Label

Minggu, 24 September 2023

AHOK CALON WAKIL PRESIDEN 2024

Saat ini, 25 September 2023 sudah ada tiga nama bacapres untuk pemilu serentak yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2024. Anis Baswedan yang sudah berpasangan dengan Muhaimin Iskandar sebagai wakilnya, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. Rupanya memilih calon wakil menjadi pertimbangan dengan berbagai perhitungan dan prediksi untuk mendulang suara pada saat pemilu. Kesetiaan anggota partai juga menjadi pertimbangan dari partai mana calon wakil presiden akan dipilih. Apakah jika calon wakil presiden dari partai tertentu, anggota partainya akan menurut pilihan dari pengurus partai? Berapa prosen anggota atau simpatisan partai yang akan turut dan mengikut pilihan partai pada tokoh yang dicalonkan? Beranikah dari dua calon presiden, Prabowo dan Ganjar memilih calon wakil presiden dari tokoh yang bukan dari anggota partai?

Pemilihan Presiden tahun 2009, Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ), yang dicalonkan oleh Partai Demokrat, berani menggandeng Budiono yang bukan anggota partai dan berhasil memenangkan pemilu satu putaran memperoleh suara 60% mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto. Keberanian SBY menggandeng Budiono yang bukan dari partai politik, pasti sudah dengan pertimbangan yang matang dan survei dari berbagai prespektif.  Tahun 2019, Joko Widodo calon dari PDI-P menggandeng Ma’ruf Amin, orang dengan latar belakang pengurus MUI dan Nahdatul Ulama ( NU ), ‘yang bukan Partai politik’. Walaupun NU menyatakan diri bukan sebuah organisasi partai, tetapi anggota dan simpatisan Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ) didominasi oleh orang-orang NU. Joko Widodo – Ma’ruf Amin berhasil memenangkan Pilpres dengan memperoleh suara 55,5 % mengalahkan Prabowo – Sandiaga Uno.

Dua calon Presiden sekarang ini, Prabowo dan Ganjar, beranikah memilih calon wakilnya dari tokoh yang tidak aktif di partai atau tidak mempresentasikan dari wakil partai tertentu? Sujiwo Tedjo? Emha Ainun Najib? Ustadz Abdul Somad? Atau bahkan, Rocky Gerung? Atau jika ia dari partai tetapi sosok kontroversial seperti Basuki Tjahaya Purnama  (Ahok).

Menjadi menarik jika tiba-tiba dua calon presiden itu salah satunya memilih Ahok sebagai calon wakil presidennya. Ahok yang dikenal cara bicaranya keras tanpa basa-basi terhadap semua pelanggaran dan berani, mempunyai simpatisan tersendiri. Meski Ia non muslim, banyak penganut Islam yang bersimpati pada Ahok dan berharap Ia menjadi pemimpin yang mampu merubah tatanan pemerintahan dan budaya Indonesia yang masih perlu banyak sekali perbaikan. Kita tunggu siapa yang akan di pilih dua calon presiden yang belum memilih calon wakilnya karena begitu banyak pertimbangan untuk memilih supaya skenario yang disusunnya berhasil.

Sebelum Anis Baswedan memilih Muhaimin Iskandar sebagai calon wakilnya, saya berangan-angan seandainya Anis memilih Ahok sebagai calon wakilnya dan Ahok setuju. Jika terjadi, pasangan ini akan menyatukan pertikaian sejak mulai digelar pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017, yang masih terus “dijaga” oleh pendukungnya. Anis yang santun memilih kata dan Ahok yang keras dan tak berkompromi terhadap semua pelanggaran dan ketidaksesuaian, akan menjadi pasangan yang saling mengisi untuk menjadi Indonesia. Tak ada yang pasangan yang sempurna memenuhi keinginan seluruh rakyat Indonesia. Ada kepentingan dan prioritas yang berbeda pada setiap individu dan kelompok.

Akankah Prabowo atau Ganjar dipasangkan atau memilih ahok sebagai cawapresnya? Akan sangat menarik jika salah satu memilihnya.

21:05 24.09.2023

 

Sabtu, 16 September 2023

TOLERANSI, memaklumi semua. (4)

Toleransi atau toleran itu menanggung, menerima dengan sabar atau menerima. Membiarkan juga masuk kategori toleran. Ada batas-batasnya? Siapa yang membuat batas-batas?

Jika semua orang yang mewakili perbedaan-perbedaan dikumpulkan untuk berdiskusi dalam membuat batas-batas toleransi, apakah mereka akan sepakat dengan latar belakang mereka yang berbeda-beda dan mempunyai ego yang harus dipertahahankan. Apakah demi toleransi mereka akan mengorbankan keyakinannya dan membiarkan batas-batas toleransi yang disusun melanggar batas keyakinannya yang seharusnya tak boleh dilanggar. Kalau terjadi saling mempertahankan ego batas toleransi, bagaimana menyusun batas-batas toleransi supaya bisa diterima semua kalangan. Selama ini, kita menyebut toleransi tanpa tahu batas-batasnya. Batas-batas itu ada hanya berdasarkan persepsi masing-masing orang pada kondisi tertentu. Padahal kondisi tertentu masing-masing orang berubah-rubah pada setiap waktu dan tempat yang berbeda. Kondisi psikologis, kesehatan, emosi, pengaruh,keyakinan, kepercayaan akan berperan dalam memutuskan secara individu batas mana masuk toleransi dan batas mana diluar toleransi dan boleh “ditegur”.  Cara menegur pun akan menjadi perdebatan lagi, yang masing-masing individu berbdeda cara dan pemahamannya.

Sesuatu kegiatan, bagi sebagian orang bisa hanya sebuah kegiatan yang biasa-biasa saja, atau tidak perlu dan tak ada gunanya, tapi bagi sebagian orang menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan. Sebuah suara dari alat pengeras suara, bisa dirasa menganggu jika kondisi kita sedang tidak nyaman di hati, sedang tidak sehat atau sedang butuh ketenangan. Jika kita merasa terganggu oleh suara, baik itu suara kegiatan keagamaan atau pun suara dari kegiatan hiburan, apakah demi disebut ber-toleransi kita harus menyingkir? Misal, kita atau saudara kita yang sedang sakit, apakah layak dan patut jika kita menegur para pelaku yang membuat tidak nyaman dan mengganggu?

Menganggu itu definisi dan parameternya juga berbeda. Menyamakan parameter hal-hal yang mengganggu juga akan menimbulkan hal-hal yang sensitif jika berhubungan dengan toleransi, lebih-lebih masalah toleransi dalam beragama dan berkegiatan keagamaan dan keyakinan. Karena, apapun kegiatan keagamaan, sepertinya kita diharuskan maklum walaupun sebenarnya merasa terganggu. Dan menerima keadaan walaupun terganggu menjadi pilihan demi sebuah “toleransi”.

Membiarkan orang merasa terganggu dan menerima keadaan demi apa yang disebut toleransi, si pembuat ketidaknyamanan sebenarnya sudah berbuat intoleran. Harus ada saling memaklumi untuk tidak mengganggu, bukan hanya menuntut orang lain untuk menerima dengan sabar. Bertoleransi berarti siap menerima kalau orang lain ber-tidak sepakat terhadap kegiatannya. Karena merasa kegiatan beragama adalah kegiatan suci yang berhubungan langsung dengan Yang Maha Kuasa, kemudian beranggapan orang lain harus bertoleransi dan tidak boleh merasa terganggu, ini akan menjadi sebuah toleransi palsu yang menjadikan toleransi itu sendiri tercemar.

Memahami orang lain, tidak berbuat sesuatu yang orang lain terganggu dan memaklumi jika ada orang lain yang terganggu, tidak memaksa orang lain memaklumi kegiatannya, kemudian berbuat agar semua menjadi nyaman, itu toleransi.

22:58 16092023