Label

Senin, 25 Juni 2018

MEMILIH DALAM PILKADA



“Bang, kamu terpengaruh nggak sama hasil lembaga survey”
“Terpengaruh apa? Lembaga survey apa? Maksudnya, materi yang di survey apa?”
“Survey pilkada bang?”
“Kalau saya nggak terpengaruh dengan hasil survey.”
“Brarti situ tidak rasionalis, sama seperti kalau di PDIP itu ‘pendeng gepeng’.”
“Bukan irrasional, Cuma saya sudah punya pilihan dan pilihan itu menurut saya sudah tepat. Menurut saya, lho. Nggak tau menurut orang lain yang belum punya pilihan. Yang jelas menurut orang yang pilihannya berbeda dengan saya, pasti mereka katakan saya tidak tepat dalam memilih. Kemungkinan tuduhan kurang tepat itu karena tidak sama pilihannya. Tapi, dalam saya menetukan pilihan saya pertimbangkan dari berbagai sisi, dari track record calaon, latar belakang dan keberpihakan dalam pemikiran si calon pada sesuatu masalah yang akan dan sedang dihadapi, meski unsur subyektifitas masih ada. Masih ada juga faktor like dan dislike.
“Berarti Abang belum obyektif juga dalam menentukan pilihan para calon Kada?”
“Mungkin begitu. Karena partai pedukung juga sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam menentukan pilihan.?
“Ribet ya Bang, milih saja banyak pertimbangan.”
“Nggak juga. Kan nggak mesti seperti penelitian dengan mencari data-data kemudian membikin simulasi dengan berbagai macam kemungkinan. Wong ini milih kok, suka ya dipilih, kalau nggak suka yang nggak dipilih.”
“Menurut Abang, lembaga survey itu netral nggak?”
“Ada yang netral, ada yang tidak. Kalau personil lembaga survey bukan orang jujur, pasti datanya dimanipulasi, dan ini pasti survey pesanan.”
“Kalau saya, sejak saya dengar kabar ada personil sebuah lembaga survey tertangkap OTT KPK, saya jadi nggak percaya pada hasil embaga survey. Ditambah lagi hasil survey yang tidak sesuai dengan hasil riil setelah dilakukan pemilihan dan penghitungan.”
“Tidak semua hasil survey itu pesanan. Ketika ada salah satau dari person lembaga survey melakukan kecurangan, bukan berarti bisa di srambah uyah, semua lembaga survey berlaku curang dan mau kerja karena mendapat ongkos dari kontestan.”
“Iya si bang, tapi... kesannya gimana gitu....”
“Semua punya kepentingan. Dan kepentingan itu tidak sama dan malah bisa saling berbenturan. Kepentingan yang berbeda itu dalam kelompok-kelompok, dalam partai-partai.”
“Lembaga survey itu punya kepentingan juga ya bang?”
“Pasti. Untuk apa mereka melakukan survey yang memakan biaya, tenaga, pikiran dan waktu jika tanpa ada kepentingan apa-apa. Mereka juga perlu duit untuk biaya hidup.”
“Berarti bisa pesan survey ya bang.?
“Mungkin, tapi saya tidak tahu persis, karena saya belum pernah melakukan survey.”
“Hasil survey bisa mempengaruhi pikiran pemilih ngggak ya bang?”
“Bagi pemilih yang belum menentukan pilihan mungkin ada pengaruh dalam memutuskan pilihan. Tapi kayaknya sedikit. Besar kecilnya, saya tidak tahu persis karena saya belum melakukan survey tentang pengaruh survey. Mungkin juga beda tempat tempat beda pengaruh sebuah hasil survey.”
Survey diperlukan nggak bang, dalam ajang pilkada?”
“Bagi kontestan itu penting, karena bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam melakukan kampanye dan pendekatan lain.”
“Kalau Abang jadi calon kepala daerah, mau sewa lembaga survey nggak?”
“Pakai. Kalau hasilnya saya unggul, saya minta untuk di siarkan secara terbuka, jika hasil survey saya kalah, data disimpan dan tak boleh kubu lawan tahu.”
“Agak curang juga kamu ya bang. Eh, maaf, bukan curang, tapi cerdik.”
“Kan harus menang, dan untuk  menang harus punya usaha untuk menang.”
“Gitu ya bang?”
25062018