Sabtu, 27 April 2013

perjalanan 36 kilo

Tiga puluh enam kilo bukan jarak yang jauh bagi perjalanan panjang.  Tak menelan waktu satu jam menempuh jika jalan lurus rata tak bergelombang tak berlobang-berlobang. Ada keengganan saat pagi gerimis, menerobos dingin dengan jas hujan, jalan seperti berminyak. Saat pagi cerah, semua alam dapat ternikmati. Kabut tipis yang beringsut naik menyambut senyum ramah mentari, menyampaikan seluruh cerita di malam hari yang indah, malam penuh misteri.
Tiga puluh enam kilo berkali dua dalam sehari bertahun-tahun adalah perjalanan panjang. Ada jutaan titik-titik menyambung menjadi tulisan, terbaca, tertata tak sengaja, kadang terbaca kadang terlupa, sering dibuang disampahkan. Memberi tanda. Pohon-pohon berdiri memahami lalu lalang kesibukan, menulisnya tanpa pernah terbaca manusia. Berderet-deret iklan di kanan kiri berkabar tentang kebaikan, kemudahan, failitas dan layanan. Digambar dan tulisan, semua tersenyum, semua ramah,semua memberi harapan, semua menyejukkan.
Tak pernah menghitung berapa jalan menikung yang harus dilewati. Dimana harus hati-hati, terlintas setiap tangan menarik tuas gas. Lubang-lubang di sepanjang jalan itu, meski telah hafal, terlalu sering masuk perangkapnya. Banyak sumpah serapah keluar bersaing dengan lengkingan klakson melepas kesal, menyapa basa basi, berlalu dan pergi sekendak hati, menuju. Berburu waktu, berpacu,  menyelinap, menyalip, berkejaran. Hati sering memenuhi emosi berbalap dengan yang lain. Adrenalin meninggi mengobarkan semangat pertarungan harus menang. Sering terlihat darah tertumpah di atas aspal yang diam menengadah langit. Pasir penutup ceceran darah dan sketsa rekonstruksi kejadian pengingat untuk berhati-hati. Berkabarlah tentang tangis pilu kepergian tak terduga sia-sia, berakhirlah sejarah, entah tertulis apa itu siapa yang menulis.
Berlari-lari, tiga puluh enam kilo, bertahun-tahun, memburu dan menelusuri mimpi-mimpi, memandang jauh harapan tentang hidup dan kenyamanan. Idaman yang terus bergerak berubah keatas. Membubung melintas terus langit di atasnya, langit di atasnya, langit. Langit dengan burung-burung berbulu hitam berterbangan turun naik saling bersilang. Bersuara menjerit-jerit entah atau bernyanyi-nyanyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar