Rabu, 14 Desember 2016

MEMBACA TWITTER PENDUKUNG

Kesan yang timbul ketika membaca twit dari beberapa orang pendukung calon Gubernur DKI adalah, calon yang ia dukunglah yang paling sempurna untuk menjadi Gubernur DKI di tahun 2017 nanti. Segala antisipasi dan kemungkinan direka-reka agar pada 15 Februari 2017 nanti, para pemilih berkeputusan untuk memilih calon yang didukungnya. Maka, dalam menulis statement pendek di twitter yang hanya menyediakan 140 karakter pun, perlu ekstra hati-hati agar tak dijadikan senjata oleh lawan tandingnya untuk menjatuhkan jagoannya. Internet dan media sosial telah menjadi alat yang efektif sekali untuk menyebarkan segala berita.

Para timses tentu akan meperhitungkan setiap huruf yang akan di upload ke media. Semua bisa menjadi senjata yang menguntungkan dan bisa berbalik menjadi senjata untuk lawan yang siap menikamnya. Saya sempat membaca twit seorang ( Politisi PDIP ) pendukung cagub Ahok-Jarot dengan timse dari AHY-Sylvi yang saling berdebat. @budimansujatmiko vs @ranabaja. Dua-duanya merasa berani untuk debat terbuka dan saling merasa punya bukti dan argumen yang kuat untuk mendebatkan sesuatu masalah yang didebatkan dalam twitter. Unsur kehati-hatian tampak sangat di jaga, meski emosi dan kegeraman masih nampak muncul tak tertutupi. Saling menantang, ‘mengejek’ dan mencari pembenaran atas apa yang telah di-twitnya, juga tak jarang menyerang secara personal.

Debat di twitter yang dimungkinkan banyak yang membacanya, pasti diperlukan kalimat yang singkat dan padat meski bisa juga mentautkan postingan dari laman lain. Dan yang tak kalah penting adalah jangan sampai apa yang di twit ‘salah’ sehingga menjadi celah bagi pihak lawan masuk dan membuka jalan lain dalam untuk menyerang terus menerus dan menjatuhkan. Pengguna twitter memang tak sebanyak facebook, tapi di twitter, yang bukan follower pun bisa melihat apa yang di twit atau mencari bahasan dengan hastag tertentu. Di situ bisa melihat retweet yang diquote dari sebuah twit seseorang untuk saling membalas dan menjadi ajang perdebatan. Kadang kata-kata nyinyir tersirat, mungkin untuk memancing lawan debat. Dan keduanya mempermasalahkan kenyinyiran itu, seolah mereka tak bersih dari kalimat nyinyir. Tapi, yang namanya debat, tetap masalah ingin menjatuhkan lawan debat tetap terbaca.

Saya jadi membayangkan jika mereka saling bertemu untuk berdebat di muka umum ( di siarkan live oleh televisi ) atau di tempat terbuka dengan banyak penonton dan kemudian debat dengan hanya berdua tanpa direkam, tanpa penonton. Jika debat cara yang pertama, tentu keduanya akan menjaga imij ( image ) sekuat tenaga agar emosi dan ‘kegeraman’ tetap terjaga sehingga menimbulkan kesan sebagai intelektualis yang patut, santun, berpendidikan dan meng-Indonesia. Berusaha menunjukan saya dan yang saya dukung adalah terbaik dan yang melihatku berdebat harus salut dan menjadi mendukungku, itu menjadi tanggungjawab yang harus dipikul. Tanggungjawab itulah yang membatasi ekspresi dan selalu terpikirkan sebagai rambu-rambu yang secara sadar harus tidak boleh dilanggar. Jika terjadi ketidaksengajaan melanggar, ini akan menjadi sebuah blunder yang akan sulit untuk menetralisir. Dan akan menjadi sangat repot jika pelanggaran itu seperti disengaja dan tidak punya bukti-bukti dan argumen pendukung untuk mem-backup apa yang diucapkan.

Secara umum debat di twitter, menurut saya menjadi menarik karena keterbatasan ketersediaan space karakter yang hanya 140, memunculkan penafsiran baru. Kadang juga ada beberapa kalimat yang sengaja dimultitafsirkan dan tetap dibiarkan menyimpan misteri. Dari kalimat multitafsir itulah kemudian muncul hal lain yang membuka pintu lagi untuk masuk dalam perdebatan lebih jauh.

Selamat berdebat, semoga calon gubernur yang kalian dukung jadi semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar