harus maklum
Ini sudah terlanjur terjadi begitu. Sudah begitu lama, begitu membudaya. Dan maklum menjadi alat pereda emosi untuk tidak anarkis. Bisa saja melawan arus, me-tidakdengar-kan perkataan di tuduh sok suci. Nasi sudah menjadi bubur, memang tak bisa menjadi nasi lagi, tapi bisa saja menjadi masakan lain yang lebih enak. Dari generasi ke generasi, mental-mental korup dan culas beranak pinak. Menjadi hal biasa, menjadi termaklumi. Semua tentang uang, tak peduli proses mendapatkan. Tak heran jika banyak wartawan amplop, polisi mencari duit dengan culas, hakim yang siap di suap, pegawai pajak yang welcome menyulap tagihan pajak, jaksa yang bisa membiaskan tuntutan, hakim yang curang, pejabat korup. Pengacara yang main mata. Berhari-hari, bertahun-tahun, terus dan selalu begitu. Kemudian menjadi heran pada orang yang tak mau berbuat curang, mengatai sok suci, menganggap bodoh jika melepas kesempatan korup. Berhari-hari, bertahun-tahun, terus dan selalu begitu. Kekuasaan itu pada uang. Uang...