Senin, 13 Juli 2020

PURNAMA DI AKAR MANGROVE


Saat kaki Purnama masih terendam air sebatas mata kaki diatas pasir yang lembut dan anak-anak penyu berjalan menuju sarang meninggalkan bekas kaki di pasir basah,  Matahari bersiap meninggalkan hari. Warna jingga, kuning kemerahan, coklat gelap, dan kuning tak sepenuhnya kuning, mengantar ke persinggahan malam. Ia masih berdiri, berjalan perlahan seperti menghitung bekas tapak kakinya yang tergambar di pasir lembut kecoklatan. Angin berkesiur, deduanan pohon bakau yang akarnya mengelilingi batang pohon menancap di tanah pantai, berbisik bernyanyi, timbul tenggelam oleh ombak yang tak pernah berhenti. 

Tak pernah bersemangat jika Purnama pergi meninggalkan batas laut dan daratan. Ia sering tertidur di pantai, di batu-batu tempat bersandar menghadap batas langit. Seorang kakek tua selalu menunggunya dengan sabar di gubuk kecil di atas pohon Panggang raksasa yang dahan-dahannya bergelantungan akar-akar kekar, diantara rerimbunan pohon bakau.

“Kau tak ingin pulang ke kampungmu nak?”

Pertanyaan yang sama ketika Purnama tampak diam merenung diri, dan jawabannya selalu singkat dan jelas, “tidak kek. Saya ingin selalu di sini.”

“Tapi, di sini sepi.”

“Saya suka sepi ini.”

Maka diam mengambil alih. Sedikit angin bergerak, dedaunan berdecit lembut. Debur ombak bersorak menemui pantai. Burung-burung berkaki panjang berjingkat-jingkat memangsa buruannya. Pada muara yang semakin dangkal, Purnama tak pernah bosan datang. Memandangi air keruh yang datang membawa sampah-sampah setiap saat. Plastik-plastik yang sombong, angkuh, menjijikan tertawa nyinyir mecemooh Purnama yang benci memandanginya. Meski Ia setiap hari tetap berperhatian padanya, dipungutinya, dikumpulkan di bawah sebuah pohon teramat rindang yang dedaunannya menutupi seluruh cabang dan ranting-ranting. Pohon yang saat malam ranting-rantingnya luruh ke bawah dan daunnya menutupi seluruh tanah di bawahnya dan ketika siang mengangkat kembali. Di mana pun Ia menemukan benih pohon, Ia selalu menanamnya pada tempat yang terbuka kemudian menjaganya, mengakrabi, berbalas senyum setiap waktu.

Sebuah kemustahilan telah membawanya ke sini. Bergulung-gulung pada air keruh penuh lumpur coklat kehitaman, tubuh kecil mungil yang dingin berbaju koyak mengapung. Kadang menyangkut pada rumpun bambu, pada akar-akar, berpusar di curug, terbentur batu-batu, terlempar pada dinding-dinding sungai. Tangannya yang kecil tak pernah melepas pelukannya pada batang pohon pisang. Jika sesekali terlepas, tangan lembut yang kuat memeganginya dengan sigap. Satu setengah malam satu hari Ia bertahan pada kedinginan dengan air keruh berlumpur dan air yang terus berlari ke muara yang mulai dangkal tak cukup ruang menahan lumpur gerusan erosi. Tersangkutlah Ia di akar mangrove, terkulai dengan nafas satu dua jarang-jarang.

Menjelang senja berlangit gelap dengan hujan yang menggerujuk deras, awal dari keterpisahan Ia dari keluarganya yang hidup penuh dengan fasilitas di sebuah perumahan elit yang terhampar di punggung bukit yang tak lagi tertutup dedaunan. Ayahnya yang kontrkator sukses dan ibunya seorang pengacara kondang, baginya tak jelas keberadaannya sekarang, ada dan tak ada tak ada pembeda. Kesibukan orang tuanya menjadi sebuah aturan, juga kewajiban untuk dimaklumi dan tak boleh protes. Mereka berdua mendapatkan uang dan barang-barang yang diminta seperti sebagai wakil dari kehadiran dan perhatian. Benda-benda tak berperasa dan mainan yang tak bisa berkomunikasi, membawa kakak beradik itu pada ruang hamparan bisu, hampa, menyesakkan. Saat sesekali liburan, seperti dikejar waktu yang terus menerus memberi batas merampas kenyamanan.

Ketika itu, Ia hanya berdua dengan adiknya yang masih kelas satu esde. Hujan yang mengguyur sepanjang setengah hari, sangat lebat dan seperti tak pernah berniat untuk berhenti, mengelupaskan lapisan tanah pada sisi bukit. Berjumpaitanlah rumah-rumah yang ada di atasnya. Petir tak pernah berhenti meledak-ledak. Aliran listrik terputus. Pipa-pipa air patah menyemburkan air. Hanya sedikit penghuni perumahan yang ada di rumah, selamat. Mereka tergulung-gulung air dan lumpur, tertimbun, terseret arus, tak kuasa menyelamatkan diri. Terpisahlah Ia dengan adiknya karena ketika itu ada di ruangan lain dan tak bisa menjaganya. Selamat ataukah tertimbun? Tak tahulah sedang apa kedua orang tua mereka.

Tergulung terus menerus di air yang begitu keruh bercampur lumpur, Purnama setengah bernafas, setengah pingsan. Suara yang berat itu selalu membuatnya sadar dan bertahan. Ia selalu bercerita menyela di gemuruh air dan hujan yang kejam.

“Manusia sudah terlalu angkuh untuk diperingati oleh sesama. Menjadi penjajah bagi makhluk yang lain.”

Ia membuka mata perlahan. Ada wajah bijak di sampingnya terguncang-guncang arus air, “begitukah kek?”

“Ya.”

Gemuruh arus air coklat kehitaman terus dan terus berlari membawa tubuh kecil tak berdaya. Purnama menggapai tubuh yang dirasa disampingnya, tapi tak tersentuh. Tak juga tampak. “Penjajah? Maksud kakek?”

“Bumi di racun dan dirusak setiap hari. Air diracun setiap hari. Langit diracun setiap hari. Udara diracun setiap saat. Tak ada yang berani menghentikan. Hanya sedikit, tapi kalah dan mundur.”

“Apa saya salah satu korban dari murka alam ini kek?”

“Mungkin.”

“Ko’ kakek ragu.”

“Kakek tak bisa bilang, pasti.”

Air keruh banjir terus dan terus berlari seperti buru-buru harus cepat sampai sebelum batas waktu yang telah disepakati.

Mata si kakek nanar memandang langit yang masih terus menerus menebar air. Mata yang sedari tadi redup, tiba-tiba berkilat mengeluarkan cahaya melesat membelah langit di atasnya, dan seketika suara gelegar lari menjauh mencacah awan. Laju air berhenti menjadi seperti bebatuan cadas warna coklat sepanjang sungai. Serasa sunyi sesaat. Ia terhentak lemas hilang tenaga. Tangannya tak kuat lagi berpegangan. Kakek itu memegangnya kuat-kuat. Dipapahnya ke gubuk kecil di atas pohon, dibaringkan pada kasur dedaunan kering. Dengan penuh perhatian kakek itu menyuapkan segelas air putih pada pinggir bibir yang mengeriput pucat. Perlahan anak kecil itu minum. Seperti terasa berat, ditelan perlahan dan sesaat nafas tersengal dan hampir muntah. Seluruh pakaian yang basah diucuti. Dengan sehelai kain sarung, tubuh kecil itu diselimuti dan dibiarkan tidur. Di pojokan sebelah kanan berbinar cahaya dari sumbu sebesar jari kelingking yang ujung satunya terendam di minyak kelapa pada mangkuk kecil.

“Ini di mana kek?”

“Ini rumahku. Lihatlah, bulan purnama menyambut kedatanganmu di sini, ia bulat penuh, tersenyum akbrab untukmu. Aku akan memanggilmu Purnama.”

Ia tersenyum, entah setuju, entah senang. Kemudian lahirlah banyak pertanyaan dari mulutnya yang mungil. Kakek tua berbadan kekar itu menjawab seluruh pertanyaannya dengan pelukan, Purnama menikmati kehangangatan.

Dua hari dua malam dalam kebingungan dan kedinginan, hari ketiganya, dengan berpakaian serba kebesaran ( punya kakek ) Purnama sudah berlari-lari di pantai, bercengkerama dengan ombak kecil yang datang dan pergi terus menerus seperti meledek. Dan Ia selalu tertawa ketika air tak bisa menyentuh kulit kakinya, tetapi sudah kembali lagi ke laut. Anak-anak penyu yang berlarian menyentuh air dan meninggalkan bekas kaki dua baris di atas pasir, selalu menjadi perhatiannya dan mengawalnya sampai terbawa arus balik ombak. Tak rasa terpikirkan tentang orangtua dan keluarganya yang mungkin sibuk mencarinya.

“Aku ingin pantai ini selalu bersih, selalu seperti ini, dan sepanjang sungai ini bersih, tak ada sampah kek. Bisa nggak ya kek?”

“Bisa.”

“Apa yang kakek lakukan sampai tempat ini bersih dan menyenangkan?”

“Kakek selalu menghargai alam. Merawatnya. Menyingkirkan semua yang membuatnya terganggu, membuatnya sedih, membuatnya jadi tak indah, membuatnya jadi tak cantik."

“Aku ingin seperti kakek!”

“Nanti pasti kakek ajari.” Kakek itu jongkok menyesuaikan posisi muka Purnama, “Ingat, saat hari mulai malam, kau tidak boleh di bawah pohon itu.” Ia menunjuk sebuah pohon berjarak dua puluh meter dari gubuk.

Paginya, dan sejak saat itu, Purnama selalu bersama kakek menyisir pantai menikmati alam, menikmati waktu sambil terus memungut seluruh sampah unorganik di setiap tempat yang ditemuinya. Sampai lupa waktu, sampai lupa jarak, sampai lupa seberapa berat yang bisa dibawanya. Lain waktu, mereka berdua menyusuri sungai, menyapa ikan-ikan, menikmati gemericik air, bercanda, bersenda gurau dengan batu-batu yang bergembira. Dipanggulnya sampah dalam karung. Dikumpulkan disebuah pohon rindang berdaun lebat, berwarna hijau padat dengan pinggir daun bergerigi halus. Sehari bisa enam sampai delapan karung dihimpun dan ditumpahkan. Jangan berpikir berapa tinggi tumpukan karung sampah itu yang setiap hari dikumpulkan Purnama dan kakeknya. Karena, ketika pagi menjelang, sampah itu sudah tak ada, hanya ada bekas sedikit berwarna cokelat  yang jika terpapar matahari di siang hari akan lenyap. Mulanya Purnama kaget dan selalu bertanya-tanya kemana sampah itu di bawa.

“Guguran daun itu telah melenyapkannya.” Jawab kakek ketika Purnama terus mendesak ingin tahu.

“Daun-daun itu telah memakannya kek?”

“Duan-daun itu jatuh dan melebur menjadi satu, menyerapnya. Melunturkannya, menjadikan sampah-sampah itu terurai kembali ke asal muasalnya. Kembali tanah. Seperti kita yang akan kembali menjadi tanah.”

“Boleh nanti malam aku melihatnya kek?”

“Kau tak akan bisa melihatnya. Hanya akan bisa merasakannya dan tak sekali langsung bisa.”

“Pohon apa itu kek?”

“Kau boleh beri nama pohon itu, siapa pun boleh menamai. Dan kakek tidak akan memaksa orang lain untuk menyebut nama pohon itu seperti yang kakek sebut.”

“Kakek menamainya pohon apa?”

“Belum.”

“Kakek dapat dari mana pohon itu?”

Dari sebutir biji yang jatuh ke tangan kakek. Kakek merawatnya dengan hati senang, menjaganya setiap saat, menjaganya seluruh waktu. Seperti menajaga tubuh kakek, seperti menjagamu. Ia sangat sayang denganku dan sebaliknya. Kami sangat akrab.”

“Kakek bisa bicara dengan pohon itu?”

Kakek menjawabnya dengan senyuman. “Kau juga nanti akan bisa menanam pohon seperti itu.”

“Bisa kek?”

“Bisa. Semua orang bisa. Akan Kakek namai pohon Bajik, dan kau boleh menamainya pohon Purnama, seperti namamu.”

Purnama berlari ke arah pohon rindang. Ia memandanginya. Seluruh daun menyambutnya dengan menyanyi. Dahan dan rantingnya lemah gemulai menari.

2017-05:14.04.04.2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar