Label

Jumat, 02 Maret 2018

PROPERTI FILM INDIA


Seorang tokoh di film India (film klasik kolosal) bisa memakai pakaian bertumpuk-tumpuk dan begitu banyak aksesoris yang menempel di tubuh atau menempel di kain. Di kepala ada aksesoris, di telinga ada, di hidung, di lengan, di jari, di kaki. Hampir tak ada tempat tanpa aksesoris. Warna-warna yang mencolok dan berani dipakai untuk menghiasi tubuh, untuk menghiasi secara keseluruhan film yang di buat. Belum lagi gedung yang besar dan megah full ornamen, hiasan-hiasan, ukiran-ukiran, gorden yang panjang, ruang yang lebar dan tinggi, kursi yang besar, lampu yang warna-warni dan karpet yang menutupi seluruh lantai. Sangat megah dan berkesan sangat mahal segala yang ada dalam ruangan.

Hanya untuk menampilkan sebuah perdebatan yang menyuguhkan kelicikan beberapa tokoh dengan bibir-bibir tersenyum nyinyir dan tatapan mata licik, tata ruang dan pakaian yang dikenakan para tokoh, begitu ramai dan meriah. Kesan serba mahal dan wah sangat ditonjolkan. Paduan warna emas, merah dan kekuningan mendominasi warna perabot yang besar-besar makan tempat. Suara yang menggema, mimik dan gerak tubuh yang diperlambat untuk menggerus perasaan penonton, semua di tata dengah khas model India.

Belum lagi jika melihat adegan perang kolosal. Tampak begitu banyak, ribuan orang, dalam satu hamparan tanah yang luas, berkumpul dalam kelompok masing-masing berhadap-hadapan siap saling membunuh. Begitu banyak orang dan hewan yang terlibat. Begitu banyak properti yang digunakan. Suara terompet, ringkikan kuda, lenguhan gajah dan debu yang membubung tinggi. Pertarungan yang seperti tak ada habisnya. Dibantai, bangun, dibantai, bangun lagi, bantai lagi, angun lagi. Adegan perang khas film India. Begitukah kenyataannya?

Jika kenyataan keseharian tidak seperti dalam film itu, setidaknya kita telah dibawa pada imajinasi mereka tentang sesuatu yang kolosal dan serba mewah dalam budaya India. Seorang bangsawan wanita India dalam film, akan banyak sekali makan waktu untuk sekedar memakai perlengkapan aksesoris atau melepasnya. Mungkin untuk pergi ke toilet pun akan sangat repot. Seorang bangsawan pria agak tidak terlalu repot. Tapi jika berangkat perang dengan banyak aksesoris yang dipakainya, akan terlambat mengatur pasukan untuk bersiap-siap berangkat perang dan menerapkan strategi. Pun juga, jika kejadian dalam film itu menceritakan jaman dulu kala, sudahkah pada jaman itu properti dan pakaian sudah sedemikian hebat? Tapi, penonton seperti tak sadar telah bawanya pada ruang imajinasinya, mengikuti alur cerita dan menikmatinya. Masuk dalam alur cerita dan seolah menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Begitu sebuah  hasil karya seni. Kita dipaksa ‘percaya’ pada segala apa yang disajikan dan masuk dalam perangkap dunianya. Sebuah hal di luar nalar jika dipikir sederhana dan normal, menjadi seperti kejadian nyata dan ada. Suatu ketika saya tanya pada kawan yang pernah berkunjung ke India, “Apa orang India pakai baju kaya di film-film India?” Kawan saya, “Ya nggak lah. Sama seperti kita. Itu di film. Apa pola pikir iri dengki kita juga sama seperti di sinetron Indonesia?”