dapat suami yang baik.”

Maira terdiam. Di reguknya teh hangat sampai setengah gelas. “Ayah orang baik-baik bukan Bu?” pertanyaan itu meluncur mengagetkan sendiri. Ia tahu, Ibu akan tidak suka dengan pertanyaan itu tetapi kadang muncul tak terkendali. Akan muncul wajah sedih dengan tatapan mata kosong sampai lama. Ia buru-buru meralat, “Maaf bu, Maira lupa itu. Maaf.”

Sang Ibu memandangi garis-garis ubin yang tak sebatas berujung di batas tembok. Garis-garis yang menjadi benang penghubung waktu yang ingin sekali di buang jauh-jauh agar tak lagi terbaca.

“Ibu harus menjawab pertanyaanmu, agar kau tak lagi bertanya. Ayahmu orang yang baik, tapi sayang, kamu tak sempat merasakan kebaikan yang tulus darinya. Ia keburu pergi sebelum pagi benar-benar terang.”

“Kenapa Bu?”

“Ibu juga tidak tahu. Ibu tak pernah berkesempatan mengetahuinya.”

“Boleh saya melihat wajah ayah Bu? Barang kali Ibu punya fotonya. Atau kalau tidak, Ibu bisa bandingkan dengan orang yang sosoknya sama di sekitar kita.”

Sang Ibu terdiam. Batuk kecil disengaja untuk membuang perhatian. Tatap mata Maira tetap menunggu jawaban yang memaksanya menjawab, “Saya tak ingin mengingatnya lagi nak.”

“Apa ayah punya saudara kandung Bu?”

“Ia seorang pengembara yang tak ingin terikat apapun. Ibu tak tahu apakah ia punya saudara kandung atau tidak.” Kebingungan melanda, sang Ibu ingin sekali menyudahi percakapan yang tak tahu jawaban terbaik agar tak kontradiktif jika ditanya lagi. Sosok ayah bagi anaknya, tak pernah yakin. Tak hanya satu dua orang yang menebar benih seingatnya jika ditarik waktu sembilan bulan sebelum kelahiaran Maira. Semua kemudian pergi menjauhi meja bekas pesta yang masih berantakan si tengah ruang luas dengan tembok bergambar warna-warni. Tak ada yang peduli ketika kesusahan mendera setelah itu. Mereka pindah ke meja lain untuk berpesta, membicarakan yang lain. Dan, tangis penyesalan hanya jadi pemberat untuk terus bertahan. “Ibu sendirian merawat dan membesarkanmu nak, dari sejak masih di kandungan.”

“Ibu nggak punya keluarga?”

“Punya. Tapi Ibu malu untuk pulang.”

“Kenapa Bu?”

“Ibu merasa malu, malu.” Sang Ibu terisak. Pundaknya berguncang-guncang, sebentar terhenti. Maira menghentikan pertanyaannya, mengambil handuk sambil melangkah ke kamar mandi. Mungkin untuk mandi atau mungkin juga untuk melepas tangis di tengah suara gerojokan kran yang sengaja di buka tak sempurna. Rumah dengan dua kamar tidur itu menjadi terpenuhi suara air melepas dari kran. Di luar, hujan yang turun tiba-tiba bersama angin yang menderu, ikut menjadi musik pengiring kecapaian hati.

Kehidupan yang sekarang dibencinya, kini muncul seperti pada layar bioskop di depannya dengan musik yang volumenya turun naik bergelombang, membimbing gelora gejolak penyesalan yang terus menerus datang bergulung-gulung. Ribuan panggung tempatnya beraksi memamerkan tubuh berbalut kain mini, muncul teratur per-slide seperti tayangan presentasi sebuah produk pada calon konsumen yang terus mengerumininya. Ia kadang menjadi seperti gila. Menelan obat tidur menjadi pilihan untuk melepas tontonan yang tak mau hilang. ‘Kenapa aku tak bisa melepaskan anakku dari dunia itu yang ingin aku hapus sekarang.’ Ia ingin menghapusnya, tapi anak satu-satunya telah melarut di dalamnya. Uang dan kegembiraan telah membiusnya, ‘seperti aku dulu.’

Di luar, hujan sedikit reda setelah lebih dari satu jam sibuk mengguyur bumi dibantu tenaga angin menanggalkan daun-daun rapuh pada tangkai yang tak sanggup lagi mempertahankan. Di ruang tengah Maira mendatangi Ibunya yang sedang membersihkan bunga plastik warna merah.

“Kemarin malam, seseorang mendatangai saya, seumuran Ibu. Ia memanggil saya ‘nak’. Awalnya saya cuekin, tapi setelah tiga kali memanggil, saya merasa suara panggilannya bukan sekedar ‘nak’. Seperti panggilan seseorang ayah pada ananknya. Aku merasa seperti itu, Bu.”

“Kau harus hati-hati pada laki-laki yang bersikap baik tak wajar.”

“Dia sepertinya tulus Bu, saya dapat merasakan dari suara dan sorot matanya. Orangnya sedang, tak terlalu tinggi tak terlalu rendah. Kumisnya rapi, jenggotnya dicukur habis. Tidak tampan, tapi tak juga jelek. Setiap geraknya tenang, seperti tak buru-buru, meyakinkan. Ibu kenal dia?”

“Sepertinya tidak, atau mungkin Ibu sudah lupa.” Meski banyak lelaki yang dulu sering bersamanya, sebenarnya Ia bisa menduga, tapi Ia memilih untuk membahasnya.

“Ia minta nomer HP saya, saya tak ngasih, tapi ia bisa dapat nomerku, mungkin dari temanku. Ia hanya tanya kabar dan titip salam buat Ibu. Ini foto DP-nya bu.” Maira menyorongkan layar HP ke de depan ibunya, sang Ibu melihat dengan biasa-biasa saja karena sudah menduga. Seorang yang dekat, tapi sakit hati karena tak bisa memiliki seutuhnya.

“Sepertinya Ibu nggak kenal, mungkin karena sudah lama dan wajahnya berubah.”

“Ia ingin datang ke rumah bu. Saya nggak ngasih alamat. Jika ia sampai ke sini, mungkin karena membuntutiku. Tadi ia mengirim ini.” Maira menggeser layar HP-nya dengan jempol. “Ini foto Ibu kan? Foto Ibu dulu? Tatto-nya sama dengan tatto ibu di pangkal paha.”

Sang Ibu kaget, badannya tegang, nafasnya terhenti, bola matanya berhenti bergerak dan bertatap kosong. Tatto naga kecil dengan ujung buntutnya mawar merah yang selama ini sangat disembunyikan, ternyata telah di ketahui.

“Ia juga mengirimi ini, Bu.” Maira mebuka video pertunjukan musik hingar bingar di panggung. “Yang bernyanyi teriak-teriak sambil terus joget, Ibu kan?” Maira melanjutkan menononton video meski ibunya tak suka. “Ternyata goyangan saya, masih kalah sama ibu.”

“Ibu mohon, buang itu semua Maira. Ibu mohon.” Suaranya berat dan serak. Ia tak menangis karena sudah tak bisa menangis. “Dan kamu, berhentilah..! Jangan seperti Ibu. Berhentilah nak.”

“Kita masih perlu uang, Bu. Bulan depan kita harus bayar kontrakan rumah.”

“Berhentilah nak, berhenti.”

“Maaf Bu, Maira harus berangkat. Sebentar lagi ada yang njemput.” Maira bergegas masuk ke kamar mengambil segala perlengkapan yang sudah di siapkan di tas.

“Sudahlah nak, kamu nggak usah berangkat.”

Maira berhenti sejenak di hadapan ibunya, menarik tangan menyalami sang Ibu dengan memaksa. “Maira pamit Bu.”

Sang Ibu memandanginya, tak mengantar sampai pintu. Di luar gerimis basah.

 

23:45.08.05.2019

Selasa, 13 Oktober 2020

SERIBU LAKI-LAKI SATU PEREMPUAN

                Pulau kecil yang terapung itu jika malam tampak gelap tanpa sinar listrik. Tak ada suara musik, radio ataupun tivi. Sunyi. Semua suara adalah suara alamiah. Tak ada lalu lalang mobil atau motor, tak ada rumah gedung menjulang. Sepi, tak ada kesibukan dunia modern yang berlari berpacu dengan waktu, saling mendahului dan oportunis. Manusia yang tinggal di situ pun, tak bertempat di rumah-rumah yang layak. Sekedar tempat berlindung dari dinginnya angin malam dan berteduh saat hujan datang. Ada yang tinggal di bawah tebing dengan cekungan kecil semacam goa, ada yang tinggal di bawah sisa reruntuhan bangunan, ada yang bikin gubug sederhana tanpa bilik.  

