Label

Sabtu, 16 Desember 2017

PERJALANAN ITU SELALU

karena perjalanan itu selalu ada tak berhenti
menjaga saja agar tenaga memberi nafas pada hati, 
melaju
melewati sesuatu tanpa bekas tapak atau banyak bekas 
memberi arah dan pertanda dan huruf-huruf yang bisa terlihat 
bisa sama sekali tak nampak, 
mata hati bisa melihat?.
tepian itu hanya pengingat, semua bisa membiarkan, semua bisa mengabaikan
arah itu bagi yang mau, bagi yang mengerti, bagi yang tak terbebani
bisa juga membaca arah burung terbang, 
atau arah awan berarak pergi menepi langit.
ketika senyum dan tawa kanan kiri mencanda, 
menawari untuk sejenak berhenti, mengikat demi sedikit sampai berhenti, terlena.
”pakaian dan makananmu tak pantas dan tak cukup, berhentilah sejenak, ini di sini nikmati bersama kami. kami bisa bernyanyi, bisa menari.”
mendayu, merayu, menyanyi lagu riang, ringan, berjejer sepanjang tepian. berwarna-warni merayu rasa. “kau akan sampai juga. tak perlulah tergesa. senja pasti datang tak perlu diburu. lihatlah kakimu sudah bengkak dan bernanah.”
karena perjalanan itu selalu ada tak berhenti
hujan itu penyejuk kulit ketika terbakar matahari, angin itu kipas alam tanpa pamrih sepenuhnya.
selalu pada jalan yang di tetapkan, di ujung sana tampak pintu gerbang yang di dalamnya harum aroma bunga beringsut berkabar ketika bayangan badan telah memanjang ke timur.
saat masuk maghrib, masuklah pada taman yang terang benderang meski tanpa lampu satupun.

11NOP2015

Kamis, 14 Desember 2017

BULU-BULU YANG LEPAS DIAJAK TERBANG

djayim.com sebuah cerpen
Lelaki itu bangkit perlahan dari tidurnya yang kurang pulas. Hampir seperti merangkak, Ia menghembuskan nafasnya dengan berat hendak membuang malas yang melingkari seluruh tubuhnya. Sebentar Ia hafalkan lafal yang telah diajarkan gurunya agar tidak salah dan lupa. Malam baginya telah menjadi ruang dan waktu yang cocok untuk memohon. Memohon pada penguasa alam semesta yang Ia anggap bisa memberi apa yang dipintanya. Berbagai dan beribu persyaratan yang dibebankan terus dipenuhi meski sudah merasakan kejenuhan karena ada saja yang kurang dan, kadang tak masuk akal seperti diada-adakan. Lorong jalannya telah terus dilalui dan tak banyak orang memahami. “Kamu harus percaya. Yakin. Jangan ragu dan tak perlu mendengarkan orang lain, karena itu merupakan ujian, apakah kamu akan kuat atau kau malah akan mengingkari jalan yang telah dirintis menuju pintu gerbang kesuksesan yang kau tak pernah bayangkan sebelumnya. Sebuah sukses besar.” Kalimat itu selalu teringat, terpampang di benaknya, dan itu menjadikan niatnya untuk terus maju menjadi semakin kuat. Saat lelah menerpanya, sebuah hamparan bayangan kesuksesan membuainya. Semua akan beres dalam sekejap dan dunia akan terang benderang layaknya pagi hari yang cerah dengan suara burung berkicau di seluruh dahan sambil terbang bercanda ria, diantara angin yang perlahan bertiup dari timur.
Dingin yang menusuk tulang melalui pori-pori tak dirasakan, “Aku harus kuat menahan hal kecil ini. Ini hanya sebuah perasaan yang akan hilang jika aku berkeyakinan aku bisa membuangnya.” Pintu gerbang kesuksesan itu selau muncul di depan matanya, setiap Ia melangkah sesuai dengan petunjuk gurunya. Disana jika memasukinya terdapat bermacam segala macam yang dipintanya. “Orang-orang yang mencemoohku, mentertawaiku, nanti akan malu sendiri.” Bayangan orang-orang yang datang untuk mengikuti jejaknya selalu membuatnya tersenyum segar. Dan pintu gerbang itu seakan selalu manjaga jarak. Dikejar berlari, ia berlari, dikejar berjalan ia berjalan sambil terus mencibir memberi tantangan yang membuat penasaran.
Entah malam yang keberapa ratus atau ribu kali, Ia lupa dan tak pernah menghitung. Suara hewan malam dan segala bebunyian malam, telah begitu akrab ditelinganya. Terkadang begitu banyak malam tak terlewati, tapi saat rasa percayanya menipis, ia tidur bergumul dengan keputusasaan. Teringat tentang keluarganya, ia menahan kesedihan. Memilin kenangan, mencerabuti dari keindahan masa lalu dari lembaran sederhana yang menjadi sangat indah dibaca, menggantungkannya pada bulan sabit yang ujungnya tertutup awan yang tak bergerak. Ia menebar senyum untuk dirinya sendiri, bergumam, menegaskan angan, melambung tinggi disela daun-daun kelapa melambai disapa angin membawa embun lembut. Melelapkan badan lelah.
“Oh Tuhan, Sang Penguasa, Kau tahu tentang keinginanku. Tapi kenapa semua tak ada saat tiba waktu yang kutunggu. Waktu yang terus aku hitung detik demi detik. Kenapa Tuhan?”
Ia telah datang pada berpuluh tempat keramat. Tempat yang dijaga para lelembut dan juru kunci. Tempat yang tinggi di lereng-lereng gunung, di pinggir-pinggir pantai, di tepi-tepi sungai, di lembah berpohon besar, di puncak bukit. Dari ujung barat sampai ke ujung timur, dari ujung selatan sampai ke ujung utara, semua disinggahi. Ada saja orang yang memberi tahu. Orang-orang yang bertujuan sama atau sekedar menuturkan cerita. Mereka selalu bersemangat bertutur, berbinar bola matanya. Berkarung-karung harapan selalu dipanggul setiap saat.
Jalan terjal menuju bukit ini hanya rintangan kecil yang harus dilewati untuk mendapatkan sesuatu yang dapat membiayai seluruh hidupmu, seluruh keluargamu dan kau dapat hidup kaya tujuh turunan. Semua perjuangan akan terbayar lebih, dan mereka di sana akan mengikuti jejakmu, dan kamu tak mungkin kalah dengan mereka karena kamu lebih dulu. Suara itu selalu terngiang di telinganya. Selalu menyemangati setiap langkah yang diangkat.
“Kau lelah?”
“Tidak! Untuk sebuah tujuan besar ini hal yang sangat ringan dan kecil?”
“Tapi wajahmu tampak kelelahan.”
“Tidak. Aku tidak seperti itu.”
Saat orang-orang di dalam kamar di rumah-rumah dikaki bukit yang tersinari lampu-lampu terlelap tidur, beristirahat berselimut hangat, Ia terus menuju puncak bukit terjal. Sudah hampir tiga jam Ia dan seorang temannya berjalan kaki. Jalannya yang penuh dengan akar-akar dan kanan kiri belukar berdaun-daun tajam menyayat kulit kaki dan tangan yang berkeringat. Hewan-hewan malam bersuara menyapa dengan bahasanya. Dedaunan yang  terlelap tidur dilumuri embun membasuh kelelahan sepanjang hari dengan debu-debu terseret asap yang menyembur dari cerobong dan knalpot. Langit terdiam membiarkan bintang berkedip di rerimbunan awan yang bergerak perlahan. Ada sedikit keraguan padanya yang kadang menjadi besar dan sering hampir menyurutkan langkahnya. Dan bayangan segerobak harta karun telah tergambar jelas di otaknya menjadi nafas baru untuk terus melanjutkan.
“Bersiaplah Jatra, mereka telah bersiap menyambut kita. Aku merasakan getarannya.”
Jatra terdiam. Ia menenangkan hatinya, mengatur nafas, menghafal mantra-mantra dan memejamkan matanya. Ia berbisik sedikit bingung, “Aku harus bagaimana?”
“Seperti yang telah aku katakan sebelum berangkat tadi”
Suara itu kadang muncul setiap kali kali Ia bertanya berbisik atau dalam hati. Kadang juga ada sosok yang hadir di sekitarnya. Temannya mengikuti dan kadang saling mengingatkan tata cara yang telah diceritakan sang juru kunci. Angin berkesiur lembut dari selatan. Dedaunan bergerak berdesakan mengiringi suara hewan malam. Kabut makin tebal dan berat turun menyiram. Suasana kemudian benar-benar sunyi, tak ada angin bertiup, tidak suara hewan, semua tentang kesunyian.
Mereka diam terpekur, duduk bersila di atas batu, diam berkonsentrasi penuh. Mantra-mantra dibacanya dalam sepenuh hati. Seekor kelelawar besar terbang di atas kepala mereka, suaranya memecah kesunyian. Kawanan semut yang terusik menggigit kaki mereka dan terlupa tak dihiraukan.
“Kau merasakan sesuatu kekuatan yang datang begitu hebat?”
“Ya. Aku merasakan sekali. Getarannya begitu hebat. Kita harus menghadapinya, apapun yang datang. Kau siap?”
“Tentu.”
Sepuluh menit angin berputar-putar kencang di atas mereka. Kadang menebarkan hawa dingin, kadang seketika terasa panas. Kadang berputar sangat cepat, kadang berputar pelan mengayun-ayun. Kemudian hening tanpa sedikitpun suara, sampai tiba-tiba muncul suara berat dan pelan tanpa jelas kata yang diucapkan.
“Eyang, kau pasti tahu apa yang saya inginkan.”
“Hmmm..”
Kemudian tak ada lagi suara, apalagi wujudnya. Hening dan sunyi seperti tak bernyawa. Di sebelah pohon besar di batu, sesosok orang berpakaian gelap duduk membelakangi. Jatra melangkah perlahan mendekat di ikuti temannya. “Kau yang akan memberi kami sekarung emas,  Eyang? Memberiku berkarung-karung uang?” Tak ada jawaban, tak juga ada gerakan. Sosok itu malah pergi perlahan menyelinap di balik pohon dengan tak menimbulkan suara. Jatra penasaran, Ia duduk di batu bekas duduknya. Bibirnya komat-kamit membaca hapalan do’a.
“Teruskan ritualmu, sampai kau dapat apa yang inginkan. Terus, jangan pergi sebelum aku datang lagi.” Suara dari balik rerimbuna pohon itu, terasa jelas dapat di dengar. Jatra semakin khusu dan mantap. Pintu gerbang rumah besar dengan sepuluh pelayan yang siap setiap saat, di kelilingi taman dengan seribu jenis bunga terpampang jelas di depannya. Kupu-kupu berterbangan di sekitar air mancur kecil di tengah kolam dengan ikan warna-warni bergerak memecah air membuat riak kecil. Burung-burung berkicau riang bersahutan membuat nada alami. Ada pohon Mangga dan Manggis yang sedang berbuah dengan daun yang segar sehat menghijau. Bunga-bunga anggrek berjenis-jenis tertata rapi di tasa panggung setinggi satu meter yang di naungi jala hitam. Hatinya berbunga-bunga. Ia terus membaca wirid penuh konsentrasi. Sampai pagi, sampai sinar matahari menerobos kabut dan singgah di mukanya.
Kabut masih cukup tebal menyelimuti puncak bukit. Jatra bangkit berdiri, dibangunkan temannya yang tidur bersandar pada batu.
“Apa kita harus menunggu sampai dia datang?”
“Apa? Dia, siapa? Aku tak melihat siapa-siapa dari kemarin selain kau?”
“Dia datang ke sini tadi malam. Aku yakin, dia penunggu di sini.”
“Kau bermimpi.”
“Tidak. Kau yang tidak punya mata bathin.”
“Aku tidak tidur semalaman, dingin membuatku tak bisa tidur. Kau yang tidur dan terus menerus mengigau.”
“Kau tak tahu. Aku dibawa ke suatu tempat yang begitu indah. Semua serba indah, serba ada, semua menyenangkan. Itu pertanda awal, dan aku akan menikmati itu semua. Kau akan bisa seperti itu nanti, bisa seperti aku. Jangan pernah ragu. Aku pernah mengalami keraguan itu dalam perjalanan ke arah sana, dan sekarang keraguan itu telah hilang dengan kejadian yang aku alami semalam.”
“Kau sudah sering kali mengatakan itu.”
“Tapi ini yang terakhir.”
“Kau selalu berkata itu.”
“Kali ini aku akan benar dan kau akan melihatnya nanti. Keyakinanku sekarang tidak seperti yang sudah-sudah.”
 Hening, angin lembut membawa kabut berpindah menyapa alam. Kicau burung tertata rapi dalam orkestra nada alam. Jatra memandang penuh matahari yang menyembul di ujung timur cakrawala. Sinarnya masih lembut penuh kesejukan. Di puncak bukit, Ia bisa memandang ke segala penjuru arah. Ia sangat ingin siang hari segera berlari dan masuk dalam rengkuhan malam. Malam yang memberinya mimpi indah, jalan-jalan membentang dengan di kanan kiri taman yang ditumbuhi pohon-pohon yang buahnya ranum siap di petik. Jatra terus berkelana dalam dunianya. sesekali Ia berhenti entah dipersimpangan mana untuk sekedar menelan udara.
Seperti bersenandung lagu sedih, seperti mengucap wirid mantra, seperti menyenandung lagu jawa, badannya bergerak kiri kanan, Jatra khusu di dalam ruangnya. Ia merasakan sebuah tenaga yang kadang begitu kuat kadang melemah mengitari badannya. Berpusar, berputar mengangkat badannya. Melayang tinggi dan berhenti di atas  pucuk dedaunan pohon beringin. Segerombolan awan tipis menerpa muka, menghalangi tatapan mata ke tetumbuhan hijau di bawah yang dibelah oleh sungai dan jalan. Napasnya seperti berhenti ketika tubuhnya melesat tinggi dan berhenti pada pucuk pepohonan di tempat berbeda. Kadang Ia sampai pada tempat yang lembab dan gelap, dengan jalan setapak menuju gubuk kecil yang gentingnya berlumut. Kadang Ia singgah pada sebuah tempat yang bersih dengan rumput terawat rapi melingkari kolam ikan warna-warni yang terus bergerak. Ia pejamkan mata sepenuh jiwa. Jalan terjal berkelok-kelok penuh duri akan segera berakhir dan sampai dengan selamat penuh kesenangan.
Pada suatu tempat yang luas dengan pohon yang sama besar, sama tinggi dengan bentuk sama dan warna daun sama hijau, Jatra bertemu dengan sosok orang berbadan besar dan pendek seperti tokoh Semar dalam pewayangan. Sosok itu memandanginya denga sorot mata tajam, sekali waktu sorot matanya berubah sayu, sesekali merah menyala. Pakaiannya yang hitam sedikit berkibar disentuh angin. “Kau akan ikut aku?” tiba-tiba Ia bertanya. Jatra terkesiap, Ia bertanyakah padaku?
“Jika ini baik untukku, aku akan ikut.”
“Jika hanya baik untuk kamu saja, kamu akan ikut?”
Jatra bingung harus menjawab apa dan tidak tahu maksud pertanyaannya. Perjalanan telah begitu panjang ditempuh, apakah akan tak berarti jika jawabannya tidak seperti yang Ia inginkan?. Orang itu pergi menjauh tanpa menunggu jawaban. Jatra berjalan setengah berlari mengejarnya, sosok itu telah berada di balik rerimbunan pohon di puncak bukit, berjalan dengan kepala tegak dan lurus.
Di balik bukit kecil, terdampar semak ilalang kering, rerumputan berduri-duri tajam, kerikil-kerikil bersudut lancip, beberapa pohon berdaun tak segar dan tampak lelah dan capai. Sosok itu terus berjalan tanpa terhambat. Jatra ragu berhenti sejenak memandang hamparan semak yang tak tampak tepi. Ia membayangkan kulit kakinya yang akan terus tergores dan alas kakinya yang akan tembus oleh kerikil-kerikil lancip. Berpikir sejenak, telah membuat sosok itu telah jauh tampak semakin kecil.
Jatra berlari mengejarnya. Tepi daun ilalang tajam dan rerumputan yang melukai kulit kakinya tak dirasa. Ketakutan akan hilangnya sosok yang diikuti membuat semakin cepat berlari. Ia terus bergesa mengejar. Terus berjalan sampai matahari di barat berada di punggung bukit untuk kemudian tenggelam dalam malam diiringi seimilir angin yang datang dengan melambat tenang.
Ia terus berjalan setengah berlari. Dalam keremangan Ia berjalan pada jalan setapak menuju bukit setelah lepas dari hamparan semak ilalang dengan rumput-rumput berduri. Jalan itu semakin menanjak dengan akar-akar pepohonan menyembul di kanan kiri di antara bebatuan. Ketika malam telah menjadi benar-benar gelap, Jatra telah berada di puncak bukit. Puncak bukit yang sama yang Ia tinggalkan untuk mengejar sosok yang sekarang tak lagi tampak.
Dan Ia jatuh terkulai. Tak ada siapa-siapa selain dirinya. Pada sebuah batu seluas punggungnya, Ia berbaring menengadah menatap langit yang tertutup rerimbunan daun. Sesekali kelebat kalong membelah angin di atasnya. Satu dua bintang kelap kelip muncul sebentar untuk kemudian hilang samasekali. Ia ingin tertidur, tapi kegelisahan terus menganggunya.
                                                                                                Nopember 2013

Rabu, 06 Desember 2017

KENAPA SENJATA

Kita sering mendengar berita tentang uji coba bom nuklir yang katanya kekuatannya berpuluhkali lipat dari bom yang menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki pada perang dunia II yang membuat Jepang menyerah kalah tanpa syarat. Korea Utara negara yang tertutup,  sering kali berbangga memberitakan tentan uji coba senjata nuklirnya. ”Uji bom hidrogen yang diperintahkan oleh pemimpin Kim Jong-un adalah kesuksesan sempurna dan merupakan langkah bermakna dalam menyelesaikan program senjata nuklir negara,” kata pemerintah Korut dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters pada bulan september 2017 yang lalu. Konon, senjata nuklir itu mampu menjangkau seluruh dataran benua Amerika. Tak mau kalah gertak, AS pun berujar, “Senjata nuklir Pentagon akan menyerang Pyongyang jika rezim Kim Jong-un terus mengancam Washington dan sekutu-sekutunya.”

Nampaknya, Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara itu mau menunjukan kalau negaranya tak sudi untuk tunduk pada kemauan Amerika yang ingin terus berpengaruh besar dalam segala pola kehidupan di seluruh dunia. Segala ancaman dari Amerika dan sekutu-sekutunya diabaikan begitu saja dan tetap melenggang sesuai dengan program nuklirnya untuk mempersenjatai negaranya. Luluhlantaknya Irak yang diserang Amerika dan sekutu-sekutunya dengan dalih Irak tak mau menghentikan program nukilrnya, tak menjadikan Korea Utara surut dan manut dengan apa yang di’titah’kan Amerika. Dengan gagah, Kim Jong-un malah terus beruji coba nuklir seperti hendak menantang dan ngiwi-ngiwi.

Kekuasan dan pengaruh sebuah negara pada hubungan internasional dilandasi kekuatan sebuah negara menjaga diri dengan berbagai senjata untuk menghancurkan musuh-musuhnya atau yang dianggap musuh dan membahayakan keberadaannya. Dengan senjata penghancur yang hebat dan tak terkalahkan, menjadikan sebuah negara tak takut pada negara manapun dan siap melibas jika ada yang tidak mau tunduk pada kemauannya. Siapa obyek utama yang dihancurkan? Manusia. Manusia sebagai obyek utama yang dihancurkan dari proyek berbiaya triliyunan untuk membuat senjata.

Pada tataran primitif, awalnya senjata itu sebagai alat untuk melindungi diri dan kelompoknya dari kemungkinan diserang hewan buas. Dengan bertambahnya populasi manusia dan semakin melebarnya daerah kekuasaan setiap kelompok, menjadikan setiap kelompok berusaha menjaga eksistensinya dan menjaga agar tidak menjadi jajahan daru kelompok lain. Kelompok-kelompok ini berkembang menjadi sebuah kerajaan dengan segala tata aturan dan kepercayaan yang diyakini dan ditaati bersama dalam batas-batas wilayah tertentu. Dan untuk menjaga kelanggengan kelompoknya, dibentuklah pasukan yang siap menjaga dari serangan kelompok lain yang ingin menguasainya. Dan senjata menjadi alat bantu utama untuk menjaga diri dan kelompoknya.

Kemudian, menjaga diri terasa tak cukup. Keinginan untuk menguasai orang lain atau kelompok lain menjadikan manusia berusaha untuk menciptakan alat / senjata, agar orang atau kelompok lain merasa tidak berani untuk menyerang. Fungsi senjata tak lagi hanya untuk bersiap mempertahankan diri jika ada pihak lain mengganggu atau menyerang, senjata juga dibuat untuk membuat takut pihak lain dan juga agar tunduk dan mau pada apa yang diinginkannya. Itulah makanya sebuah kelompok, negara atau persekutuan berlomba-lomba membuat senjata yang mampu menghancurkan pihak diluarnya.

Senjata itu benda mati. Untuk mengoperasikan perlu makhluk hidup ( tentunya ini manusia ) dan operator itu perlu keahlian khusus dan terlatih. Membuat senjata itu perlu biaya, pembuat senjata perlu dibiayai, operator senjata perlu biaya. Semua yang berkaitan dengan kekuasaan, kekuatan dan pengaruh, untuk mencipta dan mempertahankannya perlu biaya. Jika dihitung seluruh biaya dari kegiatan awal pembuatan senjata ( penelitian dsb ) sampai uji coba untuk mengetahui keberhasilannya, maka akan muncul sebuah biaya yang sangat besar. Belum lagi biaya para operator senjata dan pasukan tentara dengan segala perlengkapan pendukungnya.

Kenapa semua negara, semua orang, tidak bersatu sepakat untuk tidak saling merebut kekuasaan, bersepakat untuk saling menghargai, bersepakat untuk tidak menyakiti, bersepakat untuk saling kasih mengkasihi, bersepakat untuk hidup damai berdampingan, bersepakat untuk tidak ada perang, bersepakat untuk tidak merasa lebih unggul dari yang lain. Kenapa ego-ego itu terus menerus muncul dan seperti dipupuk dan dipelihara di setiap individu dan kelompok. Kenapa biaya-biaya itu tidak untuk menyejahterakan umat manusia saja? Kenapa ego-ego untuk berkuasa itu tak pernah hilang?
Karena berkuasa itu menyenangkan dan nikmat.

Kenapa tak ada yang mau dengar syair lagu Pesawat Tempur-nya Iwan Fals

................
...............
Oh.. ya andaikata dunia tak punya tentara
Tentu tak ada perang yang makan banyak biaya
Oh...ya andaikata tak punya tentara
Tentu tak ada perang yang makan banyak biaya
Oh... ya andaikata dana perang buat diriku
Tentu kau mau singgah bukan cuma tersenyum
Kalau hanya senyum yang engkau berikan
Westerling pun tersenyum

................

................

Senin, 27 November 2017

BUDAYA POP

Budaya pop atau budaya populer berjalan sangat cepat dan penuh kreatifitas yang tak terduga. Bergerak terus dan selalu muncul hal-hal baru yang mengejutkan. Kemunculannya yang sering tak terduga dan  jenisnya yang sering diluar dugaan itu menjadikan kita ‘tersadar’ ternyata hal yang dianggap sepele bisa menjadi sebuah trend pada kalangan tertentu atau bahkan pada semua kalangan.
Gangnam style, budaya pop korea selatan, sebuah kegiatan yang menurut saya sebuah kegilaan, menjadi virus yang menular hampir ke seluruh penjuru dunia. Suatu bentuk pelepasan kepenatan pada saat tertentu dengan melupakan semua kegiatan yang sedang dilakukan dengan menari sesukanya, tanpa bentuk, super cuek, tak teratur bahkan cenderung norak, itu dianggap sesuatu yang mengasyikan sehingga banyak orang yang ikut meniru dan melakukan dengan tambahan kreasi menurut kesukaannya sendiri. Sebuah ekspresi tanpa batas. Seperti itulah budaya pop. Tumbuh dari tempat yang tak perlu dipersiapkan secara njlimet agar apa yang dilahirkan dapat dinikmati.
Tak perlu nilai estetis, tak perlu nilai psikologi, tak perlu penafsiran dengan berbagai persepsi dengan pondasi keilmuan yang berkaitan dengan budaya pop yang sedang ngetren. Sebuah tarian yang mengikuti sebuah musik dengan gerakan-gerakan yang mengesankan, seperti goyang cesar, bisa tiba-tiba menjadi sebuah tarian yang banyak diikuti banyak orang dan menjadi tren. Nyanyian dangdut ala pantura yang mencomot lagu-lagu genre lain yang sedang populer kemudian didangdutkan dengan penuh hentakan-hentakan musik yang khas dengan teriakan-teriakan musikalisasi, menjadi sebuah musik yang mudah dinikmati dan mengajak seluruh bagian tubuh untuk bergoyang ikut menari. Sekelompok ana-anak muda yang tergabung dalam vokal grup ( boy band dan boy girl ) dengan dengan bermodalkan suara dan wajah-wajah imut yang menawan, menjadi sesuatu yang banyak digemari anak-anak muda. Sebuah ungkapan kalimat semacam ‘eta terangkanlah’ bahkan bisa saja tiba-tiba menjadi populer. Seorang anggota polisi bernama Norman kamaru tiba-tiba terkenal karena aksinya yang menari mengikuti nyanyian India di unggah di youtube, menjadi mewabah dan banyak ditiru orang. Oom tolelot oom, yang awalnya sebuah ucapan dri beberapa anak yang mengharapkan sopir bis atau truk untuk membunyikan klakson yang berbunyi tolelot, menjadi begitu terkenal dan banyak anak-anak sampai orang dewasa menirunya. Semacam itulah budaya pop.
Budaya pop seperti tidak begitu penting keberadaannya. Lewat begitu saja, hiruk pikuk sebentar, kemudian lenyap digantikan pop yang lain. Pop yang simpel dan gampang dinikmati itu menjadi banyak disukai banyak orang. Biasanya, budaya pop itu awalnya dibuat untuk menyenangkan dirinya sendiri kemudian baru untuk menyenangkan orang. Sifatnya yang gampang ditiru, menjadikan budaya pop gampang menyebar. Sedikit penambahan-penambahan kreasi menjadikan budaya pop itu bertahan sedikit lama. Banyak yang menilai budaya pop kurang bernilai. Tak perlu juga di gali nilai-nilai budaya yang terkandung dan tersirat di dalamnya.

Penyebaran budaya pop yang begitu cepat merambat dan gampang ditiru itulah yang membuat budaya pop menjadi tiba-tiba begitu populer dan banyak mempengaruhi perilaku masyarakat. Sering lahir dengan tidak sengaja dari sebuah keterkejutan atau kejenuhan budaya yang monoton. Budaya pop akan terus lahir, hilang, mati dan tumbuh silih berganti. Dinikmati dan segera terlupakan. Tercatat, terselip pada lembaran sejarah, sesekali terbaca.

Kamis, 23 November 2017

PENGACARA KONTROVERSIAL

Pengacara, advokat, lawyer adalah pembela secara hukum bagi orang yang disangkakan bersalah atas sebuah perbuatan yang melanggar hukum di suatu negara, baik hukum pidana maupun perdata. Ada pengacara yang sukarela tanpa perlu dibayar membela kliennya dengan segala pertimbangan kemanusiaan dan kebanyakan pengacara membela karena dibayar. Pengacara tidak bisa menghapus sebuah kesalahan yang telah dilakukan kliennya. Ia hanya bisa mengawal agar sebuah perbuatan yang dilakukan kliennya yang diduga atau disangkakan, berjalan dalam koridor hukum yang berlaku dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi  ancaman hukuman yang diancamkan pada kliennya.
Hal-hal detail peraturan dan undang-undang yang berlaku dan segala kelengkapan alat-alat hukum, dijadikan sebagai bahan untuk menolak ancaman hukuman. Keterkaitan peristiwa, alat bukti dan alibi di ramu sedemikian rupa sehingga tuntutan jaksa menjadi seperti kurang dan membuat hakim berkeputusan seperti keinginan pengacara. Itu tugas pengacara. Semakin hebat seorang pengacara, semakin besar biaya untuk mengontraknya. Semakin sering seorang pengacara memenangkan sebuah perkara, semakin terkenal dan kesohor-lah ia.
Sebuah perkara besar, semacam kasus korupsi milyaran atau bahkan triliyunan Rupiah atau kasus hukum yang melibatkan orang kaya, biasanya akan menyewa pengacara terkenal yang biayanya juga besar. Konon, biaya sewa advokat terkenal mencapai $500 atau sekitar 7-an Rupiah per jam, ditambah dengan biaya-biaya lainnya. Besarnya biaya sewa tentu sebanding dengan kemampuan dan prestasi yang telah didapat sebelumnya.
Seorang pengacara sering membuat sebuah kontroversi, menurut masyarakat umum, dengan statemen-statemen yang dilontarkan dengan berani dan bertentangan dengan opini masyarakat umum yang terlanjut sudah memvonis berdasarkan berita-berita beredar dan pendapat-pendapat dari tokoh yang diyakini benar pendapatnya. Benar dan tidaknya tokoh yang berstatemen menurut masyarakat umum, tergantung apakah pendapat itu se-ide dengan pikirannya atau tidak. Jika pendapat tokoh tidak sependat dengan masyarakat umum yang terlanjur memvonis, maka pendapat itu tak dipercaya dan dianggap menyimpang. Masyarakt umum yang begini, memang tidak obyektif tapi kekuatan pendapatnya yang didukung oleh begitu banyak orang yang terlanjur tidak suka pada person atau institusi tertentu di mana ia bernaung.
Pengacara yang mengeluarkan statemen yang bertentangan dengan opini publik yang kadung mevonis, akan membuat kesal, bukan membuat publik menyadari atau mau mengerti apa yang disampaikan pengacara tersebut. Publik yang tak mengerti hukum secara detail, seolah telah tahu dan merasa benar tentang vonisnya. Bahkan akan menambah keyakinan tentang vonisnya berdasarkan pendapatnya yang tak merasa perlu bukti-bukti hukum yang sah menurut hukum yang berlaku.
Jika bagi publik awam secara emosional marah dan tidak suka dengan polah tingkah pengacara yang seperti menganggap orang lain kurang mengerti hukum, itu bukan berarti pengacara itu tidak akan laku. Bisa saja polah tingkah pengacara itu tindakan yang disengaja sebagai iklan bagi dirinya. Dalam perdebatan di pengadilan, logika dan keterkaitan alat bukti hukum, cara penyampaian pengacara di pengadilan sangat mempengaruhi hakim dalam membuat keputusan. Sebuah statemen-statemen yang kontroversial dan berani, bagi calon pengguna jasa pengacara boleh jadi sebagai salah satu pertimbangan untuk memilihnya, karena mereka butuh orangyang berani dan pintar memanfaatkan momen.
Dampak dari statemen-statemen yang berani dan kontroversial dari pengacara adalah simpati publik terhadap orang yang dibelanya menipis dan hilang. Lebih jauh lagi, vonis bersalahnya lebih dalam lagi dan mengaitkan ketidakbaikan lain yang mungkin saja tak ada hubungannya. Apalagi dalam kasus korupsi, begitu ada orang di duga melakukan tindakan korupsi oleh KPK, publik langsung mengecap dan memvonis tanpa perlu penjelasan dan bukti yang valid. Ini terjadi karena masyarakat kita telah begitu geram pada penyelenggaraan negara yang masih saja di kotori tindakan curang untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Publik telah begitu percaya kalau KPK tidak main-main dalam menentukan status seseorang. Bahkan kalau ada seorang tokoh yang menyangsikan tindakan KPK menangkap seseoramg terkait tindakan korupsi, tokoh tersebut seperti dianggap melindungi koruptor dan dituduh koruptif juga.
Nov 2017

Senin, 20 November 2017

PILIHAN KETUA RW

calon ketua RW berangkat ke TPS bersama-sama
 djayim.com
Jadi ketua itu amanah. Tanggungjawab dunia akherat, harus siap dikritik dan dicemooh jika melakukan kesalahan, meski tidak disengaja. Ketua dalam sebuah kelompok masyarakat level bawah seperti Rukun Tetangga ( RT ) atau Rukun Warga ( R W ) menjadi sebuah jabatan yang sering kali dihindari oleh penduduk setempat. Penghindaran ini karena jabatan ini sebuah pengabdian tanpa gaji setiap bulannya. Jika pun ada, hanya sekedar uang jajan yang jika diperbandingkan dengan jerih payah yang harus dilakukan, sangat jauh dari sekedar pantas. Karena tidak ada ongkos material atau finansial-lah, jabatan ini dihindari. Tapi, pemilihan seorang ketua RT atau RW yang banyak orang tak ingin menjabatnya, tetap saja menjadi hal yang menarik dalam “pesta demokrasi” rapat umum pemilihan ketua RW.


panggung calon ketua RW dan aparat desa yang hadir


Di lingkungan RW-ku, pemilihan ketua RW dibikin seperti pemilihan kepala desa. Ada panitia pemilihan sekaligus panitia pelaksanaan yang bekerja dengan sungguh-sungguh dengan dukungan dana yang digalang dari warga dalam wilayah. Dalam pelaksanaan juga berstandar pemilihan umum,  ada surat undangan pemilihan, ada surat suara, ada daftar pemilih, meja panitia dengan segala kelengkapan alat tulis, ada bilik suara, ada kotak suara,ada panggung calon ketua RW, ada saksi dari setiap ketua RT dan traktag untuk melindungi kegiatan tersebut dari panas atau hujan. Ada juga hiburan pentas tarian yang diiring kenthongan yang menyelingi dan menghibur masyarakat yang datang.
Dan yang tak kalah menarik, semua calon diberi kesempatan untuk menyampaikan visi dan misi jika terpilih. Dengan tanpa beban seperti penyampaian janji politik dalam pilkada, mereka satu persatu menyampaikan hal-hal yang biasa-biasa saja, ringan dan sering menimbulkan gelak tawa para pemilih dan pengunjung yang duduk di deretan kursi-kursi. Tak ada ambisi ‘harus jadi’ seperti dalam pilkada atau pilihan kepala desa. Semua siap kalah dan siap menerima siapa pun yang akan terpilih. Sebuah prosesi pemilihan ketua ( kepala ) wilayah yang berlangsung dengan menyenangkan.

para pemilih yang menunggui sampai penghitungan suara selesai

Karena tidak mendapatkan gaji yang memadai itulah yang membuat jabatan ketua RW atau RT menjadi kursi yang tidak diperebutkan. Kontradiktif dengan jabatan kepala daerah ( Bupati / walikota, gubernur ) atau kepala desa yang  jabatan ini sebuah prestise dan ada finansial yang bisa diperoleh di sana. Maka, berbagai upaya untuk bisa terpilih menjadi bupati, gubernur dan kepala desa, dilakukan oleh para calon. Bahkan jauh-jauh hari sudah melakukan kampanye terselubung untuk mendapatkan simpati dari para calon pemilih. Maka tak mengherankan jika sepanjang proses dan setelah pemilihan tersebut sering terjadi gesekan-gesekan sosial yang tak jarang muncul tindakan anarkis atau tindakan kecurangan dari pihak-pihak yang ikut berkompetisi, baik dari si calon atau dari pendukungnya.

reapitulasi perolehan suara
Jika saja sebuah proses pemilihan kepala daerah (kepala desa, Bupati / walikota, gubernur) berjalan seperti pemilihan ketua RW atau RT, kegaduhan politik yang banyak sekali menguras energi, tentu dapat dihindari dan menjadi energi yang positif dalam berkehidupan bernegara. Saling mengisi dan mendukung untuk kemajuan yang baik dan sejahtera bagi semua. Dan, nampaknya itu hanya sebuah ‘jika saja’. Karena uang dan prestise, yang menyebabkan pemilihan ketua RW / RT menjadi berbeda dengan pemilihan kepala daerah. Uang menjadi alasan sesuatu tujuan yang sama ( memperoleh kursi ) menjadi berbeda dalam proses pelaksanaan dan setelahnya. Kenyamanan sebuah pelaksanaan demokrasi sangat terpengaruh oleh uang. Uang menjadi bisa untuk membeli segalanya, termasuk jabatan dan harga diri. Dan prestise ikut ‘mendukung’ kemampuan uang.


Jumat, 17 November 2017

MASJID DI PINGGIR KOTA

sebuah Cerpen. 

Langkah Kakek Ma’ruf  ke masjid menjadi lebih bergairah. Meski sebelumnya juga selalu tanpa beban jika menuju masjid. Senyumnya pun lebih sumringah dan cerah. “Semoga mereka benar-benar mendengarkan dan menjalani perintah Allah,” doa Kakek Ma’ruf setiap seusai sholat. Semoga kejadian yang menyengsarakan ini dapat menjadi jembatan bagi mereka untuk lebih dekat lagi kepada Allah.
Suaranya yang sudah lemah dan parau saat mengumandangkan adzan dalam dua tiga hari ini agak jarang terdengar. Bukan karena Ia tak mau lagi menyuarakan adzan, itu karena setiap waktu sholat tiba sudah ada orang yang siap mengumandangkan adzan. Tidak seperti sebelumnya, hanya Ia dan dua anak muridnya  - yang lebih sering telat ke masjid- yang biasanya bergantian. Murid yang kadang melanggar ajaran gurunya tanpa beban.
Masjid lumayan besar itu dibangun oleh seorang pejabat putra daerah. Waktu masih baru, cukup banyak orang yang datang beribadah dan mengaji. Bertambah waktu, terus berkurang sampai kemudian tinggal Kakek Ma’ruf yang kadang ditemani beberapa orang tetangga masjid dan satu dua bocah yang dipaksa mengaji oleh orangtuanya. Kakek Ma’ruf rajin membersihkan sekelilingi masjid, merawat dan menjadikannya tidak tampak seperti gedung tua tanpa penghuni.
Banjir yang enggan surut telah memberikan Kakek Ma’ruf banyak teman di masjid. Meski tujuan mereka menghindar dari genangan air yang menenggelamkan kaki-kaki rumahnya. Kakek Ma’ruf jadi betah lama-lama di masjid. Kadang Ia memberi ceramah agama atau mengajari baca tulis huruf arab kepada anak-anak kecil. Ia sering bercerita tentang masa lalu kotanya yang tak pernah banjir, tentang kali yang mengalirkan air jernih dengan beraneka macam ikan yang hidup di dalamnya, tentang masa mudanya yang katanya tak disia-siakan seperti kebanyakan anak muda sekarang, tentang guru mengajinya, tentang perjuangan segenerasinya mempertahankan kesatuan negara. Jika bercerita Ia selalu bersemangat hingga tak memberi kesempatan pada orang lain untuk ikut  bercerita. Bukan Ia tak bisa bicara masalah ajaran Agama Islam dan segala isinya. Ini sebagai salah satu cara untuk menarik perhatian orang dan menyelipkan sedikit demi sedikit ajaran agamanya.
Masjid itu memang cukup besar untuk menampung seratusan orang. Halaman depan dan samping kanan kirinya juga cukup untuk mendirikan tenda-tenda darurat. Dulu pipa-pipa airnya normal di setiap kran yang tersebar di beberapa tempat dan sekarang hanya di tempat wudlu dan kamar kecil yang masih berfungsi. Itu pun karena Kakek Ma’ruf yang selalu menjaga dan menggantinya jika rusak. Kakek Ma’ruf tak cukup biaya untuk menggantinya semua, maklum Ia dan istrinya hanya berjualan kecil-kecilan di rumahnya yang terselip di gang sempit.
Jika datang waktu sholat, tak seluruh orang dewasa yang mengungsi di masjid itu mengerjakan sholat berjamaah. Mungkin mereka belum terketuk hatinya untuk melaksanakan kewajiban sholat, atau mungkin ada yang beda kepercayaan. Itu tak jadi masalah bagi Kakek Ma’ruf. Sekali dua kali canda anak-anak kecil yang berlarian sambil berteriak ketika sedang berusaha khusu sholat Ia maklumi. Tetapi ketika terus menerus setiap sedang sholat dan orang tua mereka membiarkan, Kakek Ma’ruf ingin juga menegur orang tuanya, meski setelah melalui berbagai pertimbangan Ia membatalkannya.
Ia baru pulang ke rumah setelah menjelang tengah malam. Kadang lebih malam lagi jika hujan dan lupa tak membawa payung. Sebelum Kakek Ma’ruf berbelok ke arah gang menuju rumahnya, Ia menyempatkan melihat masjid yang masih ada nyala terang lampu di ruangan dalam –biasanya hanya di teras depan- berisi para pengungsi yang penuh khawatir dengan sisa waktu kehidupan dirinya dan keluarganya. Kadang terdengar tangis bayi kedinginan di dalam tenda. Di serambi, beberapa lelaki bermain kartu menghibur diri melewati waktu lembab, memberikan hukuman jahil bagi yang dianggap kalah.
Tidak semua orang mau bersikap bersih terhadap keadaan sekitar masjid. Banyak diantaranya yang jorok dan bersikap tak peduli dan menimbulkan keadaan yang risih di mata. Kakek Ma’ruf dengan sabar dan telaten membersihkan sampah dan mengepel lantai masjid dengan harapan mereka yang melihat merasa tak enak hati dan menjaga kebersihan. Dan mereka tetap saja tak berubah. Mungkin mereka berpikir; toh hujan tak akan terus menerus. Sebentar lagi air akan surut dan kita segera kembali ke rumah.
Bertambah waktu, keadaan masjid bertambah kotor. Lantai halaman menjadi penuh lumpur dari kaki-kaki yang melewat jalan becek. Sampah basah berserakan di setiap tempat. Kakek Ma’ruf tak mampu maksimal membersihkan dan merawatnya meski sesekali satu dua orang membantunya. Ia kadang membawa dua anak muridnya untuk membantu. Keadaan itu tak membuatnya bersedih dan kecewa. Baginya sesuatu harus dikerjakan dengan ikhlas agar tak merasa jadi beban. Ia juga masih terhibur dengan masih ada beberapa orang yang mau mengaji dan mengerjakan sholat. Ia selalu menegaskan kepada dua anak muridnya; berbuat baiklah kepada semua orang dengan ikhlas!
Ketika bantuan bahan pangan dan obat-obatan datang, Kakek Ma’ruf harus bersiap-siap bekerja keras untuk membersihkan lantai masjid dan halamannya yang penuh sampah. Biasanya Ia memperhatikan para dermawan dari balik jendela masjid. Ia senang dengan masih ada orang yang mau memperhatikan kesusahan dan penderitaan orang lain. Para dermawan itu datang dengan mobil-mobil bagus, pakaian bagus, gemerlap perhiasan dan serombongan wartawan media cetak juga media elektronik.
Kakek Ma’ruf suka melihat anak-anak yang berebut tempat jika kamerawan televisi mencari sasaran atau fotografer yang berburu nuansa kemanusiaan, menuangkan seni dari lingkar penderitaan. Tawa riangnya seakan melepas simpul-simpul tali penderitaan orang tuanya yang harus menjaga kesehatan keluarga dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Anak-anak itu mungkin tak mengerti kalau ayah atau ibunya selalu ketakutan akan keadaan rumah dan segala perabotannya yang ditinggalkan. Bisa saja banyak yang rusak atau ada pencuri yang memanfaatkan keadaan. Mereka juga mungkin tak pernah mengerti kalau para orang tua juga harus tak berlama-lama mangkir kerja kalau tak ingin dipecat. 
Masjid itu menjadi terkenal setelah pemberitaan di berbagai media massa. Maka para pemburu berita berdatangan silih berganti. Mereka mencari sisi unik yang belum dituangkan di media lain. Sejarah masjid itu pun segera ditelusuri. Membubunglah nama pejabat yang membangunnya. Apalagi pejabat itu juga ikut menyumbangkan dana untuk korban banjir yang mengungsi di masjid itu. Ia menjadi tokoh yang sering dibicarakan dalam hal menangani masalah korban banjir. Pejabat itu mendapat angin baik. Ia segera dipromosikan ke jabatan lebih tinggi.
Tak tersebut nama Kakek Ma’ruf dengan jenggot yang memutih dan kulit muka mengeriput dalam berita manapun. Kakek Ma’ruf juga tak pernah tahu kalau pejabat yang jadi berita itu yang memiliki saham cukup besar di perusahaan koran dan stasiun televisi. Ia juga tak merasa ingin dan perlu tahu. Darimana pejabat itu bisa punya saham di beberapa perusahaan, tak pernah terlintas di benak Kakek Ma’ruf untuk tahu.
Banjir mulai sedikit surut. Hujan yang turun, meski sering, tidak lebat dan deras seperti sebelumnya. Halilintar masih sering garang menyalak. Satu dua keluarga yang letak rumahnya agak lebih tinggi mulai pulang. Mereka mulai membersihkan rumah dari segala kotoran. Untuk menjaga kesehatan anak-anaknya yang masih kecil ada yang tak segera membawa  pulang keluarganya, hanya pulang untuk menengok dan membersihkan rumah.
Ma’mum Kakek Ma’ruf terus menyusut, seperti menyusutnya air yang menggenangi rumah-rumah mereka. Sedikit anak-anak masih ada yang mendengarkan cerita dengan nuansa ajaran Islam. Entah, mereka mengambil hikmah seperti yang dikehendaki Kakek Ma’ruf atau tidak. Senda gurau satu dua anak kadang lebih menjadi perhatian yang lain.
Di siang hari, para lelaki dewasa dan ibu-ibu yang tak punya anak kecil, pergi mencari uang. Malam harinya, dari mulai petang, tidur melepas lelah setelah seharian bergelut dengan kehidupan dunia. Ya, hanya tidur, karena lebih jauh dengan istri sangat tak memungkinkan dalam kondisi seperti itu.
Kakek Ma’ruf merasa kesepian di antara orang-orang yang berserakan tidur tak teratur di lantai masjid, di serambi dan tenda-tenda di halaman. Jam dinding di atas ruang imam menunjukan jam sembilan kurang seperempat. Orang terakhir yang diajak ngobrol tertidur menyandar di tembok. Gerimis lembut berjatuhan, terbang terbawa angin. Kakek Ma’ruf melangkah pulang dengan sedikit mengangkat kain sarungnya. Ia menutupi kepalanya dengan sajadah karena lupa tak membawa payung. Seperti biasa, sebelum Ia berbelok memasuki gang, Ia menyempatkan memandang masjid dengan nyala redup di dalamnya.
                                                * * *
Banjir telah benar-benar surut. Para pengungsi semuanya telah pulang meninggalkan kenangan, sampah dan kotoran. Tiga hari Kakek Ma’ruf dan dua anak muridnya membersihkan seluruh bagian masjid.
Sehabis sholat Isya, ketika menunggu hujan sedikit reda, di teras depan, Kakek Ma’ruf termenung sendirian. Di hatinya ada rasa kangen pada orang-orang dan anak-anak yang sempat tinggal sementara di masjidnya. Dan Ia bergumam,”Mereka datang hanya ketika dalam kesusahan.”  ***
                                                                                    Maret 2004


Kamis, 16 November 2017

kereta sore

dua garis baja di bawah itu, sudah berpuluh kali mengantarku.
juga ribuan yang lain.
di kanan kiri, sepanjang yang terlewati. tertera banyak sekali cerita
di musim penghujan ini, para petani sudah turun ke sawah, bercengkerama dengan air dan tanah. dengan lumpur berbau harum daun-daun busuk yang menyegarkan. keringat yang luluh bersama air hujan, tak membekas di baju. caping yang dipakai, tak cukup mampu menjaga kulit kepala dan  rambut agar tetap kering. langit yang berair dan angin yang membuat jarum-jarum hujan turun miring, membuat mereka tak tahu waktu, kapan harus pulang, untuk
menyiapkan makan malam.
memberi makan kambing, mengandangkan ayam dan itik. menutup jendela, menyalakan lampu di ruang tengah. karena, anaknya yang masih sekolah belum pulang. karena yang sudah lulus sekolah telah lama di kota, tak mau jadi mau petani seperti ayah ibunya. karena menjadi petani susah untuk menjadi kaya.

di gerbong-gerbong eksekutif, para juragan menghitung modal dan untung saat musim panen. duduk bersilang kaki, berbatuk kecil dan tersenyum sedikit di salah satu ujung bibir. menjentikan ujung jari dan berucap. ‘terimakasih’.

16 Nop 2017

Senin, 06 November 2017

BONEKA KUCING

Bulu-bulu lembutnya sudah kusut, warna coklatnya tak lagi cerah seperti ketika baru beli. Meski Mida menyadari hal itu, Ia tak pernah berpikir untuk beli penggantinya. Berbagai peristiwa dalam arungan hidupnya di lalui bersamanya, boneka kucing. Saksi yang sanggup menyimpan seluruh peristiwa yang Mida tak ingin orang lain tahu. Saksi dan juga teman yang sanggup bercerita apa saja jika Mida mau. Bisa menghibur, bisa diajak bercanda, ngrumpi, tanpa terbebani pamrih.
            Mida tak ingat betul wajah orang yang membelikan boneka kucing itu. Yang Ia ingat, Ia harus memanggilnya Oom. Katanya orang itu sepupu ayah Mida. Sepupu dari silsilah mana, Mida tak tahu pasti, sedang ayahnya saja Ia tak pernah tahu. Waktu itu Mida kelas lima esde mau naik ke kelas enam. Tapi Mida tak ingat betul, apa sudah kelas enam atau baru kelas empat. Mida tak ingat betul. Atau mungkin sudah esempe. Samar. Mida paling tak suka kalau harus menjenguk masa lalu, apa itu indah atau menyakitkan. Apapun.
            Namanya Oom Wisko. Orang yang selama ini menjadi pengasuhnya di rumah. Ia kadang mengantar Mida sekolah, sesekali menjemput mengajak jalan-jalan. Tak jarang juga Oom Wisko menemani Mida tidur. Sampai suatu pagi Mida tak lagi menemukan boneka kucingnya tak lagi di pelukannya. Boneka  kucing itu tergeletak tenang di lantai. Di bulu-bulu halusnya ada cairan lengket yang bau aneh. Mida memungutnya. Membersihkannya. Mida mencoba mengingat-ingat mimpi semalam. Terbang ke langit tinggi dalam pelukan kuda yang perkasa bersayap lebar. Terbang ke awan, berguling-guling di atasnya.
            Ketika Mida hendak berdiri, rasa nyeri menusuk pangkal pahanya. Mida kaget. Berjalan tertatih, membuka pintu keluar kamar. Di ruang tengah Tante Ana sedang marah besar. Isi ruangan porak poranda berantakan. Oom Wisko diam tak bersuara duduk di sofa. Sejak itu Oom Wisko dan Tante Ana tak pernah akur. Sering bila Oom Wisko tak di rumah, Tante Ana menerima tamu dan tidur bersama. Ancaman Tante Ana membuat membuat Mida menjadi saksi yang baik bagi tante Ana. Mida tak tahu apa yang dikerjakan dua orang lain jenis kelamin itu. Mida juga tak tahu pekerjaan Oom Wisko dan Tante Ana. Bahkan Ia tak tahu nama lengkap Oom Wisko dan Tante Ana. Atau mungkin nama itu bukan nama aslinya.
            Mida kadang heran kenapa tak pernah ketemu dengan orang yang mungkin ayahnya, atau mungkin ibunya atau benar-benar ayah dan ibunya. Pernah hal itu Ia tanyakan pada Oom Wisko dan Tante Ana.
            “ Ayahmu sedang pergi jauh. Juah sekali. Nanti kalau pulang pasti jemput kamu. Bawa oleh-oleh banyak untuk kamu,” jawab Oom Wisko.
            “Kalau Ibu di mana Oom?”
            “Ibumu sedang memijat Oom-Oom gendut!” jawab Tante Ana ketus, menyambar jawaban. Bibirnya mencibir lengkap dengan raut mukanya.
            Mida melongo, diam dalam ketidakpercayaan. Oom Wisko yang sudah mengangkat bibir  tak jadi bicara. Ia hembuskan nafas dengan sedikit disentak.
            Yang Mida tak habis pikir, meski Tante Ana selalu memarahi, Ia mau saja membayar sekolah Mida. Belakangan Mida dengar-dengar kabar, kalau rumah yang ditempati bersama Oom Wisko dan Tante Ana adalah milik orang tua Mida. Tapi, seperti apa orang tuanya, Mida tak pernah ada bayangan. Tak satupun foto terpampang di tembok ataupun album agar Mida bisa mengira-ira wajah yang paling mirip dengannya. Ada maksud apa Oom Wisko dan tante Ana saling bertahan di rumah itu dengan sering sekali terjadi pertengkaran dengan berbagai macam sebab. Apa mereka suami istri? Itu juga tak pernah Mida tahu.
            Pernah, pernah teman Tante Ana merangsak masuk ke kamar Mida . Mida menjerit sekuat tenaga. Lelaki itu terus memburu Mida, seperti robot menerkamnya. Mida berontak. Ia kehabisan kekuatan dan gelap. Ketika terbangun ranjangnya berantakan. Ia bergegas memakai baju. Ia peluk boneka kucingnya dan tidur dengan leluasa. Kadang Mida berpikir kenapa harus susah-susah berontak kalau akhirnya  kalah juga, tak berdaya. Buang-buang tenaga. Buang-buang energi!
            Suatu ketika Mida disuruh mengambil tas dari seseorang di suatu tempat. Ia hanya diberi denah jalan. Sampai di rumah Mida disambut bak pahlawan perang. Oom Wisko dan Tante Ana mendadak akur dan mesra. Mida senang bisa berbuat itu. Ia Kemudian diberi kesempatan bertemu pacar lebih lama. Uang saku pun bertambah. Apa isi tas itu tak bikin Mida penasaran.
            Di sekolah Mida tak pernah punya kendala masalah kenaikan kelas ataupun  kelulusan, meski nilainya jeblok, Mida melenggang tak berbeban. Oom Wisko biasa lobi sana-sini. Oom Wisko banyak teman dan pandai bergaul. Di luar rumah Oom Wisko seorang yang ramah, pintar bicara, sopan, cekatan, simpatik, semangat dan menyenangkan. Bergerak tak kenal lelah, energik.
            Di sebuah pesta yang diadakan di hotel termewah di kotanya, Oom Wisko, Tante Ana dan Mida datang bersama. Pesta orang-orang bergengsi tinggi. Mida banyak kenal wajah-wajah teman pria Tante Ana  juga wajah-wajah teman-teman wanita Oom Wisko yang sering datang ke rumah. Mereka tertawa-tawa. Mecemooh kebodohan orang-orang di luar; di pinggiran, di tepi sungai kumuh, di terminal, di kolong jembatan, di jalanan, di desa, di kampung, di pantai, di gunung, di sawah, di ladang, di gubuk-gubuk reyot.
            Di sudut ruangan, seseorang berpakaian rapi, bertubuh sedang dengan rambut sedikit beruban disisir rapi, duduk di sofa di kelilingi orang-orang bertampang borju. Matanya tak lepas menatap Mida. Ada pancaran kerinduan dan kasih sayang tertahan yang ingin sekali ditumpahakan tuntas. Oom Wisko mendatanginya. Sebentar berbincang. Orang itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, diberikan pada Oom Wisko: boneka kucing, “Untuknya dan tolong jaga dia.”
            Mida bingung, “Oom Ini boneka dari siapa?”
            “Dari bapak itu.” Telunjuknya menunjuk lurus pada seseorang. Wajah yang Mida tak mengenal. Mida memandangi lekat-lekat boneka kucing di tangan. Persis sama seperti yang ada di rumah. Persis! Apa boneka kucing ini boneka yang di rumah dan orang itu membawanya untukku? Apa aku tadi pergi membawa boneka kucingku, kemudian jatuh di jalan dan orang itu memungutnya untukku? Tidak! Aku ingat betul, bonekaku kutaruh diatas bantal samping selimut di ranjang tidur.
            Boneka kucing yang kadang bisa berubah menjadi makhluk yang mendengus-dengus, membelai, mencengkeram, membangunkan dari mimpi. Boneka yang patuh tak akan bicara jika tak diminta. Takkan berhenti bicara jika tak diminta. Boneka yang kadang Tante Ana merebut dengan paksa.
            Di mana Tante Ana? Kenapa menghilang? Membiarkan Mida dalam keterasingan. Meski Mida merasa sorot matanya telah menjelajah ke seluruh ruangan, Ia tak menemukan Tante Ana. Kenapa wajah wanita-wanita itu, tante-tante itu, semuanya sama. Apa Tante Ana juga telah berganti rupa? Mida mengusap mata berkali-kali, tak percaya.
            “Mida. Kau harus tahu. Di luar sana dunia itu begitu lucu. Lucu yang kita telah lupa untuk mentertawakannya. Lucu yang kita tak tahu bagaimana mentertawakannya. Begitu banyak aturan, begitu banyak pelanggaran, begitu banyak biaya terbuang sia-sia, begitu banyak omong kosong, begitu banyak hal yang kita harus hati-hati menghadapinya. Jangan mudah percaya. Juga pada orang yang kamu sangat mempercayainya pun!”
            Kata-kata Tante Ana yang Mida sudah hafal dan bosan mendengarnya, kini Mida mendengar dari mulut-mulut wanita-wanita kembar di sekeklilingnya. Mereka berkata bersama-sama. Seperti koor. Seperti paduan suara. Seperti membaca puisi bersama-sama dengan penuh penjiwaan. Dan para pria berbaju rapi asyik dengan gelas minumannya, ngobrol dengan tawa-tawa terkendali.
            Musik lembut mengisi ruangan dari pelantun dan pemusik yang bersahaja dan menjiwai. Tak meledak-ledak. Pelan membawa penikmatnya ke alam kedamaian. Tak ada orang yang berkata kotor meski  mabok berat. Semuanya berjalan sesuai aturan dengan tak ada orang yang mencoba melanggarnya.
            Mida tak tahu kapan pesta akan usai. Ia keluar gedung tanpa pamit ke Oom Wisko atau Tante Ana. Di pintu gerbang Mida mengganggukkan kepala memberi hormat pada dua orang satpam. Ketika Mida telah membelakangi, kedua satpam itu hanya sedikit menghela nafas melihat  boneka kucing yang ditentengnya.
            Di luar, di depan jalan raya, Mida tak tahu arah. Ia coba mencari bis yang trayeknya lewat depan rumahnya dengan melihat papan trayek di jidat bis. Satu hal yang bikin Mida bingung tak habis pikir lagi, banyak diantara orang-orang yang lewat mengendari mobil bagus lewat di depannya, melihat tajam boneka kucing di tangannya. Mereka memandang cukup lama dan tersenyum penuh misteri. Mida tak tahu bahasa tatapan mereka. Mida terpaku dan tak terkonsentrasi membaca trayek bis yang lewat. Mida merasa tenggorokannya kering. Tengak tengok kanan kiri mencari penjual air mineral. Di seberang jalan, dengan pandangan mata terhalang lalulalang kendaraan lewat, Mida melihat wanita-wanita berbaris menenteng boneka kucing. Ada yang seumur Mida, lebih tua, lebih muda, ada yang masih anak-anak. Ia pandangi lekat-lekat. Boneka kucing itu persis seperti punyaku! Sama. Di belakang mereka banyak sekali wanita-wanita berjalan menenteng boneka kucing. Boneka yang sama seperti di tangan Mida. Mereka berjalan ke seluruh penjuru arah dengan langkah biasa. Langkah kaki mereka kompak. Kanan, kanan semua, kiri, kiri semua. Panjang langkahnya sama. Sama! Dan warna dan pola bajunya sama, seperti punyaku.    
            Di kanan kiri Mida telah berjejer wanita berbaju seragam menenteng boneka kucing. Dibelakang Mida telah ada begitu banyak wanita-wanita itu. Mida bingung. Pusing. Langit berputar-putar. Ia ingin berteriak, ingin sekali. Tapi, ia sadar itu tak akan ada artinya. Ketika secara tak sadar menjerit, orang-orang di sekitarnya tak sedikitpun menaruh perhatian. Mereka sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri. Apa aku mimpi? Apa aku sedang menghayal? Di Alam apa aku ini?
            Mida berlari. Berlari kencang sepanjang pinggir jalan raya. Di sambarnya sebotol minuman di pedagang asongan. Ditenggak separuh, diguyurkan ke kepala. Ia terus berlari. Berlari sekuat mengangkat kaki. Sepanjang jalan Ia berpapasan atau searah dengan wanita-wanita yang menenteng atau memeluk boneka kucing. Di jalan, di mobil-mobil bagus, pria-pria parlente memandanginya sambil tersenyum enteng.
            Di depan sebuah pintu gerbang rumah tubuh Mida ambruk. Ia tak sanggup lagi membagi energi ke kaki untuk menopang berdiri.
            “Mida, ayo bangun, Mida. Masuk! Mandi dan istirahat di rumah. Ayo!”  Suara Oom Wisko mengagetkan Mida.
            “Ayo, saya bantu kamu berdiri,” bujuk Tante Ana. “Ayo sayang. Semua akan baik-baik saja. Jangan biarkan ilusi-ilusi itu mengganggumu. Kau harus buang jauh-jauh. Tak ada pesta itu. Tak ada wanita-wanita itu. Tak ada.”
            “Tante melihatnya?”
            “Melihat apa?”
            “Yang Tante tanyakan tadi.”
            “Tanya apa?”
            “Yang Tante katakan tadi.”
            “Tidak sayang. Tidak ada itu.”
            Kalau saya mimpi, kalau saya berilusi, bagaiman Tante Ana bisa tahu, pikir Mida.
            “Sudahlah, semua akan baik-baik saja. Ibumu akan sedih kalau Ia tahu kamu begini. Ayolah bangun.”
            “Ibu? Di mana ibu saya Tante?”
            “E…..e..nggak. Nante kamu akan tahu sendiri. Tahu sendiri tanpa perlu dikasih tahu.”
            “Saya ingin tahu sekarang Tante. Ingin Tante kasih tahu sekarang.”
            “Belum saatnya.”
            “Kenapa?”
            “Nggak kenapa-kenapa.”
            Di dalam kamarnya Mida mendapati boneka kucing yang ditinggal di atas bantal terkulai lemas tertindih guling. Mulutnya dilakban hitam.
            “Tante, siapa yang melakukan ini?”
            Tante Ana datang menghampiri. Ia ulurkan sebuah apel pada Mida. “Kamu kan sudah dapat gantinya, Boneka kucing yang baru kan lebih bagus.”
            ”Tidak. Aku mau yang ini.”
             “Kamu bisa diam nggak?!”
            “Diam!!”

            Mida kaget. Boneka kucing di tangannya membentak sambil bergetar. Dari lubang mulutnya menjulur sebua pisau tajam. ***