Label

Selasa, 31 Maret 2020

netral


Netral itu tidak ikut sana sini. Tidak memihak, tidak mendukung, tidak membantu salah satu pihak, tidak menolak salah satu. Dan, sepertinya itu bisa disebut apatis. Netral senetral-netralnya adalah saat sama sekali tak berpendapat pada sesuatu yang sedang diperdebatkan atau sedang diperebutkan. Bisa karena memang tak tahu yang dibahas, sengaja tidak mau tahu atau karena memang tidak tahu pembahasannya. Netral dalam posisi ini mudah dan tidak perlu mengendalikan diri untuk selalu mengingatkan diri agar tetap netral.

Pada posisi kita tahu masalah apa yang sedang diperdebatkan atau diperebutkan, memposisikan diri pada kondisi netral memerlukan energi yang terus menerus agar tak mendekat pada salah satu kubu. Berpendapat cukup di alam pikiran dan membuangnya jauh-jauh. Dalam masalah perdebatan yang kita tidak diharuskan memilih, demi untuk netral, pendapat yang dipikiran bisa kita endapkan untuk menjadi catatan pribadi yang bisa saja menguap dalam beberapa waktu kedepan atau menjadi bahan pertimbangan dalam pemikiran saat berkeputusan di kemudian hari.

Memposisikan diri netral pada saat kita diharuskan untuk punya pilihan, ini akan lebih menguras energi psikologis yang banyak, jauh lebih banyak dibanding dengan netral pada sebuah perdebatan. Pada pemilu misalnya, kita diharuskan memilih salah satu dengan argumennya sendiri tapi harus netral. Netral disini menuntut rasa hati dan pemikiran yang benar-benar obyektif.

Obyektif kemudian menjadi perdebatan juga keobyektifannya, bagi yang tidak sependat pilihannya. Obyektifitas terasa sangat obyektif bagi yang sekubu dan menjadi terasa tidak obyektif bagi kubu lawan. Disinilah timbul perdebatan lagi tentang sebuah kenetralan jika dikaitkan dengan obyektifitas. Jadi, netral yang pure  adalah netral yang tidak punya pilihan dan tidak memilih meskipun tahu apa yang diperdebatkan atau tahu harus memilih. Sedangkan netral yang karena tidak tahu, berada pada dunia netral lain yang lepas dari obyektifitas.

Netral itu lepas semua beban. Tak terpikirkan dan tak memikirkan. Sebodo teuing.

22:25 31032020

Minggu, 29 Maret 2020

OPOSISI KETIGA

djayim.com

Dalam permainan sepakbola yang normal, saat pertandingan di lapangan akan saling menyerang supaya gol yang diperoleh lebih banyak daripada lawan. Dalam pertandingan memperebutkan kekuasaan, menyerang lawan terus menerus belum tentu menjadikan menang. Rasa empati terhadap orang yang terus menerus diserang akan memunculkan pembelaan yang berakibatkan lawan menjadi menang. Kondisi ini disadari betul oleh masing-masing pihak  yang menjadikan selalu berusaha terukur dan tepat sasaran dalam menyerang lawan.

Tak ada kawan dan lawan yang sempurna. Semua punya sisi lemah. Sisi lemah itulah yang oleh lawan akan diekspos terus menerus sampai lawan benar-benar dalam posisi kalah. Dalam saling menyerang itu ada pemenang yang menjadi penguasa yang kemudian memperoleh fasilitas dan perangkat yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan kekuasaan yang salah satu caranya dengan menyerang lawan. Yang kalah juga terus menyerang dan menunjukkan keberadaannya. Media massa menjadi alat yang paling efektif untuk bertahan atau menyerang. Ketika semua media massa di manfaatkan untuk saling menjatuhkan, berita lahir dan tersaji setiap saat dengan begitu cepat. Pihak yang merasa terserang segera balik menyerang atau bertahan sambil sekalian menyerang dengan berbagai cara, keduanya dengan berbagai cara. Akibatnya, terjadi kesimpangsiuran arah berita. Tak tahu mana yang benar, mana hoax. Tak tahu mana produk buzzer, mana yang produk asli, mana yang benar, mana yang dipelintir, mana produk buzzer pemenang, mana produk buzzer pecundang. Semua simpang siur, akibatnya pembaca berita apatis dan pasif. Ini akan terjadi terus menerus jika hanya dua kubu, pemenang dan pecundang. Jika pun kemudian yang sekarang pecundang kemudian menjadi pemenang, permainan itu akan terus berlanjut turun temurun.

Diperlukan oposisi ketiga yang benar-benar berdiri diantara keduanya yang memandang dengan jernih dan obyektif setiap permasalan yang ada. Oposisi ketiga ini, harus menyatakan keadaan sesungguhnya dan sanggup memberi ‘teguran’ atau pelurusan masalah di kedua kubu. Jika ada yang perlu dibela, Ia harus tidak terpengaruh dan tidak mengambil keuntungan untuk dirinya terhadap kejadian yang menjadi perdebatan. Tidak bisa diiming-imingi apapun oleh si pemenang atau pun si pecundang.

Oposisi ketiga terdiri dari sekelompok orang yang tak silau oleh kekuasaan, fasilitas dan uang. Mereka sekelompok orang yang menikmati sebuah kejujuran dan juga menikmati setiap perjuangan yang tak berpamrih. Lantas, siapa, atau adakah orang yang bersusah payah menjadi oposisi ketiga dengan sama sekali tak berpamrih terhadap kekuasaan dan uang?

Oposisi ketiga harus tetap ada, siapapun pemenangnya. Oposisi ketiga bisa dilahirkan di diri kita sendiri denga berpendapat dengan obyektif tanpa tendensi apapun. Membuang semua kebencian, membuang rasa kekuasaan, melupakan pamrih dan menikmati kebersaman yang damai.

23:12.29.03.2020

Sabtu, 28 Maret 2020

BANGGA


Merasa bahagia, senang, gembira atas sesuatu yang diraih, yang dipunya; itulah bangga. Bangga bisa membuat melayang pada dunia lain dan akan terus menerus dihidupkan kembali itu di setiap saat. Mempertahankan bangga tetap berada pada hati dan pikiran menjadi kegiatan yang mengasyikan. Bercerita kembali tentang apa yang dibanggakan, menulisnya, mengingatnya dengan cara menghadirkan benda-benda atas sesuatu yang berkaitan; menjadi cara agar bangga itu tetap dingat, tetap hidup dan menghadirkan sensasi kebanggaan.

Bercerita dengan sering tentang sesuatu yang dibanggakan, akan menjadi benih kesombongan yang jika dilakukan terus menerus menjadi terasa menyebalkan bagi orang yang mendengarnya. Dan muncullah kemudian komentar, pamer, yang lebih lanjut melahirkan sebutan sombong.

Kegembiraan itu tidak mudah untuk didapat, dan jika dengan bercerita tentang apa yang dibanggakan bisa menghadirkan bahagia, kenapa harus di hindari? Bisa saja jawaban itu muncul dari orang yang berbangga dengan ceritanya. Dia bisa tak peduli dengan tanggapan dan komentar orang-orang yang mendengarnya. Padahal ada banyak cara lain untuk menghadirkan kebahagiaan. Akibat cara lain yang tak tertemukan yang tingkat kebahagiaannya setara, menjadikan berkabar dengan kebanggaannya itu menjadi sering berlanjut.  

Tidak mudah meredam rasa bangga, apalagi membuangnya sama sekali. Seseorang berbuat sesuatu untuk meraih prestasi, diantaranya karena ingin mendapatkan kebahagian dari rasa bangga itu. Menghilangkan rasa bangga sama sekali, sepertinya mustahil. Hal yang paling bijak adalah mengendalikan rasa bangga itu agar hilang kesan pamernya. Dalam mengendalikan, membutuhkan energi psikologis sekaligus juga akan kehilangan kebahagiaan. Menjadi kontradiktif ketika seseorang berbuat sesuatau karena ingin berbangga yang melahirkan bahagia, kembali harus mengeluarkan energi untuk mengendalikan rasa bangganya.

Dari bangga, akan lahir sebuah ‘aku’. “Aku yang bisa”, “aku yang lebih baik”, “aku yang tak ada orang lain yang bisa menyamai”, dan seterusnya. Perkembangan “Aku” pada kasus lain, menjadi: kalau nggak saya, pasti nggak akan begini, untung ada saya, coba kalau nggak ada saya, saya yang membuat jadi begitu, itu karena saya.  Perasaan “Aku” menjadi tumbuh berkembang dan menjadi bagian dari bangga. Bangga yang melahirkan kebahagiaan. Dan, jika sudah melekat dihati, ‘bangga’ dan ‘aku’, sulit sekali dilepas dari hati.

Menghilangkan rasa ‘aku’ memerlukan energi psikologis yang terus menerus. Jika ‘bangga’ dan ‘aku’ ; menghadirkan kebahagiaan, kenapa harus di buang atau diredam. Bukankah kita selalu mencari kebahagiaan? Itu bisa ditempuh jika kita bertutup telinga dan abai hubungan sosial.

Cara yang bisa ditempuh agar bahagia dengan meredam ‘bangga’ dan ‘aku’ adalah dengan meyakinkan diri jika tidak berkabar tentang kebanggan dan melepas ‘aku’ atau mengendalikannya merupakan sebuah kebahagiaan yang lebih nikmat ketimbang berbangga dan ber’aku’.

Mengendalikan, karena membunuh ‘bangga’ dan ‘aku’ sepertinya tidak mungkin.

22:55.28.03.2020