Selasa, 05 Maret 2013

SUMPAH


Saat aku bermain badminton kok yang jatuh didepanku yang aku ragu apakah itu mengenai garis atau keluar, aku menjadi tak segera menjawab ketika di tanya lawan main apakah masuk atau tidak. Demi untuk kemenangan, seharusnya aku mengatakan Kok itu keluar. Tapi kemudian saat lawan mainku dengan main-main menyumpahku, aku jadi ragu untuk menjawab yang tegas untuk meyakinkannya. Karena bagiku, sebuah ucapan yang disebut sumpah, tak sekedar berbicara untuk meyakinkan pihak lain agar tidak ragu untuk mempercayainya. Sumpah itu menjadi berkaitan dengan tanggungjawab saya terhadap Tuhan dan hati nurani. Padahal, sumpah itu tak membawa dampak apa-apa terhadap kehidupan saya atau lawan main saya. Dan jika aku mengataka dengan tegas agar lawan mainku tak ragu, juga tak tak pengaruh banyak, paling hanya akan terjadi selisih satu poin. Itu bukan sebuah masalah besar. Dan kenapa aku menjadi begitu ragu untuk mengatakan Kok itu keluar tidak menyentuh garis. Saya malah berpikir mendingan mengalah daripada harus kalah batin.

Saat Anas Urbaningrum saat masih menjadi ketum Partai Demokrat, berani berkoar, ‘gantung aku di Monas jika aku menerima uang terkait proyek Hambalang’, aku sangat yakin kalau Anas memang tak ikut-ikutan makan kue proyek Hambalang. Keyakinanku didasari oleh analogi terhadap apa yang aku alami. Menurutku, jika pun kemudian tidak terbukti secara hukum kalau kita bohong, jika kita nyata-nyata berbohong, hati kita akan protes pada diri kita sendiri tak mau memaklumi sebuah kebohongan. Hati nurani sangat peka dan mengerti tentang kejujuran dan kebohongan. 

Kebohongan sering dilakukan dengan disadari dan direncanakan kemungkinan yang akan terjadi jika kebongongan sudah dilakukan. Kadang orang terpaksa berbohong demi untuk menutupi sesuatu yang ketika belum saatnya orang lain tahu atau kebohongan dilakukan dengan sadar dan direncana karena jika jujur akan ada imbas yang tidak baik bahkan bisa menjadikan situasi menjadi tidak kondusif. Jika kebohongan dilakukan demi untuk menutupi sebuah kebusukan yang kebusukan itu dilakukan dengan sadar dan direncana, tentu itu hal yang sangat menjijikan. Sebuah kebohongan yang direncanakan, tentu sudah disiapkan segala cara untuk menutupi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika ada sedikit yang terkuak tentang kebohongan itu, kemudian menjadi telanjang dan terang. Strategi untuk terus membungkus kebohongan dan segala alat bukti dilakukan dan disiapkan agar tak ada lagi orang curiga dan percaya betul bahwa si pelaku tidak pernah melakukan kebohongan.

Jika Anas memang benar-benar tidak ikut terlibat berkorupsi pada proyek Hambalang, wajar saja jika Ia berani ngomong berani digantung di Monas. Jika yang ngomong begitu seorang bocah TK atau kelas satu SD, tentu serta merta kita akan percaya, sebab seorang bocah yang masih sangat lugu belum bisa berbohong. Perlu kecerdasan untuk berbuat bohong. Menjadi lain kalau yang ngomong adalah seorang politikus. Bahkan publik kemudian menunggu apa sebenarnya yang terjadi. Kita telah sulit percaya kepada sumpahnya seorang yang berkecimpung di politik dan kekuasaan. Begitu banyak hal-hal yang di luar dugaan kita, ternyata muncul dan makin membesar seperti gunung es ditengah lautan kutub. 

Sebagai orang yang pernah menjadi Ketua umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), saya agak percaya dengan sumpahnya. Saya yakin Anas punya pondasi yang kuat tentang keimanan dan punya komitmen untuk jujur. Tapi, melihat ia adalah seorang politikus yang mengharuskan untuk bertindak bukan hanya demi kepentingan dirinya, tapi Ia juga harus bertindak agar semua aman dan keadaan bisa terkendali. Idealisme yang baik dari seseorang bisa dengan gampang berubah, apalagi jika keadaan sekitar secara terus menerus membombardir yang menyebabkan idealismenya berubah arah. Idealisme memang bisa saja berubah arah, bahkan bisa berbalik seratus delapan puluh derajat.
Tak bisa menebak, apakah Anas memang tidak ikut berkorupsi pada proyek Hambalang atau tidak. Tak tahu juga tujuan Anas bersumpah. Apakah memang benar bahwa Ia tak ikut-ikutan, atau Ia sengaja agar publik terbius oleh kata-katanya dan percaya padahal Ia sebenarnya ikut terlibat. Tak tahulah, kita juga tak bernai gampang menebak, karena jika pun benar Ia terlibat, tentu sudah dipersiapkan cara untuk lepas dari jerat hukum.

Tak bersumpah pun, jika kita benar, akan tetap benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar