Kamis, 15 September 2016

Bruno Birahi

djayim.com
Saya begitu yakin sebelumnya, jika kucingku, kucing kesayangan sekeluarga berjenis kelamin laki-laki, jantan, karena sewaktu saya membawanya dari rumah sang pemberi, ia menyebutnya kucing jantan. Sampai kemudian saya menyempatkan untuk lebih meneliti jenis kelaminnya. Tentu dengan mengamati detail lokasi yang menentukan apakah kucingku cewek atau cowok. Dan, aku berkesimpulan ia perempuan, cewek, wanita. Wanita? Kayaknya ‘wanita’ hanya pas untuk orang. Masak ada kucing wanita. Terus, apa sebab saya harus meneliti jenis kelamin kucingku itu? Karena ia mengalami masa birahi yang nampaknya sangat menyiksa.

Kucing yang sebelunya jarang sekali bersuara itu menjadi mengeong-ngeong agak keras berulang-ulang meski tidak seperti kucing ras jawa. Ia sangat memerlukan pelepasan rasa birahi yang datangnya pada masa tertentu dan nampaknya menjadi sebuah keharusan. Jika ia di elus-elus punggungnya, ia memperlihatkan gerak menata diri untuk siap ‘menerima’ dengan gerakan-gerakan erotis ala kucing. Dengan niat ingin membantu dan kasihan melihat raut mukanya, saya bawa ia ke rumah tetangga agak jauh yang punya kucing sejenis.

Kucing punya tetanggaku ternyata lebih besar, mungkin beda ras atau karena lebih gemuk. Mungkin kucing saya ras Angora, yang punya tetangga ras Persia. Saya dekatkan dengan kucing tetanggaku itu, tapi keduanya menebar sikap tak bersahabat. Seperti menemui musuh yang harus dikalahkan satu sama lain. Sepertinya rasa birahi di kucingku sementara hilang. Perlu pendekatan dan pengenalan dalam dua tiga hari mungkin, pikirku. Setengah jam saya coba memulai untuk mengakrabkan. Misiku gagal, saya bawa pulang ia dan sampai di rumah, si Bruno, kembali mengeong-ngeong ‘kegatelan’. Kasihan sekali ia, sampai anak saya yang kelas tiga es-de berkali-kali menanyakan sambil mengelus-ngelus bulunya yang menggemaskan, “Kamu kenapa Brun, sakit yah?”

Saya namai kucing saya Bruno, kalau tidak salah Bruno III. Itu karena setiap saya punya kucing saya namai Bruno. Tentu tidak ada kaitannya denga Frank Bruno petinju legendaris Inggris itu. Bruno I saya namai pas ketika Frank Bruno masih malang melintang di dunia adu jotos itu, sekira akhir tahun 80an. Kucing yang saya namai Bruno ketika itu berjenis kelamin laki-laki. Bruno II juga laki-laki, pejantan. Keduanya kucing ras jawa. Untuk Bruno III, saya ragu apakah ia jantan atau betina. Waktu saya amati seperti betina, tapi waktu saya perbandingkan dengan gambar yang mbah google punya, yang jantan pun posisi kelaminnya mirip dengan kucing saya. Saya tinggal nunggu apakah ia hamil atau tidak, karena setelah tiga hari saya biarkan berkeliaran mencari pasangan, ia kemudian tenang lagi dan tidak goranggantĂ©ngan. Jika tak hamil, berarti kucingku jantan atau ia betina tapi tak ada kucing jawa yang ‘sudi’ melepas birahinya.

Nama Bruno akan tetap saya pakai untuk menyebutnya, toh kucing tak akan protes apakah itu nama untuk betina atau jantan. Atau barangkali sebenarnya ia protes, karena sering kali ketika saya panggil Bruno, ia hanya melirik sedikit sinis. Kelak jika kucingku yang sekarang hilang atau mati, saya akan tetap menamainya Bruno untuk kucing penggantinya, dengan tidak memperdulikan jenis kelamin.


15 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar