Senin, 29 Mei 2017

PURIANG

cerpen

djayim.com
Jika hanya menginginkan kenyamanan di tempat ini, sebaiknya jangan dulu atau samasekali tak mendengar cerita tentangnya. Puncak bukit yang tak terlalu tinggi ini, selalu ada semilir angin yang berhembus pelan tak pernah tergesa dari arah yang berbeda. Jika pagi, kita bisa menyaksikan mentari yang muncul perlahan di ujung timur di dada bukit yang tengadah dengan tetumbuhan yang samar, dan jika senja, matahari terlambat terbenam pada pangkal rerimbunan pohon pinus yang berjajar rapi di punggung bukit yang tenang membisu. Burung-burung tak pernah berkicau over acting, hanya sekedar bunyi dan lewat terbang saja. Tiga pohon rindang menjadi peneduh.
Di bawah pohon berdaun kecil-kecil memanjang dengan totol-totol warna kuning dan kemerahan, kita bisa duduk di atas batu sebesar kepala orang dewasa dan bersandar. Banyak orang menyebutnya Puriang dan banyak lagi orang menyebutnya pohon Puring, itulah makanya tempat tumbuhnya di sebut Igir Puring. Pohon itu ditanam sekitar tahun 20an, kalau di runtut dengan sejarah Indonesia, menjelang ketika para pemuda berikrar Sumpah Pemuda di Batavia. Dan dibawah batu sebesar kepala itulah jasad seorang yang ikut dalam pergerakan pemuda yang menghimpun sebuah kesatuan tekad anak-anak muda Indonesia  yang melahirkan Sumpah Pemuda pada tahun 2028.
Perlu perjalanan tiga hari berkuda dan setengah hari naik kereta untuk sampai ke Batavia. Dari desanya Ia menuju Cirebon untuk dan menitipkan kudanya pada teman seperguruannya. Ide-idenya yang banyak menjadi dasar pemikiran pemuda kala itu. Ia tak pernah mau tampil sebagai penyampai dan menikmatinya menjadi penyokong yang tak perlu tampak muka. Sikapnya yang tegas, pendiam dengan pandangan matanya yang tajam, membuat siapapun yang berhadapan dengannya akan segan. Pun gadis-gadis yang terpesona oleh kegagahannya. Dan Ia memilih untuk tetap tinggal di sebuah dusun kecil dari tiga dusun di desanya. Mengirimkan tulisan-tulisanya lewat seorang pedagang kain yang sebulan sekali belanja di kota. Pada saat kongres pemuda itu berlangsung, Ia tak bisa hadir. Banyak teman-temannya yang mempertanyakan ketidakhadirannya, tapi alat komunikasi tak cukup untuk memberi jawaban dan menjadikan sebuah misteri bagi mereka. Tak ada kabar tentangnya sampai kejadian di sebuah puncak bukit pada sebuah sore menjelang senja dengan gerimis kecil yang tak berhenti sejak matahari sedikit condok ke barat.
“Jangan pulang dulu Kakak, nanti kamu pas senjakala masih di tengah perjalanan.”
“Saya harus cepat sampai rumah.”
“Waktu begini tak cukup aman untuk berangkat pulang.”
Menahan pulang Saiman, bukan hanya kali itu. Setiap kali Keni menjumpai Saiman hendak pulang dari rumahnya. Dengan nada wajar, tak juga tersembunyikan getar rasanya pada Saiman. Berbagai alasan selalu saja ada. Saiman mengerti itu, tapi Ia tak ingin berlarut, dan lebih sering memilih menghindar berkelit santun.
Ayah Keni seorang tetua kampung. Seorang yang paling tua dan dipercaya warga di tiga dusun dalam satu kampung yang belum layak di sebut desa. Petuah dan petunjuk Ki Ranu menjadi pertimbangan terakhir dalam sebuah keputusan yang berkait dengan adat dan lelaku hidup. Kata-katanya yang pelan dengan penuh pertimbangan membuat orang yang mendengarnya sering tak sabar.
“Berhentilah nak. Jangan selalu berharap.”
“Tidak ayah. Saya tak akan pernah berhenti.”
“Ayah tahu dari suaranya, dari sinar matanya, dari gerakannya.”
“Ayah tidak tahu. Perasaan saya lebih tajam Ayah. Saya seorang wanita yang sangat tahu tentangnya.”
“Tapi...”
“Ayah. Kenapa ayah tidak membantuku dan membuatku tenang?”
Hening. Sepi. Angin mengalir tenang dan berhenti di buritan. Angin yang seharusnya menyejukkan itu, tidak bagi Keni, angin seperti mencibir mentertawakannya. Bertahun-tahun Ia berharap dan tetap menyimpan harapan itu dalam hati seorang wanita yang kadang lembut kadang meradang.
Tak dimengerti banyak orang kenapa Saiman tak menyambut cinta Keni, gadis lembut bermata hitam bulat diatas hidungnya yang pas sekali ukurannya dengan bentuk wajah bulat telur. Bibirnya yang selalu basah, akan sangat enak dipandang dalam kondisi apapun; senyum, marah, cemberut. Rambutnya yang sebahu, hitam berkilau dan selalu bergelombang jika Ia berjalan lincah. Mungkin sebanding dengan Annelies Mellema*) gadis yang hidup di istananya yang sepi di tempat lain nan jauh di waktu yang berbeda. Tapi, Keni tak ada darah indo dan kulitnya jauh lebih memikat dengan warna sawo matang yang bersih. Jika Saiman masih tetap tak membuka hati untuknya, apa karena menunggu saat yang tepat?
Keni anak tunggal yang tinggal bersama Bapaknya yang belasan tahun tetap menduda. Rumahnya sedikit berjauhan dari sekelompok rumah yang ada di sebelah utaranya. Di belakang rumah mengalir kali kecil yang airnya mengalir sepanjang tahun dan tak keruh setelah hujan. Dengan sebilah bambu, air kali itu dialirkan ke rumah dan sebagian ke kolam kecil tempat ikan menari-nari dan beranak pinak.
Di sekitar rumahnya, sering nampak seekor harimau belang tengkurap rebahan dengan ekornya yang panjang dikibaskan kanan kiri, menjaga Keni bermain-main yang sesekali mengejar dan menangkap kupu-kupu oranye kesukaannya. Ekor harimau yang panjang berkibas-kibas mengusap-usap muka Keni, dan Keni memeganginya sambil terkekeh-kekeh kegelian. Tak semua orang bisa melihat harimau belang bermata sayu itu, tak semua orang berkesempatan. Sebagian orang hanya mendengar dari cerita ke cerita, tapi keberadaanya tak ada orang di kampung yang meragukan, juga di kampung-kampung tetangga yang cukup jauh. Harimau itulah yang menjaga kampung Dukuh Tengah dari orang-orang jahat yang sering datang untuk merampok. Banyak yang menduga harimau itu jelmaan Ki Ranu, ada juga yang menduga harimau itu piaraan Ki Ranu yang sesekali datang ke rumah jika waktu-waktu tertentu atau jika di panggil oleh tuannya. Dan Keni tahu pasti, jika harimau yang sering bermain-main dengannya adalah ayahnya yang seketika bisa menjelma hanya dengan memakai kantung kecil di ibu jari kaki kanannya. Atau pada waktu tertentu, tak memakai kantung-kecil pun, bisa.
“Kau harus mewarisi ilmu ini. Jika saatnya sudah tepat.”
“Tapi saya perempuan, Ayah.”
“Tak apa. Dan juga tak ada pilihan. Karena hanya anak kandung atau pilihan keduanya keponakan laki-laki dari saudara laki-laki sekandung dari Ayah yang bisa. Ayah tak punya keponakan laki-laki. Si Marta, anak laki-laki Kang Jaya mati saat kau masih dalam kandungan karena penyakit aneh. Ketika itu, tengah malam Marta merasakan sakit di dadanya, kemudian sesak nafas dan esok pagi, sebelum matahari terbit, Ia tak tertolong.
Yang terpenting, kau bisa mengendalikan emosi dan juga tak gampang emosi. Kau masih belum cukup pada tataran itu, tapi, tak apa jika kau mulai menghafal mantra-mantranya. Nanti baru tirakat, lelaku dan perilaku. Kau harus mampu. Jika kau tak bisa, Ayah akan tersiksa jika raga Ayah sudah renta, jika sudah tidak sekuat seperti sekarang ini. Kau mau Ayah tersiksa dan pergi dengan susah?”
“Pergi ke mana Ayah?”
“Ke alam selanjutnya. Kita semua akan mati, masuk ke alam berikutnya.”
“Nanti saya sama siapa Ayah?”
“Kau tak akan sendirian. Semua ada pasangannya, ada jodohnya. Kau harlus mulai belajar.”
Keni termenung, Ki Ranu meneguk teh hangat dari cangkir keramik merah tanah yang telah berpuluh tahun menjadi teman minumnya yang setia. “Kau harus mulai menghafal ini nak....”
“Awakmu awaku sukmamu sukamaku dadisiji dadiati. Aku ngulon koe ngulon aku ngidul koe ngidul aku ngetan koe ngetan aku nagalor koe ngalor. Ora ana ati sing beda kekarepan, ora ana karep sing beda. Loro dadi siji, siji karo siji dadi siji. Mantep madep udu madep mayong. Dadi siji, dadi siji, dadi siji, dadi sekarepe atiku.”
“Kau harus baca tujuh kali dalam satu nafas, dalam satu konsentrasi penuh. Kau harus bisa nak.”
Perlahan Keni menuruti kemauan ayahnya. Rasa penasarannya menjadikan Keni selalu bertanya hal berikutnya yang harus dilakoni. Ia kadang mencoba sesuatu yang seharusnya belum boleh dilakukan. Pernah ketika menjelang sore Keni mengambil kantong macan, yang diam-diam mengintip ketika ayahnya menyimpan, memakainya tanpa kesempurnaan ritual dan lelaku awal yang harus dijalani.
Di halaman belakang rumah, Keni menggeram-geram, seperti suara kucing bersiap tarung, kadang seperti harimau mengaum setengah nada dan putus di tengah. Tubuhnya terhampar di tanah, kakinya beregerak-gerak mencakar tanah dan kedua tangannya mengapai-gapai udara dengan mulut menyeringai, matanya menatap kosong. Sebuah penyatuan dua makhluk yang belum sempurna. Keni baru tertolong ketika ayahnya pulang dari ladang saat matahari setinggi tombak di punggung bukit. Dengan cekatan Ki Ranu melepas kantong macan di jari kaki kanan Keni. Dengan sedikit mantra yang ditiupkan di ubun-ubunnya, seketika tubuh Keni lunglai. Ki Ranu membopongnya masuk ke rumah, merebahkannya di ranjang dan membiarkan Keni terbaring seenaknya. Beruntung tak ada orang lain yang tahu kejadian itu dan hanya terjadi sekali karena Keni menurut petunjuk ayahnya saat esok harinya sambil memasak nasi.
“Maaf saya ayah..”
“Iya. Jika kau ingin cepat bisa, kau harus lebih giat dan rajin berlatih. Dan jangan lupa, tata cara dan perilakunya harus benar. Ilmu itu akan sempurna jika ayah sudah tiada,”
“Kenapa harus begitu ayah. Kalau begitu saya tidak mau belajar ilmu ini ayah.”
“Itu sudah ketetapan dan jalan hidup, anakku.”
*******
“Aku bisa menjaga diri, dan si Kumbang ini akan mengerti jalan meski hari telah gelap,” ucap Saiman sambil menepuk leher kuda putih kesayangannya.
“Tunggulah barang sejenak sampai ayah pulang. Sebentar lagi ayah pasti datang.”
“Saya ada keperluan nanti selepas maghrib di dusunku. Sampaikan saja pada ayahmu, saya datang dan akan datang lagi besok.”
“Kakak tidak takut nanti kalau dihadang macan loreng di bukit itu?” kata Keni sambil jari lentiknya menunjuk bukit di belakang rumahnya yang tengkurap mulai beranjak tidur. Mata Keni berkedip sedikit dengan senyum tipis di sudut kanan bibirnya. Tatapan mata seperti itu, membuat jiwa Saiman bergetar, terpana sesaat dan tersadar untuk kembali normal meski Keni sempat membacanya. “Kakak tidak takut?” Keni memperjelas pertanyaan.
“Saya yakin bisa mengatasinya, jika ada, dan saya yakin tak ada apa-apa yang perlu ditakutkan.”
“Jika benar-benar ada?”
“Saya tungkak batang lehernya biar mampuss!” kata Saiman dengan sedikit senyum sambil melambaikan tangan kanannya tanda segera berangkat pulang.
Mendengar kata-kata Saiman terakhir, Keni tiba-tiba merasa terhina. Perasaan yang tak biasanya ada. Sukma macannya sebagian telah masuk tanpa dirasakannya dan tak sepenuhnya terkendali. Gemuruh seperti angin serasa sangat cepat masuk dalam badan Keni. Ia terdiam dan tak berkuasa melawan. Tubuhnya berjumpalitan, salto ke belakang tiga kali. Kuku-kukunya memanjang mencengkeram, matanya membulat memandang ke atas, mulutnya menggeram berat. Dan Keni telah berubah ujud manjadi macam belang besar. Dengan dengus nafas yang panjang, macan belang itu melompat kemudian berlari mengikuti langkah si Kumbang yang berlari membawa Saiman. Langkahnya yang lembut, tak membuat curiga Saiman meski berulang kali si Kumbang meringkik tak seperti biasanya.
Di puncak bukit, ketika matahari di punggung bukit menenggelamkan garis sinar terakhirnya, macan belang melompat ke depan si Kumbang menghalangi jalan. Saiman terkejut dan langsung menjaga keseimbangan. Macan belang memandang redup, kaki-kakinya sedikit bergetar, ekornya masuk ke kedua kaki. Sejenak beranjak mundur seperti meberi jalan, tapi Keni tak kuat menguasai roh macan belang, segala getar rasa jiwanya berupaya berontak lepas. Semua yang Ia bisa dicobanya. Dalam pertarungan pengendalian penguasaan jiwa antar Keni dan roh macan belang, Saiman melompat dari punggung kuda, dengan kekuatan penuh Ia hantam leher macan itu dengan kakinya. Macan belang itu menggeram. Matanya menyala merah, cakarnya keluar dari sarung. Rupanya Keni tak kuasa mengendalikan roh macan belang. Ia hanya bisa merasakan kemarahan dari luar hatinya.
Pertarungan di senjakala itu pun tak bisa dihindari. Macan belang menyerang penuh amarah. Setiap Saiman mengelak dan menyerang, macan belang makin ganas penuh nafsu membunuh. Ada sekira setengah jam dua kekuatan itu terus beradu. Saat Saiman sedikit lengah, sebuah cakaran merobek dadanya dan sebuah gigitan di leher membuat Ia tak berdaya. Tubuhnya terkulai bersimbah darah.
Macan belang terduduk di samping jasad Saiman. Ia merunduk meneteskan air mata, juga kadang-kadang menggeram penuh tenaga melepas sesak dada. Perlahan Ia sered jasad Saiman sedikit ke tepi jalan. Dengan cakarnya, macan belang menggali tanah. Si Kumbang diusirnya dengan sedikit auman. Kuda putih berlari menuruni bukit menuju lembah yang sudah tampak pelita-pelita minyak menerangi rumah, tempat kelurga Saiman bermukim.
Ki Ranu yang sedikit terlambat pulang dari tetangga desa, terserang khawatir ketika putrinya tak ada di rumah. Ia menilik tempat menyimpan kantung macan. Ketika Ia tahu tak ada, segera duduk bersila di lantai tanah menyatu dengan bumi, segala inderanya membaca menerawang keberadaan Keni. Dengan keyakinannya Ki Ranu berlari menyusuri jalan setapak.
“Apa yang terjadi anakku?”
“Maafkan saya ayah. Maafkan saya.”
“Apa yang kau kubur itu.”
“Kak Saiman ayah.”
“Kenpa sampai terjadi begini?”
Keni tak menjawab. Ki Ranu menyempurnakan gundukan kubur Saiman sambil mulutnya terus berkomat kamit, mungkin berdo’a mungkin membaca mantra. Di rasa cukup, tangan kanannya menyempal batang pohon Puring dan menancapkan di ujung kepala Saiman di kubur. Gerimis turun perlahan.
“Saya tak akan pulang, mau menunggui Kak Saiman di sini, ayah.” Suaranya berat tersendat hampir tak terdengar. Ki Ranu menelan nafas sangat perlahan dan dalam. Ia tahu tak mungkin membujuk Keni untuk pulang. Ia menunggu Keni yang terbaring sampai tertidur sambil greyengan menyanyikan lagu penghantar tidur bertutur tetang lelaku hidup dan welas asih sesama.
Menjelang pagi, Keni tertidur. Ki Ranu menggendongnya pulang. Dengan ilmu yang dimiliki, bukan sebuah kesulitan untuk cepat sampai rumah.
Dan gerimis malam itu menjadi gerimis terakhir di musim penghujan. Setiap pagi dan sore, Keni selalu datang ke puncak bukit membawa seketel air untuk menyiram pohon Puring dan menyapa Saiman dengan nyanyian asmara dan do’a. Sampai Ki Ranu meninggal, sampai Keni menjadi nenek dan tetap tinggal sendiri di rumahnya.
Menurut kabar, pada pagi dan sore terlihat macan belang tengkurap di bawah pohon Puring di puncak bukit. Kadang terdengar suara tangis, kadang terdengar suara nyayian. Tak ada orang yang berani lewat di jalan setapak itu jika pagi dan sore.*** 31 Desember 2016


*) tokoh dalam novel Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar