Label

Kamis, 30 April 2020

TENANG DALAM TAKUT


Perasaan takut dipunyai semua orang normal. Takut itu perasaan ngeri atau gentar terhadap sesuatu yang dianggap mendatangkan bahaya bagi dirinya atau yang berkaitan dengan dirinya. Takut juga bisa karena merasa jijik atau geli terhadap sesuatu. Perasaan takut ini membuat orang menjadi gelisah, berusaha menjauhi, menghindari dan atau timbul rasa ingin melenyapkan obyek penyebab rasa takut itu. Rasa gelisah dalam hati  ini menyebabkan jiwanya tidak tenang dan mempengaruhi fisik raganya mengekspresikan kegelisahan. Rasa takut menyebabkan ketidaktenangan pada jiwa raga.

Jika kita mendengar atau membaca sebuah ungkapan ‘tetap tenang nggak perlu takut’ pada sesuatu kondisi yang membuat ketakutan, dapatkah kita melakukannya? Ungkapan itu sejatinya hanya setetes embun untuk menghilangkan dahaga. Sadar setetes embun tidak mungkin menghilangkan dahaga, tetapi tetap saja diterima karena tidak merugikan, terasa sedikit bikin adem dan menolaknya pun hanya buang-buang energi, juga membuang sebuah kesegaran meski sedikit sekali.

Dalam menghadapi pandemi virus corona atau covid-19 yang sampai sekarang belum ditemukan obat yang secara medis bisa dipertanggungjawabkan fungsinya, membangun rasa tenang pada semua orang menjadi sebuah dilematis. Rasa tenang membuat orang menjadi hilang rasa takutnya. Kehilangan rasa takut menjadikan sebuah keadaan dengan tidak ada lagi sesuatu yang membahayakan. Pada kondisi seperti ini, orang akan merasa tidak perlu berbuat apa-apa pada sesuatu yang sebenarnya bisa saja menyerang kapan pun. Menghimbau orang agar tetap tenang seolah bisa diartikan mengarahkan orang agar tidak perlu melakukan ‘perlawanan’ atau berbuat apapun terhadap penyebaran virus corona yang menyerang hampir seluruh negara.

Memberi himbaun agar tetap waspada secara terus menerus juga bisa membuat orang menjadi paranoid. Himbauan atau peringatan secara halus yang dilakukan sering dan terus menerus, telah dengan sendirinya membawa kita pada alam pikir bahwa ada sesuatu yang harus diwaspadai, ada sesuatu yang berbahaya yang jika kita tidak tenang dalam menghadapinya menjadi lebih parah. Himbauan  semacam ini tetap saja tak membuat rasa takut hilang.

Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita harus memahami segala seluk beluk obyek yang menumbuhkan rasa takut tersebut. Dengan memahami detail ‘penyerang’ kita bisa menghadapinya dengan benar dan membuat penyerang senjatanya menjadi tidak berfungsi. Senjatanya dipatahkan dan kelemahnnya diserang. Meremehkan penyerang bisa menjadi penyebab kefatalan.

Tenang sampai terlena itu membahayakan dan bersikap paranoid bisa berpengaruh negatif ke fisik. Berlaku waspada, menyikapi dengan benar petunjuk para ahli dibidangnya dan yakin kita mampu, mungkin bisa membuat kita selamat melewati masa kritis.

21:17_30042020

Minggu, 26 April 2020

MEMBUNUH KARAKTER.

Kalimat pembunuhan sudah sangat sering di dengar. Pembunuhan itu membuat sesuatu menjadi mati. Membunuh itu melakukan kegiatan pembunuhan yang menjadikan obyek yang dibunuh mati. Menghabisi nyawa secara sengaja. Membunuh biasanya diterapkan pada makhluk hidup yang bergerak. Jika diterapkan pada makhluk hidup yang tidak bergerak menjadi janggal atau dirasa tidak pas. Membunuh pohon, misalnya, ini akan terasa janggal meskipun jika diperdebatkan bisa saja diterapkan. Mematikan pohon, di tebang atau di teres, terasa lebih enak dirasa dibandingkan dengan membunuh pohon.

Pembunuhan karakter itu usaha secara sengaja membunuh karakter seseorang dengan menghabisi atau mengikis karakter yang dipunyai seseorang supaya karakternya mati atau berubah, sesuai dengan keinginan si pembunuh. Ada karakter korban yang tidak disukai oleh si pembunuh. Suka atau tidak suka itu subyektif, jadi kenapa si pelaku melakukan pembunuhan itu, alasannya bersumber dari persepsi yang subyektif dan untuk kepentingannya sendiri atau kelompoknya supaya hegemoninya selalu terjaga dan terus semakin perkasa dimana pun.

Karakter seseorang yang kuat, berpengaruh dan punya daya untuk mempengaruhi publik, bisa membahayakan orang atau sekelompok orang yang berseberangan dengan pendapat dan pemikirannya. Untuk menghentikan pengaruh itu, sedini mungkin karakternya dibuat sedemikian rupa sehingga apa yang ungkapkannya menjadi seperti salah, tidak berguna dan membahayakan bagi kebanyakan orang.

Ada senjata ampuh di setiap masa untuk membunuh karakter seseorang jika ada yang berpikiran tidak sependapat dengan penguasa. Di masa Orde Baru dengan pemimpin besar Soeharto yang begitu digdaya selama 32 tahun, tuduhan ‘komunis’ bagi siapa saja yang berseberangan dengannya, akan membuat si tertuduh menjadi tidak laku di pemerintahan, terabaikan di birokrasi, terkucilkan di segala organisasi resmi dan dipinggirkan dari pergaulan sosial keagamaan. Men-cap komunis menjadi begitu ampuh dan menakutkan sehingga semua orang berusaha menghindar dari tuduhan itu. Ia akan serta merta nurut sama segala program pemerintah meskipun dirugikan karena resikonya akan lebih berat jika tak nurut dan dicap komunis.

Ketika kejayaan Orde Baru tumbang dan tutup kebebasan berpendapat terbuka lebar, semua orang bisa bebas bersuara, bebas menulis, bebas berpendapat. Saking bebasnya bersuara, caci maki sebuah hal yang lumrah menjadi konsumsi setiap hari. Semua orang bebas berpendapat dan berargumen sesuai kepentingannya. Sehingga sampai orang menjadi muak terhadap caci maki, argumen dan pendapat yang saling menyerang. Dari sinilah kemudian timbul rasa empati pada orang yang diserang. Semakin seseorang, terutama tokoh publik, diserang dan dicaci maki dan Ia menerima dengan sabar, Ia akan mendapat berkah empati sehingga mendapat banyak dukungan di panggung politik. SBY mendapat berkah di era ini karena mendapat cemoohan seorang tokoh besar. Kemudian beliau memanfaatkan kekecewaan publik yang tidak juga segera lebih baik dari Orde Baru dan berhasil.

Caci maki dan argumen yang meyerang itu juga sebuah upaya pembunuhan karakter. Upaya agar lawannya tidak lagi mampu untuk menghalangi jalannya. Tuduhan nyinyir menjadi senjata baru bagi yang menyampaikan pendapat tidak sesuai arus penguasa. Jika yang beragama islam, tuduhan kilafah menjadi kata yang serangan yang membuat si  tertuduh nggak nyaman dan memilih diam.

Saling serang di media massa, terutama di media sosial, sangat mempengaruhi opini publik. Kelompok yang mampu mengarahkan alur pemikiran rakyat bisa mendapat dukungan sehingga bisa mempertahankan hegemoni untuk dimanfaatkan, juga membuka kesempatan baru. Pengalihan berita yang menjadi trending topik sesuai dengan keinginan si pembuat berita, menjadi sebuah ajang perang kalimat di dunia maya. Semakin banyak sebuah topik terus menerus dibahas dan dimunculkan dalam waktu tertentu yang dibutuhkan, akan semakin menggiring opini kebanyakan orang pada berita atau kabar yang menang ‘perang’. Buzer berpengaruh penting dalam penggiringan opini, baik buzzer yang terorganisir maupun buzzer yang muncul karena merasa harus ikut medukung dan membantu sebuah opini lain. Perang opini tak menimbulkan korban fisik, tapi akan terus berlanjut dengan bahasan lain.

Keberagaman dengan kekuatan egoistis yang menyebabkan orang saling ‘membunuh’. Dengan merasa menjadi penguasa adalah kenikmatan yang harus dipertahankan dengan berbagai cara, maka perebutan untuk berkuasa menimbulkan korban. Sampai kemudian semua orang sadar, menyingkir orang lain, akan menumbuhkan perlawanan baru yang berpotensi menyingkirkan balik. Sebuah ‘sadar’ yang mustahil.

21:33_26042020




Kamis, 02 April 2020

TAKUT MATI


Meski kita sadar pada akhirnya semua manusia, bahkan semua makhluk hidup akan mati, tapi kita diberi rasa takut tentang kematian. Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankann hidup dan menghindari kematian. Sepertinya umur dan waktu mati kita yang menentukan, sesuai dengan kesiapan dan keinginan, sesuai dengan schedule yang telah diatur sesuai selera pelaku hidup. Mayoritas manusia sadar, tak mengerti kapan dan dimana saat tiba waktunya mati. Sadar nggak bisa nawar dan nggak bisa sesuai permintaan, kecuali jika dengan cara bunuh diri. Tapi, mempertahankan diri dari kematian adalah sebuah keharusan, setidaknya mempertahankan diri sebelum waktunya tiba yang bisa tidak lagi bisa mengelak. Mempertahankan diri untuk tetap hidup adalah sebuah perjuangan terus menerus sampai pada titik waktu ‘kekalahan’ dan menerimanya.

Begitu berharganya hidup sampai kadang lupa cara kita bertahan untuk hidup bersinggungan dengan orang lain yang juga sedang bertahan hidup. Tak jarang cara bertahan untuk hidup, dilakukan dengan sadar, tidak sadar atau dengan tidak sengaja apa yang dilakukan nya, bisa berakibat fatal pada orang lain atau bisa menyinggung perasaan orang lain. Keegoisannya muncul saat bertahan, ‘aku harus belakangan matinya sesuai dengan keinginan’, saat sudah tak bisa lagi nawar.

Maka, ketika sebuah pandemi viru Corona yang menggemparkan dunia muncul, sebagian besar orang berupaya keras agar tubuhnya tak tersentuh virus tersebut dan selamat dari kematian. Semua hal yang menurutnya bisa membuatnya terserang virus dan menjadikannya kalah, disingkirkan jauh-jauh dan tak ada tawar menawar untuk hal sekecil apapun yang bisa membuat penularan. Paranoid itu muncul dan melepaskan sebuah rasa empati. Maka ketika seorang yang mati karena korban virus Corona, pemakamannya pun banyak yang menolak. Tak ingat jika semua orang tak ada yang mau menjadi korban. Tak seorang pun yang mau salah satu anggota keluarganya mati karena serangan virus itu.

Ketakutan itu telah membutakan dan menganggap menolak pemakaman jenazah korban virus Corona di wilayahnya adalah sebuah upaya dan perjuangan untuk tetap bertahan hidup. Melupakan bagaimana perasaan pedih dan sedihnya keluarga korban ditinggal mati dengan cara tragis dan ‘belum saatnya’ ditambah lagi dengan penolakan pemakaman dengan emosional. Mereka lupa sendainya pada posisi menjadi pesakitan. Hidup dan kelangsungan hidupnya lebih berharga dari hidup dan perasaan orang  lain. Orang lain bukan urusanku, karena hidupku harus terus berlanjut. Empati yang ( dirasa ) membuat terancam hidupnya, adalah romantisme cengeng yang harus dibuang.

00:08.02042020