Kamis, 01 Desember 2016

INI TENTANG SEANDAINYA DAN MUNGKIN ( AHOK )

Seandainya dan mungkin itu dua buah kata yang mudah untuk di kembangkan ke berbagai arah. Berbagai bahasan bisa saja mengarah ke sesuatu yang sebelumnya tidak terduga. Melenceng dari awal bahasan. Bisa saja mengarah pada sesuatu hal yang lebih mengasyikan, lebih menakjubkan, inspiratif atau bisa saja malah mengarah pada hal yang menjemukan dan tidak berkembang menjadi sebuah bahasan yang mengasyikan. Seperti para pelawak di panggung yang pandai berimprofisasi sahut menyahut, sambung menyambung yang meletupkan sebuah kejutan yang melahirkan tawa segar yang sebelumnya tak terduga.

Coba, seandainya ( 1 ) besok tanggal 12 Desember 2016, aksi menuntut Ahok, Gubernur DKI yang tersangka penistaan agama yang diberi label Aksi Bela Islam III, berjalan damai, santun, tanpa kerusushan, tanpa sampah berserakan dan tanpa korban jiwa seperti pada aksi tanggal 4 November 2016, pokoknya semua berjalan indah dan Islami. Tapi, apa yang diharapkan oleh para peng-aksi, tidak dipenuhi oleh pemerintah yang sedang berkuasa, berkesan mengulur waktu sambil mencari berita (booming) lain agar masalah Ahok terlupakan. Seandaianya begitu apa yang terjadi?

Maka ini akan melahirkan berbagai macam mungkin. Mungkin akan ada aksi lagi yang dengan cara lain. Mungkin ada cara lain yang lebih halus atau bahkan lebih kasar agar tuntutannya terpenuhi. Mungkin warga DKI yang punya hak pilih banyak yang tadinya mendukung Ahok berbalik menjadi pendukung calon lain. Jika demikian, menjadi sebuah mungkin bagi Pasangan Agus-Sylviana dan Anis-Sandiaga merubah strategi ‘menampung’ suara Ahok yang keluar karena Aksi Bela Islam III. Mungkin itu menjadi berbenturan bagi dua pasangan  yang menyikapi mungkin yang sangat dinamis. Berbagai cara dan strategi untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terus menerus bergerak liar mungkin sudah disiapkan dengan mungkin-mungkin yang lain yang mungkin timbul.

Mungkin penguasa menyiapkan strategi lain agar kekuasaan dan kekuatan pemerintah tetap tegak berdiri. Atau mungkin, sekarang pun mereka sedang menimbang-menimbang langkah apa yang harus dilakukan sekarang sampai besok pagi, sampai lusa, sampai benar-benar bisa terkendali. Mungkin ada strategi ‘pengamanan khusus’ pada seseorang atau pada kelompok tertentu agar tidak menjadi sebuah gerakan yang meluas ke seluruh wilayah Indonesia dan kekuasaan pemerintah tetap tegak sampai habis masa kontraknya. Segala kemungkinan di catat, di jejer dan dihitung kemungkinan-kemungkinan terbesar yang mungkin timbul dengan segala akibat dari berbagai mungkin yang bercabang-cabang.

Mungkin pembela dan pendukung Ahok terus berkelit sambil mencari kekuatan baru. Mungkin yang berkepentingan dengan politik dan kekuasaan “melaui” Ahok terus menggalang masa dan mencari cara agar Ahok bisa maju dalam Pilgub DKI tahun 2017. Dan tentu berusaha sekuat mungkin agar perolehan suaranya melebihi 50% agar tak perlu ada pemilihan kedua. Dan jika Ahok sampai terpilih jadi Gubernur di Pilkada Februari 2017 nanti. Dan mungkin saja kemudian kawan dekat politiknya malah berbalik arah berusaha agar Ahok jadi dipenjara. Dan jika sampai Ahok dipenjara, tentu wakilnya yang naik jadi Gubernur dan kursi wakilnya jadi rebutan. Dan yang merasa partai  besar pasti tunjuk jari secepat mungkin agar kadernya duduk di kursi yang ditinggal naik. Mungkin sekarang sudah ada yang mempola skenario semacam itu.
Itu mungkin dari seandainya ( 1 ), yang masih banyak sekali mungkin yang lain yang belum tertulis di sini.

Coba, seandainya ( 2 ), aksi terjadi chaos, rusuh, terjadi adu fisik dan timbul korban jiwa. Meski umat Islam menjaganya agar tetap damai, tenang, dan tertib. Pihak-pihak yang menginginkan terjadi kerusuhan bisa saja memancing masa, dengan berbagai cara : menyebar isu, berita hoax, memprovokasi dll.

Akan banyak lagi melahirkan mungkin. Peristiwa 98 bisa terjadi, benturan SARA mungkin bisa saja terjadi dan meluas menjadi kekacauan yang melebar. Dan yang paling menakutkan adalah sebuah gerakan yang mengancam keutuhan NKRI. Dan sangat mungkin keutuhan NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika terancam. Nah, untuk mencegah ini, rupanya pemerintah sudah menyadari, salah satunya pada upacara Bhineka Tunggal Ika, di tekankan tentang kebhinekaan yang ada di negeri kita tercinta. Di kota saya pun diadakan upacara itu. Dan, elite-elite politik pun terus berkomunikasi, mencari titik temu yang tepat untuk meredam segala penjuru kepentingan yang terus berdesakan.

Coba, seandainya ( 3 ), aksi berhasil mendesak pemerintah memenjarakan Ahok. Dan Ahok dipenjara.
Apa mungkin pendukungnya Ahok berdiam diri menerima keputusan. Mungkin sekali mereka mencari cara lain agar sosok Ahok-Ahok lain lahir agar pintu kepentingannya terbuka untuk kelompoknya. Dan para pengacara berlomba membelanya mencuri perhatian para ‘orang bermasalah’  dan sekaligus mendapat upah. Karena membela kasus berat akan membuat pengacara berkibar dan menjadi pilihan bagi orang-orang yang bermasalah dengan hukum.

Coba, seandainya ( 4 ), aksi rusuh tapi tuntutannya tidak terpenuhi dan Ahok tetap melenggang dalam PilGub dan jadi.

Mungkin akan ada aksi lebih besar lagi, atau mungkin para peng-aksi kemudian lelah dan menurun rasa kepeduliannya untuk beraksi.

Coba, seandainya ( 5 ), Ahok mundur dari calon gubernur dengan syarat tidak lanjutkan permasalahan tuduhan penistaan agama.
Mungkin ada pihak yang menerima, mungkin saja ada pihak yang ingin tetap dituntut sesuai hukum yang berlaku, dan mungkin ada juga ingin Ahok di hukum sesuai keinginannya tanpa mengindahkan hukum yang berlaku.

Coba, seandainya ( 6 ), Ahok mundur dan menjadi pendukung aktif salah satu pasangan pesaingnya.
Mungkin, pihak yang didukung Ahok bisa bertambah suarnaya. Atau mungkin bisa saja malah membuat pendukung setianya malah pindah mendukung.

Coba, seandianya ( 7 ), ada pihak luar negeri yang berkeinginan Indonesia rusuh, berhasil menjadikan aksi besok menjadi gerbang untuk masuk bagi kepentingannya.

Coba, seandainya ( 8 ), pihak yang menerima maaf Ahok dan tidak dilanjutkan perkaranya dengan pihak yang menuntut Ahok dipenjara bertemu dan berdebat.

Mungkin, ....

Berganti seandainya, maka akan merubah mungkin. Karena seandainya, pintu masuk untuk berbagai mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar