Minggu, 29 Maret 2020

OPOSISI KETIGA

djayim.com

Dalam permainan sepakbola yang normal, saat pertandingan di lapangan akan saling menyerang supaya gol yang diperoleh lebih banyak daripada lawan. Dalam pertandingan memperebutkan kekuasaan, menyerang lawan terus menerus belum tentu menjadikan menang. Rasa empati terhadap orang yang terus menerus diserang akan memunculkan pembelaan yang berakibatkan lawan menjadi menang. Kondisi ini disadari betul oleh masing-masing pihak  yang menjadikan selalu berusaha terukur dan tepat sasaran dalam menyerang lawan.

Tak ada kawan dan lawan yang sempurna. Semua punya sisi lemah. Sisi lemah itulah yang oleh lawan akan diekspos terus menerus sampai lawan benar-benar dalam posisi kalah. Dalam saling menyerang itu ada pemenang yang menjadi penguasa yang kemudian memperoleh fasilitas dan perangkat yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan kekuasaan yang salah satu caranya dengan menyerang lawan. Yang kalah juga terus menyerang dan menunjukkan keberadaannya. Media massa menjadi alat yang paling efektif untuk bertahan atau menyerang. Ketika semua media massa di manfaatkan untuk saling menjatuhkan, berita lahir dan tersaji setiap saat dengan begitu cepat. Pihak yang merasa terserang segera balik menyerang atau bertahan sambil sekalian menyerang dengan berbagai cara, keduanya dengan berbagai cara. Akibatnya, terjadi kesimpangsiuran arah berita. Tak tahu mana yang benar, mana hoax. Tak tahu mana produk buzzer, mana yang produk asli, mana yang benar, mana yang dipelintir, mana produk buzzer pemenang, mana produk buzzer pecundang. Semua simpang siur, akibatnya pembaca berita apatis dan pasif. Ini akan terjadi terus menerus jika hanya dua kubu, pemenang dan pecundang. Jika pun kemudian yang sekarang pecundang kemudian menjadi pemenang, permainan itu akan terus berlanjut turun temurun.

Diperlukan oposisi ketiga yang benar-benar berdiri diantara keduanya yang memandang dengan jernih dan obyektif setiap permasalan yang ada. Oposisi ketiga ini, harus menyatakan keadaan sesungguhnya dan sanggup memberi ‘teguran’ atau pelurusan masalah di kedua kubu. Jika ada yang perlu dibela, Ia harus tidak terpengaruh dan tidak mengambil keuntungan untuk dirinya terhadap kejadian yang menjadi perdebatan. Tidak bisa diiming-imingi apapun oleh si pemenang atau pun si pecundang.

Oposisi ketiga terdiri dari sekelompok orang yang tak silau oleh kekuasaan, fasilitas dan uang. Mereka sekelompok orang yang menikmati sebuah kejujuran dan juga menikmati setiap perjuangan yang tak berpamrih. Lantas, siapa, atau adakah orang yang bersusah payah menjadi oposisi ketiga dengan sama sekali tak berpamrih terhadap kekuasaan dan uang?

Oposisi ketiga harus tetap ada, siapapun pemenangnya. Oposisi ketiga bisa dilahirkan di diri kita sendiri denga berpendapat dengan obyektif tanpa tendensi apapun. Membuang semua kebencian, membuang rasa kekuasaan, melupakan pamrih dan menikmati kebersaman yang damai.

23:12.29.03.2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar