Minggu, 06 Oktober 2013

NENEK YANG NGEBEL TERUS DI KERETA



Dalam sebuah perjalanan dengan kereta ekonomi, saya sebenarnya risih mendengar nenek, mungkin  lebih pasnya jika disebut setengah nenek, yang terus menerus menelpon entah siapa saja, dengan suara yang sesukanya seperti dalam rumah sendiri. Kerabat (mungkin cucu-cucunya) yang bersamanya pun tampak risi. ‘Kerelaan’ mereka yang duduk didekatnya membiarkan nenek itu tetap berkicau, sepertinya sudah hafal betul kalau si nenek tak mungkin diberi masukan agar tidak terlalu keras bicaranya. Maka menghela nafas dengan sembunyi-sembunyi yang mereka lakukan. 

Tidak ada yang penting semua yang aku dengar. Hanya seperti tegur sapa seseorang dengan yang lain pada saat berpapasan. Tapi, mungkin menjadi berbeda bagi si nenek itu. Ia nampak begitu sumringah berkabar tentang dirinya yang sudah di kereta dalam perjalanan pulang. Entah pada siapa saja yang bertempat entah di mana saja. Saya bayangkan, jika arah pembicaraan pada seseorang yang berbeda-beda tempat itu digambarkan seperti gambar trayek perjalanan kapal terbang, tentu akan banyak sekali arah, terburai seperti benang dalam gulungan yang di potong. 

Sebuah kebahagiaan yang murah dan tak perlu banyak tenaga untuk mendaptkannya. Hanya berkabar biasa, Ia merasa lebih dekat, merasa hadir di sana, merasa ada komunikasi yang terus dijaga, merasa sebagai orang tua yang penuh perhatian. Mungkin tak terpikirkan oleh si nenek jika mungkin saja ada beberapa orang yang sebenarnya sedang sibuk bekerja dan sedang tak ingin menerima telepon, dan itu menjadi hal yang tak disukainya. Tak terpikirkan dan tak terpedulikan tentang hal itu, mungkin. Nenek itu juga terus bertutur kalau nanti kereta sudah sampai tujuan, tak perlu dijemput dan akan naik becak saja, untuk bagi-bagi rejeki ke tukang becak. Ia juga selalu mengatakan kalau naik becak, atas saran si anu (saya lupa Ia menyebut nama siapa) yang kedengarannya salah satu anaknya. Ide naik becak itu kedengarannya juga seperti sebuah penemuan brilian dan perlu banyak orang di sekitarnya yang harus diberi tahu.

Dan di tempat duduk lain, anak-anak muda juga tidak mau kalah berkabar tentang hal-hal kecil bahkan sepele kepada semua jejaring sosialnya. Ada yang di facebook, di twitter, di g+, whatsApp, BBM. Bahkan anak-anak muda malah lebih ‘atraktif’ meng-Update statusnya. Hanya sedang duduk tak apa-apa pun, dikabarkan. Hanya mau naik kereta, tak lupa pintu kereta di foto untuk diunggah dengan ditambahi tulisan-tulisan. Sekedar persiapan bepergian pun tak lupa menjadi status. Apa saja yang dilakukan atau melihat apa saja, harus banyak orang tahu. Seolah update status menjadi hal yang tak boleh sedikitpun terlewatkan. Segelas minuman pun diunggah dan ditambahi tulisan tentang minuman tersebut dan kemudian bisa menjadi sebuah pembahasan yang panjang karena muncul komentar-komentar yang saling bersahutan. Kadang komentar itu sangat tidak nyambung atau beralih di tengah jalan ke pembahasan lain. Nampaknya itu menjadi sebuah kesenangan di kalangan anak muda dan tak sedikit orang tua. Menjadi sebuah kebanggan atau kesenangan jika apa yang dilakukan dirinya diketahui oleh begitu banyak orang, apalagi jika kemudian banyak orang yang berkomentar di update status-nya. Seolah mereka begitu perhatian yang menyebabkan merasa banyak teman dan banyak orang di sekitar yang peduli. Biaya murah untuk berkomunikasi ternyata telah menyita telah begitu banyak menyita waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk hal yang lebih berguna. Sebagian orang memanfaatkan jejaring sosial sebagi lahan untuk berbisnis dengan mengiklankan dagangannya lewat update status. Ini sebuah peluang dengan biaya murah, tinggal bagaimana para calon konsumen bisa yakin dengan barang dagangan yang ditawarkan.  


Kemudian saya teringat saat antri service sepeda motor di sebuah bengkel, Seorang kakek, saya taksir usianya 70an, begitu ia telah mendaftarkan sepeda motornya untuk diservice, Ia duduk di depan saya dan langsung mengambil buku di tas kecilnya. Selanjutnya Ia tampak asik sekali dengan lembaran-lembaran buku. Saya ngiri.


            

1 komentar:

  1. Orang sepuh memang seperti anak kecil, senang kalo diperhatikan.. :)

    BalasHapus