Dataran tinggi di bibir pantai itu terpisah dari induk pulau setelah gempa dahsyat 7,8 skala Richter di kedalaman sepuluh kilometer di dasar  laut, tujuh ratus meter dari bibir pantai diikuti Tsunami dahsyat yang menggulung seluruh hasil peradaban manusia sejauh jangkauan air laut pada sebuah tempat yang sangat strategis untuk menikmati seluruh keindahan laut sepanjang waktu. Di situ fasilitas untuk menikmati keindahan dan kesenangan tersedia dengan berbagai macam bentuk, warna-warni simbol imajinasi manusia yang tak terbatas waktu. Sekarang menjadi sebuah pulau kecil terapung di tengah samudra tanpa bisa melihat bibir pantai pulau lain. Sejauh mata memandang, hanya hamparan air laut yang terus menerus menggulung ombak sepanjang waktu. Tak ada fasilitas komunikasi. Tak ada fasilitas kebutuhan manusia modern yang bisa dipakai. Semua telah rusak dan tak bermanfaat. Pulau kecil itu menjadi tempat manusia yang selamat dari gulungan ombak Tsunami. Ada tigaribuan orang di sana. Dari anak-anak sampai manula.

Setiap hari ada saja orang yang mati. Tak ada obat-obatan, praktis hanya menggunakan dedaunan dan buah-buahan yang dianggap bisa mengobati orang sakit. Pemandangan yang lumrah melihat orang sekarat tanpa perawatan atau pertolongan medis. Ketika pohon-pohon mulai tumbuh bersemi, orang-orang penghuni pulau itu semakin menyusut jumlahnya, satu persatu mati. Tak ada upacara penguburan dalam suasana duka haru biru. Hanya sekedar dikubur tak begitu dalam hasil dari menggali lubang dengan ranting-ranting pohon yang dipatahkan. Hewan-hewan sudah jarang sekali bisa ditemui. Mereka diburu dan dimakan. Hanya beberapa hewan saja yang sementara bisa menyelamatkan diri dan masih bisa bersembunyi sambil menunggu kapan saatnya tertangkap manusia yang memangsa semua yang ditemui saat lapar. Burung-burung kadang hinggap sementara di pohon untuk kemudian terbang lagi entah ke langit yang mana.

Tak ada pemimpin diantara mereka yang diakui. Tak ada ide dan pendapat yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain. Semua saling mencari selamat, saling mencari celah untuk bertahan hidup. Kekuatan fisik menjadi senjata utama untuk mempengaruhi orang lain.  Tak ada batasan antara kecurangan dan ketidakcurangan. Bertahan untuk selalu survive dilakukan dengan berbagai cara, melupakan pertemanan atau persaudaraan yang pernah terjalin. Ini pulau barbar. Banyak lelaki yang tampak gagah perkasa yang mati lebih duluan karena lengah dan disingkirkan  pesaingnya dan hanya wanita-wanita yang kuat dan pandai baca situasi yang masih bisa bertahan. Saat para lelaki atau wanita-wanita naik libidonya dan memuncak keinginan menumpahkan kebutuhan biologisnya, akan menjadi hal yang unik bagi siapapun yang berkesempatan dan dengan keadaan tak ada orang lain yang menggangu. Kesempatan itu sangat sulit karena semua saling mengintai dan saling ingin mengagalkan. Perselisihan kecil sering menjadi baku hantam yang berujung pembunuhan. Sering bangkai orang yang tewas ditinggalkan begitu saja atau kadang dibuang ke sungai atau ke laut. Hanya bau busuk yang membuat berpikir untuk menyingkirkan atau mengubur bangkai, karena kemanusiaan telah tererosi begitu cepat.

Ketika hidung sudah terbiasa dengan bau busuk bangkai dan mata telah terbiasa dengan bangkai-bangkai, pembiaran mulai terjadi. Ketika umbi-umbian dan daun-daun sudah tak ada lagi tersisa dan binatang tak ada lagi yang bisa diburu, pola makan menjadi berubah. Ketidakbiasaan mulai terjadi. Tak ada pembiaran pada apapun yang bisa dimakan. Orang yang sedang sekarat menjelang maut, ditunggu kematiannya. Dagingnya akan diolah untuk dimakan. Entah siapa yang memulai. Juga memang sudah tak terpikir masing-masing punya nama atau tidak, tegur sapa sekedar hai, hoi, oi, tak jelas apa maksudnya. Tatanan hidup orang modern telah hilang dan rusak sama sekali. Mereka begitu cepat jadi primitif. Satu dua orang yang mencoba bertahan berpikiran seperti sebelum mereka terapung di sebuah pulau kecil yang terisolasi. Rasa kebersamaan sebagai manusia berubah seratus delapan puluh derajat dan lebih menakutkan dibanding dengan binatang. Mereka membuat api dari kayu atau bambu kering yang digosok-gosokan satu sama lain untuk penghangat badan saat malam terasa dingin dan untuk sekedar membakar daging atau umbi-umbian yang ditemukan.   

Tertolong oleh beberapa orang yang meyakinkan kalau makan daging manusia adalah perbuatan yang akan menyiksa diri kita sendiri, perburuan sesama manusia untuk dimakan dagingnya segera cepat berakhir. Bahkan kemudian mereka mengkeramatkan bangkai manusia pada satu tempat yang tinggi dan diyakini akan selalu menjaga orang-orang yang masih hidup, melindungi dari kekuatan ghaib jahat yang kapan saja bisa menyerang. Ada upacara sederhana untuk mengantarkan jenazah ke puncak bukit. Mereka bernyanyi dengan nada yang sedih dan mengharukan, diselingi ucapan penghormatan dan permohonan agar si jenazah menjadi pelindung dan penjaga yang setia. Kadang suaranya meninggi, kemudian datar merendah meratapi kepergian, silih berganti. Burung-burung menjadi datang berkumpul, bernyanyi mengiringi. Setelah selesai semuanya, burung-burung itu terbang lagi entah ke langit yang mana.

Perempuan-perempuan berkumpul pada sebuah tempat yang terpisah dari kaum lelaki. Mereka merasa nyaman berkumpul karena akan jadi rebutan jika berpasangan dengan seorang lelaki. Dan itu pasti jadi perkelahian. Tak jarang perempuannya yang jadi korban. Nafsu biologis mereka masih normal, tapi, sepertinya tak ada seorangpun yang rela melihat sepasang laki-laki dan perempuan dapat leluasa menikmatinya. Nafsu sex ini yang sering menjadikan awal dari perkelahian dan tak jarang berakhir dengan pembunuhan.

Perempuan-perempuan itu sepakat untuk tidak melayani nafsu biologis para lelaki, apapun resikonya. Mereka membentengi diri dengan selalu berkumpul dan saling menjaga dari sergapan lelaki yang setiap saat siap menyeret dan menyergap salah satu dari mereka. Mereka terus bertahan. Suatu keputusan yang sebenarnya menyiksa juga bagi mereka. Berbulan-bulan mereka terus begitu dan membuat kaum lelaki semakin buas dan semakin tertantang. Tapi kemudian nyatanya tak semua perempuan mampu menahan keinginan biologisnya. Satu dua melanggar kesepakatan itu, sembunyi-sembunyi mencari celah dan waktu untuk bertemu dengan lelaki yang juga begitu. Tak hanya satu dua, pelanggaran kesepakatan para perempuan pun semakin tak terjaga. Para penjaga kesepakatan yang setia, satu persatu berguguran. Pengkhianatan menjadi hal lumrah setelah beberapa bulan dijaga mati-matian. Mereka, para perempuan dan para lelaki, berlari dan bersembunyi, menikmati kesempatan yang sempit. Berkelakar melepas hajat, bersantai sejenak untuk bersiap berburu lagi. Berburu makan, yang lelaki berburu perempuan, yang perempuan menikmati sebagai obyek perburuan. . Bersembunyi-sembunyi menikmati sebuah kesempatan bisa bersembunyi. Terus dan terus sampai kemudian sembunyi-sembunyi itu menjadi hal biasa dan tak lagi terasa menyenangkan. Berburu makan, berburu perempuan, bersembunyi-sembunyi, bernyanyi-nyanyi dalam kesembunyian.

Tak ada yang mau diatur, hanya jika ada keperluan yang berbarengan saja mereka mau sepakat. Para perempuan sadar mereka jadi obyek perburuan bagi kaum lelaki yang semakin lama semakin meremehkan dan melecehkan. Mereka segera sadar, atur strategi dan berkumpul. Dan, semua usul, semua berpendapat, semua bersuara keras, semua bersuara lantang. Riuh rendah, tak ada yang mau kalah, semua harus menang dan semua memaksa harus idenya sendiri yang dipakai. Keributan segera terjadi sampai reda sendiri karena kelelahan. Pada sebuah gua yang mulutnya diberi atap dari rumput ilalang yang dianyam, mereka melepas kelelahan bersandar pada dinding gua. Bercerita sekenanya tanpa disadari kapan memulai dan bicara tentang apa. Terdengar ketawa-ketiwi genit, ada yang cekakan, ada yang berteriak-teriak. Bernyanyi tanpa syair yang jelas.

Seorang perempuan lincah bertubuh ramping, kuat, cekatan, berrambut tebal lurus sebahu, bermata jalang dan tajam berdiri pada sebuah batu tertinggi dan berteriak dengan keras.

“Dengar... Dengarkan saya.” Suara membehana mengisi seluruh ruang, “Hey... Kau mau dengar aku tidak....!!! Jika tidak, kau harus tau akibatnya.

Ia pun segera melompat dan menghampiri empat orang yang terus ngobrol tanpa memperhatikan ucapnnya sedikitpun. Ia segera menggapai rambut salah satu dari mereka dan memaksanya berdiri. Merasa jadi korban, ia melawan tapi keburu dipaksa untuk takluk oleh perempuan perkasa itu. “Jika kau mau melawan aku, kau rasakan ini!” sambil dengan sangat cepat tangannya memelintir kepala si korban dan dihempaskan ke tanah berkerikil tajam. Perempuan itu terjengkang dan meringis menahan sakit. Tiga temannya merasa tak rela, langsung menyerangnya dan segera saja perempuan perkasa itu berkelebat menendang dan meninju. Tiga orang itu terkapar, terjerembab mencium tanah.

“Mau kalian-kalian sepertia dia?” tanganya menunjuk lurus pada empat orang korban pertamanya.

Semua terdiam. Di hati mereka bergumam, ‘harus tak ada yang berkuasa di antara kita, ia harus segera disingkirkan jika mau jadi pemimpin kita’.

“Saya tak akan jadi ratu diantara kalian,” Ia berteriak keras, “Tapi, kalian ingat. Kita telah menjadi obyek perburuan para lelaki tengik itu. Kita harus pintar dan jeli agar mereka tak sembarangan menguasai kita.” Mereka tersadar. Terdiam.

“Jadi, kita harus bagaimana?” seorang perempuan lembut berambut hitam sedikit ikal menimpali dengan penuh kekhawatiran.

“Santai aja. Tinggal kita turuti kemauan para lelaki itu pasti mereka tak akan menyakiti kita. Betul nggak? Toh, kita juga butuh.. Ya, nggak kawan-kawan.”

“Tidak!!” Teriak perempuan yang masih berdiri di atas batu. Kita harus kuasai mereka sebelum mereka merasa bisa menguasai kita.  Kita harus kuat dan sejajar dengan kaum lelaki. Kita harus memulai dari sekarang.” Maka demi sebuah kesepakatan dan janji tak ada pengkhianatan, mereka kompak.

Dan benarlah, setelah bersepakat dengan bersusah payah, mereka mengatur strategi. Hanya ada seorang perempuan yang keluar dari persembunyian dalam satu hari. Yang lain berkumpul dalam satu gua untuk bertahan dan siap menyerang jika ada lelaki datang.

Seorang perempuan cantik di tengah belantara alam dengan berdandan seadanya, tentu menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi lelaki yang haus perempuan.  Dan perempuan itu melenggang ke sungai, ke hutan, ke semak-semak sendirian tanpa rasa canggung dan takut. Dalam sekejap, para lelaki bersembunyi-sembunyi mengintip untuk mencari sempat mendekapnya.

Ketika seorang dengan cekatan menangkap si perempuan, ia tak berontak dan tak juga tak membiarkan dirinya di dekap. Di bawanya si perempuan ke balik semak yang berumput tebal. Ia tak berontak dengan kasar, sedikit menolak tapi menurut mengikuti langkah lelaki yang penuh birahi dengan sedikit diseret kedua kakinya. Rambutnya terurai oleh angin yang melewat di setiap sela-sela pepohonan dan semak. Rumput, semak dan ranting yang terlewati bergerak-gerak menyapa menyampaikan salam.

Seribu pasang mata lelaki yang lain mengintai, matanya memerah menahan hasrat, menelan ludah sampai jakunnya bergerak-gerak turun naik. Kepalanya menjadi segera pusing menampung seluruh imajinasi yang datang begitu banyak, begitu cepat. Gerigi mereka gemeretak beradu dan nafasnya mendengus-dengus. Keluarlah suara-suara lenguhan dari seribu lelaki yang menahan konak. Lenguhan itu mengeras menyeruak di atas pepohonan dan semak-semak, seperti segerombolan binatang buas yang lari diburu manusia bersenapan.

Ketika seseorang melompat dari persembunyian dan berlari menyerobot menggapai lengan perempuan yang sedang dirayu, lelaki yang lain serentak mengikuti takut ketinggalan kesempatan. Mereka bertubrukan. Saling sikut, saling tendang, saling menyingkirkan. Seperti ikan dalam kolam dikasih pakan setelah berhari-hari kelaparan. Berteriak-teriak penuh nafsu dan amarah. Yang terkulai dan terkapar, terinjak-injak. Semak belukar dan rerumputan sebentar telah rata menjadi lapangan. Perkelahian terus berlanjut. Tak jelas siapa lawan siapa, yang dalam jangkaun serangan, mereka saling pukul dan tendang.

Perempuan cantik itu menjadi terbiarkan dan pulang ke gua dengan tenang sesekali menongok ke belakang melihat para lelaki yang masih terus bertarung meluapkan amarah. Darah nampak mulai tercecer di rerumputan. Pertarungan terus berlanjut, merembet ke lelaki-lelaki lain menjadi ikut bertarung membantu orang-orang yang dianggap temannya. Tapi, tidak jelas apakah membantu teman atau memanfaatkan kesempatan untuk membunuh lawan. Yang terjadi, bukan pertarungan antar dua kubu, tapi pertarungan pada siapa saja yang dalam jangkaun serangan. Sekumpulan lelaki yang sedang ngamuk satu sama lain, entah memperebutkan apa. Burung-burung berbulu gelap berbondong hinggap di dahan-dahan pohon di sekitar mereka, memandangi dengan mata jalang dan paruh tajam terhunus. Suara-suaranya serak menanti bangkai yang mulai bergelimpangan.

Langit berangsur menggelap. Sinar matahari hanya menyisakan sedikit semburat di balik bukit yang menurun. Lelaki-lelaki yang masih bertahan untuk bertarung masih terus menunjukkan kekutannya untuk melumpuhkan lawan.

Seorang perempuan lincah bertubuh ramping, kuat, cekatan, berrambut tebal lurus sebahu, bermata jalang dan tajam berdiri pada sebuah batu tertinggi dan berteriak dengan keras.

“Apa yang kalian perebutkan?!” teriak perempuan itu lantang menengadah langit. “Apakah kalian hanya akan meyisakan satu pemenang?”

Tak ada jawaban. Para lelaki sudah tak ada lagi yang berdiri. Semua terkapar menggelepar. Burung-burung berbulu hitam berparuh tajam mulai turun mengerubuti lelaki-lelaki yang terkulai berdarah-darah. Bau anyir darah menguap ke langit yang telah gelap. Tak ada bulan atau bintang menyambut malam. Gerimis rintik kecil turun menyamping bersama angin yang sesekali berhembus menyentak. Anak-anak burung pipit beringsut masuk sarang menghangatkan tubuh diketiak induknya.

                                                                                                        April 2013