Sabtu, 28 Maret 2020

BANGGA


Merasa bahagia, senang, gembira atas sesuatu yang diraih, yang dipunya; itulah bangga. Bangga bisa membuat melayang pada dunia lain dan akan terus menerus dihidupkan kembali itu di setiap saat. Mempertahankan bangga tetap berada pada hati dan pikiran menjadi kegiatan yang mengasyikan. Bercerita kembali tentang apa yang dibanggakan, menulisnya, mengingatnya dengan cara menghadirkan benda-benda atas sesuatu yang berkaitan; menjadi cara agar bangga itu tetap dingat, tetap hidup dan menghadirkan sensasi kebanggaan.

Bercerita dengan sering tentang sesuatu yang dibanggakan, akan menjadi benih kesombongan yang jika dilakukan terus menerus menjadi terasa menyebalkan bagi orang yang mendengarnya. Dan muncullah kemudian komentar, pamer, yang lebih lanjut melahirkan sebutan sombong.

Kegembiraan itu tidak mudah untuk didapat, dan jika dengan bercerita tentang apa yang dibanggakan bisa menghadirkan bahagia, kenapa harus di hindari? Bisa saja jawaban itu muncul dari orang yang berbangga dengan ceritanya. Dia bisa tak peduli dengan tanggapan dan komentar orang-orang yang mendengarnya. Padahal ada banyak cara lain untuk menghadirkan kebahagiaan. Akibat cara lain yang tak tertemukan yang tingkat kebahagiaannya setara, menjadikan berkabar dengan kebanggaannya itu menjadi sering berlanjut.  

Tidak mudah meredam rasa bangga, apalagi membuangnya sama sekali. Seseorang berbuat sesuatu untuk meraih prestasi, diantaranya karena ingin mendapatkan kebahagian dari rasa bangga itu. Menghilangkan rasa bangga sama sekali, sepertinya mustahil. Hal yang paling bijak adalah mengendalikan rasa bangga itu agar hilang kesan pamernya. Dalam mengendalikan, membutuhkan energi psikologis sekaligus juga akan kehilangan kebahagiaan. Menjadi kontradiktif ketika seseorang berbuat sesuatau karena ingin berbangga yang melahirkan bahagia, kembali harus mengeluarkan energi untuk mengendalikan rasa bangganya.

Dari bangga, akan lahir sebuah ‘aku’. “Aku yang bisa”, “aku yang lebih baik”, “aku yang tak ada orang lain yang bisa menyamai”, dan seterusnya. Perkembangan “Aku” pada kasus lain, menjadi: kalau nggak saya, pasti nggak akan begini, untung ada saya, coba kalau nggak ada saya, saya yang membuat jadi begitu, itu karena saya.  Perasaan “Aku” menjadi tumbuh berkembang dan menjadi bagian dari bangga. Bangga yang melahirkan kebahagiaan. Dan, jika sudah melekat dihati, ‘bangga’ dan ‘aku’, sulit sekali dilepas dari hati.

Menghilangkan rasa ‘aku’ memerlukan energi psikologis yang terus menerus. Jika ‘bangga’ dan ‘aku’ ; menghadirkan kebahagiaan, kenapa harus di buang atau diredam. Bukankah kita selalu mencari kebahagiaan? Itu bisa ditempuh jika kita bertutup telinga dan abai hubungan sosial.

Cara yang bisa ditempuh agar bahagia dengan meredam ‘bangga’ dan ‘aku’ adalah dengan meyakinkan diri jika tidak berkabar tentang kebanggan dan melepas ‘aku’ atau mengendalikannya merupakan sebuah kebahagiaan yang lebih nikmat ketimbang berbangga dan ber’aku’.

Mengendalikan, karena membunuh ‘bangga’ dan ‘aku’ sepertinya tidak mungkin.

22:55.28.03.2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar