Sabtu, 10 Juni 2017

PRASASTI TERLENTANG

Cerpen


Jika Pada batu itu terdapat sebuah gambar bekas orang terlentang bertahun-tahun pada satu tempat, sehingga timbul membekas. Bekas tungkak kaki, betis, bokong, punggung, kepala, semua tergambar dengan jelas. Untuk bagian tangan agak tak jelas, ada beberapa bekas dengan lengan yang sama dan cakaran-cakaran kuku. Jika bekas telapak kaki Raja Purnawarman, di prasasti Ciampea sebagai simbol atas kekuasaannya di wilayah itu. Gambar di batu yang ini belum ada peneliti yang membacanya. Belum ada tulisan yang bisa di baca. Ada garis-garis seperti gambar uap yang menari, seperti jejak kaki-kaki penari balet.
Sebuah cinta sejati. Jaka Watuan dan Sri Wangi. Semua indah, sederhana, mengesankan tak ada perasaan berat, saling mengisi, saling mengerti, saling memahami. Semakin bertambah waktu, semakin tumbuh cinta mereka. Pada sebuah rumah sederhana mereka tinggal. Di tepi sebuah sungai yang mengalirkan air jernih sepanjang tahun. Di seberang sungai, sawah tempat mereka menanam padi dan sayur-sayuran, meski tak begitu luas, cukup untuk makan sehari-hari. Jika padi mulai menguning mereka disibukan mengusir burung pipit yang datang bergerombol memakan bulir-bulir padi yang padat berisi. Jaka Watuan membuat bambu yang dibelah digantungkan pada tiang-tiang bambu yang ditancapkan di beberapa tempat. Tiang-tiang bambu itu diikat dengan temali sambung menyambung yang ujungnya diikatkan  pada tiang teras rumah. Jika temali itu ditarik-tarik, maka bilah bambu itu menimbulakn bunyi sehingga burung-burung pipit akan terbang menjauh.
Mereka dikaruniai dua anak laki-laki yang  sehat. Selisih tiga tahun umurnya, yang pertama umur lima tahun. Tak ada tanda-tanda Sri Wangi punya sakit berat, sampai pada suatu malam yang dingin dan pekat, ia meggelinjang sakit perut. Ia mengerang menahan sakit yang tak pernah sebelumnya dirasakan. Keringat dingin merembes dari seluruh pori-pori kulit.
Seluruh keluarga sibuk, takut, tak tahu apa yang terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan untuk menolong Sri Wangi. Dalam kekalutan, Suarman, kakak Sri Wangi, segera memanggil orang pintar yang biasa bisa menyembuhkan penyakit. Jaka Watuan berlari ke dokter terdekat, memohon pertolongan segera. Ketika Suarman dan Jaka Watuan pulang, Sri Wangi sudah tiada, wajahnya sudah tenang tanpa ada rasa menahan sakit. Jaka Watuan berdiri kaku tak bergerak, tak menangis, tak bicara, tak percaya keadaan. Diam tak mengerti.
Kabar kematian segera merebak, sekejap seluruh penduduk desa tahu. Kerabat bergegas datang, berbela sungkawa, menyumbang tangis histeris, dramatis. Di rumah Jaka Watuan, seluruh kesedihan menumpuk di situ. Paginya, sebelum matahari menyengat bumi, jenazah Sri Wangi di kebumikan. Beberapa kerabat bertahan sampai sore ikut menyangga beban duka. Malamnya, kerabat dan tetangga melakuakn tahlilan, mendo’akan arawah Sri Wangi. Seperti kematian yang lainnya, kesedihan perlahan menguap. Waktu menjadi obat yang baik dan tak tergesa-gesa bagi kerabat dekat. Dan bagi Jaka Watuan dan kedua anaknya, mereka tak mempercayai Sri Wangi, istri dan ibu, telah mati. Langit terus berganti-ganti malam-siang. Semua menguap tentang kematian Sri Wangi, dan tidak bagi Jaka Watuan.
Sejak malam pertama kematian istrinya, Ia selalu datang ke makamnya dimalam hari, Ia tunggui sampai pagi. Beberapa kerabat yang tahu mengkhawatirkannya, tapi Jaka Watuan tetap selalu menunguinya tak peduli hujan, tak peduli angin malam yang tajam. Ki Sariko, saudara jauh Jaka Watuan yang rumahnya tak jauh dari makam kadang sering membujuk untuk segera pulang dengan merayunya, “Kamu harus ikhlas Jaka, kasihan anakmu di rumah jika sering kau tinggalkan begini.” Kadang Jaka Watuan menurutinya, kadang hanya memandangi dengan tatapan mata yang tak dapat dimengerti.
“Kau tahu paman, istriku sering menemuiku, hampir setiap aku ke sini. Meski kadang hanya tersenyum saja kemudian pergi lagi. Tapi itu sudah cukup bagiku, paman. Kemarin malam  Ia mengajakku ke puncak bukit Wungu. Tapi belum aku turuti. Anak-anak belum dikasih tahu. Mungkin besok malam aku akan bertemu di sana.”
Ki Sariko terdiam. Ia maklum dan hanya bisa merayunya agar segera pulang untuk menjaga kesehatan dan juga kasihan pada anaknya di rumah. Sejak malam itu, saat malam berangin tenang, saat bintang bergemerlap, saat sinar bulan membasuh malam, saat tak ada angin, Jaka Watuan selalu ke puncak bukit Wungu setelah sebelumnya ke makam istrinya. Sebuah bukit yang di tumbuhi pohon Wungu besar dengan lempengan-lempengan batu pipih yang berderet berjajar. Paginya, Ia kadang bercerita pada anaknya.
“Semalam bapa ketemu ibu.”
“Dimana pak? Kenapa saya nggak di ajak? Saya kan kangen sama ibu.”
“Kamu belum boleh sayang. Jika kamu maksa, nanti ibu jadi nggak bisa pulang ke rumah. Kamu harus nurut jika kamu ingin ibu pulang.”
“Kapan ibu pulang pa?”
“Nanti. Ibu akan pulang dan bersama lagi.”
“Saya bisa peluk ibu pa?”
Jaka Watuan terdiam. Ia berat untuk mengatakan iya karena itu berbohong.  “Bisa, tapi hanya hati dan perasaanmu yang memeluk ibu.”
“Maksud bapa?”
“Kau akan tahu nanti jika sudah dewasa.”
“kapan itu pak?”
“Nanti.”
Jaka Watuan bercerita tentang peri-peri di surga yang menemani ibunya. Yang selalu mendengar apa yang dikatakan si ibu, yang selalu bertawa ria dan bermain-main di taman di setiap ada mau, yang berjanji akan turun ke bumi untuk menemani anak-anaknya saat bulan setengah di malam yang tak ada hujan. Sampai anak-anaknya terkulai diberangus kantuk dan tidur bersama mimpi kelanjutan cerita bapanya.
Saat malam dengan semeribit angin membawa wewangian lembut dari bukit Wungu, Jaka Watuan faham betul. Ia akan menengok anaknya di kamar tidur, membisikkan kata, “tidur yang nyenyak nak, sampai bapa pulang.” Mandi lagi, membersihkan badan dari keringat, membasuh rambut dan muka. Duduk bersila sebentar dan mengucap, “aku akan datang untukmu. Untukmu.”
Lewat pintu belakang Jaka Watuan keluar rumah, berhati-hati menggeser pintu anyaman bambu agar tak berderit. Berdiam sebentar dan mengeluarkan nafas perlahan di depan pintu setelah menutupnya. Berjingkat-jingkat beberapa langkah, kemudian mantap menuju ke puncak bukit Wungu. Langkahnya seperti di atas angin, tak menimbulkan bunyi. Menyelinap jika ada orang yang mungkin bisa tahu kepergiannya. Nafasnya yang mestinya terengah-engah, halus nyaris tak bersuara. Matanya tajam menembus langit malam yang hanya di sinari bintang dan bulan yang terhalang awan beringsut.
Setengah jam berjalan, Jaka Watuan sampai pada puncak bukit. Pada sebuah batu pipih yang terpasang mendatar di tepi jalan paling ujung, Ia duduk mengatur nafas dan sedikit memejamkan mata. Ia nikmati dengan sepenuh jiwa luluran angin yang menyeka keringatnya perlahan. Dari jalan lain, di depannya, Sri Wangi datang. Berurai rambut panjangnya, sedikit berkeringat di pipi dan jidatnya. Senyumnya masih senyum yang sama, sedikit dan sederhana dengan aura yang menggetarkan hati Jaka Watuan. Malam yang temaram menjadi terang bagi Jaka Watuan. Hawa yang dingin menjadi hangat menggairahkan. Bunga-bunga segera bermekaran disekitarnya dan rerumputan beringsut berdiri menyambut, menggetarkan diri melepas embun di daun-daunnya.
Dengan lirih Jaka Watuan mendendang lagu merdu, sepenuh jiwa dan setulus ikhlas hati. Nada romantis alami. Sri Wangi menyambutnya, nada-lirihnya menyampaikan keutuhan sebentuk cinta dan kasih.
Tanpa kata-kata, tanpa tegur sapa. Keduanya berbicara pada ruang dunia berbeda. Terdiamlah dedaunan. Terlenalah hewan malam. Angin berhenti sejenak untuk menikmati wewangian yang tak menyengat tak juga tipis. Di langit, segerombolan awan putih menyelinap di bawah bulan yang sinarnya terpendar redup. Burung-burung hantu terkesima ketika Sri Wangi menjentikkan jari manisnya memulai menari. Pinggangnya melentur mengimbangi bokongnya yang menjenthir dibarengi hentakan dagunya sambil tersenyum dan mata berbinar. Melayanglah Jaka Watuan, mulutnya menarik nafas begitu banyak dan menghembuskan dengan perlahan. Bibirnya menyiulkan suara melengking, turun ke nada rendah sampai tak terdengar. Gemericik angin menampar muka dedaunan, burung-burung malam bernyanyi, hewan melata mendesis, jangkrik dan orong-orong berbunyi teratur bersahutan, berritme seperti orkestra di savana nan luas. Terbawa angin, terbang melayang di awan-awan, di langit, menuju bulan yang selalu tersenyum untuk Jaka Watuan dan Sri Wangi. Rancak kaki keduanya berdecak-decak, menghentak tanah.
Jaka Watuan dan Sri Wangi menari, erotis. Seperti tarian kamasutra. Berjam-jam tak kenal lelah, berlumuran keringat. Di bawah, di kaki bukit, di rumah-rumah yang mengelilingi bukit Ungu, nada dan semangat Jaka Watun – Sri Wangi menular begitu cepat. Siapa pun yang mendengar nada orkestra alam dari bukit Wungu, bangun dari tidurnya dan bergairahlah mereka menyelami malam. Sampai pagi, sampai warna kemerahan di punggung bukit Timur datang tersenyum.
Bertahun-tahun, ketika malam berangin tenang tanpa gerimis atau hujan dan anak-anak Jaka Watuan tidur tenang menunggu ibunya turun dari surga, suara orkestra alam datang turun naik seperti gelombang ombak, mendayu-ndayu merambat di atap-atap rumah bercerita tentang Adam-Hawa saat bertemu pertama kali di dunia usai terpisah.
Tak satu pun orang yang berani beranjak ke puncak bukit Wungu untuk melihatnya, karena tak ada orang ke sana yang pulang dengan selamat. Dari ceritera, beberapa orang yang mencoba naik saat orkestra alam terdengar di malam hari, tak diketahui apa yang terjadi padanya, bahkan jasadnya pun tak pernah ada yang tertemukan. Maka bukit Wungu pun menjadi tak terjamah. Hanya Jaka Watuan yang ke sana, itu pun tak pernah ada orang yang melihatnya. Hanya katanya, hanya mungkin.
Ketika anak-anak Jaka Watuan telah beranak pinak, dan bertahun-tahun ayahnya tak diketahui rimbanya, mereka naik ke atas bukit Wungu. Tak ada siapa-siapa di sana. Lengang, sepi. Hanya angin yang bergerak lembut datang tiba-tiba, menyambut. Tapi, di sekitar batu pipih yang terpasang mendatar di bawah pohon Wungu, tak ada sampah daun kering yang berserak. Sekira luas tiga kali empat meter persegi itu, seperti habis disapu, rapi, tak ada rumput yang tumbuh liar.
Di batu pipih itu tergambar lekukan tubuh sedang terlentang. Ada lekukan gambar empat tangan, sepasang tumit kaki dan lekukan gambar sepasang jari-jari kaki. Kedua anak Jaka Watuan duduk di sebelahnya. Terdiam, mengamati gambar lekukan tubuh di batu pipih di depannya. Batu berwarna hitam kebiru-biruan yang tak sedikit pun terdapat lapuk.
Mereka berdo’a. Angin berkesiur pelan, sesaat lengang. Kemudian orkestra alam yang lama tak terdengar, membubung lagi ke udara. Menyeruak ke langit dan tertelan awan. Pada batu sebesar kepala di tepi batu pipih, anak-anak Jaka Watuan memahat nama, Jaka Watuan – Sri Wangi. Hanya itu.
18 Sept 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar