Kamis, 07 Januari 2021

MEREKA MERAYU AKU, MENIDURIKU DAN MENIPU

 soleh djayim.

Tak ada yang aneh jika banyak orang sekali lihat ingin saja langsung dekat dan selalu tak membuang waktu. Orang yang tak tertarik padaku adalah orang bodoh atau sengaja membatasi pandangan. Aku pun menyadari itu, dan memaksa untuk selalu waspada pada setiap yang datang dengan cara apapun. Jadilah aku protektif, sangat gampang curiga dan hampir mendekati paranoid. Jika terus begini, akan menjadi orang yang tersendirian, tak ada teman.

“Lebih banyak orang baik. Yang jahat itu sedikit, hanya yang jahat itu menakutkan sehingga memenuhi ruang kekhawatiranmu.” Seseorang datang dan berbicara dengan santun dan tenang.

“Yang jahat itu, meskipun satu, bisa menghancurkan semuanya.”

“Jika kau menganggap semua orang jahat, kau akan hidup tenang dengan siapa?”

“Tidak semua jahat memang, tapi aku melihat begitu banyak orang berniat jahat padaku.”

“Kau akan gila jika terus menerus berpikir begitu.”

Kekuatan yang aku bangun untuk bertahan pada prinsip untuk menjaga dan menutup diri dari lelaki yang aku belum yakin sedikit memudar. Salah jika aku mengatakan Ia tak menarik, tak gagah, tak bikin wanita normal deg-degan. Seperti biasa-biasa saja tanpa bermaksud untuk merubah cara pikirku, kata-katanya menjadi sesuatu yang aku rindukan. Pelan penuh telaten dan terus menerus. Sampai aku terjatuh dan bersepakat hati menjalani hari dengan canda dan tawa asmara. Siang malam penuh bunga, pagi dan sore selalu ada pelangi, setiap suara menjadi begitu merdu dan setiap kata-katanya terdengar mendamaikan.

Ternyata aku masuk perangkapnya. Merasa telah menghisap madu pada putik bungaku, Ia pergi tanpa terbebani. Tanpa sedikit pun menoleh, membiarkan air mata yang aku tak kuasa menahannya agar tak menetes. Langit pagi menjadi coklat abu-abu, suara burung di belakang rumah berteriak-teriak memekakan, pohon-pohon menjadi merangas, angin bertiup panas dan menyileti pori-pori. Semua tak ada yang baik. Segera aku mengepalkan tangan. Berjalan terus menatap lurus ke depan, membuang semua catatan, membuang semua buku pada kobaran api yang menjilati langit mengantar asap penuh huruf berwarna merah oranye. Tak akan aku jatuh dua kali.

Bertahanlah aku cukup lama.

Dan, datanglah berganti-ganti orang dengan berbeda-beda. Aku kuatkan selalu untuk teguh tak tergoyahkan. Kata pepatah, seteguh karang di lautan. Jatuh kedua kali di lubang yang sama adalah hal memalukan yang tak termaafkan. Berjalan terus dengan kekuatan sendiri pada duniaku. Menikmatinya dengan caraku, meski serangan data dari segala arah.

Mereka membawa warna-warni kembang. Menari dan bernyanyi, nampak tak pamer, nampak tak ingin orang lain ikut. Tertawa seperlunya menikmati buah-buahan yang ranum matang di pohon dengan minuman di gelas panjang terpajang tenang di pinggir hidangan aneka rupa. Berpakaian rapi, bertingkah laku sopan. Meski aku tahu, Aku tak menoleh dan sengaja tak tahu. Salah satu dari mereka akan datang padaku sekedar basa basi membuka pintu. Atau bisa saja yang satu tak berhasil akan ada yang lain lagi. Seperti perlombaan. Aku siasati semua. Berkali-kali datang aku cueki. Sampai, tak tersadar aku masuk pada ruang bicaranya.

“Dunia tak seperti yang kau kira.” Katanya.

“Lho, memang saya mengira apa pada dunia?”

“Oh, maaf kan saya. Saya lancang.”

“Maksud kamu apa? Kamu mau mengatakan ‘saya baik dan beda dengan yang lain?’..”

“Maaf, tidak begitu. Maaf, itu salah satu yang kau salah kira. Lebih banyak yang baik dan benar-benar baik. Saya tak mengatakan saya baik, masih banyak sekali yang lebih baik.”

“Maksud kamu?”

Tak terduga, sebuah celah kecil telah dimanfaatkan olenya dan aku masuk terpedaya di ladangnya. Aku tersanjung, terbuai hampir tertidur dan melambung hati dan pikiran. Kebahagiaan itu terasa tak ada habisnya, terus datang setiap saat diperlukan. Hari-hari dan malam-malam terasa pendek bersamanya. Semua terasa segar, indah, menyenangkan. Saya pikir, tinggal memperpanjang masanya, saling menjaga dan merawatnya. Aku berbaik hati, pasrah dan menyerahkan segalanya. Sampai aku tersadar, saat aku lihat sendiri Dia sedang merayu orang sepertiku dengan cara sama padaku. Aku tak mendatanginya. Sebuah photo aku kirimkan lewat ponsel dan dia sama sekali tak merespon. Hari berikutnya nomer telponku sudah diblokir. Aku tak menangis, berjalan lagi menikmati pagi yang segar dan sore yang lelah dengan polusi.

Begitu hebatnya mereka mencari celah, sampai tak hanya empat lima kali aku masuk perangkap berbeda. Berbagai cara aku menolak, berjuta cara mereka meluluhkan. Bertahan tak membuat aku kuat dan terhindar dari kekalahan. Beraneka cara dan pola mereka bawa. Segala hal yang tampak biasa, ternyata sebuah rekayasa. Maka, mematahkan semua yang datang dan melenyapkan yang pernah datang menjadi cara supaya tidak ada lagi korban sepertiku. Agar tak ada lagi orang yang berani datang pada siapapun untuk menikmati segalanya tanpa rasa belas kasih. Membunuh binatang penghisap hati, bukan sebuah kejahatan besar.

Aku membuka diri. Menerima orang yang datang mengagumiku, menuruti apa yang ia mau, ikut menciptakan nuansa romantis yang dibawanya. Bunga-bunga palsu dan wewangian  racun aku tebar sedikit demi sedikit. Membiusnya perlahan, ia tersenyum tak mengerti atau mungkin senyum menjelang sekarat yang teramat perlahan. Ia masuk perangkapku, batang lehernya  masuk pada tali jerat dendam yang terpilin dengan rapi. Tak ada yang curiga, tak ada yang menyangka. Dari mereka aku banyak belajar menyembunyikan tujuan yang tak terduga. Aku bebas berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Senyumku yang membuat semua orang terkesima masih natural pada garisnya. Langkahku masih mantap tak sedikitpun canggung, tegap dengan rambut terurai melambai setiap langkah. Banyak nama dan wajah yang tercatat di gadgetku dengan clue bagaimana cara menyelesaikannya, hanya aku yang tahu.

Perburuan itu aku mulai. Satu persatu korban terburai, tertelan bumi. Ada yang jadi berita dan cerita, ada yang sama sekali tak terdengar. Sebilah pisau berpunggung gergaji dan sebungkus serbuk racun, benda yang gampang aku sembunyikan. Semua rapi, tak ada jejak yang mengarah ke pelaku. Saat aku datangi, mereka tak mengira apa yang akan aku lakukan, seperti aku tak mengira ketika mereka datang satu persatu menenggelamiku. Merayunya dengan kesabran dan kehati-hatian untuk membawanya pada padang ilalang tak bertepi dimana bercak darah tak terlacak.

“Kau melakukan itu lagi?” Teman kecilku bertanya dengan nada datar dan mengernyitkan kening.

“Kau menuduhku?”

“Aku merasa begitu.”

“Itu hanya perasaanmu, prasangka, tak ada bukti sama sekali. Kau yakin dengan tampang wajahku seperti ini bisa melakukan itu?”

Ia hanya tersenyum, kembali menikmati minuman ringan di pojok kantin tempat kami biasa santai selepas seharian kerja.

“Kau menikmatinya? Apa yang kau harapkan dari apa yang kau lakukan?” Ia kembali bertanya setelah berbincang lain.

“Jika aku tak menikmati, pasti aku tak akan melakukan. Kau akan ikut bersamaku? Aku tahu kau sepertiku.”

“Aku tak cukup punya nyali untuk sepertimu.”

“Ikutlah denganku, aku sepertimu sebelumnya. Kita tak boleh membiarkan mereka terus menerus tanpa rasa jera menguasai tanpa punya hati. Ini punya kita, jangan membiarkan mereka akan terus menguasai. Kita harus lawan, kita harus patahkan.”

Menjelang tidur di larut malam, aku menikmati satu persatu senyum terakhir dari semua wajah yang aku singkirkan. Saat ada waktu, aku mengikuti cerita dan berita yang berbeda-beda dari menduga-duga tentang korban orang penting yang mereka katakan orang baik dan dermawan. Analis perilaku sosial, analis kriminal, pengamat pembunuhan, politikus, wartawan, ibu-ibu arisan, anak muda geng motor, bapak-bapak di arisan er-te; semua menduga berebut cerita unjuk pendapat. Aparat kebingungan mencari pelaku yang tak sembunyi dan menikmatinya.

“Kau benar, orang tidak baik harus kita singkirkan. Mereka akan terus berpura-pura baik sambil terus menerus memangsa korban. Menenggelamkan ke bumi satu-satunya cara menghentikan kemunafikannya.” Kata teman kecilku. Ia datang sambil membawa es krim saat seharusnya aku beranjak tidur.

“Kau akan ikut denganku?”

“Sudah. Kau pernah dengar ada korban yang bukan korbanmu?”

Aku tersenyum, temanku juga, “kau menikmatinya?”

“Jika aku tak menikmati, pasti aku tak akan melakukan.”

Kami tersenyum bersama. Di gardu ronda bapak-bapak masih sibuk berdebat saling menduga tentang pelaku dan sebab musabab orang baik yang mati. Di jembatan seberang, anak-anak muda bernyanyi lagu balada yang didangdutkan.

Kami berdua saling tersenyum memandangi senyum terakhir wajah-wajah para munafik yang tak lagi berdaya.

23:27 260920

3 komentar: