Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

TENDANGAN SI MADUN RETURN, ‘MENGHERANKAN’

Saya tak habis pikir, bingung dan tak mengerti. Mungkin ini karena kekurangmengertian saya terhadap sebuah seni peran yang di aplikasikan ke sinetron yang berjudul Tendangan si Madun, yang kini tayang lagi dengan menambahi kata return.   Dari segi cerita, saya sama sekali tak mengerti apa yang akan disampaikan dengan cara itu. Jika ketidaktahuan saya tentang alur cerita, itu dapat saya pahami karena pikiran saya tak bisa memaksa hati untuk agak lama menontonnya. Animasi yang sangat tidak nyaman dilihat dan banyak perkataan atau ungkapan yang seperti menganggap penonton tidak akan tahu apa yang hendak disampaikan jika tidak dengan ucapan, menjadi sebuah tontonan yang saya tak mengerti apa yang hendak di sampaikan dan di inginkan oleh para pembuat sinetron itu.  Saya yakin sekali, personil yang terlibat dalam pembuatan sinetron itu pasti figur-figur yang mengerti seni peran dan seni-seni lain, dan pasti mengerti tentang hibuan yang enak dan nyaman di tonton. Mereka...

Bendera Merah Putih di Tiang di Ujung Desa di Tepi Hutan

Ini sebuah Nasionalisme, pikir saya ketika melihat kibaran Sang Merah Putih di pinggiran perkampungan pada sebuah lembah tak luas di bawah hutan. Hari itu tanggal 4 Nopember. Seingat saya tak ada hari Peringatan Nasional. Atau mungkin sedang menyambut Hari Pahlawan enam hari ke depan. Saya juga tak menelusuri sebab musabab pasti kenapa orang itu memasang Bendera Merah Putih di depan rumahnya yang nota bene-nya bukan perkantoran. Sedikit informasi dari temen yang sekampung dengannya, Ia seorang guru spiritual yang sepertinya ingin menunjukkan bahwa Ia menjunjung tinggi NKRI.    Terlepas apakah orang tersebut memasang Sang Merah Putih karena jiwa Nasionalis yang tinggi atau sekedar isenga dan punya tujuan lain, romantisme nasionalisme saya terhentak dan muncul karenanya. Sudah lama saya ingin memasang Bendera Merah Putih di depan rumah saban hari. Tapi itu hanya sebuah rencana yang terpasang di angan-angan. Bahkan pada hari-hari yang diperingati sebagai Hari Nasional pu...

'seharusnya'

Satu; Seharusnya kamu jangan begitu, kalau kamu begitu terus aku tak mengerti. Aku ingin kamu seperti ini agar aku menjadi lebih enak. Kalau kamu seperti seharusnya yang aku mau, semuanya akan menjadi nyaman. Aku tak mengerti kamu berbuat seperti itu dan tetap bertahan seperti itu, membingungkan. Dua; Kenapa juga kau tak mengerti aku. Kenapa kau tak mau memahami. Seharusnya bukan seperti itu keputusanmu. Kamu tahu ini tak membuatku dalam posisi enak. Ini memojokkanku. Kenapa juga kamu tak memahami posisi aku. Ini tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ini hal yang tak terduga yang tak aku suka. Seharusnya bukan begitu. Tiga; Seharusnya kalian berdua jangan memaksakan ‘seharusnya’ dari sisi masing-masing. Sama-sama mengalah-lah. Memang tak ada yang terpuaskan. Memang sama-sama sedikit kecewa. Seharusnya, tidak seperti seharusnya menurut kalian. Coba jika tak ada seharusnya dan tak terpikir untuk seharusnya.