Kamis, 25 Juni 2015

membunuh benih kebencian

Nampaknya Jawir memulai lagi sesuatu yang baik, Ia pergi berangkat mengaji. Ia yang biasanya hanya mengkritik dengan tidak mau melakoni dan jarang memberi solusi. Ia berangkat mengikuti pengajian peringatan tahun baru Islam, satu Muharram. Jika tahun baru Masehi disambut dengan gegap gempita dan berbagai gebyar, maka tahun baru Hijriyah mesti disambut dengan nilai Islami yang membangun rohani agar terus semakin dekat dengan Allah SWT, gumam Jawir sambil komat-kamit sendiri sembari berjalan berangkat ke pengajian. Ia berangkat awal, baru ada orang kurang dari sepuluh termasuk panitia.
Jawir menikmati suasana Islami yang menghadirkan irama Qasidah, kalimat-kalimat islami dan sambutan yang dibangun untuk menciptakan ketentraman batin.
Tapi, ketika pemceramah sedang berapi-api berbicara dan pengunjung terpana, Jawir berdiri meninggalkan kursinya yang berada dibarisan tengah, membiarkannya kosong. Pak Kyai berhenti berbicara sebentar, sembilan puluh tujuh persen mata pengunjung mengarah padanya. Jawir pergi ‘minggat’ dengan mulut terus ngedumel dan tak ada orang yang tahu apa yang dibicarakan dalam hati.
Sebagian orang maklum, karena tahu kelakuannya yang suka bikin sensasi murahan.
Malam hari, di warung kopi Yu Juri, Jawir langsung memuntahkan semua protesnya yang ditunjukkan entah pada siapa.
“Saya ini Islam KTP, tapi saya tidak suka kalau pengajian macam itu tadi. Nggak asik. Nggak bikin adem di hati.”
“Kamu tadi minggat dari pengajian bro? Malas? Kyai-nya nggak lucu, apa karena ceramahnya biasa-biasa saja itu-itu saja.” Basuta memotong dengan nada canda. Ia berharap kata-kata Jawir tak ncrocos sekehendak hati yang bisa membakar amarah orang lain karena bicara agama.
“Iya. Saya nggak suka.”
“Yang nggak suka kan Cuma kamu.” Mondol menimpali. “Kalau kamu yang nggak suka nggak bakalan ngaruh sama yang lain. Kaya pendekar agama saja kamu, sorot matamu menakutkan!”
“Eh Wir, yang namanya pengajian ya begitu-itu saja. Sama dari tahun ke tahun. Nanti kalau berbeda dikata aliran sesat. Yang penting kan pahalanya besar, jika kamu datang dengan ikhlas dan niat mengaji tanpa ria.” Kata Basuta.
“Ya itu saya tahu Bas, saya tahu,” suara Jawir meninggi.
“Terus, kenapa kamu harus kesal begitu?”
“Yang saya nggak suka, kenapa kyai itu harus menebar kebencian pada sesama umat islam.”
“Menebar kebencian yang bagaimana? Saya nggak merasakan itu.”
“Kamu ikut ngaji ngaak tadi?”
“Nggak!”
“Gini, hanya karena berbeda cara beribadah, cara berperilaku, cara berpakaian, sesama umat Islam saling mengejek, memprovokasi dan merasa kelompok mereka yang paling benar. Apa ini benar?”
“Benar menurut mereka. Emang masalah buat lo?”
Kojar yang sedari tadi cuma melongo ikut nimbrung, “dicuekin aja Wir, kan enak buat kamu. Atau kamu usul saja ke Pak Jokowi agar bikin mentri baru, mentri urusan toleransi. Mentri Tolerare.”
“Ini kan cara belanda dulu memecah belah kita, devide et impera, kenapa kita mesti tetap terus tak sadar. Merasa paling baik diantara yang lain, merasa yang lain salah, tidak benar, menyimpang, menodai dsb, dsb, .. Keyakinan itu ada karena yakin, kalau sudah yakin apa mesti dilukai karena berbeda. Yang lebih menyedihkan, ini sesama umat Islam. Islam yang katanya agama penuh rahmat. Lha, ini, yang dipercaya untuk ngomong di podium tanpa merasa bersalah, memaki-maki sesama pemeluk Islam dengan tanpa ragu dan tanpa merasa bersalah, cekikan mengejek umat Islam yang lain karena berbeda cara. Saya benci itu.”
“Banci apa benci Wir, yang jelas ngomongnya.” Tarjo nyletuk sambil menghembuskan asap rokoknya ke atas dan memandanginya penuh seksama. Jawir melongos.
“Eh, Wir itu kan cara berpikir mereka, dan itu juga keyakinannya. Kamu juga harus menghormatinya, meghormati perbedaan berpikir dan berpendapat.”
“Tidak sudi! Wong jelas itu menebar kebencian, menebar benih permusuhan. Memuakkan.”
“Kalau yang ditebari benih permusuhan membiarkan benih itu mati dengan dibiarkan, kan tak ada permusuhan Wir, permusuhan itu ada karena ada dua kubu yang saling melawan.”
“Besok-besok nggak usah berangkat ngaji lagi Wir, nanti nggak kesel begitu.” Bodong yang sering dipanggil Plontos, karena selalu gundul, ikut ambil bagian bicara.
“Gini aja Wir,” ujar Basuta, “Mulai sekarang kamu jadi kader ‘pembunuh benih kebencian’. Berkampanye membunuh benih kebencian yang ditebar oleh siapa-pun!”
Jawir terdiam. Ada yang ingin diucapkan lagi tapi merasa tidak ada yang ikut terbakar emosinya, Ia memilih membetulkan krah bajunya.
                                                                                                                                                Juni 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar