Minggu, 17 September 2017

KURSI GOYANG, TIGA PEREMPUAN

cerpen
djayim.com

“Tidak semua buku yang ada harus kau buka, tidak semua buku yang kau buka harus kau baca, tidak semua yang baca harus kau ingat, tidak semua.”
“Apa maksud Nenek?”
“Tidak semua yang kau dengar, kau harus tahu. Jika kau tahu pun tidak harus semua didengarkan.”
“Kenapa Nek? Kenapa? Kenapa Nek? Apa aku nggak boleh tahu? Kalau nggak boleh tahu, kenapa Nenek mengucapkannya?”
Si nenek diam. Ada pandangan kosong yang selalu ada di setiap awal melihat sesuatu. Garis wajahnya pada kulit keriput menjadi semakin dalam jika ia tersenyum. Di ujung bibirnya selalu nampak garis kesinisan sekaligus penyesalan yang tak mudah terbaca karena berubah-rubah setiap saat.
“Aku khawatir padamu cucuku yang manis?”
“Apa yang dikhawatirkan denganku Nek? Apa aku, menurut nenek akan jadi seorang selalu kalah? Aku nampak seperti itu nek?”
“Tidak. Tidak sama sekali. Kau terlalu jauh berpikir seperti itu untuk seusiamu”
“Terus?”
“Belum saatnya kau tahu.”
“Nenek selalu saja begitu. Selalu! Aku sudah terus bertambah besar Nek. Aku sudah bukan anak TK lagi Nek, bahkan sudah banyak tahu yang Nenek tak pernah menduganya. Banyak Nek, buanyaak.”
“Ah, kau cucuku satu-satunya. Yang cantik, manis, pintar..”
“Nek, boleh nggak aku tanya lagi pertanyaan yang selalu Nenek menunda untuk menjawab?”
“Tentang apa?”
“Ibu.”
Si nenek terbatuk atau lebih pas kalau disebut sengaja batuk untuk kemudian menyuruh cucunya mengambilkan segelas air putih di dapur. Kemudian langit di depannya membuka lagi begitu banyak cerita. Banyak sekali yang Ia ingin buang, banyak juga yang ingin Ia kenang untuk membangkitkan senyum yang tak mudah untuk dimaknakan. Ada awan yang bergerak cepat kemudian pecah menjadi berkeping-keping hilang, ada yang bergerak perlahan mengumpul berubah menjadi hitam dan segera menjadi mendung dan menjadi hujan yang begitu deras membuat banjir bandang di bumi, ada yang bergerombol kecil-kecil bergerak perlahan mengiringi angin sepoi membelai lembut wajah-wajah kelelahan dan mengantarkan ke tidur yang nyaman. Angin selalu saja merubah arah awan atau juga merubah warna. Mengantarnya kemana saja yang tak pernah terduga. Angin terlalu sering memberi kabar yang tak pernah terduga. Kabar tentang cerita burung-burung yang bernyanyi di setiap pagi dan berhenti tanpa ada yang mengganggu. Kabar tentang anak kecil yang kehilangan orang tuanya karena perang kayakinan dan gengsi. Kabar tentang anak-anak jalanan yang ingin pulang ke rumah tanpa tahu di mana mereka harus pulang. Kabar tentang nyanyian di pagi hari yang mengantar orang-orang berangkat kerja tanpa khawatir anak-anak di rumah akan kena musibah. Kabar tentang pekerja-pekerja malam yang selelu bergelut dengan pekat dan dinginnya malam yang membisu dan tak mau tahu. Kabar tentang sesuatu yang sering tak di mengerti. Kabar tentang sesuatu yang sangat dibenci. Kabar tentang sesuatu yang sangat dinanti.
Tak ada seorang ibu yang tega mencelakakan anaknya sendiri. Tak ada! Bisik nenek hampir bergumam dan segera menutupi dengan gerakan melap mukanya agar tak ketahuan cucunya yang pasti sudah siap mencecarnya. Aku tak pernah bermaksud mencelakakan anakku yang manis, wanita tercantik di dunia, pada satu tempat yang sampai saat ini Ia tak bisa keluar darinya. Atau malah Ia tak pernah berusaha untuk mengakhiri cara kehidupannya. Anak yang manis dan penurut itu telah mandiri dan tak pernah lagi mendengar kata-kataku yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia hanya akan mendengar apa yang cocok dengan pikiran dan egonya.
“Ibu sendiri yang telah mengantarkan aku ke sana, kenapa Ibu sekarang melarang. Apa Ibu ngiri karena Ibu dulu tidak seperti saya sekarang! Atau sebenarnya Ibu merasa kurang dengan uang yang saya berikan sementara Ibu sudah tak punya tabungan lagi?”
“Ibu tak pernah mengantarkanmu ke sana, tak pernah. Jangan kau sakiti aku dengan kata-katamu nak, jangan. Ibu sudah cukup menderita. Sudah sangat menderita.”
“Maaf, saya minta maaf. Tapi, bukankah Ibu yang selalu mengajari agar aku menjadi orang yang punya pendirian dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain? Ibu yang mengajariku agar selalu mengambil setiap kesempatan yang datang, bahkan dengan berlari menjemputnya? Jangan membiarkan satupun kesempatan yang ada. Jangan berharap kesmpatan kedua akan datang dan rakuslah terhadap kesempatan. Ibu kan yang mengajari? Dan sekarang Ibu, kesempatan itu masih ada, masih terbuka, dan aku akan tetap berada di sana sampai tak ada lagi kesempatan yang bisa di raih dengan keadaan saya. Ibu yang yang mengajari aku untuk menikmati setiap keadaan yang ada tak perlu memepedulikan omongan orang karena orang lain akan senang jika melihat kita sengsara.”
“Cukup anakku, cukup. Itu aku ingat semua, aku ingat. Tapi, di mana kau berada sekarang, di mana? Jangan sampai terlambat. Jangan terlambat, jangan sepertiku. Jangan seperti aku anakku. Ibumu!”
“Sama seperti Ibu dulu, di situ tempatku. Dan Ibu sudah tahu itu. Ibu memang tak pernah mengantarnya ke sana. Tapi jika kemudian tiba-tiba saya berada di sana dan aku merasa masih betah di sana, apakah aku harus mengingkarinya?”
“Sudah, sudah. Aku tak mau bertengkar denganmu. Kasihan kalau anakmu terbangun. Ia nampak lelap sekali. Seharian ia bermain-main dengan teman-temannya. Berlarian kesana kemari. Ia sepertimu waktu kecil dulu.”
Rasa penyesalan kembali menggelayut di ingatan nenek itu. Bagaimana Ia dulu sering menelantarkan anaknya, di titipkan pada tetangga, kenalan, saudara, ditinggal berhari-hari. Selalu saja Ia ingin segera  melupakan kegetiran itu dengan membaca. Membaca tentang apa saja.
“Nenek melamun lagi? Nenek ingat Mama ya? Iya? Kok Mama lama sekali nggak pulang ya Nek? Yang suka datang memeluk aku, itu, Mama aku bukan Nek? Kok kaya orang asing begitu. Kalau datang selalu bertengkar dengan Nenek. Masa ibu sama anak selalu bertengkar? Kenapa Bapak saya tak pernah datang Nek? Bapak saya seperti siapa sih Nek? Kok Nenek tak pernah cerita. Kenapa Nek?”
Pertanyaan yang sama muncul lagi di mulut yang berbeda. Dulu, Ibunya anak ini selalu bertanya tentang Bapaknya yang tak pernah di lihatnya. Ia kemudian bercerita tentang seorang lelaki pengembara yang gagah yang selalu mengembara adalah Bapaknya yang tak pernah pulang dalam pengembaraannya. Cerita pengembaraan itu selalu berakhir berbeda di setiap malam sampai kemudian anaknya tertidur dan lupa pada pertanyaannya.
Nenek itu mengambil sebuah buku di atas meja di samping kursi goyangnya. Ia mengambil sekenanya dari sekian banyak yang tercecer. Dibacanya sebentar dari awal halaman yang dilipat. Beberapa menit kemudian Ia mengambil pulpen dan menulis di pinggiran halaman yang sedang Ia baca; ‘nasib seperti ini tak akan mungkin dialami oleh kaum lelaki. Adil??’ 
Apa sebenarnya yang harus dijaga? Apa jika aku menjaganya dengan baik dan berhasil, mereka akan menanggung semua kebutuhan hidupku? Atau aku yang begitu berprasangka buruk pada kehidupan yang sebenarnya sangat bersahabat dan indah? Aku sedang kembali mungkin ini, kembali kemana ini? Aku tak mengerti dan sulit sekali mengerti. Begitu berbeda pikiranku kah dengan pikiran mereka? Mereka nampak normal dan bergairah menghadapi hidup yang terus dipenuhi persaingan. Mereka bergembira seperti cucuku yang bermian-main dengan teman-temannya dan tak pernah merasa cukup selesai sehari untuk kemudian mengulanginya esok hari. Pertanyaan-pertanyaanku bodohkah?      
Ia mencari jawaban di buku-buku yang tak pernah bosan dan tak pernah berkomentar dalam menemaninya. Ribuan buku dan ribuan pengarangnya selalu berbeda bercerita dan bercara pandang dalam satu masalah dan bahasan yang sama. Semua merasa baik dan benar. Manakah yang baik dan benar untukku? Ia sering berkomentar pada kalimat-kalimat yang menarik pikirannya. Mencoretnya, menambahkan, menggarisbawahi, memberi tanda tanya besar, memberi tanda petik. Ada juga kalimat atau kata yang dicoret berulang-ulang sampai tak terbaca, bahkan ada yang sampai kertasnya robek. Ada kejengkelan yang meledak di sana. Kejengkelan yang Ia sendiri tak bisa menulisnya.
Di sebuah sore. Saat matahari biasanya nampak mulai tenggelam, gerimis membuat cucunya berada di teras rumah ikut membuka-buka buku. Si nenek selalu khawatir cucunya akan bertanya banyak hal yang sulit untuk menjelaskan satu hal yang tak perlu dimengerti oleh anak seusianya. Rimbunan pohon mangga dan rambutan yang daunnya menutupi sebagian pandangan di depan terasnya, sering bergerak saling bergesek menyenandungkan lagu-lagu yang berubah-berubah sesuai dengan keadaan hati si nenek. Pohon-pohon di depan rumahnya, cicak di dinding yang telah berpuluh kali regenarasi, angin malam seputaran rumah, burung pipit yang selalu bersarang di atas dahan tepat di atas pintu gerbang kecil, kelinci putih yang bersarang di lubang teras belakang di bawah ranjang kecil yang sudah tak lagi dipakai, telah menjadi akrab dan tahu betul apa yang sering dipikirkan dalam gumamannya. Tapi, gadis kecil cucunya, yang ceria dan selalu tertawa riang dan lepas itu, semakin tak mengerti apa yang selalu ada di benak neneknya dan semakin penasaran kenapa pertanyaannya yang sama sering tak dijawab atau dijawab dengan jawaban berbeda-beda.
Saat malam, saat larut malam yang dingin dengan angin yang sama sekali tak bergerak, saat kendaraan yang membawa orang yang berpulang atau pergi sudah jarang sekali lewat, nenek yang masih memegangi buku dan membacanya halaman per halaman dengan tak teratur, terkejut dengan pertanyaan cucunya.
“Apa kakek yang suka datang sembarang waktu itu kakekku, Nek?”
Ia tak langsung menjawab. Ada pertimbangan lain yang dipikirkan untuk menjawabnya. Ada sangkaan pertanyaan sambungan lagi yang akan terus bersambung dari mulut manis cucunya yang terus menumpuk rasa penasarannya. “Lho, kamu kok terbangun sayang. Ada apa? Kamu mimpi buruk ya? Ayo, tidur lagi. Nenek temani ya?”
“Aku kan belum tidur Nek. Sedari tadi sore aku kan belum tidur. Aku kasihan Nenek, jadi aku ingin selalu menemani Nenek di sini. Aku ingin mengajak Nenek masuk rumah, tapi Nenek tampak sekali asik membaca. Tapi, kenapa Nenek sering sekali membaca ulang halaman yang telah dibaca?”
Si nenek merasa pertanyaan kedua cucunya telah melupakan pertanyaan pertama tentang kakek yang sering datang, yang bukan hanya seorang, pada waktu yang tak pernah tentu dan sering pada saat orang lain tak lagi merasa pantas untuk bertamu.
“Ini karena Nenek sangat terkesan dengan bacaan ini. Nenek ingin menikmati setiap kata dan kalimat yang ada dalam halaman-halaman ini. Kau memperhatikan ini seluruhnya cucuku?”
“Iya. Tapi Nenek belum menjawab pertanyaan aku yang pertama, kenapa Nek? Apa lelaki yang kadang mengantar Mama pulang itu Bapakku Nek? Kenapa berganti-ganti? Bapakku banyak ya nek?”
Nenek terdiam. Tak mengerti apa yang harus dikatakan untuk menutup pertanyaan cucunya yang tak pernah berhenti. Malam selalu saja tak bisa mengajaknya tidur dan melupakan kenyataan untuk beralih ke ruang mimpi yang indah penuh bunga warna warni. Sampai kemudian Ia berharap tak ada lagi malam. Jika di siang hari terasa bising dan panas, Ia juga sering berharap tak ada lagi siang.
“Tak ada seorang anak dengan lebih dari satu ayah biologis cucuku. Jadi ayahmu hanya satu, bukan banyak. Ayah Mamamu juga hanya satu, bukan banyak. Kau mengerti cucuku yang manis?”
“Jadi ayahku siapa Nek? Bapakku mana Nek? Dia sekarang di mana? Kenapa tak pernah mengajakku bermain, pergi ke pantai, ke Mall, ke Ancol, ke Bali, ke puncak Bogor, mengantarku bermian di kolam renang, membelikanku sepatu baru. Kenapa Nek? Kenapa ayahku tak pernah membelikanku boneka yang berbulu untuk menemaniku tidur yang selalu tanpa mama. Selalu sendiri. Kenapa Nek? Apa mamaku dulu juga seperti aku Nek?”
“Kau lebih bernasib baik cucuku yang manis.”
“Kenapa begitu Nek? Kenapa?”
“Karena kau ada Nenek yang menemanimu dan mau mendengarkan kamu.”
“Tapi, Nenek tak pernah menjawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Di mana ayahku? Di mana kakek, ayahnya mama? Teman-temanku sering bercerita tentang ayahnya, tentang kakeknya, tentang liburan di rumah kakek dari mama, kakek dari ayah. Aku jadi benci kalau mereka cerita tentang itu.”
Si nenek membawa cucunya pada dongeng yang segera Ia susun sendiri dari berbagai cerita yang disambungkan sekenanya. Ia bawa cucunya ke tempat tidur. Ia rebahkan cucunya di atas kasur awan berbantal bulu-bulu peri di bawah langit penuh bintang kerlap kerlip warna warni. Ia ceritakan tentang burung kecil di dalam sarang mungil dari serabut kembang ilalang di pucuk pohon beringin yang besar di tepi air terjun yang tak pernah kering, tanpa saudara dan teman. Induknya yang hanya datang jika mengantarkan makanan, selalu penuh kasih dan cinta. Sampai kemudian si induk selalu menemaninya, sampai si burung kecil itu bisa terbang dan terbang sesuka hati sendiri. Sampai ia berhak menentukan pohon yang mana yang akan disinggahi. Beranak pinak, bernyanyi bersama setiap saat. Mencipta bersama-sama nyanyian-nyanyian baru. Mencipta pohon cinta yang penuh dengan ranting-ranting kasih sayang, penuh dengan daun-daun kelembutan cinta.
Nenek itu tertidur, juga cucunya, terbuai oleh ceritanya sendiri. Dini hari, menjelang subuh, sebuah ketukan pintu membangunkan mimpinya. Ia hafal betul cara ketukan dan tempat mana ketukan itu. Ia segera bangun, “Kau pulang nak?”
“Iya bu,” ucapnya lirih. Ada nada kelelahan di suaranya.
Nenek itu segera membuka pintu, “kau kedinginan nak, ayo cepat masuk. Kamu sendirian? Naik apa tadi?”
“He-em. Naik taksi.”
“Ayo cuci muka dulu, baru tidur. Dan besok tak usah kau pergi lagi. Mama harap kau tak pergi lagi. Aku sangat berharap nak.”
“Sudah dulu ma, itu besok saja bicaranya.”
“Oke, sekarang kamu tidur, tidur nyenyak nak. Anakmu rindu pelukanmu. Tidurlah di sisinya. Ia sering mengigau memanggilmu. Peluk ia dengan kasihmu.”
“He-em ma. Aku bawakan mama banyak buku kesukaan mama. Aku juga bawa makanan kesukaan mama dan  kesukaan anakku. Aku tidur ma.”
“Tidurlah anakku. Bermimpi indahlah…”
Malam terus melaju seperti biasa. Tak terpengaruh oleh tiga manusia perempuan di dalam satu rumah yang sedang mengarungi hidup di ruangnya masing-masing. Di luar, gelap masih saja belum sepenuhnya terusir oleh lampu-lampu jalan dan lampu-lampu teras rumah. Embun mulai deras turun membungkus angin dan diam menggigil tak bergerak. Ada lengkingan kokok ayam jantan yang membelah malam merambat cepat menuju pucuk langit. Kemudian semua terdiam, membisu. Semua ikut mendukung untuk apa yang disebut dengan malam pekat. Pucuk-pucuk daun bersedekap erat menahan dingin sambil terus berharap pagi datang membawa hangat mentari dengan disambut nyanyian seluruh burung di bumi. Bintang di langit tak lagi secerah di awal malam. Bulan sabit sudah lama turun ke sarangnya. Sebersit angin lembut lewat mengipas tepi-tepi daun yang terbungkus dingin yang makin menggigit. Seekor tokek kurus di langit-langit teras di atas kursi goyang terjingkat kaget.
Pagi muncul seperti biasa sedari berpuluh-puluh abad lalu. Tapi, pintu rumah nenek itu tak terbuka juga meski bayang-bayang sudah tak lagi panjang. Di atas meja di teras rumah, masih berserakan banyak buku memenuhi seluruh permukaan. Saat semua tetangga memutuskan untuk mendobrak pintu, tiga orang perempuan, Ibu, anak dan cucu terlelap pulas dalam satu ranjang dengan seprei tak begitu kusut. Di meja, ada sisa makanan dan tiga gelas yang airnya tinggal setengah gelas. Ada sedikit busa di menggumpal di kedua tepi mulut mereka.

Tak ada yang bisa membangunkan tiga perempuan itu. Hanya sedikit tangis dan keheranan mengerayap pada benak-benak yang tak juga mengerti. Mereka tak tahu sanak famili yang mana dan dimana harus dikabari. Mereka, bertiga, pergi bersama-sama tanpa pesan dan tanpa wasiat. Pada HP yang tergeletak di atas kasur, tertulis sms; mari kita tidur bersama ibu dan anakku.. entah untuk siapa. Gerimis tiba-tiba turun dari langit yang tiba-tiba meredup. 
okt 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar