Kamis, 22 November 2012

Jalan

19 Nopember 2012

Ketika pagi-pagi aku berangkat kerja, jalan utama desaku yang rencananya mau diaspal sepanjang dua kilometer, Sompok Kalipucung sampai tugu Gumelar, keadaanya masih bertebaran kerikil kecil bercampur pasir sebagai dasar pengaspalan, berserakan membuat para pengendara motor ekstra hati-hati jika melewat agar tak terpeleset. Keadaan yang seingat saya hampir dua bulan. Sesuatu yang bikin jengkel dan timbul pesimistis, ‘jadi diaspal nggak ini?’.
Dan saat aku pulang kerja, jam 20.15, separuh rencana pengaspalan sudah jadi dan rapi. Teknologi telah menciptakan peralatan yang membuat semua kerjaan menjadi cepat selesai. Aku menarik gas motorku menikmati jalan aspal hotmix baru yang menggiurkan dan sepertinya sangat sayang jika tak berlari. Sesampai di ujung aspal baru, roda motorku kembali menapaki jalan aspal lama yang berlubang dan rusak sepanjang ruas. Jalan utama desaku yang telah lama rusak, yang telah lama sekali tak pernah diperbaiki.
Di rumah, saat mandi agar tidur tidak gatal, sempat terpikir untuk mencatat tanggal pengerjaan aspal di HP agar suatu saat bisa menghitung berapa bulan akan bertahan dengan predikat jalan baik dan apa yang akan dilakukan kemudian oleh pihak-pihak terkait jika umurnya hanya beberpa bulan. Pengalaman yang sudah-sudah, Rehab jalan ataupun perbaikan, saat masih terasa belum lama bagus, sudah rusak lagi. Hanya sekedar mencatat, toh jika pun ingin berkeluh kesah, apalagi melapor, kami bingung harus kemana atau pada siapa? Paling-paling hanya sebagai bahan obrolan kosong di pos ronda, karena kata ‘percuma’ telah menjadi jawaban di benak sebelum pertanyaan muncul.
Jalan secara fisik seperti menjadi acuan keberhasilan pemerintah daerah dalam menjalankan pemerintahannya. Ini karena jalan memang gampang dilihat, dilewati setiap hari dan sudah tentu lalu lintas barang dan mobilitas orang yang berkendaraan menjadi nyaman jika jalan kondisinya bagus dan terawat. Setiap kita melewat di suatu wilayah dengan jalan rusak, segera terlintas di pikiran, bahwa pembangunan di wilayah tersebut amburadul, tidak tertata dan banyak terjadi penyimpangan anggaran. Sebuah penarikan kesimpulan yang buru-buru, tapi hal semacam itu memang kerap sekali terjadi dan sering dengan tanpa mau mendalami secara menyeluruh. Jalan menjadi etalase keberhasilan pembangunan secara kasat mata dan selintas lalu.
Kata jalan dan turunannya menjadi kata yang berkaitan dengan sebuah kinerja seseorang, organisasi pemerintah ataupun organisasi non pemerintah. ‘Jalan ditempat’ berarti sebuah keadaan tanpa kemajuan, ajeg, membosankan dan hampir kearah menuju kemunduran. ‘Berjalan mundur’, lebih parah, keadaan ini harus siap-siap mencari alternatif lain agar tak mati suri untuk kemudian mati sama sekali. Berjalan biasa-biasa saja, berarti tanpa greget, hambar dan sangat tidak mengesankan. Berjalan cepat dan lancar, sebuah keadaan yang penuh optimistis, menyenangkan dan penuh semangat dalam melakoninya. Maka wajar jika kemudian orang menyimpulkan keberhasilan pemerintah daerah dengan hanya melihat jalan.
Jika seorang bupati atau gubernur ingin dipilih kembali untuk kedua kalinya, bangun jalan sepanjang mungkin. Ini kampanye yang efektif.

1 komentar:

  1. harusnya dibeton biar awet, biasanya yang pengerjaannya sistem kebut semalam ga bakalan awet...hampir sama kyk jalan depan rumahku..

    BalasHapus