Senin, 18 Juli 2016

catatan malam tukang sampah

menjadi risih saja kalau banyak sampah berserakan setiap tempat, setiap waktu, setiap ruang.
tak ingin mengumpat mereka yang sembrono membuangnya dengan tak merasa bersalah, karena tak ada guna, suaraku akan menjadi mereka sombong, merasa berhak memarahi, karena pemungut sampah tak berhak untuk begitu bagi mereka. karena tugasku memang memungut sampah, karena mereka berhak, aku berkewajiban. karena bicaranya alam mereka tak mendengar. karena tangannya telah terbiasa bernista, terbiasa menutup telinga, terbiasa menutup mata dan hidung, meneguhkan hati yang keras.
mereka yang cekikan di mobil bagus, mereka yang berjingkrak-jingkrak pada sebuah pertunjukan, bersorak-sorak di menonton pertandingan, mereka yang di warung-warung, mereka yang keluar dari dapur bermuka capai; melempar sampah di jalan, di lapangan, di gedung, di sungai, di kebun, dihutan. dengan santai, innocent, tak juga ada merasa menyesal. kapankah yang begitu berganti hati dan berperilaku santun. pada alam, pada angin, dan protes sampah tanpa terdengar, yang tergeletak sembrono.
mengumpulkannya, tidak semua bisa untuk ditukar uang. menyempatkan juga membuang di penampungan dengan sisa-sisa tenaga dan waktu. karena rapi dan bersih sebuah kebahagiaan yang menyejukkan. karena senyum alam membasuh luka dan lelah. menyempatkan berdo’a sebelum tidur membaringkan lelah; semoga mereka bersadar tentang sampah. tentang alam, tentang polusi, tentang bumi dan tanah, tentang perasaan bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar