Kamis, 16 November 2017

kereta sore

dua garis baja di bawah itu, sudah berpuluh kali mengantarku.
juga ribuan yang lain.
di kanan kiri, sepanjang yang terlewati. tertera banyak sekali cerita
di musim penghujan ini, para petani sudah turun ke sawah, bercengkerama dengan air dan tanah. dengan lumpur berbau harum daun-daun busuk yang menyegarkan. keringat yang luluh bersama air hujan, tak membekas di baju. caping yang dipakai, tak cukup mampu menjaga kulit kepala dan  rambut agar tetap kering. langit yang berair dan angin yang membuat jarum-jarum hujan turun miring, membuat mereka tak tahu waktu, kapan harus pulang, untuk
menyiapkan makan malam.
memberi makan kambing, mengandangkan ayam dan itik. menutup jendela, menyalakan lampu di ruang tengah. karena, anaknya yang masih sekolah belum pulang. karena yang sudah lulus sekolah telah lama di kota, tak mau jadi mau petani seperti ayah ibunya. karena menjadi petani susah untuk menjadi kaya.

di gerbong-gerbong eksekutif, para juragan menghitung modal dan untung saat musim panen. duduk bersilang kaki, berbatuk kecil dan tersenyum sedikit di salah satu ujung bibir. menjentikan ujung jari dan berucap. ‘terimakasih’.

16 Nop 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar