Kamis, 06 September 2012

KARISMA


Solehan Djayim.

Karisma sering sering dijadikan seseorang atau sekelompok orang untuk menarik simpati untuk berkumpul dan berserikat untuk memperolah tujuan-tujuan yang bersama-sama di susun untuk kepentingan mereka. Karisma seorang yang kuat sanggup membuat ucapan dan tingkah lakunya dipercayai dan ditiru layaknya nabi di sebuah agama. Seseorang yang sanggup menyusupkan karisma kepada orang atau sekelompok orang, sering membuat orang itu menjadi tunduk dan ‘terhipnotis’ menurut segala apa yang diucapkan oleh orang yang mempunyai karisma tersebut. Kata-katanya menjadi sebuah ajaran baru, di kembangbiakan dan disangkut pautkan dengan teori-teori lain. Kata-kata yang mungkin keluar tanpa dipikirkan dan keluar spontanitas, bisa saja diingat-ingat dan dicatat untuk kemudian dibukukan yang di kemudian hari bisa menjadi referensi bagi para pengikutnya. Segala tingkahnya bisa menjadi tren dan bisa saja dianggap sebagai pola laku yang harus ditiru dan terus ditiru. Bahkan, jika si empunya karisma itu membuat sebuah sekte yang di anggap orang lain sekitarnya sesat, si ‘penerima’ karisma akan mengikut dan menyalahkan orang lain yang menganggapnya salah. Kekaguman seorang pada orang yang dianggap agung, biasnya berawal dari kesamaan pandangan hidup, kepercayaan batiniah dan cara pandang terhadap permasalahan dunia.
Banyak orang yang mengakui ‘kenabian’ seseorang, dan tetap bertahan pada pendiriannya meski telah diancam dan di teror sana-sini. Mungkin juga segala macam teror dan ancaman dianggapnya sebagai ujian atas keimanannya. Pengikut La Eden pernah di obrak-obrik oleh orang yang menganggapnya sesat, dan di larang oleh pemerintah, tapi bukannya kelompok itu jera dan meninggalkannya, beberapa tahun kemudian kita mendengar lagi kegiatan mereka. Para pengikut Ahmadiyah, diancam dan diteror olah orang-orang yang menganggap aliran mereka sesat, mereka tetap bersemangat dan yakin dengan keyakinannya, bahwa apa yang dipercayainya adalah benar dan jadi jalan hidupnya. Di sini, Ghulam Ahmad yang telah meninggal puluhan tahun yang lalu mampu memancarkan segala karisma yang dimilikinya kepada mereka. Sama seperti para pengikut La Eden dan juga pengikut-pengikut ajaran atau aliran kepercayaan lainnya. Jika kepercayaan di hati mereka telah menjadi agama, segala macam hal yangmerintangi adalah hal yang harus dilewati sebagai wujud kesetiannya terhadap keyakinannya.
Di dunia politik, Soekarno, Presiden pertama Indonesia, mempunya karisma sangat besar. Hampir empat puluh tahun sepeninggal beliau, Karisma yang di milikinya masih mampu menyedot jutaan warga indonesia. Karismanya yang begitu besar dan menakjubkan, dimanfaatkan oleh anak-anaknya. Megawati, adalah salah satu anak bung Karno yang bisa memaksimalkan dan memanfaatkan Karisma Bung Karno untuk bergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan membawanya ke kursi kepresidenan, dari wakil kemudian menggantikan Gus Dur yang di lengserkan. Meski Soekarno bukan pendiri PDIP, para politikus di bawah bendera PDIP bisa mengaitkan antara PDIP, Megawati dan Soekarno. Karisma Megawati memang tak sehebat karisma yang dimliki Ayahnya, maka wajar jika Ia mencari jalan lain untuk tujuan politiknya dengan memanfaatkan karisma Ayahnya. Dan sekarang, Puan Maharani Cucu Soekarno anaknya Megawati, pun sepertinya mau meniru cara ibunya memanfatkan karisma Kakeknya. Tak perlu pintar, cerdas dan berwibawa untuk menjadi pemimpin partai, karisma orang-orang yang di belakangnya sangat menentukan. Karena untuk mencari orang cerdas dan pintar itu lebih gampang ketimbang orang yang memiliki karisma atau orang yang beruntung karena mempunyai aliran darah orang berkarisma tinggi.
Di Thailand, adiknya mantan Perdana Mentri Taksin Sinawatra, Yingluck Sinawatra, berhasil duduk di kursi Perdana Mentri, sekaligus Perdana Mentri wanita pertama di negaranya. Keberhasilan Yingluck, tentu di dukung juga oleh karisma sang kakak selama menjabat Perdana Mentri, sebelum dan sesudahnya. Benazir Bhuto, juga salah satu orang yang bisa memanfaatkan Karisma ayahnya untuk menjadi Perdana Mentri Pakistan. Dan masih banyak lagi para pejabat tinggi yang berhasil memeperoleh jabatannya dengan dukungan  karisma ayahnya, meski karisma pribadinya tetap berpengaruh besar.
Sikap dan perlakuan pemerintah berkuasa juga berpengaruh besar terhadap ‘kebesaran’ karisma seseorang. Jika sang tokoh mendapat perlakuan tidak mengenakkan, maka empati para pendukungnya menjadi semakin besar dan rasa ingin membela bertambah menyala. Dan empati itu akan meledak menjadi kekuatan yang besar saat pemerintah berkuasa tumbang.   
Karisma seseorang tercipta sepanjang hidupnya dan tak bisa instan. Karisma melekat pada setiap sisi kehidupan sang tokoh. Ia terbangun saling menjalin menjadi sebuah layar besar penuh dengan tulisan yang kemudian bisa di baca, diamati, dan dipelajari oleh para pengagumnya. Kadang hal-hal kecil yang tak terduga oleh si empunya karisma bisa menjadi sebuah hal yang luar biasa dan menjadi pijakan dalam berpola pikir atau berpola sikap dalam menghadapi sesuatu. Karisma seseorang bisa menjadi ajaran atau aliran baru dalam ‘beragama’ pada tatacara berkehidupan sehari-hari. Ber-titiktolak dari karisma seseorang; teori-teori baru, animo-animo baru, ungkapan-ungkapan baru, pola tingkah baru, cara-carabaru, bisa bermunculan berwarna-warni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar