Kamis, 18 Agustus 2016

Melatih berdisiplin

Pada bulan awal Juni 2016, tepatnya tanggal sembilan, pas bulan Ramadhan 1437 H, saya pernah ngetwit tentang seorang pelanggar lalu lintas yang melanggar dengan tanpa beban. Isi twit-nya; ‘seorang agak gemuk, berpeci, pakai jas hitam, bersarung, naik motor plat merah, menerobos lampu merah tanpa ragu pd sebuah sore di bulan puasa’. Karena pas lagi bulan Ramadhan, saya pikir, Ia sedang berpuasa, tapi ketika Ia berlaku melanggar lalulintas dengan tanpa beban, saya jadi bertanya dalam hati, apakah puasa ‘membekas’ dalam jiwa Islamnya? Pertanyaan usil lainnya; terbiasakah Ia melanggar aturan. Jika motor plat merahnya adalah fasilitas negara yang diperuntukkan untuknya, apa Ia tak merasa menanggung beban sebagi aparatur negara yang sepantasnya memberi contoh yang baik. Dan kemudian saya berpikir tak perlu banyak harap tentang kedisiplinan, apalagi hanya sekedar menerobos lampu merah yang pas lalu lintas lagi sepi. Dan membahas tentang pelanggaran kecil malah akan disebut sebagai orang yang sok-sokan. Nikmati saja cara orang indonesia berperilaku disiplin.
Dan, twit saya itu kemudian menampar pikiran ketika berniat menerobos lampu kuning yang kemungkinan jika saya tetap melintas telah menyala lampu merahnya. Dua orang pengendara sepeda motor  sedikit di depan saya terus melaju dan jika di ukur secara detail, mereka melanggar lampu merah. Apalagi seorang yang dibelakang saya, ia begitu bernafsu menerobos lampu merah. Ternyata, bagi sebagian orang, lampu kuning adalah saat harus mempercepat kendaraan agar tak terkena jebakan lampu merah. Dan berhenti sejenak di lampu merah adalah hal yang harus sebisa mungkin dihindari. Perkara nanti setelah sampai tujuan menghabiskan waktu untuk ngobrol dan ngopi, itu bukan alasan untuk bersabar di lampu merah.
Sebuah ide, pernyataan, perkataan yang di tulis ternyata menjadi sebuah sejarah yang bisa dibaca di kemudian hari dan bisa mengingatkan atau menjadi bahan mawas diri jika melakukan sesuatu. Jika saya tak pernah menulis di twiter tentang seorang pelanggar lalulintas yang dengan ‘polos’nya melanggar, bisa saja dorongan untuk melanggar lebih besar ketika dirasa melanggar itu aman-aman saja. Rasa ‘saya orang munafik’ jika hanya bisa tidak senang pada pelanggar tapi saya sendiri melanggar, telah berhasil menghentikan saya untuk tidak melanggar, setidaknya pada saat saya teringat.
Hal seperti ini juga menjadi ingatan saya ketika saya sangat kesal terhadap para pengendara motor atau mobil yang membuang sampah di jalan sambil terus melaju, atau siapapun orang yang membuang sampah sembarangan. Maka, ketika saya berkendaraan, sebisa mungkin untuk tidak melakukan hal seperti itu.
Dari kasus seperti itu kesadaran berdisiplin, sangat bisa diawali dengan ketidaksukaan pada hal-hal kecil yang melanggar aturan, merasa tidak nyaman pada kesemrawutan dan berempati pada semua orang. Juga tidak tergiur untuk tidak disiplin ketika ada orang yang semrawut malah mendapatkan keuntungan. Karena, keberuntungan dari hasil kesemrawutan hanya sementara dan sekedar tipuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar