Selasa, 16 Januari 2018

IBU MENUNGGU DI STASIUN


sebuah Cerpen.

djayim.com
Setiap kali musik kaleng yang di pukul tak beraturan berbunyi, perempuan itu selalu berharap anak satu-satunya pulang dengan kereta yang datang. Jika siang hari selalu ia menyempatkan untuk datang ke stasiun untuk memperhatikan setiap penumpang yang turun dari kereta dengan harapan anaknya ada di antara mereka. Dan bila malam hari dan telah larut malam, ia akan bangun dari tidur, menunggu kira-kira anaknya sampai ke rumah seperti biasa kalau pulang. Jika hari masih petang ia pasti datang ke stasiun sampai udara terasa amat dingin menyiksa.
Musik kaleng itu berasal dari para pedagang asongan yang memukul kaleng-kaleng bekas menjelang kereta datang. Mereka sangat hafal jam-jam kereta tiba. Entah untuk maksud apa mereka memukul-mukul kaleng bekas. Kapan pertama hal itu di lakukan pun tak ada yang tahu.
Mungkin musik kaleng itu untuk membangunkan para pedagang asongan yang tertidur. Jika iya, bukankah saingan antar pedagang jadi bertambah. Atau, mungkin tadinya mereka kecewa dan jenuh menunggu kereta yang datang telat lama dari jadwal. Atau juga sebuah ekspresi kegembiraan menyambut calon pembeli yang mereka tunggu-tunggu. Yang jelas musik kaleng itu selalu terdengar menjelang kedatangan kereta. Sesekali tercipta lagu-lagu balada yang kreatif, kritik sana-sini. Dalam musik  itu tampak jelas keceriaan kaum pinggiran.
Dan  musik  kaleng  bekas  itu  selalu menggugah hati seorang ibu yang selalu menanti anaknya. Seorang Ibu biasa di panggil Bu Tiwi atau Mbok Tiwi. Nama lengkapnya Pertiwi. Ayahnya seorang pejuang yang gagah berani di masa perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia, dan saat mempertahankan kemerdekaan.
Sejak tiga tahun yang lalu Bu Tiwi tinggal bersama dengan adiknya. Ia dengan sangat terpaksa harus hidup menumpang karena ia tak sanggup membiayai hidupnya dengan sekedar kerja ringan pun untuk mencari sesuap nasi untuk dirinya.
Suaminya seorang masinis yang mati mendadak akibat sakit yang belum sempat terdeteksi oleh dokter. Anak pertamanya, perempuan, mati terserempet kereta ketika sedang asik bermain-main di pinggir rel dengan teman-temannya. Umurnya baru lima tahun, ia cantik dan pintar. Sayang, Tuhan menghendaki lain. Sejak kematian anak pertama Bu Tiwi, suaminya  sering  sakit-sakitan. Mungkin karena kehilangan anak perempuannya, sampai kemudian mati. Sejak itu Bu Tiwi harus berjuang keras membesarkan anak keduanya yang masih berumur satu tahun dan seorang anak laki-laki yang kemudian sangat di harapkan untuk dapat menafkahi hidupnya di hari tuanya.
Atas dasar rasa cinta pada suaminya, ia berjanji tak menikah lagi meski ketika ia di tinggal suaminya, sebagai wanita, masih cukup menarik hati laki-laki. Dengan usaha dan kerja kerasnya, ia berhasil menyekolahkan anak kesayangannya tamat SMA. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Bu Tiwi, juga sebagai bukti baktinya pada suami tercinta.
***
Di saat sendiri, Bu Tiwi sering menyesali diri kenapa ia dulu mengijinkan anak satu-satunya, Yusuf, pergi ke kota. Rasa sayang pada anaknya tak sanggup menolak terus menerus permintaannya.
“Percayalah Bu, nanti kalau Yusuf berhasil di kota, Ibu akan saya jemput dan kita akan tinggal di kota. Kita tinggalkan tempat yang telah memberi kita kesengsaraan ini. Do’a kan Yusuf, Bu.”
Itu suara Yusuf yang terngiang ketika Bu Tiwi luluh oleh rengekan Yusuf. Setiap saat Bu Tiwi selalu berdoa untuk keselamatan anaknya. Untuk kemudian berbagai harapan dan kekhawatiran berbaur di ruang benaknya.
Banyak orang bilang jika doa seorang Ibu adalah doa yang mujarab, dan Bu Tiwi cukup meyakini itu untuk lebih memantapkan dirinya dalam berdoa. Doa yang tercipta dari gumpalan-gumpalan harapan yang terucap menjadi sebuah syair. Ia terus berdoa, berharap dan bermimpi.
Di menjelang tidur ia selalu mengucapkan syair untuk anak tercintanya; Angin yang menyatu satu antara nafasku dan nafas anakku. Ucapkanlah suara batinku pada hati sanubari anakku agar dia tahu harapan ibunya. Seorang Ibu yang telah melahirkanmu ke dunia , seperti juga kamu yang melahirkan harapan dan impian untukku, ibumu. Harapan yang selalu berubah , kadang indah melambungkan hati, kadang pedih menusuk hati. O, bumi yang di pijak aku dan anakku. Jaga dia dari malapetaka dan  keserakahan manusia.
 Meski waktu telah terus menjawab doa-doa Bu Tiwi dengan ketidakpastian, ia terus berdoa untuk menghibur diri. Terus berharap sebagai penyemangat hidup.
Doa terkait erat dengan harapan. Dan, kenyataan adalah hal yang telah dan sedang terjadi. Terjadinya kenyataan apakah terpengaruh oleh doa, belum ada orang yang berani memastikan. Dan, Bu Tiwi tak peduli dengan itu. Baginya doa adalah suatu keasyikan tersendiri. Ia menikmati itu semua.
Sering kali Bu Tiwi terpaksa harus mendengar berita tentang kecelakaaan kereta. Meski ia benci mendengar itu, tapi kemudian Bu Tiwi diam-diam mencari sumber informasi yang lebih jelas tentang nama-nama korban agar ia yakin Yusuf tak termasuk di dalamnya. Tak hanya Bu Tiwi, ibu-ibu yang lain juga begitu. Mengkhawatirkan tentang harapannya.
Semua kejadian itu terekam jelas dalam ingatan Bu Tiwi: Kereta terjun ke jurang; sebuah sabotase. Tabrakan antar kereta; hasil kerja kelompok tertentu. Kebakaran kereta penumpang; ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu. Kereta anjlok dari rel; kerusakan rel yang di duga di sengaja. Pembajakan kereta malam di sertai pembunuhan; sebuah balas dendam. Bis tertabrak di pintu kereta, puluhan korban tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Tujuh gerbong kereta penumpang tertimbun longsoran tanah.
Semua berita mengalir ke telinga Bu Tiwi mengusik ketenangan dan impian. Siapa yang begitu sadis mencelakakan sesama manusia. Ada maksud apa mereka. Apa tujuannya. Apa benar dugaan-dugaan berita itu atau sekedar rekayasa berita untuk mengacaukan rakyat. Jika hanya rekayasa berita, apa tujuannya. Duh, dunia. Untuk apa semua yang terjadi sekarang di dalam mempengaruhi masa datang. Kenapa  harus  sesama  manusia  yang menjadi korban.  Duh penghuni bumi yang disebut manusia, makhluk pembunuh, perusak, rakus, haus kuasa. Makhluk sosial yang seketika bisa berubah menjadi biadab, amoral, asosial. Apa yang menyebabkan manusia begitu gampang berubah. Apa karena manusia punya akal dan pikiran?
“Sudahlah Bu Tiwi. Jangan terlalu berharap tentang kepulangan Yusuf dan berita baiknya. Harapan yang terlalu besar akan lebih membebani di dalam menanti dan juga nanti kalau harapan itu ternyata sebaliknya.” Demikian ucapan Amin, keponakan Bu Tiwi yang mahasiswa semester tujuh, untuk menghiburnya. Ucapan yang kedengaraannya klasik tapi bagi Bu Tiwi satu siraman tersendiri untuk hatinya yang kering.
“Tapi, kau juga selalu berharap negara kita menjadi lebih baik. Kau masuk di beberapa kelompok aktifis.”
“Tujuan kami mulia Bu De. Untuk rakyat banyak. Untuk keadilan.”
“Adil bagi siapa. Adil menurut siapa.” Pertanyaan yang sering muncul di batinnya dan tak jarang terlontar keluar. “Dan aksi-aksi demo kelompokmu sering di manfaatkan pihak lain, mereka di untungkan oleh kamu. Mereka memanfaatkan. Kemudian mereka lebih dulu memetik keuntungan.”
Bu Tiwi terdiam. Ia tak sadar apa yang barusan di ucapkan. Kalimat-kalimat yang sering ia dengar di pinggir rel, di pemandian umum, di sore hari sambil mencari kutu rambut, di warung sebelah, di tempat-tempat arisan. Bu Tiwi hanya hafal kalimat-kalimatnya tanpa tahu apa maksudnya. Kemudian ia segera sadar; orang kecil macam saya tak pantas berkata seperti itu. Cukup jadi pendengar saja. Itu kata-kata orang politik, dan aku tak tahu apa-apa tentang politik.
Amin termangu, “Tak kusangka Bu De bisa ngomong seperti itu. Benar kata Bu De. Tapi kami yakin, tujuan mulia, di manapun dan kapanpun akan tampak mulia.”
“Maaf nak, Aku hanya menuturkan kata orang-orang. Orang kayak Bu De tak pantas ngomong begitu. Harapan tentang Yusuf juga tak kunjung datang, apa lagi harapan yang lebih besar.”
“Nggak apa-apa Bu De. Semua orang bebas bicara, termasuk Bu De.”
“Tapi kalau semua orang bicara, semua ingin di dengar, dan semua ingin yang paling didengar. Terus kami harus mendengar siapa.”
“Mendengar yang menurut Ibu benar.”
“Apa yang menurut Ibu benar, menurut nak Amin juga benar. Menurut orang lain juga benar. Apakah harapan saya tentang Yusuf menurut kamu juga benar. Juga menurut orang lain, sedang kau tahu, aku kehabisan waktu untuk harapan itu.”
Amin terdiam. Ia teringat tentang Bu De Tiwi ketika masa mudanya. Seorang gadis yang pintar, rajin beribadah, berbakti pada orang tua. Bu De Tiwi juga ikut di beberapa organisasi aktivis dan LSM. Sampai kemudian ia di jodohkan orang tuannya. Dan selanjutnya hari-harinya di isi dengan tugas  sebagai istri; mengurus rumah tangga, suami dan anak.
“Benar seperti menurut hati nurani,” ucap Amin, “Hati nurani manusia saya kira semua sama.”
“Apa hati nurani saya sebagai seorang ibu sama dengan hati nuranimu? Apa hati seorang politikus sama dengan hati  nurani  seorang serdadu, seniman, ibu rumah tangga, preman, pengemis?” suara Bu Tiwi terhenti sebentar, “Siapa yang tahu isi hati nurani seseorang?”
Amin manggut-manggut.
“Seperti apa isi hati nurani orang-orang yang membuat kereta itu kecelakaan dan banyak memakan korban?”
***
“Kau datang juga nak, ibu kangen sekali. Ibu selalu menunggu kamu di stasiun ini setiap saat. Setiap kereta datang.” Kata-kata Bu Tiwi tersendat-sendat sambil terus memeluk anaknya Yusuf. Yusuf hanya bisa diam sambil mengusapkan air matanya di pundak ibunya. Ia merasakan tubuh ibunya yang lemah dan rapuh juga kulitnya yang telah mengendur.
“Kau sendirian nak?” Tanya Bu Tiwi, “Mana anak istrimu? Aku ingin sekali menggendong cucuku. Mana?”
Dalam surat terakhir yang di terima Bu Tiwi, Yusuf mengabarkan niatnya akan menikah dan akan datang mengenalkan calon istrinya.
“Aku belum menikah Bu.”
“Kenapa?”
“Calon istriku, yang dulu saya tulis dalam surat, tertabrak ketika menyebrang rel dengan motor yang di tungganginya. Ia mati, saya sangat mencintainya, Bu.”
“Sudahlah, lupakan.” Kata Bu Tiwi dengan nada arifnya, “Ibu selalu mengkhawatirkanmu nak, apalagi banyak sekali Ibu dengar berita kecelakaan kereta. Ibu  was-was,  takut,  jangan-jangan kamu ikut  kereta naas itu.  Ibu  selalu  mengutuk orang yang membuat celaka kereta-kereta itu. Seandainya Ibu mampu, Ibu akan bunuh orang-orang jahat itu.”
“Bu, ayah mati karena penyakit yang di bawa ketika menjadi masinis, kakaku satu-satunya mati terseret kereta, kekasihku, calon istriku mati tertabrak kereta. Badannya tercabik-cabik mengenaskan. Dulu, menurut ceritera ayah, kakekku mati kelaparan dan kepanasan ketika menjalani kerja paksa membangun rel kereta ini. Juga kakek ayahku mati kerja paksa di jaman Belanda. Aku memendam dendam yang teramat sangat pada kereta-kereta itu Bu. Akulah yang membuat kereta-kereta itu jumpalitan, tabrakan, anjlok, terjun ke jurang, terbakar …”
Bu Tiwi diam. Kepalanya terasa berat. Ia terkulai lemas. Ia memeluk Yusuf erat. Lewat hawa hangatnya Ia tumpahkan seluru kasih sayang seorang ibu pada anaknya. “Tak mungkin nak, tak mungkin kau berbuat seperti itu, tak mungkin. Kau anak baik.” Sorot matanya yang telah pudar menatap tajam Yusuf.
Yusuf menatap wajah ibunya yang keriput dengan penuh iba dan kasih, “aku yang melakukan itu semua bu,” bisiknya penuh sesal. ***
Des 2003     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar