CARI DI BLOG INI

Kamis, 14 Desember 2017

BULU-BULU YANG LEPAS DIAJAK TERBANG

djayim.com sebuah cerpen
Lelaki itu bangkit perlahan dari tidurnya yang kurang pulas. Hampir seperti merangkak, Ia menghembuskan nafasnya dengan berat hendak membuang malas yang melingkari seluruh tubuhnya. Sebentar Ia hafalkan lafal yang telah diajarkan gurunya agar tidak salah dan lupa. Malam baginya telah menjadi ruang dan waktu yang cocok untuk memohon. Memohon pada penguasa alam semesta yang Ia anggap bisa memberi apa yang dipintanya. Berbagai dan beribu persyaratan yang dibebankan terus dipenuhi meski sudah merasakan kejenuhan karena ada saja yang kurang dan, kadang tak masuk akal seperti diada-adakan. Lorong jalannya telah terus dilalui dan tak banyak orang memahami. “Kamu harus percaya. Yakin. Jangan ragu dan tak perlu mendengarkan orang lain, karena itu merupakan ujian, apakah kamu akan kuat atau kau malah akan mengingkari jalan yang telah dirintis menuju pintu gerbang kesuksesan yang kau tak pernah bayangkan sebelumnya. Sebuah sukses besar.” Kalimat itu selalu teringat, terpampang di benaknya, dan itu menjadikan niatnya untuk terus maju menjadi semakin kuat. Saat lelah menerpanya, sebuah hamparan bayangan kesuksesan membuainya. Semua akan beres dalam sekejap dan dunia akan terang benderang layaknya pagi hari yang cerah dengan suara burung berkicau di seluruh dahan sambil terbang bercanda ria, diantara angin yang perlahan bertiup dari timur.
Dingin yang menusuk tulang melalui pori-pori tak dirasakan, “Aku harus kuat menahan hal kecil ini. Ini hanya sebuah perasaan yang akan hilang jika aku berkeyakinan aku bisa membuangnya.” Pintu gerbang kesuksesan itu selau muncul di depan matanya, setiap Ia melangkah sesuai dengan petunjuk gurunya. Disana jika memasukinya terdapat bermacam segala macam yang dipintanya. “Orang-orang yang mencemoohku, mentertawaiku, nanti akan malu sendiri.” Bayangan orang-orang yang datang untuk mengikuti jejaknya selalu membuatnya tersenyum segar. Dan pintu gerbang itu seakan selalu manjaga jarak. Dikejar berlari, ia berlari, dikejar berjalan ia berjalan sambil terus mencibir memberi tantangan yang membuat penasaran.
Entah malam yang keberapa ratus atau ribu kali, Ia lupa dan tak pernah menghitung. Suara hewan malam dan segala bebunyian malam, telah begitu akrab ditelinganya. Terkadang begitu banyak malam tak terlewati, tapi saat rasa percayanya menipis, ia tidur bergumul dengan keputusasaan. Teringat tentang keluarganya, ia menahan kesedihan. Memilin kenangan, mencerabuti dari keindahan masa lalu dari lembaran sederhana yang menjadi sangat indah dibaca, menggantungkannya pada bulan sabit yang ujungnya tertutup awan yang tak bergerak. Ia menebar senyum untuk dirinya sendiri, bergumam, menegaskan angan, melambung tinggi disela daun-daun kelapa melambai disapa angin membawa embun lembut. Melelapkan badan lelah.
“Oh Tuhan, Sang Penguasa, Kau tahu tentang keinginanku. Tapi kenapa semua tak ada saat tiba waktu yang kutunggu. Waktu yang terus aku hitung detik demi detik. Kenapa Tuhan?”
Ia telah datang pada berpuluh tempat keramat. Tempat yang dijaga para lelembut dan juru kunci. Tempat yang tinggi di lereng-lereng gunung, di pinggir-pinggir pantai, di tepi-tepi sungai, di lembah berpohon besar, di puncak bukit. Dari ujung barat sampai ke ujung timur, dari ujung selatan sampai ke ujung utara, semua disinggahi. Ada saja orang yang memberi tahu. Orang-orang yang bertujuan sama atau sekedar menuturkan cerita. Mereka selalu bersemangat bertutur, berbinar bola matanya. Berkarung-karung harapan selalu dipanggul setiap saat.
Jalan terjal menuju bukit ini hanya rintangan kecil yang harus dilewati untuk mendapatkan sesuatu yang dapat membiayai seluruh hidupmu, seluruh keluargamu dan kau dapat hidup kaya tujuh turunan. Semua perjuangan akan terbayar lebih, dan mereka di sana akan mengikuti jejakmu, dan kamu tak mungkin kalah dengan mereka karena kamu lebih dulu. Suara itu selalu terngiang di telinganya. Selalu menyemangati setiap langkah yang diangkat.
“Kau lelah?”
“Tidak! Untuk sebuah tujuan besar ini hal yang sangat ringan dan kecil?”
“Tapi wajahmu tampak kelelahan.”
“Tidak. Aku tidak seperti itu.”
Saat orang-orang di dalam kamar di rumah-rumah dikaki bukit yang tersinari lampu-lampu terlelap tidur, beristirahat berselimut hangat, Ia terus menuju puncak bukit terjal. Sudah hampir tiga jam Ia dan seorang temannya berjalan kaki. Jalannya yang penuh dengan akar-akar dan kanan kiri belukar berdaun-daun tajam menyayat kulit kaki dan tangan yang berkeringat. Hewan-hewan malam bersuara menyapa dengan bahasanya. Dedaunan yang  terlelap tidur dilumuri embun membasuh kelelahan sepanjang hari dengan debu-debu terseret asap yang menyembur dari cerobong dan knalpot. Langit terdiam membiarkan bintang berkedip di rerimbunan awan yang bergerak perlahan. Ada sedikit keraguan padanya yang kadang menjadi besar dan sering hampir menyurutkan langkahnya. Dan bayangan segerobak harta karun telah tergambar jelas di otaknya menjadi nafas baru untuk terus melanjutkan.
“Bersiaplah Jatra, mereka telah bersiap menyambut kita. Aku merasakan getarannya.”
Jatra terdiam. Ia menenangkan hatinya, mengatur nafas, menghafal mantra-mantra dan memejamkan matanya. Ia berbisik sedikit bingung, “Aku harus bagaimana?”
“Seperti yang telah aku katakan sebelum berangkat tadi”
Suara itu kadang muncul setiap kali kali Ia bertanya berbisik atau dalam hati. Kadang juga ada sosok yang hadir di sekitarnya. Temannya mengikuti dan kadang saling mengingatkan tata cara yang telah diceritakan sang juru kunci. Angin berkesiur lembut dari selatan. Dedaunan bergerak berdesakan mengiringi suara hewan malam. Kabut makin tebal dan berat turun menyiram. Suasana kemudian benar-benar sunyi, tak ada angin bertiup, tidak suara hewan, semua tentang kesunyian.
Mereka diam terpekur, duduk bersila di atas batu, diam berkonsentrasi penuh. Mantra-mantra dibacanya dalam sepenuh hati. Seekor kelelawar besar terbang di atas kepala mereka, suaranya memecah kesunyian. Kawanan semut yang terusik menggigit kaki mereka dan terlupa tak dihiraukan.
“Kau merasakan sesuatu kekuatan yang datang begitu hebat?”
“Ya. Aku merasakan sekali. Getarannya begitu hebat. Kita harus menghadapinya, apapun yang datang. Kau siap?”
“Tentu.”
Sepuluh menit angin berputar-putar kencang di atas mereka. Kadang menebarkan hawa dingin, kadang seketika terasa panas. Kadang berputar sangat cepat, kadang berputar pelan mengayun-ayun. Kemudian hening tanpa sedikitpun suara, sampai tiba-tiba muncul suara berat dan pelan tanpa jelas kata yang diucapkan.
“Eyang, kau pasti tahu apa yang saya inginkan.”
“Hmmm..”
Kemudian tak ada lagi suara, apalagi wujudnya. Hening dan sunyi seperti tak bernyawa. Di sebelah pohon besar di batu, sesosok orang berpakaian gelap duduk membelakangi. Jatra melangkah perlahan mendekat di ikuti temannya. “Kau yang akan memberi kami sekarung emas,  Eyang? Memberiku berkarung-karung uang?” Tak ada jawaban, tak juga ada gerakan. Sosok itu malah pergi perlahan menyelinap di balik pohon dengan tak menimbulkan suara. Jatra penasaran, Ia duduk di batu bekas duduknya. Bibirnya komat-kamit membaca hapalan do’a.
“Teruskan ritualmu, sampai kau dapat apa yang inginkan. Terus, jangan pergi sebelum aku datang lagi.” Suara dari balik rerimbuna pohon itu, terasa jelas dapat di dengar. Jatra semakin khusu dan mantap. Pintu gerbang rumah besar dengan sepuluh pelayan yang siap setiap saat, di kelilingi taman dengan seribu jenis bunga terpampang jelas di depannya. Kupu-kupu berterbangan di sekitar air mancur kecil di tengah kolam dengan ikan warna-warni bergerak memecah air membuat riak kecil. Burung-burung berkicau riang bersahutan membuat nada alami. Ada pohon Mangga dan Manggis yang sedang berbuah dengan daun yang segar sehat menghijau. Bunga-bunga anggrek berjenis-jenis tertata rapi di tasa panggung setinggi satu meter yang di naungi jala hitam. Hatinya berbunga-bunga. Ia terus membaca wirid penuh konsentrasi. Sampai pagi, sampai sinar matahari menerobos kabut dan singgah di mukanya.
Kabut masih cukup tebal menyelimuti puncak bukit. Jatra bangkit berdiri, dibangunkan temannya yang tidur bersandar pada batu.
“Apa kita harus menunggu sampai dia datang?”
“Apa? Dia, siapa? Aku tak melihat siapa-siapa dari kemarin selain kau?”
“Dia datang ke sini tadi malam. Aku yakin, dia penunggu di sini.”
“Kau bermimpi.”
“Tidak. Kau yang tidak punya mata bathin.”
“Aku tidak tidur semalaman, dingin membuatku tak bisa tidur. Kau yang tidur dan terus menerus mengigau.”
“Kau tak tahu. Aku dibawa ke suatu tempat yang begitu indah. Semua serba indah, serba ada, semua menyenangkan. Itu pertanda awal, dan aku akan menikmati itu semua. Kau akan bisa seperti itu nanti, bisa seperti aku. Jangan pernah ragu. Aku pernah mengalami keraguan itu dalam perjalanan ke arah sana, dan sekarang keraguan itu telah hilang dengan kejadian yang aku alami semalam.”
“Kau sudah sering kali mengatakan itu.”
“Tapi ini yang terakhir.”
“Kau selalu berkata itu.”
“Kali ini aku akan benar dan kau akan melihatnya nanti. Keyakinanku sekarang tidak seperti yang sudah-sudah.”
 Hening, angin lembut membawa kabut berpindah menyapa alam. Kicau burung tertata rapi dalam orkestra nada alam. Jatra memandang penuh matahari yang menyembul di ujung timur cakrawala. Sinarnya masih lembut penuh kesejukan. Di puncak bukit, Ia bisa memandang ke segala penjuru arah. Ia sangat ingin siang hari segera berlari dan masuk dalam rengkuhan malam. Malam yang memberinya mimpi indah, jalan-jalan membentang dengan di kanan kiri taman yang ditumbuhi pohon-pohon yang buahnya ranum siap di petik. Jatra terus berkelana dalam dunianya. sesekali Ia berhenti entah dipersimpangan mana untuk sekedar menelan udara.
Seperti bersenandung lagu sedih, seperti mengucap wirid mantra, seperti menyenandung lagu jawa, badannya bergerak kiri kanan, Jatra khusu di dalam ruangnya. Ia merasakan sebuah tenaga yang kadang begitu kuat kadang melemah mengitari badannya. Berpusar, berputar mengangkat badannya. Melayang tinggi dan berhenti di atas  pucuk dedaunan pohon beringin. Segerombolan awan tipis menerpa muka, menghalangi tatapan mata ke tetumbuhan hijau di bawah yang dibelah oleh sungai dan jalan. Napasnya seperti berhenti ketika tubuhnya melesat tinggi dan berhenti pada pucuk pepohonan di tempat berbeda. Kadang Ia sampai pada tempat yang lembab dan gelap, dengan jalan setapak menuju gubuk kecil yang gentingnya berlumut. Kadang Ia singgah pada sebuah tempat yang bersih dengan rumput terawat rapi melingkari kolam ikan warna-warni yang terus bergerak. Ia pejamkan mata sepenuh jiwa. Jalan terjal berkelok-kelok penuh duri akan segera berakhir dan sampai dengan selamat penuh kesenangan.
Pada suatu tempat yang luas dengan pohon yang sama besar, sama tinggi dengan bentuk sama dan warna daun sama hijau, Jatra bertemu dengan sosok orang berbadan besar dan pendek seperti tokoh Semar dalam pewayangan. Sosok itu memandanginya denga sorot mata tajam, sekali waktu sorot matanya berubah sayu, sesekali merah menyala. Pakaiannya yang hitam sedikit berkibar disentuh angin. “Kau akan ikut aku?” tiba-tiba Ia bertanya. Jatra terkesiap, Ia bertanyakah padaku?
“Jika ini baik untukku, aku akan ikut.”
“Jika hanya baik untuk kamu saja, kamu akan ikut?”
Jatra bingung harus menjawab apa dan tidak tahu maksud pertanyaannya. Perjalanan telah begitu panjang ditempuh, apakah akan tak berarti jika jawabannya tidak seperti yang Ia inginkan?. Orang itu pergi menjauh tanpa menunggu jawaban. Jatra berjalan setengah berlari mengejarnya, sosok itu telah berada di balik rerimbunan pohon di puncak bukit, berjalan dengan kepala tegak dan lurus.
Di balik bukit kecil, terdampar semak ilalang kering, rerumputan berduri-duri tajam, kerikil-kerikil bersudut lancip, beberapa pohon berdaun tak segar dan tampak lelah dan capai. Sosok itu terus berjalan tanpa terhambat. Jatra ragu berhenti sejenak memandang hamparan semak yang tak tampak tepi. Ia membayangkan kulit kakinya yang akan terus tergores dan alas kakinya yang akan tembus oleh kerikil-kerikil lancip. Berpikir sejenak, telah membuat sosok itu telah jauh tampak semakin kecil.
Jatra berlari mengejarnya. Tepi daun ilalang tajam dan rerumputan yang melukai kulit kakinya tak dirasa. Ketakutan akan hilangnya sosok yang diikuti membuat semakin cepat berlari. Ia terus bergesa mengejar. Terus berjalan sampai matahari di barat berada di punggung bukit untuk kemudian tenggelam dalam malam diiringi seimilir angin yang datang dengan melambat tenang.
Ia terus berjalan setengah berlari. Dalam keremangan Ia berjalan pada jalan setapak menuju bukit setelah lepas dari hamparan semak ilalang dengan rumput-rumput berduri. Jalan itu semakin menanjak dengan akar-akar pepohonan menyembul di kanan kiri di antara bebatuan. Ketika malam telah menjadi benar-benar gelap, Jatra telah berada di puncak bukit. Puncak bukit yang sama yang Ia tinggalkan untuk mengejar sosok yang sekarang tak lagi tampak.
Dan Ia jatuh terkulai. Tak ada siapa-siapa selain dirinya. Pada sebuah batu seluas punggungnya, Ia berbaring menengadah menatap langit yang tertutup rerimbunan daun. Sesekali kelebat kalong membelah angin di atasnya. Satu dua bintang kelap kelip muncul sebentar untuk kemudian hilang samasekali. Ia ingin tertidur, tapi kegelisahan terus menganggunya.
                                                                                                Nopember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar