Jumat, 18 Oktober 2013

Hak Tinggi



Saya tak tertarik dengan hasil yang diinginkan dari seorang perempuan muda dengan sepatu berhak tinggi, mungkin tujuh centimeter. Mungkin ini sedikit menyakitkan jika perempuan itu tahu kalau memakai sepatu hak tinggi-nya ternyata tak membuat semua orang memperhatikan. Sebuah keinginan mesti harus mengorbankan keinginan lainnya. Berkeinginan untuk tampil modis, cantik, menawan dan anggun dengan sepatu hak tinggi pasti akan mengorbankan bagian tubuh lain yang harus bersusah payah menyesuaikan kondisi yang tak biasanya dalam keseharian. Sekujur kaki tentu tak nyaman, pinggang mungkin juga tak nyaman, dan yang lain yang saya tak tahu karena belum pernah mencobanya. Saya kira sudah setengah hari lebih perempuan muda itu, bersusah payah berjalan agar terjaga keseimbangan, menata setiap langkah agar tak ada sedikit pun benda yang bisa terantuk. Beridiri tegak agar badan tampak lurus, menjaga posisi kepala dan dagu. Karena sepasang sepatu berhak tinggi, seluruh bagian tubuh harus menyesuaikan, berkompromi dengan hal yang dalam keseharian tak dialami. Saya seperti merasakan sendiri ketidaknyamanan itu, padahal mungkin saja Ia nyaman-nyaman saja.
Sebagian besar wanita memang ingin selalu tampil anggun, cantik, mempesona dan modis. Model pakaian, model rambut, cara berlipstik, bentuk anting, model tas dan berbagai macam pernak-pernik menggiring kaum hawa untuk  memakainya. Seolah apa yang ada kurang sempurna jika tak ditambahi hiasan lain. Kadang nampak dipaksakan, karena tak semua orang pantas dengan mode tertentu yang sedang ngetren, akibatnya bukannya tampak apik malah amburadul dan tak sedap dipandang. Dan lebih parah lagi, meski tidak pas dan menyiksa tubuh, demi untuk tidak disebut ketinggalan jaman dan tak tahu mode, tetap saja dengan pe-de-nya berusaha ditampilkan dengan sekuat tenaga dan sepenuh perasaan.
Seorang wanita yang ayu, meskipun berdandan sederhana, tetap saja tampak anggun dan tak juga timbul di pikiran si pelihat untuk berandai-andai jika ditambahi aksesoris atau di dandani dengan model tertentu. Seorang model yang memamerkan mode pakaian, serba-serbi bahan dan alat kecantikan atau apapun yang ingin di tawarkan untuk agar ditiru orang lain, tentu di ukur dulu kepatutan dan kepantasan bentuk tubuh, bentuk wajah, jenis rambut, bentuk bibir, bentuk mata, segala macam yang berkaitan dengan penampilan. Orang yang memilih model pun, mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang dunianya. Jika ada orang yang bentuk badan secara umum berbeda dengan model yang ‘menawarkan’ pakaian dan segala aksesorisnya, tetap memaksa memakainya demi menjadi hal yang percuma dan sia-sia. Dan anehnya, kita sering melihatnya, sebuah pemaksaan mode yang berbuah kelucuan terbungkus rasa belas kasihan.
Tak terhitungkan biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga penampilan. Begitu banyak orang hidup dengan memanfaatkan rasa keinginan wanita untuk tampil cantik, ayu, anggun dan modis.  Berdandan semaksimal seperti hampir-hampir tak mempercayai kalau Tuhan telah memberikan yang sempurna dan tak perlu di ‘obrak-abrik’ demi sebuah penampilan agar tampak apik di mata orang lain. Dan orang-orang yang jeli, memanfaatkannya untuk sebagai tambang uang yang tak pernah berhenti mengalir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar