Rabu, 29 Mei 2013

POIN KOIN


Ini merupakan keterkejutan bagi saya. Sebuah lomba drum band Taman Kanak-Kanak, dengan model penilaiannya dengan pengumpulan poin.  Poin tersebut ‘dijual’ dengan harga satu poin seribu Rupiah. Waktu seseorang yang diberi mandat untuk menyampaikan hal tersebut, saya langsung menyatakan ketidaksetujuannya. Dia menjawab dengan roman muka yang aku tak bisa tebak, “Saya hanya diberi tugas Pak, saya hanya bisa menyampaikan, ini suratnya.” Rekanku menimpali, “Kalau mau protes jangan di sini, sama panitianya sana,” sambil terus melanjutkan pekerjaannya memijat-mijat tombol di keyboard. Sambil menyodorkan uang sebagai bentuk hormat yang lebih cenderung ke kasihan, “Tolong sampaikan pada yang berkompeten, aku tidak setuju model-model seperti ini.” Entah pesanku disampaikan atau tidak, yang penting aku sudah mengeluarkan unek-unek.

Bagi penyandang Event Organiser atau panitia, ini mungkin merupakan sebuah cara mengumpulkan dana yang efektif. Para sponsorship mungkin tak tertarik memberikan dananya untuk sebuah event kecil yang gaungnya tak terbaca luas. Dana dari pendaftaran para peserta tak seberapa, sementara acara yang sudah kadung disusun harus berjalan demi mewujudkan sebuah ide. Tak perlulah berpikir tentang hasil akhir dan imbas yang tertanam dalam imij para bocah-bocah lugu yang akan ‘bertarung’ dan mempertontonkan kebolehannya dalam bermain drum band. Bocah-bocah lugu itu harus menelan sebuah pelajaran awal bahwa, uang menjadi peran penting untuk memenang sesuatu. Bukan sebuah kreatifitas, seni yang diciptakan untuk keindahan dan kekompakan membangun kebersamaan menciptakan keindahan untuk indera mata dan telinga. 

Ide ini jelas mengadopsi acara kompetisi di tivi yang berusaha terus menerus mengumpulkan SMS untuk menambah point, sebagai bentuk dukungan pada kompetitor yang sedang bertanding dan sebagai ‘nilai’ tambah lolos tidaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Tentu ada keuntungan yang didapat dari pengiriman SMS itu. Saya tak tahu pasti, apakah point dari SMS itu memang berpengaruh besar dan absolut atau nilai sesungguhnya ada pada Juri. Grafik pengiriman SMS bisa saja dimainkan agar para pendukung kompetitor berusaha mengirim SMS sebanyak mungkin agar jagonya tidak turun panggung. Kemudian muculah gerakan kirim SMS dengan berSMS ke kolega memohon dukungan, sampai bikin baner yang dipajang di tempat strategis. Siapa yang mampu membeli pulsa sebanyak mungkin dan memberikan dukungan lewat SMS sebanyak mungkin, maka jagoanya bisa tetap eksis, itu yang  tertanam dalam benak mereka. Saya bersyukur jika yang menentukan sesungguhnya adalah nilai Juri yang memang profesional dan bukan dari banyak-banyakan SMS yang obyektifitasnya mungkin saja terlupakan, meski tidak sepenuhnya.

‘Mungkin’ panitia sudah tahu kapasitas para peserta yang akan ikut lomba. Panitia bingung memilih mana yang terbaik, karena menurut pengamatan sebelum lomba, semua sama nilainya jika dikalkulasi dari semua kriteria yang akan diterapkan dan dengan cara pengumpulan point (koin) inilah yang akan menjadi pembeda mana yang menang dan mana yang kalah. Maka lahirlah sebuah kesan, siapa yang punya duit itu pemenang yang tidak punya duit itu pecundang. Semoga saja para anak-anak TK tak mengerti bagaimana sebuah obyektifitas dalam sebuah pertaningan tersingkir oleh uang. Semoga, guru-guru TK tak lupa untuk memberikan pengertian bahwa, uang yang banyak bukan segalanya untuk memenangkan sebuah pertandingan. Obyektifitas dan kreatifitas tetap mendapatkan ruang. Semoga…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar