Rabu, 09 Januari 2013

mungkin


Ada dua kemungkinan, mungkin ya mungkin tidak. Mungkin itu sifatnya tegas, tidak ada setengah mungkin ya atau setengah mungkin tidak. ‘Mungkin’ itu yang membuat orang ragu untuk membuat keputusan, karena mungkin hanya akan terbukti di kemudian hari yang kita tidak bisa memprediksi secara pasti. Mungkin berada dan selalu ada disetiap waktu kita. Kita ditempatkan pada satu garis yang dikedua sisinya sebuah ruang dan waktu untuk di kemudian hari, tentang baik untuk kita atau tidak baik untuk kita, dan berlanjut apakah baik selanjutnya atau tidak baik selanjutnya. Bisa saja hanya baik sesaat tapi kemudian menjadi tidak baik dikemudian hari atau sebaliknya.

Bisa saja kita merasa suatu saat kita merasa punya keputusan yang terbaik, tetapi kemudian keputusan itu menjadi sangat tidak baik setelah perjalanan waktu. Sebuah keputusan orang lain yang berakibat tidak baik saat ini, mungkin saja akan menjadi sebuah keputusan yang mengantarkan kita menjadi baik dan nyaman di masa yang lain. Kadang sering kita menyesali dan meratapi keadaan yang sedang kita alami, padahal mngkin saja keadaan itu sebuah bagian dari jalan yang harus kita lewati untuk menuju sebuah keadaan yang amat baik. Atau kita merasa beruntung sekali sampai terlena dan lupa daratan tapi kemudian kita terjerembab pada keadaan yang menyengsarakan hati dan pikiran di kemudian hari. ‘Mungkin’ itu sebuah misteri yang menutupi seluruh yang akan terjadi di masa yang belum kita ketahui sampai batas kapan. 

Ada kemungkinan yang dibungkus dengan angka-angka statistik dan ilmiah untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi dengan berbagai alternatif untuk mencari kemungkinan resiko terkecil yang mungkin bisa dipilih. Bentuk itupun sebuah kemungkinan yang tak bisa menjadi acuan yang bisa diyakini seratus persen akan tepat. Sebuah Probabilitas dengan angka-angka agar bisa diterima oleh kaum intelek yang mengedepankan angka-angka matematis.
Insting kadang sering digunakan untuk mengambil keputusan pada saat yang diperlukan waktu yang cepat untuk mengambil keputusan. Kemungkinan terburuk dan kemungkinan terbaik dibaca dengan insting tanpa perlu repot-repot membanding angka-angka simbol statistik dengan berbagia sampling.
mungkin saja …………
berbaiksangkalah pada Gusti Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar