Sabtu, 10 September 2016

Berinternet yang menjengkelkan

Saya sering merasa kesal jika membuka web di laptop atau pc yang memakai OS Windows. Ketika saya klik atau saya buka di tab baru selalu diarahkan ke situs belanjaan. Juga selalu di tutupi oleh iklan yang saya sama sekali tak ingin melihatnya. Otomatis saya close dan buka lagi, tapi selalu muncul begitu. Sudah berulang kali mencoba setting browser atau uninstall program yang dengan pe-denya masuk lewat jalur internet dan tanpa sepengetahuan memasangkan diri. Tapi hanya sebentar dan kembali muncul maslah dalam berselancar di dunia maya. Tool jebakan juga sering mengantar saya pada situs game atau situs belanjaan yang tidak sedang diperlukan. Bahkan simbol close (X) dan tulisan close pun kalau di klik akan langsung mengarahkan pada laman yang tak di tuju.

Saat browsing pada laptop atau pc yang memakai OS Windows, seolah bayak sekali aplikasi yang menjengkelkan masuk dan susah untuk di usir. Malware hampir ada dan bersembunyi di setiap tempat yang kita sering tak menduganya. Lain halnya jika kita browsing dengan OS android jika di HP atau pakai Ubuntu jika di PC. Dengan aplikasi android atau Ubuntu, jika pun ada iklan, bisa di close dan tidak langsung mengarahkan pada situs yang tak diundang. Yang bikin malware mungkin orang yang ingin barang bikinannya dilihat dan dan diminati orang tapi dengan cara menyusup dan tak perlu bayar ruang iklan. Atau sekedar iseng untuk membobol ‘ketahanan’ sistem operasi. Dan hal yang tak bisa kita hindari saat masuk dalam dunia maya adalah banyak sekali orang yang berkepentingan, orang yang iseng, orang yang berperang dalam dagang, orang yang berlomba menjatuhkan lawan, orang yang bereksperimen, orang yang berkepentingan dengan idealismenya.

Semua punya kepentingan terhadap uang pada jaringan informasi dan komunikasi. Membuat sebuah situs berita, tentu perlu biaya yang tidak sedikit untuk membiayainya dan untuk tetap eksis dalam persaingan kejam di dunia media. Media baca, seperti koran, tabloid dan majalah yang kita bisa memilih iklan apa yang perlu kita lihat, sudah semakin terasa ribet. Perasaan ribet ini karena muncul media baru, smart phone, tab, laptop dan sejenisnya, yang dala satu wadah bisa menyimpan jutaan informasi. Dan pembiayaan dari semua informasi dan berita pada teknologi digital itu sebagian besar dari iklan.

Para produsen berlomba-lomba menjual barang produksinya untuk membiayai seluruh kegiatannya agar tetap eksis, karyawannya sejahtera, perusahaan selalu untung dan semakin bertambah besar. Pengenalan produk pada calon pembeli inilah yang harus dibiayai oleh produsen. Produsen barang atau jasa meminta jasa pada produsen berita dan informasi untuk mengenalkan produknya. Produsen jasa berita dan informasi akan bangkrut jika tidak ada produsen barang atau jasa yang membiayai kegiatannya dengan memasang iklan. Harganya tentu ada kesepatan antara kedua belah pihak. Semakin besar, terkenal, terpercaya, sebuah perusahaan media massa, sewa ruang iklan akan semakin mahal.


Sebuah situs terkenal semacam detik.com, tribunnews.com, kompas.com, babe, yang menawarkan dan memasang aplikasinya di google play, biaya sewa ruang iklannya tentu berbeda dengan sebuah website atau blog yang viewer tidak banyak. Jumlah pemirsa menjadi pertimbangan bagi pemasang iklan dalam memilih media yang akan di sewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar