Selasa, 30 Mei 2017

WANITA GILA ITU HAMIL

Cerpen

Pernah dengar nggak, seorang wanita gila baru, muda cantik berkulit bersih yang dikerjai oleh sekelompok anak muda begajul di bawah jembatan pada suatu malam yang dingin menjelang jam 00:00. Cerita itu, entah benar entah tidak, telah beredar meluas cepat secepat berita selebriti yang jadi anggota DPR tersandung kasus korupsi yang terus menerus setiap waktu di tayangkan di banyak televisi. Jadi, begitulah, katanya, wanita itu memang betul-betul cantik, punya mata yang berbinar cerah dengan kedipan mata yang pelan sangat teratur seirama dengan senyum yang sedikit menggaris. Tapi, sebenarnya wanita itu punya senjata untuk mengusir ana-anak muda. Matanya yang tajam dengan tatapan yang berkilat-kilat seperti sinar laser, mampu mengusir orang yang mau berbuat jahat. Dan juga Ia akan segera mengambil batu sebesar kepalan tangan dan menganyun-ayunkan siap untuk melempari siap saja yang mau berbuat tak senonoh sambil teriak-teriak. Tentu saja para pemuda itu akan lari bersembunyi katakutan, malu takut ada orang yang tahu.
Hanya semalam sebenarnya Ia tidur di bawah jembatan. (mungkin sudah beberapa malam, tapi tak ada orang yang tahu pasti berapa malam). Dengan memakai jaket tebal dan bersepatu, nyamuk tak begitu menggangunya. Tas ransel yang padat berisi tak pernah lepas dari tangannya. Esoknya seorang yang baik hati membawanya ke rumah dan Ia nurut ketika di bujuk untuk tinggal di rumahnya. Memang benar Ia kemudian hamil. Mungkin saja para pemuda itu berhasil mengelabui wanita cantik itu dengan memberinya minuman beralkohol dan bisa menggaulinya bergantian. Dari celoteh mereka saat bercengekrama di pos ronda atau di warung kopi, mereka cekakan ketawa-ketawa seperti menceritakan sebuah keberhasilan. Dan tak ada yang tahu apa yang mereka ketawakan selain mereka, karena mereka memakai bahasa yang hanya mereka yang tahu.
Tak tahulah, karena kemudian ada berita lagi tersiar, kalau sebenarnya Ia tak hamil. Berita itu hanya untuk ‘menakut-nakuti’ geng pemuda yang katanya memperkosa bergiliran di bawah jembatan ketika malam menjelang dini dengan kabut yang turun menderas. Ketika para pemuda itu ditanya atau di sindir, mereka, saat pas bareng atau pas sendiri-sendiri, hanya tertawa kecil, seperti menanggapi pertanyaan bodoh, seperti juga menyembunyikan sesuatu, seperti sengaja membuat si penanya masuk dalam pusaran penasaran. Pemuda-pemuda itu, memang punya ide-ide yang bikin orang yang sedang penasaran semakin bertambah penasaran. Lagian jika ia benar-benar hamil, siapa yang akan menuntutnya. Ia tidak waras dan tidak ada sanak familinya. Siapa yang akan mempercayai wanita gila.
Wanita itu masih muda, wajahnya seumur anak usia SMA yang selalu ceria jika pelajaran di kelasnya kosong karena sang guru ijin kondangan. Suatu  pagi Ia minta di antar ke pasar untuk membeli sayuran. Ia punya simpanan yang cukup untuk membiayai hidupnya. Ia memborong banyak buah yang biasanya dimakan wanita hamil. Sepertinya Ia ngidam. Bu Wati, ibu setengah baya yang baik hati, mendampinginya, tak melarang segala yang di beli wanita itu. Ia banyak uang. Di dompetnya juga ada beberapa kartu atm dan kartu kredit, entah atm-nya masih ada uangnya atau kartu kreditnya sudah diblokir. Ketika barang belanjaannya sudah banyak dan susah dibawa, baru Bu Wati berani baru menyetopnya.
Wanita cantik itu memang hebat. Ia bisa berjalan dengan sangat anggun seperti model dunia yang pamer busana di atas catwalk, dan kadang Ia bisa berjalan sangat norak, tomboy, atau cara berjalan seperti kuli panggul di pasar yang kelebihan muatan. Ia bisa berubah polah apa saja. Kadang nampak seperti orang gila yang tak bisa dikendalikan. Ngoceh apa saja, dari yang jorok sampai mengumpat orang-orang yang dianggapnya munafik. Tak ada yang peduli dan mau tahu nama-nama yang disebut dalam umpatannya. Kadang nama inisial, nama akronim, nama sebutan, nama tenar, nama panggilan, nama-nama dari tokoh terkenal, nama politisi, nama artis, nama pejabat tinggi. Semua meluncur tanpa beban, tanpa canggung, tanpa merasa takut dianggap pencemaran nama baik. Merasa di anggap gila, menjadikannya masuk pada dunia yang tak tersentuh oleh hukum, norma dan kepatutan. Sebuah lapangan yang luas yang siap menampung seluruh sampah pikiran dan hati. Merasa dianggap gila? Memang Ia gila beneran kok. Yang menganggap Ia tidak gila, karena melihat Ia cantik, luwes, dengan kondisi dan pakaian apa saja tampak apik. Bangun tidur dengan rambut awut-awutan pun, lelaki normal akan terkesima.
Di sebuah halaman sekolahan SD yang berdampingan dengan sekolahan TK yang banyak ibu-ibu dan bapak-bapak mengantar anaknya sekolah, Ia ngoceh seperti sedang pers release, “Ibu-ibu tahu nggak, si anu yang suka tampil di tivi, pak anu yang kalau ngomong pinter dan cerdas, pak anu yang selalu tampak wibawa, itu biasa pakai saya. Ngajak saya kencan di fila-fila yang dijaga ketat oleh penjaga dan body guard yang siap menjaga sepanjang waktu. Mereka kaum munafikun, penjahat, mafia.”
“Biasa pakai gimana maksudnya, mba? Di pakai anu?” seorang ibu dengan rasa penasaran tinggi menyambut dengan pertanyaan yang menggelora.
“Ya betul, pakai jasa saya. Pakai gituan.”
“Ooh.. yang bener mba.?”
“Apa untungnya saya bohong. Apa orang macam saya dianggap tukang bohong, tukang penyebar fitnah. Ayo, siapa yang berani melaporkan saya orang-orang yang saya sebut tadi. Saya punya cukup bukti untuk itu.”
Seorang laki-laki turun dari mobilnya dan mengatakan pada penjaga sekolah, “Tolong suruh dia pulang sebelum bikin kacau. Berbahaya itu orang. Kalau ngamuk bisa banyak korban nanti. Dia bawa pistol di tas kecilnya.”
Penjaga sekolah bingung, jangan-jangan nanti saya malah kena tembakan pistol, pikirnya.
Untunglah, Bu Wati segera datang dan mengajak wanita cantik itu segera pulang, “Ayo nak, kita belum nagsih makan kucing, kasihan nungguin kamu.”
Enam hari yang lalu Ia membeli kucing Anggora warna dominan hitam dengan sedikit warna putih di bagian keempat kaki dan di ubun-ubun serupa gambar bintang. Sehari sebelumnya, seorang berbadan tegap dengan dan dada penuh otot, agak tinggi, berrambut sedikit gondrong terurai, datang menyerahkan sesuatu dalam kardus mi instan. Tak banyak basa-basi, orang itu langsung pergi dan wanita itu hanya mengantar dengan padangan mata dan nafas yang dihembuskan sedikit. Nampaknya Ia sudah kenal dan tak perlu berbasa-basi, karena basa-basi tak perlu dan tak berguna.
“Bu, ibu tahu kenapa tadi saya ngomong seperti itu di depan sekolah?”
Bu Wati menggeleng, “Ibu tidak perlu tahu alasanmu. Alasanmu sering bikin ibu harus memilih antara percaya atau tidak percaya.”
“Biar mereka tahu bu, biar anak-anak juga tahu bu. Mereka-mereka yang di puncak sana brengsek-brengsek.”
“Puncak mana? Tapi kan tidak semuanya. Masih banyak orang baik di negeri ini nak. Kamu juga baik-baik kan nak?”
Wanita itu hanya tersenyum sedikit. Antara mengiyakan dan tidak. “Ah, Ibu. Saya jadi malu. Pertanyaan Ibu bikin malu.”
Wanita itu memeluk kucing sambil menari-nari. Bergerak lembut seperti menimang bayi sesekali berubah gerakan melepas amarah dan kebencian. “Panggil saya Lucia, Rien, Nada, Bunga, Kuntum, Tika, atau Mam, atau Mom, apa saja yang ibu suka boleh. What is the name?
Bu Wati terkesima,  Ia bisa tahu apa yang hendak ditanyakan padanya. Dan wanita itu selalu menjawab begitu. Bagi Bu Wati nama menjadi penting untuk berkomunikasi. Bu Wati kesulitan jika harus memanggil dan ngobrol. Kadang manggil non, mba, nak. Tak tentu.
“Ibu mungkin mengira saya hamil. Jika iya, tak perlu Ibu bertanya siapa yang membuat saya hamil. Waktu, kondisi, keadaan, semuanya mengarah pada sesuatu yang sebelumnya saya tak tahu dan tak pernah menduga. Saya menjadi tiba pada sebuah tempat yang saya harus melakukan yang saya tak terpikirkan sedekitpun, sebelumnya. Semua orang ingin menjadi baik-baik, semua. Semua ingin punya kehidupan normal dengan segala kebutuhan dan keinginan tercukupi. Dan karena keinginan dan ingin tercukupi itu, saya menjadi seperti sekarang ini, seperti kemarin-kemarin, seperti bertahun-tahun yang telah di lewati tanpa mengerti apa hakikinya saya melakoni ini.”
Bu Wati terkesima. Ok, ia bisa ngomong seperti ini yah, bisiknya.
Wanita itu bernyanyi greyengan, terdengar seperti lagu jawa, seperti lagu Spanyol, seperti lagu barat, seperti lagu Amerika Latin. Terdengar tak tentu. Kadang terdengar riang, kadang terdengar sedih mendayu, kadang seperti ejekan, sesekali terdengar merdu, sesekali terdengar meledak-ledak seperti memuntahkan amarah. Cukup lama, dan berhenti ketika jenuh sudah merasuki jiwa dan pikirannya. Ide nyanyiannya sudah hilang, tak ada lagi lagu yang bisa mewakili dunianya. Di bawah pohon mangga di samping kiri rumah Bu Wati, selepas maghrib, wanita itu duduk di balok bangku kayu yang garis tepinya sudah mulai melapuk. Ada sedikit jamur di ujung kanan kiri. Seekor kelelawar yang berputar-putar di atasnya, ia pandangi. Buah mangga yang mualai matang menjadi incaran binatang malam bermocong mirip anjing. Ketika kelelawar itu merobek dan memakannya, ia biarkan dan terus memandanginya dengan kekaguman dan senyuman. Dan lagi, senyum yang tak ada orang yang tahu, tak ada yang mengerti. Senyum untuk malam yang pelan merambat beriringan dengan buliran rintik embun yang mulai beringsut turun.
Ketika sekelompok anak muda, enam orang, melewat di jalan dan menggodanya, wanita itu tenang-tenang saja. Saat seseorang menyiulinya dengan nada menggoda, Ia membalasnya dengan siulan lebih menggoda. Enam pemuda itu menjadi terhenti, penasaran.
“Haloo.. lagi apa nona cantik?”
“Lagi nungguin kamu-kamu.”
“Hah... yang bener? Mau dong.”
Berebutlah para pemuda itu duduk paling dekat dengan wanita itu. Tapi, semua canggung, diam, tak ada yang memulai komunikasi. Wanita cantik itu menikmati keadaan itu dan membiarkan cukup lama.
“Kalian yang dulu ngerjain saya di bawah jembatan yah?”
“Hah, bukan! Bukan kami, bukan. Sumpah!”
“Iya juga nggak apa-apa.”
“Hah...”
“Siapa saja hayoo, ngaku.”
“Hah...”
Wanita cantik itu mencubit gemes pipi salah seorang yang bertubuh atletis dengan potongan rambut sedikit gondrong berkulit sawo matang bersinar. “Yuk, kita main.”
“Main apa mbak?”
“Main anu...”
“Ayo.. “ Suara mereka hampir serempak.
“Berani bayar berapa?”
“Hah....”
“Iya dong, berani berapa. Emang ini milik umum.” Wanita itu menjawab dengan genit sambil memegangi sesuatu. “Saya biasa menaklukan lelaki-lelaki hebat. Mereka biasa merengek-merengek dihadapanku, merajuk seperti anak kecil minta mainan, mereka menanggalkan semua pakaian terhormatnya demi melepas hasratnya yang melonjak-lonjak mau muntah tertahan.”
“Yang bener mbak...”
Wanita itu tertawa lirih sedikit tertahan. Tertawa seperti mengejek pertanyaan para pemuda itu. Dan kemudian tawanya berubah menaik terkekeh-kekeh, sampai terbahak-bahak dan kemudian berhenti mendadak.
“Mereka payah. Mentang-mentang banyak uang, dihambur-hamburkan. Nafsunya juga dihamburkan. Muncrat ke langit, ke tepi langit, ke selokan-selokan, ke pinggir segara. Kau kira mereka terhormat. Tidak! Mereka memamerkan keramahan, merengek, memamerkan uang. Kalian tahu, mereka bangga bisa dengan gua, padahal gua kadang muak. Tidak semua sih, beberapa ada yang membuat gua kesengsem, kadang merindukannya.”
“Asyik nggak mba?”
“Asyik dong. Kalau nggak asyik mana mungkin gua mau. Dan yang lebih seneng lagi, duitnya.”
Dengan bahasa ‘gua gua’ dan logat bahasa gaul, nampak Ia seorang cewek metropolitan yang extrovet.
“Dan yang paling repot mereka nggak mau pakai karung.”
“Karung apa sarung mba?”
“Hahaha..”
“Kok ketawa mba?”
“Hahahahaha.....”
Melihat wanita itu dikerubuti pemuda, Bu Wati diikuti suaminya, berlari menerobos kerumunan. “Kau apakan mba ini?!” Bentak Bu Wati.
Para pemuda itu serentak berdiri terpaku.
“Mau kau apakan nona ini, hah?”
“Tadi saya hanya mendengar ceritanya bu, katanya, mba ini dulu sering ginian sama orang-orang itu.” Tangannya menunjukkan simbol tertentu dan kemudian menunjuk ke atas.
“Huss! Jangan sembarangan kamu. Ayo pergi. Pergi!” Bu Wati membentak.
Wanita itu terbahak-bahak keras. Keras melengking tinggi, tapi kemudian menurun dan terdiam, terkatup mulutnya. Matanya nanar memandang ke seberang jalan seperti kucing kampung melihat tikus remaja lewat di genteng. Tapi, mendadak binar matanya meredup, batang lehernya di tarik ke belaknag dengan dagu diturunkan. Dengan gerakan tangan seperti menarik pelatuk pistol, wanita itu mengusir para pemuda yang mengerubutinya. Sinar matanya yang jalang menembus bola mereka dan mengirimkan sinyal untuk segera pergi. Para pemuda itu segera pergi tanpa basa-basi dan cekikan lagi saat sudah berjarak tiga puluh meter.
Sesaat Bu Wati membujuk wanita itu masuk rumah. Sebelum mereka melewati pintu, dua orang lelaki menyeret paksa wanita itu sambil menutup mulut dengan gerakan cepat dan kasar,  “Dia berbahaya bu, kami harus amankan.”
“Jangan! Mau dibawa kemana ini?”
Hanya belasan detik, wanita itu sudah berada dalam mobil berkaca hitam dan segera melesat ke arah timur. Deru knalpot mobil meninggalkan asap.


3 September 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar