Jumat, 20 April 2018

MASUK INSTITUSI MAHAL


“Bang, dengar-dengar masuk institusi itu harus bayar mahal sekali yah..?”
“Institusi yang mana?”
“Yang itu.” Sembari memberi kode.
“Kata siapa. Kemarin saya masuk kesana tidak harus bayar. Biasa-biasa saja dan tidak harus begitu.”
“Maksudnya, jika pengin jadi anggotanya.”
“Oh. Kamu tahu dari siapa. Harus ada bukti lho.”
“Dari orang-orang. Sudah jadi rahasia umum bang.”
“Yang bener. Coba, pernah nggak kamu tanya sama orang-tuanya yang anaknya masuk institusi itu.”
“Ya nggak bakalan ngaku bang. Itu kan aib dan juga melanggar hukum.”
“Nha, terus kamu tahu dari mana? Hati-hati lho. Kamu bisa dilaporkan kasus pencemaran nama baik. Itu bisa dikataka fitnah, karena tak ada buktinya.”
“Tapi kan, sudah banyak yang tahu.”
“Ada buktinya nggak?”
“Iya yah bang. Seandainya iya pun, kan pelaku pasti menyembunyikan bukti-buktinya. Tapi sepertinya benar begitu bang. Kalau pengin masuk kesitu, jadi anggotanya harus ada uang banyak, meski tidak semuanya. Kan mereka juga butuh orang-orang yang benar-benar kompeten.”
“Lho, kamu bisa tahu tidak semuanya?”
“Itu perkiraan bang. Kan ada yang bisa masuk dengan benar-benar murni. Ada juga sih bang, yang katanya titipan bos-bos.”
“Tahunya murni? Tahunya titipan? Kamu tahu dari mana?”
“Latar belakangnya kan bisa dilihat, bang?”
“Apa kamu punya bukti?”
“Nha, itu bang. Bukti nggak ada, Cuma perkiraan dari fakta yang ada. Tapi, ada juga yang pelakunya keprucut omong, begitu..”
“Hati-hati lho, bicara begitu. Kamu bisa kena pidana.”
“Pidana bang?”
“Iya.”
“Hih.”
“Makanya kalau ngomong hati-hati. Lihat situasi.”
“Kalau seandaianya iya, kita harus bagaimana bang, agar cara seperti itu tak terus-terusan terjadi.”
“Dimulai dari kita saja. Dari lingkungan kita, dari keluarga kita. Jangan mau membayar jika ikut seleksi.”
“Tapi, kan banyak yang mau bayar bang.”
“Jika dilingkungan sana dan di keluarga sana juga nggak mau bayar, kan jadi nggak ada..”
“Tapi itu mustahil bang. Dalam sekarang ini mustahil.”
“Berniat mulai pada diri kita dulu saja. Yang berbuat curang, semoga dikaruniai kesadaran dan bisa berubah. Dan, kita memulai dengan yang baik-baik dari diri kita sendiri. Toh mereka sendiri yang nanggung apa yang diperbuatnya.”
“Iya yah bang.”
“kalau tidak suka melihat orang lain curang, kita jangan ikutan curang.”
“Gitu yah bang..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar