Sabtu, 28 April 2018

PELECEHAN KEYAKINAN


“Keyakinan itu seperti politik ya bang?”

“Maksudnya?”

“Ya, nggak boleh disentuh oleh yang beda keyakinan. Politik juga kan?”

“Begitu yah. Apa politik begitu?”

“Iya, seperti tak sadar keyakinannya juga bersinggungan dengan keyakinan lain.”

“Kalau begitu dibiarkan saja. Gitu saja repot.”

“Ya, tapi kalau seperti memaksa untuk mengikuti keyakinannya, kan bikin kesal juga.”

“Nggak usah merasa kesal.”

“Tidak percaya keyakinan lain, melecehkan nggak Bang?”

“Nggak. Asal nggak dipermasalahkan.”

“Permasalahannya kan, jika ada yang merasa benar sendiri, dikira tidak ada kebenaran lain yang tidak sama dengan kebenarannya. Seolah merasa keyakinan lain bagi dia tidak benar.”

“Nggak usah merasa dilecehkan tentang keyakinan. Kalau tentang ajaran agama, mungkin bisa. Kalau keyakinan, dalam sebuah kelompok pun bisa jadi berbeda keyakinan tentang sesuatu. Makanya jangan memaksa tentang sebuah kebenaran dari sebuah keyakinan.”

“Bedanya pelecehan tentang keyakinan dan pelecehan tentang agama apa kang, kan sama-sama tentang keyakinan.”

“Begini. Bagaimana yah. Intinya sama. Sebuah keyakinan. Jika keyakinan tentang sebuah agama, sebuah keyakinan yang turun temurun diwariskan dari nabi yang diyakini kebenarannya, artinya dalam skala besar. Kalau keyakinan tentang ‘keyakinan’ dalam ruang  lingkup agama misalnya, bisa jadi sebuah kebenaran keyakinan yang tidak sesuai. Tidak sesuai itu juga berbeda-beda bagi setiap orang yang berkeyakinan tersebut. Perbedaan keyakinan itu bisa menjadi benturan jika masing-masing merasa benar dan merasa orang lain tidak boleh mengutak atik keyakinannya itu. Repotnya lagi, kebenaran tentang keyakinan itu tak bisa dibuktikan denga wujud. Karena keyakinan itu muncul dari alur silsilah tentang riwayat, yang dalam Islam disebut hadits, dan, keyakinan tentang benar tidaknya sebuah riwayat atau hadits itu juga berbeda-beda. Penafsirannya berbeda-beda.”

“Repot yah bang, memahaminya.”

“Nggak perlu repot-repot untuk memahami. Kalau kamu punya keyakinan, nggak usah merasa perlu orang lain untuk ikut dan bersama-sama percaya pada apa yang kamu yakini.”

“Gitu yah bang. 
Perlu nggak bang, memberi masukan pada orang yang merasa perlu untuk meyakini keyakinannya?”

“Seharusnya mengerti, jadi nggak perlu ada yangmerasa perlu memberi masukan.”

“Keyakinan yang benar itu yang kaya apa bang.”

“Kira-kira begini. Saya contohkan kebenaran sebuah keyakinan; misal pada suatu malam mati lampu dan ruangan rumahmu gelap gulita. Ketika kamu mau mencari lilin dan korek api, kamu meyakini kalau di sisi tembok sebelah kanan ruang tengah tidak ada apa-apa dan saat kamu melewatinya tanpa menabrak atau tersandung, itu berarti keyakinanmu benar. Tapi jika kamu saat melewatinya tersandung kursi, berarti keyakinanmu, salah. Permasalahnnya, apakah kamu akan mempermasalahkan siapa yang menaruh kursi atau tidak akan mempermasalahkan. Masalahnya juga, jika kamu hati-hati, kamu bisa merabanya terlebih dahulu sehingga kamu tidak tersandung.”

“Lha, tapi kan kalau keyakinan sebuah agama tidak bisa dibuktikan seperti itu bang. Kalau tentang agama kan, kita meykini akibatnya nanti setelah mati. Nanti di alam akherat.”
“Bener kata kamu. Tapi, Setidaknya keyakinan tentang sesuatu pada lingkup agama bisa di telusuri riwayatnya dan di cross-chek siapa periwayatya dan tarck record si setiap periwayat.”

“Jadi kalau saya merasa dilecehkan keyakinan saya, saya harus bagaimana bang?”

“Jangan merasa dilecehkan. Karena bisa jadi orang lain juga merasa dilecehkan dengan keyakinanmu. Biarkan saja.”

“Gitu yah bang..?”

“Yang lebih penting itu  sebenarnya, perilaku. Apakah perilaku kita sudah baik dan sesuai dengan yang diajarkan agama, atau hanya sekedar berteori tapi perilakunya sesuka hati. Seperti keledai yang memikul banyak buku.”

“Saya seperti pernah mendengar kalimat; seperti keledai membawa buku, bang.”

28.4.2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar