Minggu, 26 April 2020

MEMBUNUH KARAKTER.

Kalimat pembunuhan sudah sangat sering di dengar. Pembunuhan itu membuat sesuatu menjadi mati. Membunuh itu melakukan kegiatan pembunuhan yang menjadikan obyek yang dibunuh mati. Menghabisi nyawa secara sengaja. Membunuh biasanya diterapkan pada makhluk hidup yang bergerak. Jika diterapkan pada makhluk hidup yang tidak bergerak menjadi janggal atau dirasa tidak pas. Membunuh pohon, misalnya, ini akan terasa janggal meskipun jika diperdebatkan bisa saja diterapkan. Mematikan pohon, di tebang atau di teres, terasa lebih enak dirasa dibandingkan dengan membunuh pohon.

Pembunuhan karakter itu usaha secara sengaja membunuh karakter seseorang dengan menghabisi atau mengikis karakter yang dipunyai seseorang supaya karakternya mati atau berubah, sesuai dengan keinginan si pembunuh. Ada karakter korban yang tidak disukai oleh si pembunuh. Suka atau tidak suka itu subyektif, jadi kenapa si pelaku melakukan pembunuhan itu, alasannya bersumber dari persepsi yang subyektif dan untuk kepentingannya sendiri atau kelompoknya supaya hegemoninya selalu terjaga dan terus semakin perkasa dimana pun.

Karakter seseorang yang kuat, berpengaruh dan punya daya untuk mempengaruhi publik, bisa membahayakan orang atau sekelompok orang yang berseberangan dengan pendapat dan pemikirannya. Untuk menghentikan pengaruh itu, sedini mungkin karakternya dibuat sedemikian rupa sehingga apa yang ungkapkannya menjadi seperti salah, tidak berguna dan membahayakan bagi kebanyakan orang.

Ada senjata ampuh di setiap masa untuk membunuh karakter seseorang jika ada yang berpikiran tidak sependapat dengan penguasa. Di masa Orde Baru dengan pemimpin besar Soeharto yang begitu digdaya selama 32 tahun, tuduhan ‘komunis’ bagi siapa saja yang berseberangan dengannya, akan membuat si tertuduh menjadi tidak laku di pemerintahan, terabaikan di birokrasi, terkucilkan di segala organisasi resmi dan dipinggirkan dari pergaulan sosial keagamaan. Men-cap komunis menjadi begitu ampuh dan menakutkan sehingga semua orang berusaha menghindar dari tuduhan itu. Ia akan serta merta nurut sama segala program pemerintah meskipun dirugikan karena resikonya akan lebih berat jika tak nurut dan dicap komunis.

Ketika kejayaan Orde Baru tumbang dan tutup kebebasan berpendapat terbuka lebar, semua orang bisa bebas bersuara, bebas menulis, bebas berpendapat. Saking bebasnya bersuara, caci maki sebuah hal yang lumrah menjadi konsumsi setiap hari. Semua orang bebas berpendapat dan berargumen sesuai kepentingannya. Sehingga sampai orang menjadi muak terhadap caci maki, argumen dan pendapat yang saling menyerang. Dari sinilah kemudian timbul rasa empati pada orang yang diserang. Semakin seseorang, terutama tokoh publik, diserang dan dicaci maki dan Ia menerima dengan sabar, Ia akan mendapat berkah empati sehingga mendapat banyak dukungan di panggung politik. SBY mendapat berkah di era ini karena mendapat cemoohan seorang tokoh besar. Kemudian beliau memanfaatkan kekecewaan publik yang tidak juga segera lebih baik dari Orde Baru dan berhasil.

Caci maki dan argumen yang meyerang itu juga sebuah upaya pembunuhan karakter. Upaya agar lawannya tidak lagi mampu untuk menghalangi jalannya. Tuduhan nyinyir menjadi senjata baru bagi yang menyampaikan pendapat tidak sesuai arus penguasa. Jika yang beragama islam, tuduhan kilafah menjadi kata yang serangan yang membuat si  tertuduh nggak nyaman dan memilih diam.

Saling serang di media massa, terutama di media sosial, sangat mempengaruhi opini publik. Kelompok yang mampu mengarahkan alur pemikiran rakyat bisa mendapat dukungan sehingga bisa mempertahankan hegemoni untuk dimanfaatkan, juga membuka kesempatan baru. Pengalihan berita yang menjadi trending topik sesuai dengan keinginan si pembuat berita, menjadi sebuah ajang perang kalimat di dunia maya. Semakin banyak sebuah topik terus menerus dibahas dan dimunculkan dalam waktu tertentu yang dibutuhkan, akan semakin menggiring opini kebanyakan orang pada berita atau kabar yang menang ‘perang’. Buzer berpengaruh penting dalam penggiringan opini, baik buzzer yang terorganisir maupun buzzer yang muncul karena merasa harus ikut medukung dan membantu sebuah opini lain. Perang opini tak menimbulkan korban fisik, tapi akan terus berlanjut dengan bahasan lain.

Keberagaman dengan kekuatan egoistis yang menyebabkan orang saling ‘membunuh’. Dengan merasa menjadi penguasa adalah kenikmatan yang harus dipertahankan dengan berbagai cara, maka perebutan untuk berkuasa menimbulkan korban. Sampai kemudian semua orang sadar, menyingkir orang lain, akan menumbuhkan perlawanan baru yang berpotensi menyingkirkan balik. Sebuah ‘sadar’ yang mustahil.

21:33_26042020




Tidak ada komentar:

Posting Komentar