Senin, 20 November 2017

PILIHAN KETUA RW

calon ketua RW berangkat ke TPS bersama-sama
 djayim.com
Jadi ketua itu amanah. Tanggungjawab dunia akherat, harus siap dikritik dan dicemooh jika melakukan kesalahan, meski tidak disengaja. Ketua dalam sebuah kelompok masyarakat level bawah seperti Rukun Tetangga ( RT ) atau Rukun Warga ( R W ) menjadi sebuah jabatan yang sering kali dihindari oleh penduduk setempat. Penghindaran ini karena jabatan ini sebuah pengabdian tanpa gaji setiap bulannya. Jika pun ada, hanya sekedar uang jajan yang jika diperbandingkan dengan jerih payah yang harus dilakukan, sangat jauh dari sekedar pantas. Karena tidak ada ongkos material atau finansial-lah, jabatan ini dihindari. Tapi, pemilihan seorang ketua RT atau RW yang banyak orang tak ingin menjabatnya, tetap saja menjadi hal yang menarik dalam “pesta demokrasi” rapat umum pemilihan ketua RW.


panggung calon ketua RW dan aparat desa yang hadir


Di lingkungan RW-ku, pemilihan ketua RW dibikin seperti pemilihan kepala desa. Ada panitia pemilihan sekaligus panitia pelaksanaan yang bekerja dengan sungguh-sungguh dengan dukungan dana yang digalang dari warga dalam wilayah. Dalam pelaksanaan juga berstandar pemilihan umum,  ada surat undangan pemilihan, ada surat suara, ada daftar pemilih, meja panitia dengan segala kelengkapan alat tulis, ada bilik suara, ada kotak suara,ada panggung calon ketua RW, ada saksi dari setiap ketua RT dan traktag untuk melindungi kegiatan tersebut dari panas atau hujan. Ada juga hiburan pentas tarian yang diiring kenthongan yang menyelingi dan menghibur masyarakat yang datang.
Dan yang tak kalah menarik, semua calon diberi kesempatan untuk menyampaikan visi dan misi jika terpilih. Dengan tanpa beban seperti penyampaian janji politik dalam pilkada, mereka satu persatu menyampaikan hal-hal yang biasa-biasa saja, ringan dan sering menimbulkan gelak tawa para pemilih dan pengunjung yang duduk di deretan kursi-kursi. Tak ada ambisi ‘harus jadi’ seperti dalam pilkada atau pilihan kepala desa. Semua siap kalah dan siap menerima siapa pun yang akan terpilih. Sebuah prosesi pemilihan ketua ( kepala ) wilayah yang berlangsung dengan menyenangkan.

para pemilih yang menunggui sampai penghitungan suara selesai

Karena tidak mendapatkan gaji yang memadai itulah yang membuat jabatan ketua RW atau RT menjadi kursi yang tidak diperebutkan. Kontradiktif dengan jabatan kepala daerah ( Bupati / walikota, gubernur ) atau kepala desa yang  jabatan ini sebuah prestise dan ada finansial yang bisa diperoleh di sana. Maka, berbagai upaya untuk bisa terpilih menjadi bupati, gubernur dan kepala desa, dilakukan oleh para calon. Bahkan jauh-jauh hari sudah melakukan kampanye terselubung untuk mendapatkan simpati dari para calon pemilih. Maka tak mengherankan jika sepanjang proses dan setelah pemilihan tersebut sering terjadi gesekan-gesekan sosial yang tak jarang muncul tindakan anarkis atau tindakan kecurangan dari pihak-pihak yang ikut berkompetisi, baik dari si calon atau dari pendukungnya.

reapitulasi perolehan suara
Jika saja sebuah proses pemilihan kepala daerah (kepala desa, Bupati / walikota, gubernur) berjalan seperti pemilihan ketua RW atau RT, kegaduhan politik yang banyak sekali menguras energi, tentu dapat dihindari dan menjadi energi yang positif dalam berkehidupan bernegara. Saling mengisi dan mendukung untuk kemajuan yang baik dan sejahtera bagi semua. Dan, nampaknya itu hanya sebuah ‘jika saja’. Karena uang dan prestise, yang menyebabkan pemilihan ketua RW / RT menjadi berbeda dengan pemilihan kepala daerah. Uang menjadi alasan sesuatu tujuan yang sama ( memperoleh kursi ) menjadi berbeda dalam proses pelaksanaan dan setelahnya. Kenyamanan sebuah pelaksanaan demokrasi sangat terpengaruh oleh uang. Uang menjadi bisa untuk membeli segalanya, termasuk jabatan dan harga diri. Dan prestise ikut ‘mendukung’ kemampuan uang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar