Kamis, 01 Juni 2017

sirine pendek

Cerpen

Sederhana saja. Sebuah mobil yang dikendarai seorang wanita muda menjerit klaksonnya, seperti sirene pendek, di pertigaan lampu merah pas seorang pengendara motor menghentikan motornya sedikit mendadak tepat disampingya. Tak ada tatapan atau reaksi apapun dari wanita muda itu. Juga, nampaknya tak juga ada isyarat kalau suara klaksonnya sebagai peringatan bagi lelaki yang terkejut dan hampir terlonjak. Tetapi lelaki pengendara motor itu segera turun dari motornya dengan gerak geram. Dia ketok pintu mobil dengan keras. Wanita itu dengan nervous menrunkan kaca mobilnya, “maaf mas.”
“Jantung saya mau copot tahu, enak sekali maaf-maaf, mentang-mentang kaya, punya mobil klakson sembarangan.”
“Maaf mas, kepencet dagu tadi, saat mau mbeneri sandal.”
“Alah... alasan. Pengin saya bunuh apa?”
“Maaf mas. Maaf.”
“Kau kan, yang minggu lalu juga pencet sirene sembarangan?”
“Saya baru lewat di sini dalam bulan ini mas, sungguh.”
“Omong kosong!! Kau yang kemarin hampir menabrak adiku di jalan Sudirman kan?”
“Bukan!” Wanita itu menjawab bernada tinggi dengan sorot mata kesal tapi berusaha disembunyikan.
Bruakkk.... Kaca pintu pecah di hantam helm. Tangan berkaos tangan hitam menjangkau leher. Di belakang sepuluh klakson menjerit-menjerit, ada juga suara sirene. Lampu hijau telah nyala lebih dari setengah menit. Gas mobil di injak dan lelaki pemecah kaca itu terseret. Badannya terpental dan kepalanya membentur besi pelindung tiang lampu merah. Darah sedikit menetes, tapi nampaknya luka dalam membuatnya tak bergerak, pingsan. Dua pengendara motor mengejar dengan menarik gas penuh amarah. Dipepetnya mobil sedan itu dan dibentak agar berhenti. Mobil berhenti. Si sopir yang perempuan muda berkulit putih berkaca hitam menggigit bibirnya, ketakutan dan gemetar.
“Maaf, saya nggak sengaja.”
“Kenapa mau lari.”
“Bukan lari, mau berhenti di tempat yang aman, agar tak menggangu yang lain.”
“Alasan..!!!”
Bruakkkk.... Kaca di pecah, muka di tonjok. Rambut dijambak dan dan diseret keluar dengan kasar. Sandal yang dipakainya ikut terpental. Angin bertiup panas membawa debu kasar. Berkerumunlah orang-orang. Motor-motor dan mobil-mobil diparkir sembarang. Macet. Beberapa orang melerai, menahan tindakan kasar dua orang itu. Meski tetap ngotot mau mencederai, berhasil juga ditahan banyak orang dengan memeganginya beramai-ramai. Dua orang itu tenang sejenak, berjalan pelan ke motornya, menaiki. Sebelum menarik gas motornya salah seorang sempat mengancam dengan nada geram, “saya tahu siapa wanita itu. Ia bagian dari komplotannya. Ini sudah direncana. Kami tak akan tinggal diam!!”
Seperti lepas dari garis start balapan, mereka meraung-raungkan motornya dan melesat ke arah kota diikuti seorang yang tadi tampak pingsan. Baju lengan panjang warna abu-abunya berkelebat-kelebat dicabik-cabik angin. Dua orang membantu wanita muda itu masuk kembali dan memberi aba-aba parkir untuk melanjutkan perjalanan. Sepeninggal wanita muda itu, masih banyak orang yang masih di situ melepas rasa penasaran ingin tahu.
“Kenapa mas tadi?”
“Biasa mas. Di sini sering terjadi hal semacam itu.”
“Kejadiannya sama?”
“Tidak. Tapi kadang mirip-mirip.”
“Waktunya? Pagi? Siang? Sore? Malam?”
“Tidak tentu waktu pak. Kadang lama baru ada, kadang sering.”
“Di perempatan dekat tinggal saya juga begitu,” ujar seseorang yang baru datang menyela, “dan, sering sesuatu yang saya kira biasa saja menjadi hal yang besar, rusuh, tawuran. Entah siapa dengan siapa, entah kelompok mana dengan kelompok mana? Bingung saya jadinya. Dan kemudian menjadi berita nasional di seluruh televisi, di semua media sosial, di dunia maya. Riuh. Dan yang saya lebih heran lagi, beritanya menjadi jauh sekali dari kenyataan yang saya lihat. Menjadi berubah, tergantung pada kepentingan yang menulis.”
“Masa begitu pak? Kok sama seperti di sini?”
“Di tempat kami juga begitu pak.”
“Masa? Kok sama yah? Bisa begitu.”
Kerumunan itu mereda dan kembali semula. Deru berbagai kendaraan dan asap yang menyengat hidung berlomba-lomba mengotori udara. Langit kembali membara menguras keringat yang bersembunyi dibawah kulit berdaki. Beberapa orang menyeberang di zebra cross, beberapa orang menyeberang sesuka hati di mana tempat hendak memotong jalan, melewati pembatas jalan terbuat dari plastik warna oranye yang tiga diantaranya tergeser dari tempatnya.
Tak ada yang mengira, tiga orang pengendara motor berknalpot memekakan gendang telinga berhenti kasar di tempat bekas mobil tadi berhenti. Memarkir motor semi gede malang melintang menantang kepatutan.
“Kamu tahu siapa yang memukul wanita yang di mobil, tadi?” seorang dari mereka bertanya membentak sambil memlototkan matanya yang berkacamata hitam pada anak muda penjaga warung.
“Tidak bang.”
“Masa’ tidak tahu?! Kau lihat kan kejadiannya?”
“Lihat bang.”
“Terus, kenapa nggak tahu?”
“Apa harus tahu?”
“Harus..!”
“Saya bukan petugas sensus bang! Apa yang mengharuskan saya harus tahu? Mau apa jika saya nggak tahu?”
Dua temannya, bercelana jeans ketat berjaket kulit nampak geram menahan emosi. Dikepalkan kuat-kuat jemarinya, berdiri mengangkang, dengan bibir tersenyum sinis meremehkan. Badannya yang sedikit kekar bersikap menantang semua orang.
“Buanyak bacot kamu! Bener tidak tahu?” Nadanya meninggi, tangannya mengepal menunjuk muka.
Pemuda penjaga warung itu terdiam tenang. Saat tangan orang itu ditonjokkan ke muka, si pemuda dengan cekatan menangkapnya, memelintir, sebuah hook kiri menghajar rahang. Orang itu menggelosor. Dengan tambahan tendangan di tulang rusuk, cukup membuat orang itu diam meringkuk mencium aspal. Tak terima temannya di hajar, dua orang yang lain melompat menyergap. Dan dengan cekatan, layaknya Jacky Chen,  si pemuda bergerak cepat menyarangkan telapak kaki kanan kirinya ke kedua muka. Mereka terlempar ke belakang, jatuh tersungkur. Pemuda itu berjalan tenang ke warung, masuk ke ruang tengah, menghabiskan kopinya yang tinggal seperempat gelas, meraih HP, mencari nama kontak dan menelponnya, “Saya kira kamu sudah tahu.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut pemuda tenang yang membuat tiga orang sok jagoan tersungkur mencium aspal. Di luar rumah, tiga orang itu berdiri, menyetarter motor, menggeber-geber sebentar dan lari ke arah barat. Kembali seperti biasa di tempat itu.
Tak lebih dari sepuluh menit, tiga orang yang satu diantaranya terseret mobil, mengendari motornya beriringan dengan kecepatan sedang ke arah utara. Tak menerobos lampu merah, tidak juga melanggar marka jalan.
Di ujung jembatan tempat pemuda pemudi menghabiskan waktu sorenya menikmati aliran sungai, tiga orang berjaket kulit hitam berhenti. Seorang yang tersungkur pertama, meraih HP dari saku dan menelpon seseorang, “saya pikir pasti kamu sudah tahu.” Tak ada kata-kata lain, sepertinya di ujung sana sudah sangat mengerti kalimatnya. Mereka berbalik arah, dan melarikan motornya dengan sedang.
Saat terjadi serempetan mobil sedan dan motor bebek di perempatan lampu merah di tengah kota, di sebelah utara, asap tebal membubung di atas sebuah mall terbesar. Serentak sirene truk pemadam kebakaran meraung-raung menyingkirkan pengendara lain, datang dari empat penjuru angin. Mobil dan motor menepi memberi ruang. Komandan-komandan Polisi memerintahkan anak buahnya untuk segera merapat ke pusat asap. Jalanan menjadi kacau dan macet.
Dari dalam mall yang pucuknya terus membubungkan asap tebal, berlarian ribuan orang. Membopong barang-barang , meyeret, memanggul. Berlarian menyelamatkan diri, berlari-lari dan ada yang mencuri. Berteriak-teriak, “Awas.... awass... cari selamat.....!”  Semua cari selamat. Di gedung sebelahnya juga, berlarian tak tentu jalan. Berteriak-teriak, melonglong-longlong. Anak-anak menjerit-jerit mencari bapak-ibunya, gadis-gadis bersembunyi, pemuda-pemuda menghunus kayu dan golok. Orangtua-orangtua berlari-lari mencemaskan anak-anaknya. Asap membubung lagi di sebelah timur, di sebelah selatan, di sebelah barat. Penghuni seluruh kota keluar rumah. Berteriak-teriak histeris, “kota kita sudah tidak aman...”
“Tapi kita mau kemana”?
“Ke kota sebelah.”
“Disana juga tak aman.”
“Disana juga begini?”
“Iya.”
“Lho, tahu dari siapa? Kok bisa tahu?”
“Iya.’
Seluruh lampu pengatur lalu lintas di perempatan dan pertigaan jalan tak berfungsi. Ada yang mati, ada yang berkelap-kelip berganti warna nyala tak teratur, ada yang mati satu arah jalan. Jaringan listrik terputus di tempat-tempat umum. Pipa-pipa air tersumbat. Karyawan SPBU berlari ketakutan tempat kerjanya dibakar. Semua kekacauan terjadi dengan sangat cepat seperti efek domino. Di langit, asap megumpul menggumpal memayungi, diam tak bergerak. Tak ada angin bertiup yang membawanya.
Menjelang senja kekacauan dan asap masih membubung di banyak tempat di empat penjuru angin. Berbagai upaya seperti sia-sia, karena satunya beres teratasi, muncul lagi permasalahan baru yang lebih menakutkan. Tak ada seorang pun yang berani di dalam rumah, karena dapat saja sewaktu-waktu terbakar dan meledak.
Seorang wanita muda berkulit putih berkaca mata hitam mengendarai mobil sedan, melaju dengan kecepatan sedang menelusuri jalan-jalan protokol, jalan-jalan pemukiman. Kaca pintu depan kanan tampak baru dan dibiarkan tanpa dilapisi kaca-film seperti kaca lainnya. Kepalanya tegak lurus kedepan, rambutnya tergerai sebahu masih nampak basah dan tak terlalu lebat. Sesekali matanya melirik spion meyakinkan kanan kiri aman dari kendaraan lain yang sebenarnya jalanan sedang sepi.
Di depan alun-alun, Ia berhenti. Tanpa keluar dan tak mematikan mesin, Ia menelpon, “cukupkan saja. Jangan terlalu parah. Akan repot nanti jika terlalu parah.” Nadanya datar tanpa ekspresi, tanpa emosi.
“Siap boss.” Yang di ujung sana menjawab tegas tanpa ragu.
Wanita itu menelpon yang lain lagi, enam kali lagi, dengan kalimat yang sama, dengan nada dan intonasi yang sama dan mendapat jawaban “siap boss” dari orang yang posisinya sudah diketahuinya.
Cukup 25 menit, asap-asap dari gedung-gedung yang  terbakar, reda. Sebelum adzan maghrib berkumandang, kondisi kota sudah kembali normal. Lampu-lampu pengatur lalu lintas dan lampu-lampu jalan berfungsi kembali. Ibu-ibu kembali menonton sinetron di televisi yang tak pernah ada endingnya, yang lakonnya jika bicara dalam batin suaranya terdengar jelas, takut ekspresi wajahnya tak sesuai. Anak-anak kembali menekuri gadget. Bapak-bapak sibuk berkomentar di grup WA.
Esoknya, ketika wanita muda berkulit putih berkaca mata hitam, di lampu merah perempatan jalan, klakson mobil sedan yang ditumpanginya menjerit mengagetkan pengendara di sekitarnya, semua diam. Membiarkan seolah tak terjadi sesuatu yang mengagetkan. Ketika lampu hijau nyala, semua berlari tanpa menghentak gas. Wanita muda itu memutar lagu regae, tak terlalu keras tak terlalu lemah. Dagunya mengikuti alunan musik dan bibirnya tersenyum berubah-rubah.

November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar