Minggu, 09 November 2014

rasa moral pekerjaan



7-Nop-2014,menjelang sholat jum’at,  sejenak sempat berbicara dengan seorang pria tua yang gerak-geriknya sudah diatur rapi penuh kehati-hatian.  Ketika sama-sama di bengkel menunggu pekerjaan juru mekanik selesai. Beliau berkopiah, sudah nampak ada sorot ketenangan pada wajah dan nada bicaranya. Ia seorang yang sudah purnatugas sebagai anggota  brimbo. Pangkat terakhir beliau letnan satu, sebelum sebutan pangkat di Polri di rubah. 

Sedeikit pertanyaan saya tentang ‘enak ‘ mana menjadi Brimob dibanding dengan polisi umum. Beliau menjawab: secara moral enak di brimob. Saya tak bertanya lebih banyak tentang secara moral itu. Sepertinya saya sudah mengerti dan paham dan tak merasa perlu untuk mendengar penjelasan tentang jawabannya itu. 

Saya malah asyik tentang pola pikir saya yang megembara sesuka dugaan saya dengan menyambungkan ingatan-ingatan tentang peristiwa yang berkaitan dengan tindak tanduk polisi secara keseluruhan. Saya juga sadar tengang ingatan-ingatan saya yang berarah tak obyektif karena hanya ‘mengenang’ sesuatu yang kurang baik tentang perilaku polisi. Saya paham, banyak sekali perilaku polisi sebagai lembaga ataupun sebagai perorangan yang baik, terpuji dan layak sekali mendapatkan apresiasi. Saya tak habis pikir kenapa yang ada dalam benakku adalh tentang polisi yang selalu berkaitan dengan duit jika berurusan dengan Polisi. Stigma di masyarakat tentang, berurusan dengan polisi ujung-ujungnya harus keluar duit, menjadi lebih kuat menempel di  pikiran ketimbang polisi polisi yang berkelakuan baik, mengayomi dan melayani masyarakat.

Dari jawaban beliau tentag ‘secara moral’, bisa berkesimpulan kalau begitu banyak anggota polisi yang merasa terbebani moral tentang polisi di Indonesia yang masih ter-cap buruk dan cap berurusan dengan polisi harus dengan uang. Masyarakat sudah ingin segera melepas dendam begitu seorang anggota polisi pensiun. Rasa dendam itu tentu semakin besar jika si oknum polisi berkelakuan tidak baik, sok dan menjijikan.  Ini bisa tidak terjadi jika polisi yang pensiun itu memang dikenal baik oleh warga sekitar. Tapi secara umum, masyarakat yang tidak tahu baik tidaknya si polisi yang sudah pensiun, akan dengan serta merta ingin ‘mengejek’ sebagi balas dendam. Entah dendam pada siapa dan entah dendam yang bagaimana.

Mengangkat citra polisi agar masyarakat percaya, adalah sebuah pekerjaan besar yang harus dikerjakan dengan telaten, sabar dan terus menerus. Butuh kekompakan darai seluruh aparat kepolisian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar