Label

Kamis, 17 Juni 2021

KOPI, BERTULISKAN ONTOSOROH DAN DARSAM


Sebuah bungkus kopi bubuk berbungkus cokelat dengan tulisan Ontosoroh dan di bagian bawah ada tulisan, blender Darsam, membangkitkan ingatan saya tentang seorang sastrawan besar dengan  novel tetralogi yang hebat dan mengagumkan. Pramoedya Ananta Toer dengan empat novelnya:  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, yang di dalamnya terdapat seorang tokoh perempuan bernama Ontosoroh dan seorang laki-laki centeng bernama Darsam. Karakter mereka berdua tergantung pada imajinasi si pembaca novel atau yang menonton film berjudul Bumi  Manusia. Jika pembaca novelnya dan tidak menonton film Bumi Manusia, imajinasi karakter, bentuk tubuh, tingkah laku kedua tokoh itu berbeda-beda setiap kepala. Lain halnya jika membaca novel dan nonton filmnya, membaca karakter Ontosoroh dan Darsam akan terpengaruhi karakter dari rekaan sang sutradara Hanung Bramantyo.

Saya sendiri tak menonton film Bumi Manusia, pernah mau nonton lewat smartphone dan sempat lihat trailer-nya. Hanya itu , dan berkeputusan untuk tidak menonton secara penuh. Karakter tokoh-tokoh dalam novel tetraloginya mBah Pram sudah tercetak di benak pikiran saya. Tokoh-tokoh, gambaran lingkungan, jalan, rumah, sungai, hutan, ladang, sawah, semua yang ada dalam novel itu, tentu berbeda bagi setiap pembaca. Gambaran itu tergantung pada imajinasi yang dipengaruhi latar belakang kehidupannya, apa yang pernah dibaca, pengalaman, teman, lingkungan sosial, hobi, kecenderungan kepercayaan dan keyakinan. Jika saya menonton secara penuh film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo, saya bisa saja kecewa karena imajinasinya berbeda dengan apa yang saya imajinasikan. Saya sudah asyik dengan gambaran yang lahir dari imajinasi saya sehingga ketika membaca ulang novel tersebut, seperti napak tilas pada sebuah cerita yang ada bagian-bagian yang terlupakan.

Bungkus kopi bubuk berbungkus cokelat dengan tulisan sederhana Ontosoroh dan Darsam. Bagi pakar penjualan, mungkin bisa dianggap bukan sebuah reklame yang baik. Tak banyak orang tahu dan mengerti siapa itu Ontosoroh dan Darsam. Hanya orang yang suka baca novelnya Pramoedya Ananta Toer dan suka sama karya film Hanung yang akan tertarik dengan merk kopi itu, itupun tidak mungkin seratus prosen. Sebuah keputusan idealistis untuk memberi merk tersebut. Pembaca novel dan penikmat film Hanung tak begitu banyak di Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Sebuah romantisme idealis yang mempertaruhkan nilai ekonomis yang ditawarkan. Tak banyak orang yang mempertaruhkan sebuah keuntungan dengan imajinasi idealis berbungkus romantisme. Pertimbangan utama adalah kepuasan batin yang tidak mudah untuk diperhitungkan dengan nilai uang. Belum lagi jika kemudian hari jika ternyata kopi dengan merk Ontosoroh Darsam menjadi terkenal dan laris manis kemudian yang merasa punya hak nama tersebut mempermasalahkan secara hukum.

Semua keputusan selalu ada resiko. Ada pertimbangan kepuasan batin yang tidak bisa begitu saja dinilai dengan hitungan uang atau benda. Setidaknya ini mengingatkan saya untuk kembali membuka novel mbah Pram di lemari yang sudah mulai tertaburi debu lembut yang akan terasa jika diusap. Banyak hal-hal sederhana yang ternyata bisa membangkitkan iamjinasi dana semangat baru.

Jika kemudian saya menemukan lagi kopi bermerk Ontosoroh, saya akan membelinya untuk menjadi pintu masuk di dunia rekaan dalam tetra logi-nya  mBah Pram. Semoga akan lahir lagi karya sastra Indonesia yang hebat mendunia.

21:38,17.06.2021