Selasa, 22 Januari 2019

LENGGER KLANGENAN


CERPEN.

Lengger Asih itu lengger hebat. Ia bisa menjadi pembicaraan sampai berjam-jam bagi para penggemar lengger. Ia memang lengger yang punya daya tarik khas. Setiap pentas Ia selalu membuat penontonnya enggan pulang –terutama penonton lelaki- dan jika pulang mereka membawa segudang rasa penasaran. Mereka bisa terus  tertawa-tawa, mentertawai kata-katanya sendiri, sambil membayangkan seluruh lekuk tubuh lengger Asih sambil menikmati kopi di warung Mbok Imah dengan rokok Djarum Coklat menjadi teman istimewa karena jika di rumah mereka cukup rokok lintingan dengan aroma kemenyannya yang khas. Setiap orang selalu berlomba mencari kalimat baru yang segar yang membawa orang ke ruang khayal tentang lengger Asih dan tentu supaya timbul tawa baru.
“Kalau lengger Asih jadi istri saya, semua orang yang berani mendekatinya, saya bunuh!”
“Kalau saya sih tak perlu ia jadi istri saya asal setiap saya butuh ia ada dan siap.”
“Enak aja, emang lengger Asih barang dagangan. Ia hanya pantas untuk lelaki yang perkasa dan hebat. Siapa yang paling kuat dia yang berhak memilikinya. Kita adakan sayembara, pertarungan.”
“Nggak usah pakai sayembara pertarungan, kalau saya, saya dikasih kesempatan berasyik mesra semalaman dengan lengger Asih terus besok paginya ditembak mati, saya mau.”
“Saya tak pernah lupa bagaiamana Ia menggoyangkan bokongnya. Andai saja bisa, saya ingin mengambil bokongnya untuk dipasang di meja kamar, cukup bokongnya saja, nggak apa-apa.”
“Kalau istrimu ngamuk?”
“Suruh dia bikin bokongnya seperti bokong lengger Asih.”
“Ha ha ha.”
“Ha ha ha.”
Besok malam di rumah Pak Sasmito, Lengger Asih mau ditanggap. Hampir tak ada yang terlupakan untuk dibicarakan semua tentang Lengger Asih. Bibirnya yang basah, suaranya yang merdu, pinggulnya yang nawon kemit, lehernya yang jenjang, lengannya yang panjang, matanya yang tajam, jari lentiknya dengan kuku yang terpelihara rapi, alisnya yang tebal bak lebah beriring, bahunya yang rata, cara menarinya yang membikin geregetan dan cara menanggapi kata-kata nakal dari para lelaki dengan senyumnya membikin mereka malu mengulangi, semua jadi bahan pembicaraan yang tak pernah membosankan.
Jika mereka tak ingin mengakhiri  obrolannya tentang lengger Asih, lain bagi seorang pemuda bernama Purwanto. Ia tak ingin lengger Asih menjadi bahan tertawaan dengan benak penuh khayalan seronok. Purwanto, lengkapnya Eko Purwanto, ingin menghentikan canda jorok mereka dengan cara apapun meski setiap kali niat itu dibatalkan. Karena Ia juga harus sadar, itu hak mereka untuk bersendau gurau, pelepas lelah sehabis seharian kerja di ladang atau sawah, lagi pula lengger Asih sudah menjadi milik para penggemarnya, milik para fans setia yang setiap pentas selalu bertambah deret hitungnya.
Purwanto jadi ingat tentang ronggeng Srintil (dari Dukuh Paruk), seorang bocah yang jadi incaran orang tua bajul buntung bau tanah busuk hanya karena Ia jadi seorang Ronggeng. Dan sekarang, di hadapan Purwanto, orang-orang tua tertawa terbahak membicarakan lengger Asih, ronggeng Asih, sampai gigi-gigi gerahamnya yang paling hanya seminggu sekali disikat terlihat semua dengan bau bangkai dan baju yang menabur aroma sengar rokok klembak menyan dan keringat basi.
Keyakinannya dengan cinta yang mampu memepengaruhi Asih telah dicoba. Berkali-kali.
“Mas Pur kan kenal saya setelah saya jadi ronggeng, jadi lengger, dan itu berarti Mas Pur sudah mengerti bagaimana resiko punya pacar seorang lengger. Kalau Mas Pur percaya sama saya, semua akan baik-baik. Dan saya bukan lengger seperti yang mereka bicarakan; gampangan!”
“Tapi, cap tentang lengger yang  itu gampangan, bisa diajak tidur, telah melekat di pikiran mereka.”
“Saya akan buktikan anggapan mereka salah!”
“Tak gampang merubah anggapan yang telah melekat turun temurun.”
“Itu salah mereka, bukan salah saya kan? Mereka yang gampangan memvonis.”
Purwanto diam, karena Ia tahu Asih masih mampu menjaga kehormatannya sebagai wanita meskipun predikat lengger tenar melekat padanya. Sama seperti yang sudah-sudah, telah berbagai cara untuk membujuk Asih berhenti jadi lengger tak sedikitpun ada tanda-tanda Asih tersentuh hati. Asih yang lulusan sekolah menengah karawitan, selalu bisa membawa arah pembicaraan ke hal lain yang lebih mengasyikan. Dan Purwanto terbawa arus obrolan Asih, asyik masyuk sampai malam menebar hawa dingin. Sampai jarum jam terlalu cepat berjalan dan sampai enggan pulang.
Tujuh setengah bulan berpacaran, mereka sudah merasa cukup untuk saling percaya, saling menjaga cinta untuk tetap bersama. Kadang juga mereka bicara masalah rumah tangga bahagia yang mereka akan bina dalam ruang khayal yang mereka cipta; keindahan romantisme cinta!
Meski Purwanto bisa mengambil kesimpulan, Asih akan menurutinya jika telah berstatus suami, membujuk Asih untuk berhenti jadi lengger adalah tantangan yang harus bisa dilewati. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menikahi Asih jika Asih telah berhenti jadi lengger, jadi Ia akan menikah bukan dengan lengger, tetapi telah benar-benar bukan lengger. Suara olok-olok seronok tentang lengger Asih disimpannya dalam hati, Ia anggap ujian untuk membuktikan cintanya pada Asih. Dan Ia tak tahu kapan Asih akan berhenti jadi lengger karena setiap membujuk dan mempengaruhinya belum ada tanda-tanda akan berhasil. Sampai kapan? Sebuah pertanyaan yang selalu mengganggui pikirannya.
Ia juga pernah mencoba menemui orang tua Asih agar mau ikut membantunya dan hasilnya sama saja. Meski orang tua Asih menyukai kesenian lengger, mereka tak ingin anaknya menjadi lengger dan mereka gagal menghentikan langkah Asih. “Kalau saya tahu akhirnya Ia jadi lengger, saya tak akan menyekolahkannya di lanjutan, cukup di SD atau SMP saja.”
Menurut orang-orang tua di desa itu, Asih telah ketiban indang lengger Mbah Kesih yang meninggal sepuluh tahun lalu. Mbah Kesih seorang lengger yang sangat terkenal ketika masa revolusi. Ketenarannya meluas sampai ke beberapa kabupaten di sekitarnya. Mbah Kesih dan Mbah Parjo (Tukang kendang yang juga suaminya) menjadi orang yang paling ditunggu di setiap pementasannya.
                                                     * * *
Pentas lengger Asih waktu perayaan perkawinan putri bungsu Pak Sasmito berakhir dengan keributan. Pementasan yang sedianya dua malam, harus dibubarkan ketika pertunjukan baru berjalan setengah waktu. Ketika malam mulai menebar angin dingin dan anak-anak yang sudah ngantuk mengajak ibunya pulang, para lelaki berebut joged di depan lengger Asih yang ditemani lengger Inah. Mereka sudaha tak tahan jika hanya sekedar terus memelototi jogedan lengger Asih atau juga karena juga mereka tak lagi malu dan risih pada anak-anak mereka yang telah pulang bersama ibunya. Mereka juga ikut bernyanyi senggakan seperti koor dengan penuh semangat meski dengan begitu suara lengger asih yang merdu mendayu harus tertimbun. Setiap hentakan bokong lengger Asih ke samping kanan atau ke samping kiri mengikuti ketukan suara kendang, suara mereka secara bersama-sama penuh semangat berteriak; domak ting ting joss, domak ting ting joss! Joss!
Bermula berebut tempat jogedan di depan muka lengger Asih berlanjut menjadi saling sikut dan mendorong. Semua berebut, yang muda tak kalah, yang tua tak mau keduluan. Tamu undangan kondangan yang sedang menikmati sajian hajatan sambil menonton, satu persatu mulai pulang benci melihat keributan. Tiga orang Hansip tak mampu meredam suasana yang terus merambat panas. Lengger Asih turun panggung diikuti lengger Inah. Saat telapak kaki lengger Asih menuruni anak tangga, Purwanto segera menjemput, menuntun tangannya bermaksud mengajaknya ke dalam rumah agar aman dari orang nakal yang iseng. Tapi rupanya ada yang tak setuju dengan maksud Purwanto.
“Hei. Tahu diri kamu! Anak kemarin sore mau nyalip. Saya dulu, baru kamu boleh bawa dia.”
Purwanto mendelik, bangsat! pikirnya, dasar tua-tua keparat tak tahu adat!
Ia terus menyeret lengger Asih dari tengah keributan ke rumah Pak Marjo, tetangga sebelah Pak Sasmito, sebelum tangan-tangan jahil berebut menggerayangi tubuh Asih. Mereka menggerumut seperti sekawanan lebah menyerang mangsanya. Biasanya jika terjadi sedikit keributan, selang beberapa waktu setelah lengger Asih turun panggung, mereka berusaha untuk tenang, saling mengendalikan diri agar lengger Asih mau naik panggung lagi atau pertunjukan harus berakhir jika tak juga kunjung tenang. Tetapi kali ini tidak. Ada saja orang yang berganti ganti terus membikin dan menyambung keributan. Sepertinya mereka tak mau suasana ribut dan kacau berakhir. Ada saja yang mereka pertengkarkan.
“Saya yang sawernya gede, masa kamu yang di depannya. Pakai jowal-jawil lagi! Goblok! Dasar kere!”
“Enak aja, saya yang sawernya gede. Paling kamu cuma sawer seribu perak.”
“Bangsat kamu. Ngece! Kamu nggak pantas di depan lengger Asih. Nanti dia ketularan jeleknya. Kamu itu biar duitnya segunung tetap saja jelek!”
Merasa tak bisa mengendalikan suasana, seorang hansip menghadap ke Pak Sasmito yang juga menjabat Carik di desanya.
“Maaf Pak, mungkin kita harus segera minta bantuan polisi. Mereka terus berebut untuk mendekati lengger Asih. Tak ada yang mau mengalah.”
“Siapa saja mereka?”
“Maaf Pak, saya kurang paham. Mereka bukan orang dari desa kita. Seingat saya mereka penayagan lengger Ratmi dari desa sebelah. Mungkin merasa tersaingi dan tersisih. Ada lebih dari sepuluh orang Pak.”
Keributan masih terus tak mereda. Panggung seluas lima kali lima meter berantakan. Para penayagan menyelamatkan alat-alat dari kemungkinan terinjak-injak. Puluhan penonton asing itu menyerobot masuk ke rumah Pak Marjo tempat Purwanto mengamankan Asih. Tak ada satupun yang mau mengalah untuk belakangan masuk, tak rela orang lain lebih dulu mendapatkan lengger Asih. Pintu berdaun dua rumah Pak Marjo yang hanya dibuka satu, jebol dan menjadikan ruang masuk bertambah lebar. Layaknya sebuah perburuan yang tak ingin mangsanya lari menjauh untuk lepas begitu saja.
Purwanto menyeret lengger Asih ke ruang tengah. Kaki lengger Asih yang dibalut kain membikinnya harus susah payah menyeret langkah. Selendang merah muda yang lepas dari leher dibiarkan terjatuh tanpa sempat dipungut. Segera pintu dikunci.
Ternyata di ruang tengah Purwanto dan lengger Asih tak mendapatkan keamanan. Mereka menggedor-gedor pintu sambil berteriak, “Buka! Cepat buka! Kalau tidak saya dobrak pintunya. Buka cepaaat...!”
Purwanto panik. Asih menggigil, kakinya gemetaran menyangga beban badan yang ketakutan.
“Mas Pur, kita hadapi saja mereka. Paling mereka  hanya ingin ketemu saya. Saya akan hadapi secara baik-baik.”
“Tidak! Saya sudah tahu maksud mereka. Mereka ingin menghancurkan kamu. Ingin membikin aib padamu, ingin mengotori citramu. Setelah itu mereka akan menyebar berita kalau kamu sama juga dengan lengger lainnya yang gampangan dan lenjeh. Saya tahu tanpa sengaja dari mereka tadi, sewaktu kamu pentas.”
Lewat pintu belakang Purwanto menyeret Asih untuk menghindar dari kejaran orang-orang yang sudah kerasukan setan. Di rerimbunan kebun pisang yang gelap Purwanto terus berusaha berlari dengan tangannya yang tak lepas menggenggam tangan kanan Asih. Purwanto dan Asih sama sekali tak menduga –karena sebelumnya tak pernah terjadi- orang-orang itu terus memburu. Kaki Asih yang dibebat kain membuatnya tak bisa berlari. Gelap malam sedikit membantu mereka bersembunyi untuk beristirahat sejenak.
Seperti memburu maling, orang-orang itu terus memburu sampai terdengar seseorang berteriak, “Ini dia, ketemu!”
“Maaf, kalian mau apa?” ucap lengger Asih pelan ramah.
“Hahaha! Jangan pura-pura kamu. Sok suci.”
“Maaf, maksud bapak apa?”
“Malam-malam dalam kegelapan berdua di kebun pisang begini, tentu asyik. Dan saya mau itu. Berasyik mesra dengan kamu. Gantian nggak apa-apa, maklum teman saya banyak. Antri biar nggak ribut.”
“Maaf, saya tidak bisa......”
“Nggak perlu jual mahal. Kami sudah tahu semua.”
Amarah Purwanto menggelegak. Darahnya mendidih naik ke ubun-ubun.
“Saya pilih mati daripada melayani keinginanmu!” kata lengger Asih setengah teriak.
* * *
Pagi hari, di kebun pisang di belakang rumah Pak Marjo sunyi, tak ada kicau burung prenjak sambil berlompatan atraktif di cabang pohon krinyu dengan bunga berserabut putih di setiap ujung rantingnya. Tak ada angin yang berani bertiup. Di setiap tepi daun pisang berleleran embun jatuh membasahi rumput di bawahnya. Di dekat rumpunan pohon pisang yang lebat, di rerumputan yang membisu, berceceran darah setengah membeku. Darah yang menetes dari luka tubuh Purwanto dan Asih yang jasadnya sudah dibawa pulang menjelang subuh. ***
                                                                                     Agustus 2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar