Label

Kamis, 02 Januari 2014

Bendera Merah Putih di Tiang di Ujung Desa di Tepi Hutan



Ini sebuah Nasionalisme, pikir saya ketika melihat kibaran Sang Merah Putih di pinggiran perkampungan pada sebuah lembah tak luas di bawah hutan. Hari itu tanggal 4 Nopember. Seingat saya tak ada hari Peringatan Nasional. Atau mungkin sedang menyambut Hari Pahlawan enam hari ke depan. Saya juga tak menelusuri sebab musabab pasti kenapa orang itu memasang Bendera Merah Putih di depan rumahnya yang nota bene-nya bukan perkantoran. Sedikit informasi dari temen yang sekampung dengannya, Ia seorang guru spiritual yang sepertinya ingin menunjukkan bahwa Ia menjunjung tinggi NKRI.  

Terlepas apakah orang tersebut memasang Sang Merah Putih karena jiwa Nasionalis yang tinggi atau sekedar isenga dan punya tujuan lain, romantisme nasionalisme saya terhentak dan muncul karenanya. Sudah lama saya ingin memasang Bendera Merah Putih di depan rumah saban hari. Tapi itu hanya sebuah rencana yang terpasang di angan-angan. Bahkan pada hari-hari yang diperingati sebagai Hari Nasional pun sering tak memasang bendera. Sering dengan enteng berkelit dalam hati, tak pasang bendera tak apa-apa yang penting di hati tetap berkibar Sang Merah Putih. Alasan yang sering dibuat-buat sekedar di hati atau di lidah untuk membenarkan kekeliruannya.

Rasa Nasionalisme sering terlupakan dan terabaikan. Rasa itu bisa saja tiba-tiba muncul jika ada pihak external yang mengusik kedaulatan dan kebanggan kita sebagai bangsa yang bernegara. Peng-klaim-an lagu asli daerah Indonesia, tari, reog dan budaya asli Indonesia lainnya oleh negeri Jiran Malaysia, membangkitkan rasa Nasionalis di dada rakyat Indonesia dari rasa nasionalis yang tertidur dan lupa. Pemerintah kemudian terburu-buru mendaftarkannya ke Unesco, kalau itu semua budaya asli Indonesia. Ada sisi baiknya juga tindakan Malaysia, untuk sesekali membangkitkan rasa Nasionlisme yang semakin tak tertanam di jiwa kita. Lebih parah lagi, orang kita sendiri sering merasa minder menjadi bagian dari Bangsa Indonesia dengan selalu mengunggulkan negara lain yang belum tentu benar karena hanya tahu dari media.
Terbaru, kita di henyakkan oleh berita tentang kedutaan Australia yang dijadikan sebagai tempat penyadapan oleh inteljen Amerika Serikat. Ini tentu menggeramkan dan membangkitkan rasa harga diri sebagai bangsa yang berdaulat, di injak-injak oleh negara lain. Tindakan mereka, Australia dan Amerika Serikat, tidak menunjukkan sebagai negara yang ingin bersahabat dengan baik. Ada kepentingan lain yang merugikan negara yang dijadikan sebagai obyek mereka. Tentu ada tujuan tertentu dengan apa yang dilakukan oleh mereka.
Sebuah bendera merah putih yang berkibar bangga di ujung desa di tepi hutan, pertanda Nasionalisme masih tumbuh di setiap pelosok tanah air meski itu tidak dibangkitkan oleh pihak ekternal negara. Kita juga sering melihat bendera  Merah Putih terpasang gagah di baju atau jaket seseorang. Ini juga menimbulkan Nasionalisme dan  greget tersendiri di jiwa kebangsaan kita. Meski kadang saya lihat juga ada anak-anak muda yang memakai kaos berbendera Jamaika, tentu itu bukan Ia mencintai Jamaika-nya, itu karena ia suka sama Bob Marley dengan musik Regae-nya. Atau berkaos berbendera dan bertuliskan Brasil, Italia, Jerman, dll, itu karena mereka suka dengan Sepak bolanya, bukan pada negaranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar