Jumat, 21 Desember 2012

Djayim menjelang siang


20 desember 2012

Jam setengah sembilan pagi. Matahari bebas menumpahkan sinarnya yang datang diagonal. Bayangan Palem Merah, Pohon Mangga yang sering rantingnya mengering kemudian patah, Pohon Alpukat yang untuk kedua kalinya berbuah dengan daun penuh kepompong dari ulat khas daunnya, pohon Sadang mini, Pohon Serut yang aku seting menjadi payung pohon dan menjadi tempat singgah burung pipit, Pohon Matoa yang entah kapan akan memulai berbuah, Pohon Duku yang masih menyisakan pangpung selepas kemarau panjang, Pohon Teh yang aku biarkan tumbuh alami, Ficus di dalam pot semen, Pohon Kamal di pot yang kubiarkan akarnya menjalar ke tanah, Pohon Sirisida tempat menempel anggrek alam, Pohon Kelengkeng yang baru berumur satu tahun dan sedang belajar berbuah, Pohon Murbai yang saat buahnya sudah matang anak-anak suka memetiknya, pohon Pakis Aji yang batangnya baru setinggi semeter, Pohon Melati yang masih menyisakan setangkai bunganya, Pohon Kembang Mawar merah yang hampir setiap pucuknya ada kuntum bunga (ada yang sudah mekar, ada yang masih kuncup), Pohon Manggis yang aku harapkan akan menambah rimbun halaman, ayam-ayam yang berlari berebut pakan, rerumputan Gajah mini yang tergelar di halaman depan pintu utama. semua.. Semua yang ada di halamanku aku nikmati. Segar sekali dunia ini. Burung gelatik, Sirdum, Prenjak, silih berganti bernyanyi bersautan. My Home is My Heaven
Aku lahir di sini. Menghabiskan banyak waktu di sini. Sekarang, demi apa yang disebut uang, aku sering meninggal Djayim di siang hari. Sepanjang jalan Djayim-Purwokerto sejauh 36 kilometer telah menelan waktu sebanyak dua jam dalam sehari. Aku telah banyak menghabiskan waktu hanya untuk pergi dan pulang. Tentu sebuah kejenuhan jika tak disiasati untuk menikmati setiap perjalanan. Kadang berpacu dengan pengendara lain sedikit membangkitkan andrenalin yang sering muncul tiba-tiba dan tak terduga. Sepanjang putaran roda motor, banyak ide-ide yang muncul dan kemudian hanya menjadi catatan di langit yang tak bisa lagi dibaca karena tak sempat mencatat di buku atau gadget yang selalu menempel di tubuh. Mengandalkan daya ingat tak cukup mumpuni agar semua yang muncul bisa diteruskan menjadi catatan. Meski sudah menyadari itu, kebiasaan nanti akan di catat setelah sampai kantor atau sampai rumah tetap saja dipertahankan.
Segelas teh hangat tanpa snack aku minum pelan-pelan. Sedikit demi sedikit seperti matahari yang terus berjalan pasti dan membuat suasana tak sesejuk dua jam yang lalu. Angin yang semilir menerpa seluruh daun, membikin kekakuan menjadi hidup, mengalirkan suasana hati dan pikiran yang nyaman. Menjelang tengah hari, mendung mulai berkumpul lambat menutupi sebagian langit. Di musim penghujan, hujan bisa saja datang tiba-tiba mengguyur bumi. Aku menyukainya. Ia membuat dedaunan menjadi hijau, tunas-tunas baru muncul di setiap ranting. Warna hijau daun muda sangat segar dan menyegarkan. Aku sangat menyesalkan jika ada banyak kutu menempel pada tunas-tunas muda. 
Aku menghindar dari berita politik dan kisruh PSSI yang menyebalkan.
Aku ingin menikmati hari tua sampai akhir hayatku di sini. Djayim is My Heaven.

1 komentar:

  1. Gkgkgkgk mal katro men.melasi twa danu kupinge panas.bodoa d trawang ng bskom gkgkgkgkgk .angot eyang sutiah lim glukol ndarani remason d urtna ng alm eyng sarna.empan pitik ndrani marimas ngsi d ejeri gkgkgkgkgk

    BalasHapus